Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.
Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.
Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.
"Jangan sentuh!"
Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.
"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7.
Sedan hitam mewah milik Hayden sudah bersiaga tepat di depan gerbang utama kampus begitu bel pukul 12.00 berbunyi. Aluna yang terburu-buru melangkah keluar langsung dihampiri oleh pria berjas rapi—asisten pribadi Hayden yang berdiri di samping pintu mobil yang terbuka.
"Mbak Aluna, silakan masuk," panggil sang asisten sopan.
Aluna menahan napasnya, mempercepat langkah tanpa peduli pada tatapan bingung teman-temannya di sekitar pelataran kampus. Begitu masuk ke dalam kabin mobil yang dingin dan harum, sedan itu langsung melaju membelah jalanan kota menuju area perbukitan.
Empat puluh menit perjalanan berlalu. Sedan mewah itu berhenti di halaman studio perbukitan yang sunyi. Begitu turun dari mobil, asisten Hayden yang mengekor dari belakang menyapa Aluna dengan raut wajah serba salah.
"Mbak Aluna, tolong tunggu sebentar di ruang tamu luar," cegah asisten itu dengan suara pelan. "Pak Hayden sedang ada urusan mendadak di dalam studio. Beliau—"
"Aku tidak ada waktu untuk menunggu," potong Aluna dingin, memutar tubuhnya tanpa memedulikan cegahan sang asisten. "Posisiku di sini bukan tamu. Aku hanya ingin menyelesaikan pekerjaanku hari ini sesepat mungkin dan pergi menjenguk kakakku di rumah sakit."
"Tapi Mbak Aluna, Pak Hayden belum—"
Aluna menulikan telinganya. Dengan langkah cepat, ia menyusuri lorong menuju pintu kayu besar studio. Namun, tepat saat jemarinya menyentuh gagang pintu yang dingin, pergerakannya terhenti seketika.
Suara-suara aneh mengudara dari dalam studio yang biasanya sepi. Desahan napas yang berat, erangan tertahan, serta suara desakan berirama basah yang merayapi keheningan.
Tubuh Aluna membeku. Jantungnya berdegup kencang secara tidak teratur.
Didorong oleh rasa syok yang mendadak melumpuhkan logika, Aluna menggeser sedikit celah pintu kayu yang tak terkunci rapat. Lewat celah sempit itu, pemandangan di dalam studio menampar indra penglihatannya tanpa ampun.
Di atas sofa kulit hitam di tengah studio, Hayden duduk bersandar dengan kemeja yang sudah terlepas sebagian. Di bawahnya, seorang wanita berambut panjang tampak bertelanjang bulat tanpa selembar benang pun. Wanita itu berlutut di antara kedua kaki Hayden, dengan penuh ketelatenan memainkan dan memuaskan batang kejantanan pria itu.
Erangan nikmat yang rendah dan berat keluar dari tenggorokan Hayden. Pria itu menengadahkan kepalanya, menatap langit-langit atap kaca studio yang terang benderang.
Namun, saat Hayden memalingkan wajahnya ke arah pintu, manik matanya yang tajam menangkap keberadaan Aluna yang mengintip dari celah kayu.
Mata mereka beradu selama beberapa detik.
Anehnya, Hayden sama sekali tidak terkejut, panik, apalagi menghentikan pergumulan itu. Pria itu justru membiarkannya, menatap Aluna dengan binar dingin yang sarat akan dominasi, sementara jemarinya mencengkeram rambut wanita di bawahnya untuk makin memperdalam gerakan. Wanita itu sendiri tampak begitu menikmati perannya, dengan senang hati melayani sang seniman tanpa sadar ada mata lain yang menyaksikan.
Tak lama kemudian, erangan Hayden makin memburu hingga pria itu akhirnya mencapai puncaknya, menumpahkan seluruh gairahnya.
Aluna mencengkeram tepi pintu kayu dengan jemari bergetar. Mukanya memerah panas bercampur mual dan jijik.
"Sudah selesai. Masuk, Aluna," suara Hayden bergema dari dalam studio, datar dan dingin tanpa penyesalan sedikit pun.
Wanita telanjang yang baru saja merapikan posisinya tertegun bingung. Ia menoleh ke arah pintu saat Aluna melangkah masuk dengan wajah pucat pasi dan tatapan terpaku pada lantai.
"Hayden... dia siapa?" tanya wanita itu dengan suara manja sembari berusaha menutupi dadanya yang terbuka dengan helai rambutnya.
Hayden yang sedang merapikan celananya dan mengancingkan kemejanya tak menoleh sedikit pun pada wanita itu. "Bukan urusanmu. Kenakan pakaianmu dan keluar dari sini."
"Tapi Hayden, soal janjimu—"
"Aku akan membuatmu naik daun," potong Hayden tanpa kompromi, suaranya sarat akan wibawa yang tak bisa dibantah. "Semua detail proyek dan publikasimu akan diurus oleh asisten pribadiku di luar. Pergi sekarang."
