NovelToon NovelToon
DIA YANG DATANG BERSAMA HUJAN

DIA YANG DATANG BERSAMA HUJAN

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: AME author

menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.

akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.

apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TANPA SUARA

Tiga hari telah berlalu sejak pemakaman Riyumi.

Akira menghilang.

Dia tidak masuk sekolah. Dia juga tidak ke tempat kerjanya.

Rumahnya sunyi. Hanya dia seorang diri di dalam, menutup diri dari dunia.

HP nya mati. Jendela terkunci rapat. Pintu-pintu rumahnya tertutup semua.

Di sekolah, Yuki terus mengirim pesan ke Akira. Tapi centangnya tidak pernah biru. HP Akira mati.

Begitu juga Yasiro. Tidak ada satu pun balasan.

Hari demi hari, rasa gelisah Yuki semakin menjadi. Sudah 3 hari tanpa kabar sama sekali.

Belum ada yang tahu bahwa Riyumi sudah tidak ada. Termasuk Nana, sahabat paling dekat Riyumi.

Yuki memilih diam. Dia merasa bukan haknya untuk bicara.

Yang paling berhak memberitahu semua orang... hanya Akira.

Orang-orang di kelas mulai resah.

"Kemana Akira?" "Sakit kah?"

Bahkan wali kelas pun mulai khawatir.

"Baiklah, ada yang bisa ke rumah Akira untuk memastikan keadaannya?" tanya wali kelas.

Yuki langsung berdiri. "Aku saja yang pergi, Sensei."

"Tapi... kamu tahu alamatnya?"

"Aku... tidak tahu." Suara Yuki mengecil.

Sekelas langsung menoleh padanya.

"Dulu Riyumi yang selalu tahu. Sekarang giliran Yuki ya," celetuk seseorang pelan.

_Bruk!_

Yasiro membanting bukunya ke meja. "Cukup! Itu bukan urusan kalian!

Mau itu Riyumi atau Yuki, itu bukan urusan kalian!"

Setelah pulang sekolah, Yuki mampir membeli makanan. Bento dan teh hangat.

"Siapa tahu dia belum makan," gumamnya.

Di kafe depan sekolah, langkahnya terhenti. Nana ada di sana.

"Yuki! Mau ke rumah Akira?" sapa Nana dengan senyum.

"Iya," jawab Yuki singkat.

Nana mengangguk. "Kalau sudah ketemu, pastiin dia baik-baik ya.

Kasian... takutnya kalau Riyumi tahu Akira tidak masuk sekolah, dia pasti sedih."

Dada Yuki seakan ditusuk.

_Riyumi sudah tidak ada..._

Tapi dia hanya bisa mengangguk. "Iya. Aku pasti jaga dia."

Keluar dari kafe, Yuki langsung menuju alamat yang diberikan wali kelas.

Sebuah apartemen tua di lantai 3.

_Tok tok tok_

"Akira? Ini aku, Yuki."

Sunyi. Tidak ada jawaban.

Yuki mengetuk lagi, lebih keras. Tetap tidak ada suara.

Dengan ragu, dia memutar gagang pintu. Klik. Tidak terkunci.

"Permisi... aku masuk ya."

Di dalam gelap dan berantakan. Pakaian berserakan. Piring menumpuk di wastafel.

Dan di sanalah Yuki baru sadar. Akira tinggal sendirian. Benar-benar sendirian.

"Akira? Kamu di mana?"

Yuki menyusuri setiap sudut. Jantungnya berdegup kencang.

Sampai di kamar. Pintu terbuka setengah.

Di pojok kamar, Akira duduk memeluk lutut. Rambutnya menutupi wajah. Tubuhnya lemah.

"AKIRA!"

Yuki berlari menghampirinya. "Akira, jawab aku!"

Tidak ada respon. Akira hanya menatap kosong ke langit-langit.

Yuki berdiri, menarik gorden. Cahaya sore masuk, menerangi debu yang beterbangan.

"Aku bikinin makan ya. Kamu pasti lapar."

Di dapur kecil, Yuki menghangatkan bento. Tangannya gemetar.

Dia kembali dengan nampan, meletakkannya di meja belajar.

"Makan ya... ini kesukaan kamu."

Dia duduk di lantai, tidak jauh dari Akira.

"Gak apa-apa kalau kamu belum mau bicara. Aku temenin."

Menit demi menit berlalu. Tetap tidak ada jawaban.

Akhirnya Yuki berbisik, "Kamu tidak sendirian, Akira.

Masih ada Yasiro, Nana, aku, dan teman-teman lain. Kami semua khawatir.

Dan... Riyumi pasti sedih kalau lihat kamu seperti ini."

Kata "Riyumi" membuat bahu Akira bergetar.

Pelan-pelan, Akira berdiri. Dia mengambil sendok. Menyendok nasi satu suap.

Air matanya jatuh ke dalam bento.

