Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.
Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.
Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Kode keras
Ye Chan berdiri di tengah halaman belakang. Debu tipis menari di bawah paparan sinar matahari pagi. Ia mengembuskan napas panjang.
Ia mengalirkan sisa Qi di dalam tubuhnya ke meridian tangan kanan. Gerakannya patah-patah, namun tetap presisi.
Zhan Ya berdiri di bawah bayang-bayang pohon prem. Matanya mengamati setiap pergeseran otot Ye Chan.
"Bagus," puji Zhan Ya pelan.
Ye Chan menghentikan latihannya. Ia menoleh ke arah Yuen Fang yang menunggu di sisi lain halaman.
"Mari kita coba sekali lagi," ajak Ye Chan.
Yuen Fang mengambil posisi kuda-kuda. Ia menyerang dengan teknik sekte yang sangat akrab di ingatan Ye Chan.
Ye Chan bergeser ke samping. Ia menepis serangan itu dengan satu gerakan tangan ringan.
Ia tidak membalas serangan tersebut. Ye Chan justru meraih pergelangan tangan Yuen Fang.
"Posisimu terlalu terbuka di bagian kiri," koreksi Ye Chan.
Ia menunjukkan di mana Yuen Fang harus melangkah.
Yuen Fang mengangguk mengerti. Ia segera memperbaiki posisi kakinya sesuai petunjuk tersebut.
"Aku masih ingat nasihatmu dari dulu," ujar Yuen Fang dengan nada bangga.
Zhan Ya tersenyum tipis melihat pemandangan itu. Senyum yang jarang sekali menghiasi wajahnya.
Ye Chan merasa atmosfer di sekelilingnya menjadi jauh lebih tenang. Ia tidak lagi merasa terasing di tempat ini.
***
Tengah hari tiba dengan hawa panas yang menyengat kota. Udara di dalam ruang penyimpanan obat terasa dingin dan lembap oleh aroma akar-akaran kering.
Zhan Ya meletakkan beberapa botol keramik di atas meja kayu. Tangannya terampil menyortir bahan-bahan yang tersisa.
"Ini adalah akar ginseng liar berusia lima ratus tahun," tutur Zhan Ya sambil menunjukkan satu tanaman kecil.
Ye Chan mendekat. Ia memeriksa kualitas tanaman tersebut dengan sekali lirik.
"Bahan ini sangat langka," sahut Ye Chan jujur.
"Aku mengumpulkan semua bahan ini khusus untukmu," jawab Zhan Ya tanpa menoleh.
Ye Chan terpaku. Ia merasa tenggorokannya mendadak kering.
"Kau tidak perlu melakukan ini," balas Ye Chan canggung.
Zhan Ya meletakkan botol itu ke tangan Ye Chan. Ia menatap lawan bicaranya dengan tajam.
"Kau bisa mengurus dirimu sendiri," ucap Zhan Ya dengan suara tenang. "Tapi, orang lain juga punya hak untuk mengurusmu."
Kalimat itu meluncur begitu saja. Sederhana, namun menghantam kesadaran Ye Chan dengan cukup keras.
Ia tidak terbiasa diperlakukan seperti ini setelah sekian lama hidup sendiri. Ia membisu sejenak di depan meja kayu.
Yuen Fang muncul di ambang pintu ruangan. Ia memperhatikan interaksi itu dengan sudut mata yang menyipit.
"Teh sudah siap di kedai," celetuk Yuen Fang memecah kesunyian.
Zhan Ya langsung menarik diri. Ia membenahi jubahnya sebelum melangkah keluar ruangan.
Kedai makan di ujung jalan tampak ramai siang itu. Suara hiruk-pikuk pedagang samar-samar terdengar dari luar.
Mereka bertiga duduk di meja kayu kecil dekat jendela. Zhan Ya menuangkan teh ke dalam cangkir Ye Chan.
Tanpa sadar, Zhan Ya mengambilkan lauk sayur yang disukai Ye Chan. Ia meletakkannya di piring pria itu.
Ye Chan menerimanya dengan gerakan otomatis. Ia terbiasa dengan perhatian seperti ini di masa lalu.
Yuen Fang menahan tawa di balik cangkirnya. Ia menatap gurunya dengan tatapan menggoda.
Zhan Ya merasakan tatapan itu. Ia memberikan lirikan tajam sebagai peringatan diam.
Yuen Fang segera membuang muka. Ia pura-pura sibuk dengan makanannya sendiri.
Ye Chan merasa ada sesuatu yang janggal. Ia menyadari interaksi mereka bukan lagi seperti senior dan junior.
"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Ye Chan memecah keheningan meja.
Yuen Fang tersenyum misterius. Ia melirik Zhan Ya sekilas.
"Jika Tetua Ye belum mengerti, aku tidak berani mengatakannya," jawab Yuen Fang santai.
Zhan Ya berdeham keras. Ia menyudahi makan siangnya dengan terburu-buru.
"Aku harus memeriksa sesuatu," gumam Zhan Ya sambil berdiri meninggalkan meja.
Ye Chan ditinggalkan berdua dengan Yuen Fang. Keheningan canggung kembali merayap di antara mereka.
"Mastermu aneh sekali hari ini," ujar Ye Chan mencoba mencairkan suasana.
Yuen Fang terkekeh. "Ia tidak berubah, Tetua. Hanya saja, keadaan yang membuatnya lebih jujur."
Sore hari perlahan turun. Mereka berjalan santai menyusuri jalan setapak di luar kota.
Ye Chan memandangi matahari yang mulai terbenam di balik bukit. Cahaya jingga menyapu punggung tangan mereka.
"Kenapa kau terus memperhatikanku?" tanya Ye Chan memecah ketenangan sore.
Zhan Ya berhenti berjalan. Ia tidak membuang pandangannya dari jalan di depan mereka.
"Tidakkah kau memperhatikan, perasaanku tidak pernah berubah sejak dulu," jawab Zhan Ya lugas.
Ye Chan terdiam. Angin sore mengibarkan ujung jubahnya.
Ia tidak tahu harus merespons apa. Pikirannya dipenuhi oleh rasa teka-teki di balik jawab itu.
"Tidak perlu menjawab sekarang, ," tambah Zhan Ya tenang.
Zhan Ya kembali melangkah maju. Ia membiarkan Ye Chan tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Malam menyelimuti kediaman dengan suasana yang lebih intim. Mereka duduk di balkon lantai atas setelah Yuen Fang pamit beristirahat.
"Ingat saat kau membantu murid baru di perpustakaan?" kenang Zhan Ya sambil menatap bintang.
Ye Chan tertawa kecil. "... Ah, itu bukan bantuan. Aku murni hanya tidak ingin mereka berisik, sangat mengganggu ketenangan."
Zhan Ya menoleh. Tatapannya lembut dan penuh kehangatan yang nyata.
"Kau selalu mencari alasan untuk mengelak," sahut Zhan Ya.
"Tidak, itu kenyataannya, senior," jawab Ye Chan pendek.
Ia menatap langit malam. Rasa beban di pundaknya terasa berkurang sedikit demi sedikit.
"Apakah kau menyesal menemuiku sekarang?" tanya Zhan Ya tiba-tiba.
Ye Chan menatap wanita itu. Ia melihat ketulusan yang murni di sana.
"Tidak," jawab Ye Chan mantap.
Zhan Ya tersenyum. Senyum itu membuat malam terasa jauh lebih hangat bagi Ye Chan.