Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.
Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25.Dialog dingin
Lampu koridor lantai dua berkedip redup ketika Bi Asih melangkah terburu-buru menghampiri Kaivan yang masih berdiri mematung di samping pintu kamar. Wajah wanita tua itu penuh keraguan, memegang nampan berisi cangkir teh yang sudah mendingin.
"Pak Kaivan..." panggil Bi Asih pelan. "Nona Aruna... beliau benar-benar belum meminum obatnya dari kemarin. Bibi takut nanti lukanya infeksi lagi, Pak."
Kaivan menoleh kaku, mengusap wajahnya yang terasa lelah. "Biarkan dia, Bi. Nanti dokter gizi dan psikiater yang akan menanganinya mulai besok."
"Tapi Pak..." Bi Asih menahan napas sejenak, memandangi wajah majikannya dari samping. "Nona Aruna tadi sempat bertanya soal Mas Bagas lagi ke Bibi."
Seketika itu juga, rahang Kaivan menegang keras. "Lalu Bibi jawab apa?"
"Bibi cuma bilang Pak Kaivan tidak memanggil polisi," jawab Bi Asih cepat dengan suara gemetar.
"Nona Aruna kelihatan sangat merasa bersalah, Pak. Beliau memikirkan semua orang... kecuali dirinya sendiri."
Kaivan mendengus sinis, membuang muka ke arah lorong yang sepi. "Dia bukan memikirkan semua orang, Bi. Dia cuma sengaja membuat dirinya terlihat sebagai korban paling menderita di rumah ini."
"Pak Kaivan..." Bi Asih memberanikan diri menyela, matanya berkaca-kaca. "Nona Aruna itu anak yang sangat hancur. Waktu Bibi membersihkan bekas pecahan kaca kemarin, Bibi menemukan foto kecil di sudut mejanya. Foto masa kecil Nona Aruna... yang bagian wajahnya dicoret kasar pakai spidol hitam oleh orang tuanya sendiri."
Kaivan tertegun. Langkah kakinya mendadak terkunci di atas karpet tebal. "Apa maksud Bibi?"
"Nona Aruna tidak pernah dianggap ada di keluarganya sejak kecil, Pak," bisik Bi Asih lirih.
"Beliau dijual ke sini bukan cuma karena utang, tapi karena orang tuanya memang ingin membuangnya. Kalau Pak Kaivan terus-terusan membentak dan mengancamnya... Nona Aruna benar-benar akan menyerah pada hidupnya."
Kata-kata Bi Asih meresap masuk ke dalam benak Kaivan bagai duri yang tajam. Pria itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tak sanggup membalas sepatah kata pun.
"Bibi permisi dulu ke bawah, Pak," pamit Bi Asih menunduk sopan, meninggalkan Kaivan berdiri sendirian dalam keheningan koridor yang membeku.
Ceklek.
Tanpa membuang waktu lama untuk bersilat kata dengan gengsinya, Kaivan kembali mendorong pintu kamar Aruna. Kali ini, ia tidak mengetuk, namun langkah kakinya tidak lagi terdengar kasar seperti sebelumnya.
Aruna yang masih meringkuk di atas ranjang tersentak kecil. Ia mendongak kaku, menatap sosok Kaivan yang berdiri di ambang pintu.
"Ada yang tertinggal, Pak Kaivan?" tanya Aruna dengan suara parau dan sangat datar, menatap pria itu tanpa pendar emosi.
Kaivan melangkah mendekati meja samping tempat tidur. Ia menyambar nampan berisi mangkuk bubur dingin dan obat-obatan yang terbiarkan.
"Kau mau makan sendiri atau aku yang paksa?" tanya Kaivan kaku, menatap langsung ke arah mata Aruna.
Aruna tertawa kecil—sebuah tawa singkat yang sangat pahit dan menyakitkan. "Bukannya dari awal Pak Kaivan memang selalu memaksa saya? Kenapa baru bertanya sekarang?"
"Aruna," tegur Kaivan, menekan nada suaranya agar tetap terdengar dingin. "Jangan menguji kesabaranku."
