Dibuang oleh keluarga, dikhianati oleh orang yang dicintai, dan merasa tidak memiliki siapa-siapa.
Laura mengira hidupnya telah berakhir.
Sampai seorang pria asing datang dan berkata.“Kamu adalah mempelai ku.”
Laura tidak tahu siapa pria itu.
Yang dia tahu, sejak pertemuan malam itu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 : HARI KETIKA SEGALANYA BERAKHIR
Pagi itu Laura kembali datang ke kampus seperti biasanya. Meski semalam ia pulang dalam keadaan lelah dan pikirannya masih dipenuhi perkataan ayahnya, ia berusaha menjalani semuanya seperti tidak terjadi apa-apa. Ia tidak ingin teman-temannya mengetahui masalah keluarganya. Baginya, menyimpan semuanya sendiri jauh lebih mudah daripada harus menjelaskan sesuatu yang bahkan dirinya sendiri sulit pahami.
Setelah menyelesaikan kelas pertama, Laura berjalan menuju taman kecil di belakang gedung fakultas. Tempat itu biasanya cukup sepi dan menjadi tempat favoritnya untuk membaca atau sekadar menenangkan diri. Namun baru beberapa langkah dia berjalan, seseorang memanggil namanya.
"Laura." panggil seseorang dari belakang.
Langkahnya terhenti.
Laura menoleh dan melihat pacarnya berdiri beberapa meter di belakangnya. Pria itu terlihat serius. Tidak seperti biasanya yang selalu menyambut Laura dengan senyum.
Laura tersenyum kecil. "Kamu mau ke mana?"
"Aku mau bicara sama kamu."
Nada suaranya membuat senyum Laura perlahan menghilang.Mereka akhirnya duduk di salah satu bangku taman. Laura menatapnya dengan bingung, menunggu pria itu mengatakan sesuatu.
"Ada apa?" tanya Laura lembut.
Pacarnya menarik napas panjang "Laura, aku rasa kita harus berhenti sampai di sini."
Laura membeku ntuk beberapa detik, dia hanya menatap pria di depannya seolah-olah tidak memahami perkataan yang baru saja didengarnya.
"Apa?" jawab Luara sedikit kaget.
"Aku minta maaf." kata pacarnya.
Laura mencoba tertawa kecil, mengira pria itu hanya sedang bercanda. "Kamu bercanda, kan?"
"Aku serius."
Senyum Laura menghilang sepenuhnya.
"Tapi kenapa?" tanya Laura bingung.
Pria itu terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab, "Aku sudah menemukan orang lain."
Kalimat sederhana itu membuat dada Laura terasa sesak."Orang lain?" tanya Laura dengan sedikit emosi.
"Iya." jawab pacar nya dengan suara yang serak.
Laura menunduk. Tangannya yang berada di atas pangkuan perlahan mengepal.
"Sejak kapan?"
"Beberapa waktu terakhir."
Laura mengangkat wajahnya. "Jadi selama ini kamu sudah dekat dengan dia?"
Pria itu tidak menjawab.Dan diamnya sudah cukup menjadi jawaban.
Laura menatapnya cukup lama. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan. dia ingin bertanya apa yang kurang darinya. dia ingin bertanya apakah selama ini semua perhatian dan perkataan pria itu hanyalah kebohongan.
Namun anehnya, tidak ada satu pun kata yang keluar.Bibirnya terbuka, tetapi suaranya seperti hilang."Aku minta maaf, Laura. Aku harap kamu bisa mengerti."
Laura hanya mengangguk pelan."Ya."
Hanya itu yang mampu ia katakan.Pria itu kemudian berdiri dan pergi meninggalkannya.
Laura tetap duduk di bangku tersebut. dia memandang punggung pria yang semakin jauh sampai akhirnya menghilang di antara kerumunan mahasiswa.
Air matanya perlahan jatuh. Laura buru-buru mengusapnya.Laura tidak tahu harus berkata apa lagi.
Sejak kecil, Laura selalu menjadi orang yang ditinggalkan. Di rumah, kasih sayang orang tuanya selalu terasa lebih banyak untuk Dinda. Dan sekarang, ketika dia berharap setidaknya memiliki seseorang yang bisa menjadi tempat bersandar, orang itu pun pergi karena menemukan wanita lain.
Laura menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya."Kenapa selalu aku?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja.Namun tidak ada yang menjawab.Setelah beberapa saat, Laura berdiri dan kembali mengikuti perkuliahan. dia berusaha terlihat biasa saja meskipun matanya masih sembap. dia tidak ingin siapa pun bertanya.
Hari terasa sangat panjang.
Ketika semua kegiatan kampus selesai, Laura pulang lebih cepat dari biasanya. dia tidak ingin terlalu lama berada di luar. Laura hanya ingin masuk kamar, menutup pintu, lalu menangis tanpa harus dilihat siapa pun.
Namun begitu sampai di rumah, langkah Laura kembali terhenti.Dari ruang keluarga terdengar suara percakapan.Laura melihat Dinda sedang duduk bersama Adrian.
Keduanya terlihat begitu akrab. Dinda bahkan tertawa ketika Adrian mengatakan sesuatu kepadanya. Sementara itu, kedua orang tua Laura juga berada di sana.
