NovelToon NovelToon
Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.

Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!

"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."

Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERSAINGAN "BESTIE" TINGKAT KONGLOMERAT

Pagi itu di ruang tamu mansion, suasana seharusnya berjalan damai. Vania dan Larasati duduk di sofa beludru hijau, sedang meninjau ulang Bab Tiga dari pamflet buatan Vania: "Cara Mengalihkan Isu Ketika Tiba-tiba Dituduh Mencuri Cincin". Di atas meja kopi, dua gelas orange juice dan piring berisi roti tawar tanpa kulit tersaji dengan sempurna.

Kedamaian itu hancur lebur tepat pukul sembilan pagi.

Pintu ganda ruang tamu terbuka dengan suara dentuman yang menggetarkan lantai marmer. Angin indoor yang misterius dan selalu datang tepat waktu berhembus kencang, mengibarkan ujung gaun Larasati dan rambut bob Vania.

Kevin melangkah masuk.

Dia tidak sendirian. Di belakangnya, berbaris enam orang pelayan dengan seragam putih-emas, masing-masing membawa nampan perak, koper kulit, dan kotak beludru. Wajah Kevin datar, rahangnya mengeras, dan tatapannya terkunci tajam pada Larasati.

Vania menatap "kamera" imajinernya yang melayang di dekat lampu kristal. Ini dia. Tropes 'Pamer Kekayaan buat Pamer Otot'. Biasanya adegan ini dipakai buat ngeledek heroine miskin. Tapi kali ini? Dia mau ngeledek aku. Oke, Kevin. Mari kita lihat seberapa dalam delusimu pagi ini.

"Larasati," ucap Kevin, suaranya berat dan bergema di seluruh ruangan. Dia mengangguk pada para pelayan. "Maju."

Para pelayan berjalan maju dengan langkah sinkron, meletakkan tumpukan barang mewah di atas meja kopi. Meja yang tadi hanya berisi roti tawar, kini nyaris tenggelam di bawah tumpukan kotak berlian, sertifikat properti, dan kunci mobil.

"Aku dengar kau dan Vania sedang membangun... persahabatan," ucap Kevin, menekankan kata 'persahabatan' dengan nada yang terdengar seperti dia sedang mengucapkan 'pengambilalihan perusahaan secara paksa'. Dia menunjuk tumpukan barang itu dengan dagunya. "Ini untukmu. Sertifikat kepemilikan pulau pribadi di Bali. Kalung berlian lima puluh karat. Dan satu set kunci untuk lima unit Mercedes-Benz S-Class terbaru. Terimalah."

Larasati terbelalak. Mulutnya terbuka, tangannya gemetar saat dia menatap tumpukan harta karun itu. "T-Tuan Kevin... ini... ini terlalu banyak. Aku tidak bisa menerima ini. Aku tidak punya apa-apa untuk membalasnya..."

Kevin mengangkat satu tangannya, menghentikan protes Larasati. Dia menoleh, menatap Vania dengan tatapan yang penuh dengan tantangan dan sedikit rasa meremehkan.

"Aku membelikanmu pulau pribadi, Larasati," ucap Kevin, suaranya dingin namun ditujukan jelas ke arah Vania. "Apa yang Vania berikan padamu? Pamflet fotokopian seharga lima ratus perak yang dijilid dengan stapler warna-warni? Kau pikir kertas bekas itu bisa melindungimu dari dunia kejam ini?"

Vania menghela napas panjang. Dia meletakkan gelasnya di atas meja, menghindari tumpukan sertifikat pulau, dan berdiri. Dia berjalan mendekati Kevin, menatap pria itu dengan tatapan seorang guru TK yang sedang melihat muridnya berebut mainan.

"Kevin," ucap Vania datar. "Turunkan tanganmu. Dan suruh pelayanmu mengambil kembali mainan-mainan itu."

"Mainan?" Kevin menyipitkan matanya, aura gelapnya langsung menebal. "Itu adalah aset bernilai triliunan rupiah, Vania. Itu adalah bukti komitmen."

"Itu adalah bukti bahwa kau tidak paham konsep pertemanan," balas Vania, suaranya tegas. "Dengar, Tuan Kevin. Kau tidak bisa membeli bestie. Bestie itu tidak bisa diakuisisi melalui merger dan akuisisi. Larasati tidak butuh pulau pribadi. Dia butuh teman curhat yang tidak mengancam akan membuat keributan setiap kali dia menangis karena mascara-nya luntur."

Kevin terdiam sejenak, mencerna kata-kata itu. "Aku... tidak akan melakukan itu. Aku hanya akan membakar gedung orang yang membuatnya menangis."

"Itu sama saja!" Vania memijat pelipisnya. Dia menoleh ke Larasati, yang masih menatap tumpukan berlian dengan tatapan kosong. "Las, tolak dengan sopan. Bilang saja kau lebih suka pamfletku."