Wanita itu sempat cemberut, namun cepat-cepat memunguti pakaian mewahnya di atas lantai, mengenakannya dengan terburu-buru, lalu melangkah keluar melewati Aluna.
Saat wanita itu berjalan melewatinya, Aluna sempat mendongak sebentar. Seketika matanya melebar dalam rasa tercengang yang luar biasa.
Ia mengenali wajah itu. Wanita itu adalah aktris pendatang baru yang wajahnya belakangan ini sering berseliweran di papan iklan kota dan drama televisi. Seorang publik figur yang sedang naik daun.
Kenapa dia mau diperlakukan serendah itu oleh Hayden? Apa yang sebenarnya mereka lakukan di balik studio ini? batin Aluna dipenuhi kebingungan yang membakar.
Namun Aluna memilih untuk menutup mulutnya rapat-raptan. Ia berdiri membisu di dekat pintu, enggan mendekati area sofa yang masih beraroma percintaan liar itu.
Hayden berdiri, mengusap lehernya yang agak basah oleh keringat. "Duduk di sana, Aluna. Aku ingin membersihkan diri sebentar ke kamar mandi."
Tanpa menunggu jawaban Aluna, Hayden melangkah masuk ke pintu samping menuju kamar mandi pribadi studio.
Suara gemericik air shower mulai terdengar.
Aluna menghembuskan napas yang sejak tadi ditahannya. Pandangannya berputar mengamati seluruh sudut studio. Di sudut ruangan, sebuah kanvas raksasa yang baru saja diselesaikan Hayden berdiri terpampang. Aluna melangkah mendekatinya dengan rasa ingin tahu yang tak tertahankan.
Di atas kanvas itu, terlukis sosok aktris tadi dalam posisi telanjang bulat. Goresan cat minyaknya begitu detail, menonjolkan setiap lekuk tubuh dan ekspresi sensual sang wanita dengan sangat dramatis.
Tak hanya itu, saat mata Aluna meneliti area ceruk dinding yang tertutup kain terpal hitam, ia melihat beberapa kanvas lain yang berjejer rapi. Aluna memberanikan diri menyibak salah satu terpal.
Jantungnya makin berdegup kencang. Di balik terpal-terpal itu, berderet puluhan lukisan tersembunyi yang menggambarkan wanita-wanita berbeda tanpa selembar pakaian pun. Dan yang membuat Aluna makin bergidik ngeri, hampir semua wajah di dalam lukisan itu adalah deretan aktris ternama dan model papan atas yang ia kenal di media.
"Sudah puas memandangi koleksiku?"
Suara berat yang tiba-tiba berbisik tepat di belakang telinganya membuat Aluna meloncat kaget.
Hayden sudah berdiri sangat dekat di belakangnya. Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi dengan kemeja hitam baru yang segar dan rambut basah yang disisir ke belakang. Aroma sabun maskulin bercampur tiner menguar kuat dari tubuhnya.
Aluna dengan cepat mundur dua langkah, dadanya kempas-kempis karena terkejut. "Kau... kau melukis mereka semua tanpa pakaian?"
Hayden menyunggingkan senyum miring yang dingin, menatap mata Aluna yang membelalak ketakutan. "Suatu saat... jika aku memintamu menjadi model seperti itu, kau juga harus mau, Aluna."
Kata-kata itu menghantam Aluna bagai petir di siang bolong.
"Tidak!" potong Aluna tegas, suaranya bergetar menahan amarah. "Aku tidak akan pernah mau melakukan hal semenjijikkan itu! Perjanjian kita tidak pernah membahas tentang lukisan telanjang!"
"Kau tidak punya hak untuk menolak," balas Hayden santai, melangkah mendekati meja lukisnya dan mengambil palet. "Kecuali kau bisa mengembalikan uang ratusan juta untuk biaya operasi dan perawatan eksklusif kakakmu sore ini juga. Bagaimana? Kau punya uangnya?"
Aluna bungkam. Lidahnya mendadak kelu, terkunci oleh kenyataan pahit bahwa ia memang tidak memiliki apa-apa.
Hayden membalikkan tubuhnya, menatap Aluna dari atas ke bawah dengan tatapan mengintimidasi yang sangat tajam.
"Aku tahu kau melihat wanita tadi memuaskanku dari celah pintu," gumam Hayden rendah, langkah kakinya perlahan memojokkan Aluna hingga punggung gadis itu menempel pada rak kayu di belakangnya. "Jadi jangan bertingkah sok suci. Tidak menutup kemungkinan... suatu saat kau juga harus melakukan hal yang sama untuk memuaskanku di studio ini."
Amarah Aluna meledak. "Kau gila! Kau benar-benar pria bejat!"
Tanpa berpikir panjang, Aluna mendorong dada Hayden dengan sekuat tenaganya, lalu berbalik hendak melari menuju pintu keluar studio. "Aku mau pulang!"