Pemandangan itu terasa seperti pukulan kedua untuk Laura.Hari ini pacarnya meninggalkannya karena wanita lain.
Dan ketika Laura pulang, dia harus melihat Dinda bersama pria yang selalu diperlakukan keluarganya seolah-olah Dinda adalah pusat dari segala kebahagiaan mereka.
Dinda langsung melihat Laura."Laura, kamu sudah pulang?"
Laura tidak menjawab.
Adrian sempat menoleh kepadanya, tetapi Laura hanya memberikan tatapan singkat sebelum menundukkan kepala.
"Aku mau ke kamar."Ia langsung berjalan melewati mereka.
Dinda mengerutkan kening. "Laura, tunggu—"
Laura tidak berhenti,Begitu sampai di kamar, ia menutup pintu dan menguncinya.
Punggungnya bersandar pada pintu. Perlahan tubuhnya merosot hingga ia duduk di lantai.
Tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah.
Laura menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara terlalu keras.Hari itu benar-benar terlalu berat.
Ia kehilangan seseorang yang selama ini ia pikir akan tetap berada di sisinya. Dan ketika pulang, ia kembali diingatkan bahwa dirinya tidak pernah benar-benar menjadi bagian penting dalam keluarganya.
Malam itu Laura menangis sampai akhirnya tertidur.
Keesokan paginya, ketika Laura membuka mata, rumah sudah terasa jauh lebih sepi.
dia pun keluar dari kamar setelah bersiap untuk kuliah dan menemukan ruang keluarga kosong.
Ayahnya sudah berangkat bekerja,Ibunya juga tidak ada Dinda pun tidak terlihat.
Ketika Laura bertanya kepada salah satu pelayan rumah, ia baru mengetahui bahwa Helena dan Dinda sedang pergi bersama Adrian.
Laura hanya mengangguk,Tidak ada rasa terkejut dan Memang begitulah biasanya.
Semua orang memiliki kehidupan masing-masing, sementara dirinya hanya perlu belajar untuk tidak berharap terlalu banyak.
Laura kembali ke kamar untuk mengambil tasnya.Namun sebelum berangkat, Laura mendengar suara mobil berhenti di depan rumah dan Laura mengernyitkan kening.
dia berjalan menuju jendela dan melihat sebuah mobil yang cukup ia kenal.
"Kakek?"
Laura segera turun.
Pintu utama terbuka dan seorang pria tua masuk dengan beberapa barang di tangannya. Wajahnya terlihat hangat, berbeda jauh dengan suasana rumah yang selama ini Laura rasakan.
Arthur Prayoga.
Satu-satunya orang dalam keluarga yang selalu memperlakukan Laura dengan penuh kasih sayang.
"Laura." kata Arthur,Mendengar namanya dipanggil.
Laura langsung tersenyum."Kakek."
Arthur membuka kedua tangannya dan Laura segera menghampirinya dan memeluk sang kakek.
"Kamu semakin kurus," ujar Arthur sambil mengusap kepala cucunya.
Laura tertawa kecil. "Kakek baru datang sudah bilang begitu."
"Karena Kakek memperhatikanmu."
Kalimat sederhana itu membuat senyum Laura sedikit memudar.
Arthur memperhatikan wajah cucunya. Matanya tampak sembap meskipun Laura sudah berusaha menyembunyikannya.
"Kamu habis menangis?"
Laura langsung menggeleng. "Tidak."
Arthur tidak memaksanya menjawab.
Laura hanya tersenyum lembut, lalu memberikan sebuah kotak besar yang dibawanya.
"Ini untukmu."
Laura melihat kotak tersebut dengan bingung."Untuk aku?"
"Iya." jawab kakek nya sambil tersenyum.
Laura menerima kotak itu dan membukanya perlahan.
Matanya langsung membesar di dalamnya terdapat sebuah gaun yang sangat indah. Warnanya lembut, dengan desain yang elegan dan terlihat begitu anggun. Gaun itu tampak seperti sesuatu yang selama ini hanya bisa Laura lihat dari balik etalase toko.
"Kakek membelinya untukku?"
Arthur mengangguk."Sebentar lagi ulang tahunmu. Kakek ingin memberikan sesuatu yang pantas untuk cucu Kakek."
Laura menyentuh kain gaun itu dengan hati-hati dadanya terasa hangat.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang benar-benar mengingat hari ulang tahunnya.
"Terima kasih, Kek."kata Laura.
Arthur tersenyum."Kamu suka?"
Laura mengangguk sambil menahan air mata."Suka banget."
Arthur kemudian mengusap rambut Laura."Pakailah saat ulang tahunmu nanti, Kakek ingin melihatmu tersenyum."
Laura memeluk gaun itu erat-erat dia tidak tahu bahwa gaun yang diberikan dengan penuh kasih sayang itu kelak akan menjadi awal dari sebuah kejadian yang mengubah hidupnya.
dan Laura juga belum tahu bahwa beberapa hari lagi, kesabarannya akan berada di ujung batas.
Karena seseorang akan menghancurkan satu-satunya hadiah yang membuatnya merasa benar-benar dicintai.
sedih kan ya...
kaki emak melyang terbang menghantam kepala richard.
DUAK
"emm.. puas emak, RASAIN! set ... an!" 🤯🤯🤯