"Apalagi yang akan hilang setelah ini..." suaranya serak. "Semua yang kuanggap rumah... sudah pergi. Tinggal aku sendiri."

Yuki menahan isak. Dia mendekat.

"Aku akan selalu di sini, Akira. Di samping kamu.

Aku tahu aku tidak bisa jadi Riyumi. Aku juga belum kenal dia sedalam kamu.

Tapi aku janji, aku akan ada untuk kamu. Sekarang... dan seterusnya."

Akira menoleh. Matanya sembab.

"Besok... aku ke sekolah," katanya pelan.

Yuki hampir menangis karena lega. "Iya. Makasih, Akira."

Dia membereskan piring. Saat kembali dari dapur, Akira sudah tertidur di lantai, dipeluk selimut tipis.

Yuki menarik selimut itu, menyelimutinya, lalu menutup pintu pelan.

*Keesokan harinya. Sekolah.*

Kehadiran Akira membuat satu kelas heboh.

Yasiro, Nana, semua menatapnya.

Tapi Akira hanya diam, menatap keluar jendela.

Orang orang mendekati Akira dan bertanya tanya,ke mana dia selama ini dan tidak ada kabara sama sekali.

Yuki segera maju. "Sudah, jangan paksa dia bicara. Tunggu sampai dia siap."

Lambat laun orang-orang menjauh. Yasiro hanya bisa diam. Nana hanya bisa melihat dari jauh.

Tapi ketenangan itu tidak lama.

"Heh, kemarin aku lihat Riyumi jalan sama om-om," kata sekelompok anak.

"Mungkin jadi simpanan kali. Butuh duit," tawa mereka.

Nana langsung membantah. "Jangan ngomong sembarangan!"

Yuki mengepalkan tangan, menahan diri.

Sampai telinga Akira menangkap semuanya.

Dia berdiri. Langkahnya cepat. Dan sebelum siapa pun sempat mencegah-

_BUK!_

Tinju Akira mendarat di wajah anak itu.

"Akiraaa!!" Yuki berteriak.

Yasiro langsung menarik Akira dari belakang. Kelas menjadi kacau.

"APA YANG KALIAN TAHU TENTANG RIYUMI?!

SEKARANG DIA SUDAH TIDAK ADA! DAN KALIAN MASIH BICARA JELEK TENTANG DIA?!"

Suara Akira menggema, pecah dan penuh amarah.

Yasiro tetap menahannya. "Lepas! Lepas aku!"

Orang yang dipukul itu meringis, hidungnya berdarah. Bingung.

Semua orang terdiam. Termasuk Nana, yang menatap Akira dengan mata melebar.

Yasiro melepaskan pegangannya. Akira langsung berlari keluar kelas.

Hening.

Lalu Nana bertanya dengan suara bergetar, "Yuki... apa yang terjadi dengan Riyumi?"

Yuki menunduk. Air matanya jatuh.

"Lebih baik kalian tahu sekarang."

"Riyumi... sudah meninggal. beberapa bulan yang lalu."

Dunia seakan berhenti.

Nana jatuh berlutut. Tangisnya pecah. Disusul isakan dari seluruh kelas.

Yasiro menatap Yuki. "Kejar dia. Aku yang urus Nana.

Cari dia. Mungkin dia di atap."

Yuki mengangguk. Dia berlari keluar, menaiki tangga dengan napas tersengal.

Dan di atas sana, di ujung atap...

Akira duduk sendirian, dengan air mata yang terus jatuh.

Yuki menghampirinya perlahan.

"Akira..."

Angin sore menerpa rambut mereka.

Langit jingga, tapi terasa dingin.

Akira duduk di ujung atap. Kakinya menjuntai.

Dia tidak menoleh saat Yuki mendekat. Hanya bahunya yang sedikit bergetar.

"Akira..." panggil Yuki lagi, suaranya pelan. "Turun ya. Bahaya."

Tidak ada jawaban.

Yuki duduk. Tidak terlalu dekat. Menjaga jarak 1 meter.

"Kalau kamu mau teriak, teriak aja. Kalau mau marah, marah aja.

Aku di sini. Aku gak akan pergi."

Keheningan beberapa detik. Hanya suara angin.

"Kenapa..." suara Akira pecah. "Kenapa mereka bisa ngomong seenak itu tentang dia..."

"Karena mereka gak kenal Riyumi." Yuki menatap langit. "Mereka cuma lihat dari luar.

Mereka gak tau gimana Riyumi ketawa. Gimana dia jagain kamu. Gimana dia..."

"BERHENTI!" Akira memotong. Air matanya jatuh. "Jangan sebut dia!"

Yuki terdiam. Lalu mengangguk pelan. "Maaf."

Akira menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya terguncang.

"Gak ada... gak ada lagi yang peduli sama dia. Gak ada lagi yang inget dia kecuali aku."

"Enggak." Yuki menggeleng. "Aku inget. Nana inget. Yasiro inget.

Mulai hari ini, semua orang di kelas itu akan inget. Karena kamu udah bilang."

