Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Basa Basi Busuk
Mireya menutup mulutnya. “Maaf.”
Arven menyipitkan mata. “Untuk apa?”
“Karena saya sudah mendorong Anda.”
“Kenapa kau mendorongku?"
Mireya menggaruk kepalanya. “Ya aku kaget. Kenapa Tuan tiba-tiba tidur di belakangku?"
Arven menghela napas. Ia sendiri mencoba mengingat kenapa tiba-tiba sudah tidur memeluk Mireya.
“Tuan, tolong patuh dengan kontrak yang Tuan buat. Bukan kah kita sepakat untuk tidak saling mengganggu?”
Telinga Arven sebenarnya telah merah karena malu. Akan tetapi, ia bertahan dengan memasang muka datar seperti biasa.
Pak Can yang kebetulan lewat di depan kamar langsung membuka pintu karena mendengar keributan di kamar sang Nyonya. Saat melihat Tuan Besar-nya salah tingkah, Pak Can menundukkan kepala. Bahu pria itu bergetar.
Arven menoleh tajam. “Pak Can.”
“Ya, Tuan.”
“Jangan tertawa.”
“Saya tidak tertawa, Tuan.”
“Bahu Anda bergerak.”
Pak Can langsung berdiri tegak. “Mungkin karena tiupan angin, Tuan.”
Arven menatapnya beberapa detik. Kemudian menghela napas panjang. “Pergilah.”
“Baik, Tuan.” Pak Can segera menghilang.
Namun baru beberapa langkah, Mireya tiba-tiba teringat sesuatu.
Ia menoleh kepada Arven.
“Tuan.”
“Apa lagi?”
Mireya menunjuk ke arah jendela. “Sudah Subuh.”
Arven terdiam.
Mireya menatapnya beberapa saat. “Bukankah Tuan mau salat?”
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, kenapa masih berdiri?”
Arven menghela napas. “Aku salat di kamar saja.”
Mireya mengangkat alis. “Di kamar?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Lebih tenang.”
Mireya menahan senyum. “Wah, sekarang Tuan mulai banyak alasan.”
Arven menatapnya datar. “Aku hanya ingin salat di kamar.”
Mireya mengangguk-angguk. “Baiklah.”
Arven hendak berbalik.
Namun Mireya kembali berkata, “Tapi Tuan…”
“Apa?”
“Kalau sudah menjadi suami, harus rajin salat.”
Langkah Arven berhenti. Ia menoleh perlahan.
Mireya memasang wajah polos. “Saya hanya mengingatkan.”
“Aku tidak perlu diingatkan.”
“Benarkah?”
“Benar.”
Mireya tersenyum kecil. “Bagus kalau begitu.”
Arven menatapnya curiga. “Kenapa?”
Mireya hanya menggeleng dan menyilakan Arven keluar dari kamarnya.
'Entah benar-benar menunaikan salat di sana atau hanya menghindari dirinya.' Mireya menggeleng kecil.
“Suami satu ini…”
.
.
Saat berada di meja makan, Mireya tampak telah bersih dan wangi. Begitu juga Elden. Mata Arven diam-diam terus mengamati wajah itu.
Ia merasa tak yakin, perempuan yang ia nikahi dengan syarat tak boleh saling menanyakan, saling mengganggu, kini ia tatap dengan lekat.
"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu bisa berubah? Kamu sakit?"
Mireya sedikit menelengkan kepala. Lalu menatap kedua tangannya. Warnanya lebih gelap dibanding sebelum datang ke sini. Dan, ia baru menyadari, dulu kedua tangannya terlihat lebih bulat. Sekarang bahkan, urat-uratnya sedikit keluar.
"Aku baik-baik saja, Tuan."
"Berhentilah memanggilku 'Tuan!' Aku ini suamimu, bukan tuan-mu."
Mireya mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia hanya berpikir menjadi istri hanyalah sekedar status saja. Karena di sini, ia hanya lah karyawan berstatus istri, meski sebenarnya tak sah.
"Lalu aku harus memanggil apa, Tu— Pak, Om, Bang?"
Arven terdiam. Rahangnya mengeras. “Jangan panggil aku Pak.”
Mireya mengerjapkan mata. “Kenapa?”
“Aku bukan guru sekolahmu.”
“Lalu Om?”
“Lebih buruk.”
“Bang?”
Arven menatapnya tajam.
“Memangnya aku terlihat seperti abang-abang tukang baso?”
Mireya mengamati wajahnya beberapa detik.
“Kalau begitu…”
Arven menunggu.
Mireya tersenyum kecil. “Mas Arven?”
Pria itu tampak menimbang. Entah kenapa, dua kata sederhana itu terdengar jauh lebih enak diterima daripada panggilan apa pun yang sebelumnya diajukan perempuan itu.
“Boleh lah.”
Mireya mengangguk.
“Baik, Mas Arven.” Lalu dia membuang muka dan mencabik.
'Mas Aneh,' batinnya
.
.
“Bagaimana kebunmu?” tanyanya sekadar basa-basi.
