NovelToon NovelToon
Memburu Langit Abadi

Memburu Langit Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: RENDY Marcelius

Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.

Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.

Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.

Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CINCIN PERAK TUA

Hujan deras mengguyur halaman depan Sekte Awan Langit. Langit kelabu seakan tak ingin melihat apa yang terjadi di bawahnya. Di sudut paling gelap, di bawah atap yang bocor dan meneteskan air kotor, berdiri Liu Xuanyuan.

Pakaiannya lusuh, berwarna kelabu pudar, menempel di tubuh kurusnya. Tangan kanannya memeluk sapu yang sudah hampir tidak ada pegangannya. Di wajahnya, sehelai kain mantra hitam menutupi mata kirinya kain yang dipasang orang-orang sekte agar "monsternya tidak menakuti murid lain."

"Hai, cacat! Minggir!"

Sebuah batu menghantam bahu kirinya. Xuanyuan tidak menoleh. Dia sudah tahu siapa itu. Murid-murid inti sekte, dengan jubah bersulam awan putih yang bersih, tertawa sambil berlalu. Mereka melewati dia seperti melewati sampah di jalan.

"Lihat matanya yang tertutup itu. Pasti di bawahnya ada sesuatu yang menjijikkan."

"Anak yatim tanpa bakat. Sepuluh tahun di sini dan masih di tahap Pemurnian Jiwa tingkat satu. Memalukan."

Kata-kata itu seperti air hujan

menembus kulit, tapi tidak lagi menembus hati. Xuanyuan menunduk, menyapu lumpur yang terlempar ke jalan. Dia sudah terbiasa. Di dunia ini, yang lemah bukan hanya tidak punya suara, dia tidak punya hak untuk hidup layak.

Malam itu, badai datang lebih dahsyat dari biasanya. Petir menyambar menara tertinggi sekte, menggetarkan tanah hingga ke telapak kakinya. Xuanyuan berlindung di balik gerbang kayu tua yang berkarat tempat dia biasanya tidur. Saat dia menarik kakinya masuk, jari telunjuknya tergores paku tajam yang menonjol keluar.

Darah menetes merah, hangat, jatuh ke tanah retak di bawahnya.

Saat tetesan darah itu menyentuh celah tanah yang gelap, dunia seakan berhenti berputar.

Tanah bergetar pelan. Bukan gempa tapi detak. Seperti jantung yang bangkit dari tidur panjang. Dari celah itu, cahaya perak redup perlahan naik, membawa bersama sebuah benda yang seakan tertimbun sejak awal penciptaan.

Sebuah cincin perak tua. Polos, tanpa ukiran, berwarna perak yang sudah memudar seperti bulan yang terlupakan.

Cincin itu melayang pelan, lalu seakan punya kesadaran sendiri melompat dan menempel tepat di jari telunjuk yang berdarah itu. Panas yang lembut menjalar dari jari ke seluruh tubuhnya, menyusup ke tulang, ke jiwa.

"Apa... ini?" bisik Xuanyuan, mencoba melepaskannya tapi cincin itu sudah menyatu dengan kulitnya, seperti bagian dari dirinya yang terpisah dan kini kembali.

Dan di dalam kepalanya, di dalam ruang yang lebih dalam daripada pikiran, sebuah suara bergema. Bukan di telinga tapi di jiwa. Suara yang berat, lelah, namun mengandung kedalaman yang tidak bisa diukur oleh waktu.

"Lama sekali... tidak ada yang datang... keturunan Mata Ganda... akhirnya kau muncul."

Xuanyuan gemetar. Dia mundur hingga punggungnya menabrak gerbang kayu. "Siapa?! Siapa di sana?!"

"Tenang, anakku. Aku tidak akan menyakitimu. Namaku Lang Wuyan. Dan kau... kau memegang sesuatu yang bahkan kaisar-kaisar pun rela membakar dunia untuk mendapatkannya."

Suara itu berhenti sejenak, lalu lirih seperti angin malam:

"Buka kain itu. Biarkan aku melihat mata yang membuat seluruh alam semesta gemetar sejak zaman purba."

Jantung Xuanyuan berdebar kencang. Tangannya terangkat perlahan ke kain mantra hitam yang menutupi mata kirinya. Selama sepuluh tahun, tidak ada yang boleh melihatnya. Orang tuanya menutupinya sebelum meninggalkannya. Orang-orang sekte menutupinya agar dia tidak dianggap iblis.

Tapi malam ini, di tengah badai, di bawah langit yang gelap, dia perlahan menarik kain itu turun.

Mata kirinya terbuka.

Dua pupil hitam, berlapis konsentris seperti pusaran bintang yang mati jauh di ujung semesta. Di kedalamannya, cahaya ungu tua berdenyut lembut misterius, kuno, dan menakutkan.

"Benar-benar... Mata Pupil Ganda." Suara Lang Wuyan bergetar, bukan takut tapi kagum dan sedih sekaligus. "Orang tuamu mereka menyegel kekuatan itu dengan empat Segel Langit. Mereka bukan membuangmu, Liu Xuanyuan. Mereka menyembunyikanmu. Karena kekuatan di dalam dirimu... terlalu berbahaya bagi realitas itu sendiri."

Darah berhenti mengalir di tubuhnya. Orang tuanya tidak membuang dia? Selama ini dia membenci mereka yang meninggalkannya di gerbang sekte. Selama ini dia mengira dia adalah kesalahan yang dibuang.

"Mereka memberimu dua hal yang tidak dimiliki siapa pun di seluruh sejarah: Benih Primordial yang terkunci, dan mata yang melihat kebenaran segala Dao. Kau bukan orang yang tidak berbakat, anakku. Kau adalah orang yang paling berbakat dan paling berbahaya yang pernah hidup."

Xuanyuan menatap pantulan dirinya di genangan air hujan. Mata itu memandang balik dalam, kuno, penuh rahasia yang menunggu dibuka.

"Cincin ini menyimpan seluruh pengetahuanku. Alkimia terlarang, seni bela diri yang dihapus dari sejarah, dan jalur untuk membuka segel-segel itu. Tapi ingat kekuatan ini bukan anugerah. Ini adalah hukuman. Semakin banyak kau membuka, semakin banyak yang akan takut padamu. Semakin kuat kau, semakin banyak yang ingin membunuhmu."

Xuanyuan mengepalkan tangannya erat-erat. Cincin perak itu terasa hangat di jarinya. Di langit, petir menyambar lagi dan kali ini, dia tidak menunduk. Dia mengangkat kepalanya, menatap menara tertinggi Sekte Awan Langit dengan mata yang kini terbuka sepenuhnya.

"Mereka yang menghinaku... yang membuang orang tuaku... yang menyebutku monster..." suaranya pelan tapi bergetar seperti tali busur yang ditarik sepenuhnya, "Aku akan menemukan mereka semua. Aku akan membuka setiap segel, setiap rahasia. Dan aku akan memburu langit ini sampai tidak ada tempat bagi mereka untuk bersembunyi."

Cahaya ungu di matanya berdenyut sekali lalu meredup saat dia menutupnya kembali. Kain mantra hitam dikembalikan ke tempatnya. Tapi sesuatu di dalam dirinya sudah berubah malam itu. Dia bukan lagi sekadar anak yang menunggu dihina.

Dia adalah Liu Xuanyuan. Dan dia baru saja memulai perjalanan yang akan mengguncang empat domain.

1
Eka P
h
Predi Siswanto
kapan kuat nya kalau kayak gini ini bukan pemburu langit tapi pemburu sampah bos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!