Akira tertawa kecil. Pahit. "Dengan cara mukul orang..."

"Dengan cara ngebela orang yang kamu sayang." Yuki meliriknya. "Itu gak salah, Akira."

Hening lagi. Lama.

Lalu Akira berbisik. Hampir tidak terdengar.

"Aku capek, Yuki... Capek banget."

Dada Yuki sakit. "Aku tau. Makanya istirahat ya. Turun sama aku."

Akira menggeleng. "Kalau aku turun... aku harus hadapin semua orang.

Harus jelasin. Harus liat tatapan kasihan mereka."

"Gak harus hari ini." Yuki mengulurkan tangannya, tapi tidak memaksa. "Kita bisa pelan-pelan.

Hari ini kamu udah hebat. Kamu udah makan. Kamu udah ke sekolah. Kamu udah ngebela Riyumi."

Akira menatap tangan Yuki. Ragu.

Akhirnya, dengan pelan dia menggenggamnya.

Tangan Yuki hangat. Tidak melepaskan.

"Ayo pulang." kata Yuki pelan. "Nana nunggu. Yasiro nunggu. Aku nunggu."

Akira berdiri. Kakinya goyah. Yuki langsung sigap menahan lengannya.

Mereka berjalan ke pintu atap berdampingan. Tidak bicara.

Di bawah, kelas sudah kosong. Hanya Yasiro dan Nana yang duduk di bangku, mata mereka bengkak.

Saat melihat Akira, Nana langsung berdiri.

"Akira..." suaranya tercekat.

Akira menatap Nana. Lalu menunduk.

"Maaf..." bisiknya. "Aku gak bilang dari awal."

Nana menggeleng sambil menangis. Dia memegang tangan Akira erat.

"Gak apa-apa. Gak apa-apa. kamu udah kuat Akira dengan semua ini."

Yasiro menepuk bahu Akira. Jarang-jarang dia sediam ini.

sore itu mereka pulang bareng. Empat orang.

Tidak ada yang banyak bicara. Tapi tidak ada yang sendirian.

Di depan apartemen Akira, Yuki berhenti.

"Aku anterin sampai dalam ya?"

Akira mengangguk kecil.

Di dalam, Yuki menyalakan lampu. Membuka jendela sedikit.

"Besok aku bawain sarapan ya. Jam 7 aku di sini."

Akira duduk di sofa. "Kenapa kamu... masih mau?"

Yuki tersenyum. Sedih, tapi tulus.

"Karena kamu bilang besok mau ke sekolah.

Dan karena aku janji. Aku bakal selalu ada."

Akira menatap lantai. "Terima kasih... Yuki."

Itu pertama kalinya dalam 3 hari dia menyebut nama Yuki.

Yuki membeku sebentar. Lalu mengangguk.

"Tidur ya. Pintu aku kunci dari luar. HP kamu aku casin."

Sebelum keluar, Yuki menoleh sekali lagi.

"Selamat malam, Akira."

Dari dalam, terdengar jawaban pelan.

"...selamat malam."

Pintu tertutup.

Di luar, Yuki bersandar di dinding. Air matanya akhirnya jatuh.

Yuki menyapu air matanya dengan punggung tangan. Napasnya yang tertahan sejak tadi akhirnya terlepas menjadi hembusan panjang di lorong apartemen yang dingin. Selama tiga hari ini, dia menahan semuanya sendiri—beban rahasia tentang kematian Riyumi, rasa cemas pada keadaan Akira, hingga amarah yang meledak di kelas tadi siang.

Perlahan, Yuki melangkah meninggalkan lorong apartemen itu. Di bawah pijakan lampu jalan yang remang, dia tahu bahwa esok tidak akan langsung menjadi lebih mudah. Luka Akira masih terlalu menganga, dan bayang-bayang Riyumi akan selalu ada di antara akira. Tapi setidaknya malam ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Akira tidak lagi mengurung diri dalam kegelapan yang sepenuhnya sunyi.

Sementara itu, di dalam kamar, Akira mendengarkan langkah kaki Yuki yang menjauh sampai menghilang sepenuhnya. Dia menatap layar HP-nya di atas meja belajar yang kini mulai menyala, menampilkan indikator pengisian daya yang dipasang Yuki tadi. Suara dengung kulkas dan desir angin dari jendela yang sedikit terbuka mengisi ruangan, menggantikan hening ketakutan yang menemaninya selama tiga hari terakhir.

Akira menarik selimutnya lebih tinggi, memejamkan mata, dan membiarkan lelah membawanya pergi.

Duka tak pernah benar-benar hilang dalam semalam, dan merelakan bukanlah jalan pintas yang bisa ditempuh dalam satu langkah. Namun di balik pintu yang kini tak lagi terkunci rapat, sebuah penerimaan kecil mulai tumbuh—bahwa meski dunia yang lama telah runtuh, masih ada orang-orang yang mau bertahan dan berjalan bersamanya menyongsong esok hari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!