Mireya berhenti makan. Ia menatap Arven. “Maaf?”
“Kebun.”
“Oh.” Mireya kembali makan. “Baik.”
Arven menunggu. 'Hanya itu?'
“Baik bagaimana?”
“Tanahnya cukup bagus.”
Arven mengangguk. “Lalu?”
“Beberapa bagian perlu dibersihkan.”
“Setelah dibersihkan?”
“Bisa ditanami.”
Arven menunggu lagi. Mireya tetap makan.
Arven mengernyit karena perempuan itu tak menjelaskan lagi. “Tanaman apa?”
“Sayuran.”
“Ceritakan!”
Sejenak Mireya mengernyit. 'Bukannya dia sendiri bilang nggak boleh nanya-nanya?' batinnya lagi.
Arven tampak masih memperhatikannya, menunggu jawabannya.
“Rencananya mau tanam bayam, kangkung, cabai, tomat, terong.”
Arven mengangguk. “Kenapa?”
Mireya mengangkat wajah. “Kenapa apa?”
“Kenapa kau menanam semua itu?”
“Untuk dimakan.”
Arven terdiam. Pak Can menundukkan wajah. Elden terkikik. Mireya melanjutkan makan dengan tenang.
Arven menarik napas. Ia mulai menyadari ternyata Mireya ini cukup sulit diajak basa-basi.
“Kalau membutuhkan pekerja untuk membantu, katakan padaku.”
“Tidak perlu.”
“Kenapa?”
“Saya bisa sendiri, kok.”
“Lahannya dua hektare," tekan Arven yang tak percaya
Mireya mengangguk. “Saya tahu.”
“Kau mau membersihkan semuanya sendiri?”
“Iya.”
Arven menatap tangannya. Ada beberapa goresan kecil di jari Mireya. “Kenapa tidak mau aku bantu?”
Mireya mengangkat bahu. “Karena saya tidak mau merepotkan orang lain.”
Arven mengerutkan kening. “Semua pekerja di perkebunan ini bekerja untukku.”
“Ya.”
“Jadi, meminta bantuan mereka bukan merepotkan.”
Mireya tampak berpikir sejenak. Kemudian mengangguk. “Kalau begitu, nanti saya akan minta bantuan kalau benar-benar butuh. Sekarang saya masih menikmati mengolahnya sendiri.”
Arven bersandar dan menghela napas
Namun belum sempat mengatakan apa-apa, Elden sudah menyela.
“Ayah.”
“Hm?”
“Besok ikut berkebun?"
Arven langsung menatap putranya. “Ayah?”
“Iya.”
“Ayah tidak langsung turun ke kebun.”
“Sekarang ayo berkebun sama-sama,” pinta Elden lagi.
“Kenapa?”
“Karena Ibu berkebun.”
Arven menatap Mireya.
Mireya hanya mengangkat bahu. “Jangan lihat saya. Saya tidak menyuruhnya.”
Elden mengangguk penuh keyakinan. “Ayah harus ikut.”
“Tidak.”
“Harus.”
“Tidak.”
“Ibu…”
Mireya menoleh.
Elden menunjuk Arven. “Suruh Ayah ikut.”
Halloo kakakku semua, terima kasih sudah ikuti cerita baru CovieVy yaa ... Seperti biasa, mau ngemis VOTE dulu nih tiap Senin. Kalau suka dengan cerita mereka, boleh dong ya, bagi GIFT dan RATE/ULASAN BINTANG 5 nya. TERIMA KASIH... LOVE LOVE LOVE
*bersambung*
kontrak oh kontrak🤔
mending jujur daripada mantan mertua yang mengacaukan semua greget sama Mire
trauma diselingkuhi itu kyk kangker dufalam tubuh,ga keliatan tapi sakitnya nyata. merasuk Ampe kedalam aliran darah dan otak kita tanpa kita sadari
selalu mempertanyakan apakah kita cukup baik
apakah ini semua karena salah kita?
apakah ada g kurang dr kita?
sampai mati pasti kebawa🥹🥹
Mau nya lupa
maunya ga dipikirin
tapi...🫣🥹🥹
Dia takut nasib pernikahannya akan sama dgn sebelumnya
bahkan sekelas artis sebelah aj yg lagi rame
ketemu yg baru,setengah mampus nyerein istrinya 🤣🤣.
katanya yg baru dipilih karena lemah lembut.
hei...kami juga awalnya kembang desa
pas lama nikah jadi kembang api🤣🤣🤣
apalagi pengalaman mireya yg paket komplit...🥹
hatinya aja ga ada gerbang nya di KK
ga ada yg jagain🤣🤣🤣
Iddah itu berlaku pas suami ngucapin talak kan?
nah...si b4ngs4t itukan nalak nya udah lama...lebih dr 3 bulan kali
di pengadilan mah tinggal ketik pali doank
wahhhh....begini orang yg ga ngerti agama sok sok an mau pake dalili agama
tapi bener Lo
kita yg terbiasa di sajikan pisau didepan mata,tetibaan dikasih bunga
pasti bingung kan ya🫣🥹🥹