NovelToon NovelToon
Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.

Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Uang yang Masuk, Wasiat yang Tiba-tiba, dan Nama yang Sama

Rumah di bukit itu berdiri sendiri di antara pohon-pohon pinus. Catnya sudah pudar, tapi strukturnya kokoh. Tidak ada tetangga dalam radius satu kilometer.

“Ini tempatnya,” kata Reza saat membantu Aira turun. “Hanya keluarga yang tahu.”

Aira menatap rumah tua itu. “Raka dan Keenan tidak tahu?”

“Belum. Perintah kakek tidak boleh ada kebocoran.”

Aira tidak menjawab. Dia hanya masuk dan duduk di sofa yang berdebu. Tubuhnya masih lemah, tapi pikirannya sudah bekerja.

Sementara itu, di sisi lain kota, Raka baru saja turun dari mobil balap dengan overall masih lengket keringat. Dia langsung mengangkat ponsel.

“Reza. Angkat. Di mana Aira?”

Tidak ada jawaban. Hanya nada sibuk.

Keenan yang baru selesai operasi darurat juga menekan nomor yang sama untuk kesekian kali. “Reza, saya di rumah sakit. Kamar Aira kosong. Perawat bilang dia dipindahkan atas perintahmu. Jelaskan.”

Reza menatap layar ponsel yang terus bergetar di atas meja rumah bukit. Dia tidak mengangkat. Perintah kakek masih terngiang, tidak boleh ada yang tahu.

Aira yang melihatnya hanya bilang, “Mereka akan marah.”

“Saya tahu.”

Siang itu, notifikasi masuk ke ponsel Aira yang hampir mati. Dia mengisi daya seadanya, lalu membuka rekening. Angka yang muncul membuatnya terdiam total.

Transfer masuk. Jumlahnya… sangat besar. Lebih besar dari gabungan semua hadiah arena yang pernah dia menangkan.

“Ini…” Aira menelan. “Dari mana?”

Reza yang sedang memeriksa perimeter menoleh. “Raka. Dia menang. Hadiahnya langsung dia transfer ke rekeningmu seperti yang dia janjikan.”

Aira menatap angka itu lama. Untuk pertama kalinya sejak lama, dia tidak langsung menghitung berapa hari dia bisa bertahan. Jumlahnya terlalu banyak sampai terasa tidak nyata.

“Dia menang,” gumamnya. “Dan langsung mengirim semua.”

“Dia bilang itu untukmu.”

Aira mengunci layar. “Nanti saya kembalikan sebagian. Tidak mungkin saya terima semua.”

Belum sempat Reza menjawab, pintu utama terbuka tanpa ketukan. Kakek Reza masuk dengan dua pengawal di belakangnya. Wajahnya kali ini jauh lebih tenang, bahkan hampir lembut.

“Aira,” sapa pria tua itu. “Kita perlu bicara.”

Reza tegang. “Kakek, dia masih lemah—”

“Saya tahu. Ini tidak akan lama. Kamu keluarlah... Saya ingin bicara berdua dengan Aira.”

Reza menurut dan keluar dari rumah bukit, meninggalkan Aira berdua dengan kakeknya. Kakek Reza duduk di kursi berhadapan dengan Aira lalu mulai berbicara dengan tenang. “Dengarkan baik-baik. Sebelum kakekmu dari keluarga Hadi meninggal, dia meninggalkan wasiat. Wasiat itu baru saja saya terima secara resmi kemarin.”

Aira mengerutkan kening. “Kakek saya? Saya tidak punya kakek.”

“Kamu punya. Nama lengkapmu tertera di dokumen itu. Aira Hadi. Putri tunggal dari almarhum Hadi Wijaya.”

Aira membeku.

Kakek Reza melanjutkan, “Menurut wasiat itu, kamu hanya bisa menjadi pewaris sah keluarga Hadi jika kamu menikah dengan cucu saya, Reza. Jika tidak, seluruh harta akan dialihkan ke cabang keluarga lain.”

Aira membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar.

“Gadis yang selama ini dijodohkan dengan Reza… adalah kamu,” kata pria tua itu pelan. “Keluarga Hadi menyembunyikanmu sejak kecil karena alasan keamanan. Lalu kamu menghilang. Kami mencarimu bertahun-tahun.”

Aira masih diam. Otaknya menolak memproses.

Kakek Reza menatapnya serius. “Jika kamu menerima dan menjadi pewaris, kamu tidak akan pernah kelaparan seumur hidup. Tidak akan pernah bertarung di arena lagi hanya untuk makan. Semua yang kamu butuhkan akan tersedia.”

Dia baru saja akan melanjutkan cerita tentang bagaimana keluarga selama ini mencarinya ketika suara mobil terdengar di luar. Reza langsung berdiri.

