Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menyeret kalian ke neraka yang paling dalam!"
Di kehidupan pertamanya, Elena adalah Nona Muda yang naif. Ia menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu Gavin, sang suami, naik takhta menjadi Kaisar. Namun setelah tujuan tercapai, Gavin justru mengkhianatinya. Pria itu berselingkuh dengan adik tiri Elena, merebut takhtanya, membantai putranya yang masih kecil, dan membakar Elena hidup-hidup di sel penjara bawah tanah.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pergi ke akhirat, Elena terbangun dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi.
Berbekal ingatan dari masa depan, Elena bersumpah tidak akan lagi menjadi domba yang penurut. Ia akan menghancurkan satu per satu orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Elena mendekati Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di kekaisaran—dan menawarkan sebuah aliansi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vvhiiiiivhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Perangkap Sutra di Pesta Dansa
Musik klasikal mengalun lembut di sekeliling aula utama kediaman Adipati Agung, tetapi bagi Elena, melodi itu terdengar seperti genderang perang yang ditabuh dari kejauhan. Gaun malamnya yang berwarna biru malam berhiaskan mutiara kecil tampak berkilau di bawah lampu gantung kristal yang megah. Penampilannya malam ini sangat kontras dengan sosok Elena di masa lalu—Nona Muda yang naif, yang selalu mengenakan warna-warna pastel lembut demi menyenangkan mata Gavin. Sekarang, setiap jengkal pakaian dan senyumannya dirancang untuk satu tujuan: kehancuran musuh-musuhnya.
Di sudut aula, sepasang mata yang sangat dikenalnya sedang mengawasi dengan tatapan lapar. Gavin. Di samping pria itu, berdiri Misha, adik tirinya, yang mengenakan gaun merah muda berenda dengan kepura-puraan polos yang dulu selalu berhasil menipu Elena. Melihat mereka berdiri berdampingan memicu denyut kemarahan di dada Elena, namun ia menahannya dengan senyum dingin yang sempurna.
"Kau tampak siap membunuh seseorang, Elena," sebuah suara berat dan berwibawa berbisik tepat di belakang telinganya.
Elena tidak perlu berbalik untuk tahu siapa pemilik suara itu. Aroma maskulin bercampur kayu cedar yang khas menandakan kehadiran Duke Killian. Sang tirani berdarah dingin itu berdiri begitu dekat, memberikan rasa aman yang aneh di tengah lautan serigala berbulu domba ini. Killian mengenakan setelan formal hitam dengan sulaman benang emas di kerahnya, memancarkan aura dominasi yang membuat para bangsawan lain di sekitar mereka secara tidak sadar mengambil langkah mundur.
"Saya tidak sedang ingin mengotori lantai marmer yang indah ini dengan darah, Duke," balas Elena pelan, matanya tetap tertuju pada Gavin dan Misha yang kini mulai berjalan ke arah mereka. "Setidaknya, belum untuk malam ini. Saya lebih suka melihat mereka menjerat leher mereka sendiri."
Killian terkekeh rendah, suara yang mengirimkan getaran halus ke punggung Elena. "Aliansi kita memang keputusan terbaik yang pernah kuambil. Katakan, apa yang kau butuhkan dari tiran ini untuk babak pertama pertunjukanmu?"
"Cukup berdiri di samping saya, My Lord. Biarkan seluruh kekaisaran melihat bahwa saya bukan lagi bidak tak berdaya yang bisa mereka injak," bisik Elena tepat saat Gavin dan Misha tiba di hadapan mereka.
"Elena! Kakak sepupu, akhirnya aku menemukanmu," Misha menyapa dengan suara yang sengaja dibuat melengking manja, menggandeng lengan Gavin dengan erat seolah ingin memamerkan kedekatan mereka. Namun, sedetik kemudian, mata Misha beralih pada sosok raksasa di samping Elena. Keangkuhannya langsung menyusut, digantikan oleh rasa takut yang murni saat tatapan mata merah Killian yang tajam mengunci dirinya. "S-Salam hormat kepada Yang Mulia Duke Killian."