Namun, sebelum Aluna sempat menyentuh gagang pintu, cengkeraman tangan Hayden yang kuat dan dingin sudah melilit pergelangan tangannya. Dengan satu tarikan kasar, Hayden menyentakkan tubuh Aluna kembali ke hadapannya.
"Lepaskan aku, Hayden!" jerit Aluna menahan sakit pada tangannya.
"Kau tidak bisa pergi kemanapun semaumu, Aluna!" tekan Hayden, menatap lurus ke dalam manik mata Aluna dengan pandangan menakutkan. "Ingat di mana posisimu. Sekarang kau berada penuh di bawah kendaliku."
"Aku benci padamu!" desis Aluna dengan mata berkaca-kaca menahan emosi.
Hayden tidak memedulikan amukan itu. Ia melepaskan cengkeramannya, lalu menunjuk ke arah meja kecil di samping kanvas lukisan aktris tadi.
"Hari ini tugasmu bukan menjadi model," ujar Hayden mengubah nada suaranya kembali formal dan dingin. "Dampingi aku menyelesaikan detail lukisan ini. Racik cat warna krem dan merah bata di atas palet itu, lalu serahkan kuas yang kuminta."
Aluna berdiri mematung dengan napas memburu. Ia memandangi pintu keluar, lalu beralih menatap Hayden yang sudah kembali memegang kuasnya tanpa memedulikannya lagi.
Dengan dada yang sesak dan kemarahan yang tertahan di tenggorokan, Aluna akhirnya melangkah mendekati meja cat. Ia tidak punya pilihan lain. Ia hanya bisa menurut dan berharap pekerjaan gila hari ini cepat selesai agar ia bisa segera melarikan diri dari tempat ini.
Sambil meracik cat minyak di atas palet kayu, mata Aluna tak sengaja terus melirik ke arah lukisan aktris telanjang di hadapannya. Ia bergidik ngeri melihat detail intim yang digoreskan Hayden di atas kain kanvas itu.
Rasa penasaran yang membakar membuat Aluna akhirnya memberanikan diri memecah keheningan.
"Bagaimana bisa..." panggil Aluna pelan dengan suara serak. "Bagaimana bisa para aktris ternama itu mau menjadi model telanjangmu? Apa kau mengancam mereka seperti kau mengancamku?"
Goresan kuas Hayden terhenti sejenak. Pria itu tidak langsung menjawab. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap manik mata Aluna yang dipenuhi kebingungan dan kepolosan.
"Mengancam?" Hayden terkehdih pelan, sebuah tawa dingin tanpa humor. "Kau terlalu naif, Aluna. Mereka sendiri yang datang berlutut, menyerahkan tubuh dan harga diri mereka padaku di studio ini."
Aluna mengernyitkan keningnya dalam-dalam. "Untuk apa? Kau cuma seorang pelukis!"
"Mereka menukarnya dengan keviralan dan popularitas yang bisa kubuat," jawab Hayden datar. "Aktris baru tadi... dia butuh namanya melambung di industri hiburan minggu depan. Dan aku yang memegang kuncinya."
"Bagaimana bisa?" Aluna makin bingung. "Kau cuma seniman di perbukitan ini!"
Hayden menatap Aluna dalam-dalam, pandangannya merendahkan ketahuannya yang dangkal.
"Aluna... kau pikir kau hanya sedang berhadapan dengan seorang pelukis jalanan yang kabur dari dunia bisnis yang membosankan?" bisik Hayden dengan nada bicara yang sangat dalam dan penuh rahasia.
Aluna berusaha mencerna perkataan itu. Otaknya berputar keras mencoba memahami siapa sebenarnya pria di hadapannya ini. Apakah nama Mahendra Group di belakang namanya memiliki pengaruh yang jauh lebih gelap dan besar dari sekadar perusahaan manufaktur biasa? Namun sebelum Aluna berhasil menyusun pertanyaan lain, dering ponsel di saku jaket Hayden mendadak berbunyi nyaring.
Hayden melirik layar ponselnya. Raut wajahnya yang dingin mendadak berubah serius. Pria itu menggeser tombol hijau lalu melangkah menjauh menuju ujung ruangan untuk mengangkat panggilan itu.
"Ya? Bicara," ucap Hayden pendek pada si penelepon.
Aluna hanya bisa memperhatikan dari kejauhan saat Hayden mendengarkan penjelasan dari seberang telepon. Tak lama kemudian, Hayden mematikan sambungan, memutar tubuhnya, lalu menatap Aluna dengan binar mata yang tak tertebak.
"Rapikan pakaianmu dan bersiaplah," ujar Hayden tegas sembari meletakkan kuasnya. "Sopir akan mengantarmu ke rumah sakit sekarang."
*
*
*
sukaa banget nih sama modelan ky hayden 😁
bahaya Aluna
sudah dong Hayden kasihan aluna