Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAPAT KELUARGA DADAKAN
Gosip dari Bu Ida ternyata tidak berhenti di dirinya sendiri. Dua hari kemudian, kabar soal "Anyara turun dari mobil mewah" sampai juga ke telinga Ratih, dibawa oleh Bu Marlina yang mendengarnya dari ibu-ibu arisan.
Sore itu, begitu Anyara selesai menjemur pakaian, Ratih sudah menunggunya di ruang tengah dengan wajah tegang, tangannya bersedekap.
"Anyara, sini duduk. Ibu mau tanya sesuatu."
Anyara duduk dengan perasaan tidak enak, menebak-nebak apa yang akan ditanyakan.
"Katanya kamu kemarin-kemarin naik mobil mewah, diturunin deket minimarket. Bener?"
Anyara menghela napas, sudah menduga topik ini akan sampai juga ke Ratih. "Iya, Bu. Itu temen lama saya, kebetulan ketemu, nganter pulang aja."
"Temen lama siapa? Kok Ibu nggak pernah denger kamu punya temen kayak gitu."
"Temen kerja dulu, Bu, waktu saya masih jaga toko."
"Kok tiba-tiba ketemu lagi? Terus kenapa nggak pernah cerita ke Ibu atau ke Juned?"
Anyara terdiam sejenak, mencari kata-kata yang tepat, meski dalam hati ia merasa aneh—Ratih begitu gencar menginterogasinya soal pertemuan yang sebenarnya tidak ada salahnya sama sekali, sementara struk hotel milik anaknya sendiri sama sekali tidak pernah ia curigai.
"Nggak ada yang perlu diceritain, Bu. Cuma ketemu sebentar, ngobrol biasa."
"Ibu dengar-dengar, orangnya kaya, mobilnya bagus. Anyara, Ibu nggak mau nama keluarga ini jadi omongan orang gara-gara kamu deket-deket sama laki-laki lain. Kamu ini istri orang, inget itu."
Kalimat itu membuat sesuatu di dalam diri Anyara akhirnya meletup. Selama ini ia selalu diam, selalu mengalah, tapi kali ini rasanya sudah terlalu berat untuk ditahan sendirian.
"Bu," ucapnya, suaranya bergetar tapi tegas, "kalau boleh saya juga nanya. Ibu tau nggak, Mas Juned kemarin bilang meeting di Bandung, tapi saya nemu struk hotel di Kemang, tanggal yang sama, buat dua orang?"
Ratih terdiam sesaat, matanya membelalak. "Apa maksud kamu? Kamu nuduh anak Ibu selingkuh?"
"Saya nggak nuduh, Bu. Saya cuma nemu buktinya," jawab Anyara, tangannya gemetar mengeluarkan struk itu dari saku baju, menyerahkannya ke Ratih.
Ratih mengambil kertas itu, membacanya dengan wajah yang berubah-ubah antara kaget dan berusaha mencari pembenaran. "Ini... ini pasti salah paham. Mungkin memang ada acara kantor di hotel itu, terus lanjut ke Bandung."
"Bu, check-in-nya jam dua siang, check-out jam sepuluh malam. Itu bukan sekadar acara kantor sebentar."
"Kamu jangan asal nuduh! Anak Ibu itu kerja keras buat keluarga ini, masa iya tega selingkuh!" Suara Ratih meninggi, lebih terdengar seperti pembelaan diri daripada penyelidikan yang jujur.
Anyara menahan air mata yang mulai menggenang. "Saya nggak nuduh, Bu. Saya cuma minta Ibu juga adil. Kalau saya ketemu temen lama aja langsung diinterogasi habis-habisan, harusnya bukti sekuat ini juga pantas dipertanyakan, kan?"
Ratih terdiam, tidak bisa membantah logika itu, meski jelas terlihat ia tidak rela mempercayainya. "Nanti Ibu tanya langsung sama Juned. Pasti ada penjelasannya."
Malam itu, ketika Juned pulang, suasana rumah terasa berbeda dari biasanya—tegang, senyap, seperti menunggu badai yang akan datang.
Ratih langsung menghampirinya begitu ia masuk pintu. "Juned, sini dulu, Ibu mau tanya sesuatu."
