NovelToon NovelToon
Dibuang Karena Gendut, Dipilih Menjadi Ibu

Dibuang Karena Gendut, Dipilih Menjadi Ibu

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Romansa pedesaan / Cewek Gendut / Cerai / Tamat
Popularitas:954.8k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.

Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.

Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.

Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.

Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.

Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.

"Kita menikah!"

Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.

Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Basa Basi Busuk

Mireya menutup mulutnya. “Maaf.”

Arven menyipitkan mata. “Untuk apa?”

“Karena saya sudah mendorong Anda.”

“Kenapa kau mendorongku?"

Mireya menggaruk kepalanya. “Ya aku kaget. Kenapa Tuan tiba-tiba tidur di belakangku?"

Arven menghela napas. Ia sendiri mencoba mengingat kenapa tiba-tiba sudah tidur memeluk Mireya.

“Tuan, tolong patuh dengan kontrak yang Tuan buat. Bukan kah kita sepakat untuk tidak saling mengganggu?”

Telinga Arven sebenarnya telah merah karena malu. Akan tetapi, ia bertahan dengan memasang muka datar seperti biasa.

Pak Can yang kebetulan lewat di depan kamar langsung membuka pintu karena mendengar keributan di kamar sang Nyonya. Saat melihat Tuan Besar-nya salah tingkah, Pak Can menundukkan kepala. Bahu pria itu bergetar.

Arven menoleh tajam. “Pak Can.”

“Ya, Tuan.”

“Jangan tertawa.”

“Saya tidak tertawa, Tuan.”

“Bahu Anda bergerak.”

Pak Can langsung berdiri tegak. “Mungkin karena tiupan angin, Tuan.”

Arven menatapnya beberapa detik. Kemudian menghela napas panjang. “Pergilah.”

“Baik, Tuan.” Pak Can segera menghilang.

Namun baru beberapa langkah, Mireya tiba-tiba teringat sesuatu.

Ia menoleh kepada Arven.

“Tuan.”

“Apa lagi?”

Mireya menunjuk ke arah jendela. “Sudah Subuh.”

Arven terdiam.

Mireya menatapnya beberapa saat. “Bukankah Tuan mau salat?”

“Aku tahu.”

“Kalau tahu, kenapa masih berdiri?”

Arven menghela napas. “Aku salat di kamar saja.”

Mireya mengangkat alis. “Di kamar?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Lebih tenang.”

Mireya menahan senyum. “Wah, sekarang Tuan mulai banyak alasan.”

Arven menatapnya datar. “Aku hanya ingin salat di kamar.”

Mireya mengangguk-angguk. “Baiklah.”

Arven hendak berbalik.

Namun Mireya kembali berkata, “Tapi Tuan…”

“Apa?”

“Kalau sudah menjadi suami, harus rajin salat.”

Langkah Arven berhenti. Ia menoleh perlahan.

Mireya memasang wajah polos. “Saya hanya mengingatkan.”

“Aku tidak perlu diingatkan.”

“Benarkah?”

“Benar.”

Mireya tersenyum kecil. “Bagus kalau begitu.”

Arven menatapnya curiga. “Kenapa?”

Mireya hanya menggeleng dan menyilakan Arven keluar dari kamarnya.

'Entah benar-benar menunaikan salat di sana atau hanya menghindari dirinya.' Mireya menggeleng kecil.

“Suami satu ini…”

.

.

Saat berada di meja makan, Mireya tampak telah bersih dan wangi. Begitu juga Elden. Mata Arven diam-diam terus mengamati wajah itu.

Ia merasa tak yakin, perempuan yang ia nikahi dengan syarat tak boleh saling menanyakan, saling mengganggu, kini ia tatap dengan lekat.

"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu bisa berubah? Kamu sakit?"

Mireya sedikit menelengkan kepala. Lalu menatap kedua tangannya. Warnanya lebih gelap dibanding sebelum datang ke sini. Dan, ia baru menyadari, dulu kedua tangannya terlihat lebih bulat. Sekarang bahkan, urat-uratnya sedikit keluar.

"Aku baik-baik saja, Tuan."

"Berhentilah memanggilku 'Tuan!' Aku ini suamimu, bukan tuan-mu."

Mireya mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia hanya berpikir menjadi istri hanyalah sekedar status saja. Karena di sini, ia hanya lah karyawan berstatus istri, meski sebenarnya tak sah.

"Lalu aku harus memanggil apa, Tu— Pak, Om, Bang?"

Arven terdiam. Rahangnya mengeras. “Jangan panggil aku Pak.”

Mireya mengerjapkan mata. “Kenapa?”

“Aku bukan guru sekolahmu.”

“Lalu Om?”

“Lebih buruk.”

“Bang?”

Arven menatapnya tajam.

“Memangnya aku terlihat seperti abang-abang tukang baso?”

Mireya mengamati wajahnya beberapa detik.

“Kalau begitu…”

Arven menunggu.

Mireya tersenyum kecil. “Mas Arven?”

Pria itu tampak menimbang. Entah kenapa, dua kata sederhana itu terdengar jauh lebih enak diterima daripada panggilan apa pun yang sebelumnya diajukan perempuan itu.

“Boleh lah.”

Mireya mengangguk.

“Baik, Mas Arven.” Lalu dia membuang muka dan mencabik.

'Mas Aneh,' batinnya

.

.

“Bagaimana kebunmu?” tanyanya sekadar basa-basi.

Mireya berhenti makan. Ia menatap Arven. “Maaf?”

“Kebun.”

“Oh.” Mireya kembali makan. “Baik.”

Arven menunggu. 'Hanya itu?'

“Baik bagaimana?”

“Tanahnya cukup bagus.”