"Saya tidak menguji apa pun, Pak," sahut Aruna pelan, tatapannya beralih menatap lurus ke dinding.
"Saya cuma lelah. Kalau Pak Kaivan takut saya mati dan uang tiga puluh miliar itu melayang, suruh saja dokter suntikkan cairan nutrisi ke tubuh saya. Anda punya banyak uang untuk melakukan itu, kan?"
Kaivan mengepalkan tangannya di samping nampan. Kalimat Aruna begitu tajam, menelanj*ngi motif dingin yang selama ini selalu ia jadikan alasan di depan semua orang.
"Kau pikir aku melakukan semua ini cuma karena uang?" cetus Kaivan, suaranya sedikit meninggi namun tertahan.
Aruna menoleh kembali, menatap wajah Kaivan dengan alis terangkat tipis.
"Lalu karena apa, Pak? Karena Anda peduli sama saya? Karena Anda menganggap saya istri Anda?"
Kaivan membisu. Tenggorokannya mendadak terasa kering kaku.
"Jangan bercanda, Pak Kaivan," lanjut Aruna dengan suara yang mendadak bergetar hebat, air mata kembali memenuhi pelupuk matanya.
"HARI PERTAMA saya menginjakkan kaki di rumah ini, Anda membentak saya. Anda bilang saya barang jaminan. Anda siram saya dengan rasa benci... Lalu sekarang, saat saya cuma mau tenang dalam diam, Anda marah karena saya tidak makan?"
"Aku tidak bermaksud..." Kaivan menghentikan kalimatnya sendiri, lidahnya terasa begitu berat untuk mengucapkan kata maaf yang tak pernah ada dalam kamus hidupnya.
"Tidak bermaksud apa, Pak?!" potong Aruna, suaranya melengking tipis memecah kesunyian malam.
"Anda kunci saya di kamar dingin tanpa makanan sampai saya pingsan! Anda tuduh saya penipu! Anda bentak saya di depan umum! Dan saat teman-teman saya khawatir sama kondisi saya, Anda ancam akan memenjarakan mereka!"
Dada Aruna naik turun memburu. Seluruh sesak yang terpendam di dalam jiwanya mendadak tumpah dalam deretan pertanyaan yang tak pernah sanggup ia lontarkan sebelumnya.
Kaivan meletakkan nampan di atas meja dengan bunyi ketukan pelan. Pria tinggi angkuh itu menundukkan pandangannya sejenak, menghela napas panjang lewat mulutnya.
"Aku membatalkan penyitaan rumah orang tuamu," kata Kaivan tiba-tiba dengan suara rendah yang kaku.
Aruna tertegun, matanya membelalak kaku. "A-apa...?"
"Kemarin malam... tim hukumku mendatangi rumah orang tuamu," terang Kaivan, menatap Aruna dari balik remang lampu kamar.
"Aku mengancam akan menyita seluruh aset mereka jika ibumu kembali bicara ke media. Tapi aku tidak memenjarakan mereka. Dan soal teman baristamu itu..." Kaivan jeda sejenak, meremas jemarinya sendiri.
"...aku tidak melayangkan gugatan apa pun padanya."
Aruna menatap Kaivan dengan rasa tidak percaya yang amat sangat. "Kenapa...?"
"Karena kau memohon padaku," jawab Kaivan singkat, suaranya kaku dan terdengar sangat terpasa.
"Kau menangis kemarin sore dan memintaku untuk tidak melukai mereka. Jadi aku menahannya."
Aruna terdiam mematung. Kalimat Kaivan menghantam pikirannya bagai kilatan petir di malam hari. Pria yang ia anggap tak berhati ini... menahan amarahnya hanya karena tangisannya kemarin sore?
"Tapi jangan pernah berpikir untuk berhubungan dengan mereka lagi," tambah Kaivan cepat, kembali memagari dirinya dengan nada bicara yang tegas dan angkuh.
"Statusmu tetap istri Adikara Group. Aku tidak akan membiarkan ada rumor bodoh lagi yang merusak nama baik keluargaku."