Juned yang masih membawa tas kerjanya, terlihat bingung melihat wajah tegang ibunya. "Ada apa, Bu?"
Ratih menyodorkan struk hotel itu tanpa basa-basi. "Ini apa? Anyara bilang nemu ini di saku celana kamu."
Wajah Juned berubah pucat sesaat, matanya melirik cepat ke arah Anyara yang berdiri di dekat dapur, sebelum kembali menatap ibunya. "Ini... ini salah paham, Bu. Itu acara kantor, ada rapat internal di hotel itu, terus lanjut ke Bandung."
"Tapi kok check-out-nya malem, jam sepuluh?" Ratih mulai terdengar ragu sendiri.
"Rapatnya emang lama, Bu, sampe malem. Terus dari sana langsung berangkat ke Bandung, nginep di sana lagi buat besoknya."
Anyara mendengar penjelasan itu dari kejauhan, hatinya semakin yakin bahwa itu hanyalah kebohongan yang disusun cepat, tidak masuk akal jika dipikirkan lebih teliti—untuk apa check-in hotel jam dua siang kalau rapatnya baru dimulai nanti sore, dan kenapa harus dua orang kalau hanya untuk rapat internal kantor.
"Terus siapa yang nginep bareng kamu di kamar itu? Struknya buat dua orang," Ratih akhirnya bertanya, meski nadanya masih terdengar berharap jawaban yang bisa menenangkannya.
"Sama rekan kerja, Bu, buat efisiensi biaya kantor aja, satu kamar berdua."
Anyara ingin sekali bertanya, "Rekan kerja yang namanya disimpen 'Sayang' di ponsel Mas?" Tapi ia menahan diri, merasa belum saatnya membuka semua kartu yang ia punya. Ia tahu, semakin banyak bukti yang ia tunjukkan sekaligus, semakin mudah Juned dan Ratih mencari alasan untuk membantahnya satu per satu.
Ratih, yang tampaknya lebih memilih percaya pada penjelasan anaknya daripada menghadapi kenyataan pahit, akhirnya mengangguk pelan. "Ya udah, lain kali kalau ada acara kantor kayak gitu, kasih tau dulu ke Ibu sama istrimu, biar nggak salah paham kayak gini."
"Iya, Bu, maaf," jawab Juned, buru-buru menyudahi pembicaraan itu, lalu berjalan ke kamar tanpa menoleh sedikit pun ke arah Anyara.
Malam itu, setelah semua orang tidur, Anyara duduk sendirian di teras belakang, menatap langit gelap tanpa bintang. Ia tahu, kebenaran yang sesungguhnya masih jauh dari terungkap sepenuhnya, dan Ratih—seperti yang sudah ia duga—lebih memilih membela anaknya daripada mempertanyakan lebih jauh.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Hans.
"Mbak Anyara, gimana kabarnya? Udah ngomong sama suami?"
Anyara mengetik balasan dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
"Udah, Pak. Tapi dia bohong lagi, dan mertua saya malah lebih percaya dia."
"Turut prihatin, Mbak. Berat banget pasti rasanya, sendirian ngadepin semua itu."
Anyara menatap layar itu lama, merasakan kehangatan aneh di tengah dinginnya malam itu—bukan karena Hans mengatakan sesuatu yang istimewa, melainkan karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ada seseorang yang benar-benar mengerti betapa sendirinya ia merasa, di tengah rumah yang penuh orang tapi tak satu pun benar-benar berada di pihaknya.
"Terima kasih udah dengerin, Pak. Saya nggak tau lagi harus cerita ke siapa."
"Kapan aja, Mbak. Saya selalu ada, beneran."
Anyara mengunci ponselnya, menatap ke arah kamar yang lampunya sudah gelap, tempat Juned tidur tanpa beban, dan Ratih yang lebih memilih menutup mata dari kebenaran demi menjaga nama baik anaknya sendiri.
Ia tahu, malam ini menjadi titik yang tidak bisa lagi ia mundur—kecurigaannya sudah terkonfirmasi sebagian, kebohongan Juned sudah semakin jelas polanya, dan satu-satunya yang belum ia ketahui hanyalah, sampai kapan ia sanggup bertahan dalam kepura-puraan seperti ini.