Larasati mengangguk cepat, merasa sedikit lebih berani dengan dukungan Vania. "I-iya, Tuan Kevin. Terima kasih atas... atas pulau dan mobilnya. Tapi aku lebih suka belajar dari Kak Vania. Pamfletnya sangat membantu."

Wajah Kevin mengeras. Rahangnya berkedut. Dia menatap Vania, lalu menatap Larasati, lalu kembali menatap Vania. Otaknya yang terbiasa memecahkan masalah dengan uang dan kekuasaan sedang mengalami error fatal.

"Kau menolak asetku?" suara Kevin merendah, berbahaya. "Kau memilih kertas fotokopian itu daripada pulau di Bali?"

"Dia memilih kewarasan, Tuan Kevin," balas Vania santai. "Dan ngomong-ngomong, aku perlu mengingatkanmu satu hal. Jangan coba-coba merebut Larasati dari Raka. Itu aturan nomor dua. Kau ganggu mereka, kau ganggu aku. Dan jika kau ganggu aku, aku akan pastikan semua aset triliunan rupiahmu itu hangus karena salah urus. Mengerti?"

Kevin menatap Vania. Tatapan marahnya perlahan memudar, digantikan oleh sebuah kilatan licik dan penuh perhitungan. Dia melangkah maju, mengurangi jarak di antara mereka, hingga Vania bisa mencium aroma cologne mahalnya.

"Kau salah paham, Vania," ucap Kevin pelan, suaranya bergetar rendah. "Aku tidak ingin merebut Larasati dari Raka. Raka boleh saja memiliki Larasati. Aku hanya ingin... menguasai lingkaran sosialmu."

Vania berkedip. "Menguasai... apa?"

"Logikanya sederhana," lanjut Kevin, mengangkat satu jari telunjuknya dan mulai menggambar diagram imajiner di udara, meniru gaya Vania di mobil kemarin. "Jika aku menjadi sahabat Larasati, dan Larasati adalah sahabat terbaikmu, maka secara otomatis, aku akan memiliki akses langsung ke waktu luangmu. Aku akan diundang ke spa day, ke kafe, ke sesi curhat. Aku akan menjadi bagian dari ekosistem rapuhmu. Dengan menguasai satu aset kunci, yaitu Larasati, aku melakukan hostile takeover terhadap seluruh jadwal harianmu."

Hening.

Larasati menatap Kevin dengan mata bulat sempurna, otaknya jelas sedang mencoba memproses istilah hostile takeover dalam konteks pertemanan.

Vania menatap Kevin. Dia menatap pria tinggi, kekar, dan sangat tampan di depannya. Pria yang baru saja menggunakan terminologi bisnis korporat tingkat lanjut untuk menjelaskan kenapa dia mau berteman dengan Female Lead sinetron.

Astaga, batin Vania, menatap "kamera" imajinernya dengan tatapan tidak percaya. Dia benar-benar gila. Dia pikir pertemanan itu seperti rantai pasok. Dia pikir dia bisa melakukan 'merger' dengan Larasati buat dapetin aku. Ini bukan lagi red flag. Ini dua bendera merah raksasa yang dikibarkan di puncak Gunung Everest sambil teriak-teriak pakai toa.

"Kevin," ucap Vania, suaranya datar dan mematikan. "Kau tidak bisa melakukan hostile takeover pada persahabatan. Itu ilegal. Dan secara moral, itu sangat menyedihkan. Kau mau menghabiskan waktu denganku? Ya sudah, ajak aku makan malam. Jangan libatkan Larasati. Jangan beli pulau. Cukup ajak aku makan malam seperti manusia normal."

Kevin menatap Vania. Matanya menyipit. Tawaran itu terdengar masuk akal, tapi ada satu hal yang mengganjal di egonya yang sebesar gedung pencakar langit.

"Aku tidak mau ajak makan malam," ucap Kevin pelan, suaranya serak. "Aku mau menjadi prioritas. Aku mau menjadi satu-satunya hal yang ada di kepalamu, sama seperti Larasati yang ada di pikiran Raka."

"Kau tidak bisa memaksaku," balas Vania tegas, menatap lurus ke dalam matanya. "Aku punya aturan. Dan aturan nomor tiga: Jauhi Kevin. Kau tidak bisa menjadi sahabatku jika kau adalah Kevin."

Wajah Kevin berubah. Senyum tipis yang tadi sempat muncul di bibirnya lenyap. Aura dingin dan posesifnya kembali menebal, menyelimuti seluruh ruangan. Angin indoor berhembus lebih kencang, mengibarkan rambut Vania.

Dia menatap Vania lekat-lekat, menatap bibirnya, lalu naik ke matanya. Tatapan itu gelap, dalam, dan penuh dengan obsesi yang tidak bisa lagi dia sembunyikan di balik logika bisnisnya.

"Baiklah, Vania," bisik Kevin, suaranya bergetar rendah, penuh dengan ancaman yang terbungkus rapi dalam beludru. "Jika aku tidak bisa menjadi sahabatmu... maka aku akan menjadi satu-satunya hal yang tidak bisa kau abaikan."

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!