Aruna menyapu air mata di pipinya dengan lengan bajunya yang longgar, tersenyum sinis. "Nama baik... Pada akhirnya, semuanya tetap tentang nama baik Anda dan uang Anda, kan?"
"Terserah apa katamu," sahut Kaivan dingin. Ia meraih piring kecil berisi obat-obatan di atas meja dan menyodorkannya ke arah Aruna bersama segelas air putih.
"Minum obatmu sekarang. Atau aku sendiri yang akan memasukkannya ke dalam mulutmu secara paksa."
Aruna menatap butiran obat di tangan Kaivan, lalu beralih menatap mata tegas pria itu. Ada benteng tinggi yang berdiri kokoh di antara mereka—sebuah benteng gengsi dari pihak Kaivan, dan benteng luka mendalam dari pihak Aruna.
"Kalau saya minum obat ini..." bisik Aruna parau, matanya menatap lurus ke arah Kaivan.
"...apakah Anda janji tidak akan pernah menyentuh atau mengganggu kafe tempat saya bekerja dulu?"
Kaivan menyipitkan matanya tajam, merasa tidak terima karena Aruna masih saja menjadikan keselamatan orang lain sebagai syarat untuk memelihara nyawanya sendiri. Namun, melihat kepasrahan di mata Aruna, Kaivan mengangguk kaku.
"Aku janji," kata Kaivan datar.
"Asal kau tidak melakukan tindakan konyol seperti kemarin sore lagi di rumahku."
Aruna mengulurkan tangan kirinya yang tidak terbebat perban, mengambil butiran obat dari telapak tangan Kaivan tanpa menyentuh kulit pria itu sedikit pun. Ia memasukkan obat itu ke dalam mulutnya dan meminum air putih yang disodorkan Kaivan hingga tuntas.
Kaivan menerima kembali gelas kosong dari tangan Aruna. Ada kepuasan tipis yang menyusup ke dalam dadanya, namun melihat bagaimana Aruna sengaja menghindari kontak fisik dengannya membuat rasa nyeri asing kembali menyengat ulu hatinya.
"Tidurlah," kata Kaivan kaku seraya membalikkan badannya menuju pintu. "Dokter gizi akan datang jam sembilan pagi besok."
"Pak Kaivan..." panggil Aruna pelan saat jemari pria itu sudah memegang gagang pintu.
Kaivan menghentikan langkahnya, namun tidak menoleh ke belakang. "Apa lagi?"
"Kenapa... Anda tidak pernah membiarkan saya pergi saja?" tanya Aruna dengan suara parau yang sangat jujur.
"Kalau Anda membenci saya dan menganggap saya beban... kenapa Anda tidak ceraikan saya dan suruh ayah saya mencicil utangnya?"
Keheningan melayang pekat di antara mereka selama beberapa detik.
Kaivan menggenggam gagang pintu kencang-kencang hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Pertanyaan Aruna menusuk tepat di bagian terdalam dari jiwa angkuhnya—sebuah pertanyaan yang ia sendiri tak pernah berani menjawabnya secara jujur di depan cermin.
"Pernikahan Adikara Group bukan mainan yang bisa kau atur sesukamu, Aruna," jawab Kaivan dengan suara dingin yang dipaksakan kaku, tanpa memberikan kepastian apa pun.
"Kau adalah milikku sampai aku sendiri yang memutuskan sebaliknya."
BAM.
Pintu kamar terkatup rapat kembali.
Aruna bersandar lemah pada kepala ranjang, memandangi pintu kayu yang kini terkunci dari luar secara tak kasat mata. Percakapan panjang tadi tidak menyembuhkan lukanya, tak pula mengikis rasa benci dan takut di dalam dadanya.
Namun untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di rumah ini, Aruna menyadari bahwa di balik dinding tinggi angkuh yang dibangun Kaivan, ada rahasia dan pergolakan batin yang membuat pria itu sama terperangkapnya dengan dirinya di dalam sangkar emas ini.
_Bersambung