Kakek Reza menghela napas. “Reza datang. Saya pergi dulu. Pikirkan baik-baik, Aira. Ini bukan hanya soal pernikahan. Ini soal nama dan masa depanmu.”

Pria tua itu berdiri dan keluar lewat pintu belakang tepat saat Reza masuk dari depan.

Reza menutup pintu, lalu menatap Aira yang wajahnya sangat pucat. “Kakek bilang apa?”

Aira menatapnya tajam. Suaranya dingin. “Apa kamu tahu siapa putri keluarga Hadi yang dijodohkan denganmu?”

Reza mengerutkan kening. “Saya tidak peduli. Saya tidak pernah setuju dengan perjodohan itu. Yang saya pedulikan hanya kamu.”

Aira tertawa pendek, pahit. “Bagus. Karena tunanganmu itu… adalah saya.”

Reza terpaku. Beberapa detik dia hanya berdiri diam, seolah tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Lalu ekspresinya berubah pelan-pelan—dari syok, menjadi bingung, lalu sesuatu yang sangat jelas... lega dan senang yang sulit disembunyikan.

“Kamu…” suaranya serak. “Kamu Aira Hadi?”

“Menurut kakekmu, iya. Menurut saya, saya masih Aira yang bertarung demi uang.”

Reza melangkah mendekat. Matanya tidak lepas dari wajah Aira. “Kalau itu benar… berarti perjodohan yang selalu saya benci… ternyata adalah kamu sejak awal.”

Aira menatapnya. “Kamu terlihat senang.”

“Saya senang.” Reza tidak menyangkal. “Karena berarti saya tidak perlu memilih antara kewajiban keluarga dan kamu. Keduanya adalah orang yang sama.”

Aira mengalihkan pandangan. “Jangan senang dulu. Saya belum bilang ya. Saya bahkan belum percaya.”

“Saya percaya.” Reza berlutut di depan sofa supaya sejajar dengan Aira. “Dan saya akan pastikan kamu tidak perlu memutuskan apa pun dalam keadaan lemah seperti ini. Tapi ketahuilah… saya tidak akan melepaskanmu. Baik sebagai Aira yang saya jaga, maupun sebagai tunangan yang tiba-tiba kembali.”

Aira terdiam lama. Di luar, angin bukit berembus pelan. Ponsel Reza di meja terus bergetar—Raka dan Keenan yang masih mencoba menghubungi. Kali ini Aira tidak langsung memikirkan berapa uang yang baru saja masuk ke rekeningnya.

Dia memikirkan nama yang baru saja diberikan kepadanya… dan pria di depannya yang terlihat seperti baru saja menemukan sesuatu yang hilang bertahun-tahun.

Malam harinya Aira tidak bisa tidur. Dia duduk di kursi kayu dekat jendela kamar atas rumah bukit, malam gelap yang hanya disinari oleh cahaya lampu taman yang redup. Angin pinus masuk melalui celah kaca yang tidak sempurna. Di pangkuannya, ponsel yang sudah diisi daya menampilkan angka rekening yang masih sama—jumlah yang membuat perutnya terasa aneh.

Reza duduk di lantai dekat pintu, punggungnya bersandar ke dinding, senjata masih dalam jangkauan. Dia tidak memaksa Aira bicara sejak pengakuan tadi sore. Hanya menjaga jarak yang cukup dekat untuk bereaksi jika terjadi apa-apa, tapi cukup jauh agar Aira tidak merasa terpojok.

“Kamu belum makan,” kata Reza pelan akhirnya.

Aira tidak menoleh. “Tidak lapar.”

“Keenan bilang kamu harus makan setelah transfusi.”

“Keenan tidak di sini. Dan dia tidak tahu saya dipindahkan.”

Reza terdiam. Dia tahu itu. Ponselnya sudah bergetar hampir tanpa henti sejak siang. Raka mengirim pesan pendek yang semakin kasar. Keenan menelpon berulang kali lalu berhenti, kemungkinan besar karena sedang operasi lagi. Reza tidak membalas satu pun.

Aira menggeser layar ponsel, membuka riwayat transfer sekali lagi. “Raka mengirim semuanya. Bukan sebagian. Semuanya.”

“Dia bilang itu untukmu.”

“Saya tidak minta sebanyak itu.” Aira mengunci layar. “Uang sebanyak ini membuat saya… tidak nyaman. Dulu saya tahu persis berapa hari saya bisa bertahan dengan sisa di saku. Sekarang saya tidak tahu harus menghitung dari mana.”

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
🤣🤣🤣🤣 raka cemburu
falea sezi
suka cwek Badas gini 🤣🤣 sat sett gk menye 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!