Arven mengangguk. “Lalu?”

“Beberapa bagian perlu dibersihkan.”

“Setelah dibersihkan?”

“Bisa ditanami.”

Arven menunggu lagi. Mireya tetap makan.

Arven mengernyit karena perempuan itu tak menjelaskan lagi. “Tanaman apa?”

“Sayuran.”

“Ceritakan!”

Sejenak Mireya mengernyit. 'Bukannya dia sendiri bilang nggak boleh nanya-nanya?' batinnya lagi.

Arven tampak masih memperhatikannya, menunggu jawabannya.

“Rencananya mau tanam bayam, kangkung, cabai, tomat, terong.”

Arven mengangguk. “Kenapa?”

Mireya mengangkat wajah. “Kenapa apa?”

“Kenapa kau menanam semua itu?”

“Untuk dimakan.”

Arven terdiam. Pak Can menundukkan wajah. Elden terkikik. Mireya melanjutkan makan dengan tenang.

Arven menarik napas. Ia mulai menyadari ternyata Mireya ini cukup sulit diajak basa-basi.

“Kalau membutuhkan pekerja untuk membantu, katakan padaku.”

“Tidak perlu.”

“Kenapa?”

“Saya bisa sendiri, kok.”

“Lahannya dua hektare," tekan Arven yang tak percaya

Mireya mengangguk. “Saya tahu.”

“Kau mau membersihkan semuanya sendiri?”

“Iya.”

Arven menatap tangannya. Ada beberapa goresan kecil di jari Mireya. “Kenapa tidak mau aku bantu?”

Mireya mengangkat bahu. “Karena saya tidak mau merepotkan orang lain.”

Arven mengerutkan kening. “Semua pekerja di perkebunan ini bekerja untukku.”

“Ya.”

“Jadi, meminta bantuan mereka bukan merepotkan.”

Mireya tampak berpikir sejenak. Kemudian mengangguk. “Kalau begitu, nanti saya akan minta bantuan kalau benar-benar butuh. Sekarang saya masih menikmati mengolahnya sendiri.”

Arven bersandar dan menghela napas

Namun belum sempat mengatakan apa-apa, Elden sudah menyela.

“Ayah.”

“Hm?”

“Besok ikut berkebun?"

Arven langsung menatap putranya. “Ayah?”

“Iya.”

“Ayah tidak langsung turun ke kebun.”

“Sekarang ayo berkebun sama-sama,” pinta Elden lagi.

“Kenapa?”

“Karena Ibu berkebun.”

Arven menatap Mireya.

Mireya hanya mengangkat bahu. “Jangan lihat saya. Saya tidak menyuruhnya.”

Elden mengangguk penuh keyakinan. “Ayah harus ikut.”

“Tidak.”

“Harus.”

“Tidak.”

“Ibu…”

Mireya menoleh.

Elden menunjuk Arven. “Suruh Ayah ikut.”

Halloo kakakku semua, terima kasih sudah ikuti cerita baru CovieVy yaa ... Seperti biasa, mau ngemis VOTE dulu nih tiap Senin. Kalau suka dengan cerita mereka, boleh dong ya, bagi GIFT dan RATE/ULASAN BINTANG 5 nya. TERIMA KASIH... LOVE LOVE LOVE

*bersambung*

1
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
wah, Eden kenal Tamboy Kun ya 😄🤣
Violet
Bahagia itu bukan karna dipaksakan, bukan jg dicari temukan tp diciptakan terlahir dr dlm hati kita sndiri. Sesederhana itu.
Terima kasih utk karyanya kak, sehat² slalu & semangat utk karya terbarunya 🙏🏻💐💪🏼
Minarni
🤣🤣🤣 kapok di suruh pulang sendiri
ms. yati74
ceritanya keren sederhana seperti kehidupan sehari hari,,kosa katanya pun tertata ga berbelit Belit....sehat sehat yaa author❤️❤️❤️
SoVay: makasi kak ❤️
total 1 replies
Arda Aldi
cerita nya sangat bagus ada cerita kehidupan yang bisa di pelajari di kisah ini,sampai tidak terasa udah saking asiknya baca tiba2tamat ceritanya/Smile/
Eka Novariani
dasar si Syahzan blm move on...kemana cewek selingkuhan Lo itu?
Eka Novariani
❤️❤️❤️❤️❤️
Eka Novariani
wah masih tokcer ya ortu Mireya 😂😂
Eka Novariani
Itulah spesial nya Mireya Ven 😂😂
Eka Novariani
gitu dong thor 💪🏽👍🏼
Eka Novariani
makan bayam Elden seperti Popeye yg kuat 😍
Eka Novariani
mikirnya jgn kejauhan Mireya..😂
Eka Novariani
Mireya umurmu berapa sih 🤣🤣🤣🤣...Sabar...sabar Ven...😂🤣
Eka Novariani
hahaha Mireya malah keberadaannya di rumah Arven bergantung pada sayuran yang ditanamnya 😂😂🤣🤣
apa ga geram si Arven nengoknya 😂😂
Eka Novariani
tanya sama penghulu langsung... tanyakan apa yg hendak diketahui biar jelas semuanya, hbis itu tau langkah apa yg akan diambil sesuai dgn isi hati mu Arven 🌹😍
Senja Susanti
ini seperti cerita Ai yang judulnya menjadi pengasuh anak mafia.
Erdawati Al Minang Kabauwi
semoga acara akad nikah ulang berjalan lancar
Manis
keren si mirea
perempuan, gendut, mau mencangkul
padahal dia bisa minta batuann
sungguh luar biasa
Erdawati Al Minang Kabauwi
sepertinya ada pernikahan mewah ni
Kristiwolla Ssps
awal yg baik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!