Gavin, yang selalu berusaha menjaga harga dirinya sebagai pria terhormat, membungkuk memberi hormat dengan senyum kaku. "Sebuah kehormatan besar bisa bertemu dengan Anda di sini, Duke Killian. Dan Elena... kau tampak sangat berbeda malam ini. Aku hampir tidak mengenalimu."
Elena menatap Gavin, pria yang di kehidupan pertamanya telah membantai putranya yang masih kecil dan membakarnya hidup-hidup di dalam sel bawah tanah. Rasa muak yang membuncah hampir membuatnya kehilangan kendali, namun memori tentang rasa sakit itu justru memperkuat dinding pertahanannya.
"Manusia berubah seiring berjalannya waktu, Tuan Gavin," ujar Elena dengan nada datar namun menusuk. "Terutama ketika mereka menyadari bahwa dunia ini penuh dengan parasit yang berpura-pura menjadi penolong."
Wajah Gavin sedikit menegang mendengar sindiran itu, namun ia segera menguasai diri. Ia berasumsi Elena hanya sedang merajuk karena beberapa hari ini ia sengaja mengurangi intensitas surat-surat mereka. "Elena, jika ada kesalahpahaman di antara kita, kita bisa membicarakannya baik-baik. Kau tahu betapa aku menghargai hubungan kita, bukan? Dan kudengar... kau memindahkan beberapa aset keluarga besarmu ke luar ibu kota tanpa memberitahuku?"
Elena hampir tertawa mendengar kelancangan pria di depannya. Di masa lalu, Gavin menggunakan retorika "demi masa depan kita bersama" untuk menguras seluruh harta dan pengaruh keluarga Elena demi membiayai ambisi politiknya naik takhta. Sekarang, bahkan sebelum pernikahan kutukan itu terjadi, Gavin sudah merasa memiliki hak atas harta keluarganya.
"Aset keluargaku adalah urusan keluargaku, Gavin. Mengapa aku harus melapor pada seseorang yang bahkan belum memiliki gelar resmi di kekaisaran ini?" Elena menaikkan satu alisnya, memberikan tatapan merendahkan yang belum pernah Gavin lihat sebelumnya.
"Elena! Bagaimana bisa kau bicara begitu kasar pada Kak Gavin? Dia hanya mengkhawatirkan keamanan hartamu!" Misha menyela dengan nada membela, matanya berkaca-kaca seolah ia adalah korban yang teraniaya di sini. "Kak Gavin selalu memikirkan yang terbaik untukmu."
Sebelum Elena sempat membalas, Killian melangkah maju satu langkah. Tekanan aura magis dan intimidasi yang dipancarkannya seketika membuat suhu di sekitar mereka terasa turun drastis. Misha gemetar hebat, dan Gavin terpaksa menelan kembali kata-kata yang hendak diucapkannya.
"Kekhawatiran yang sangat tidak tahu diri," ucap Killian, suaranya terdengar tenang namun membawa ancaman kematian yang nyata. "Nona Elena berada di bawah perlindunganku. Setiap koin, setiap jengkal tanah, dan setiap helai rambutnya adalah urusanku. Jika aku mendengar ada orang asing yang mencoba mencampuri urusan finansial calon tunanganku lagi... aku akan memastikan lidah mereka tidak bisa digunakan untuk berbicara selamanya."
Pengumuman itu bagai petir di siang bolong bagi Gavin dan Misha. Calon tunangan?
Wajah Gavin memucat seketika. Rencana besarnya untuk memanfaatkan Elena dan kekayaannya runtuh dalam sekejap jika sang tiran kekaisaran terlibat. Sementara itu, Misha menatap Elena dengan rasa iri dan dengki yang membakar. Bagaimana bisa Elena yang naif dan membosankan mendapatkan perhatian dari pria paling berkuasa dan menakutkan di kekaisaran?
"D-Duke Killian... maafkan kelancangan kami. Kami tidak tahu bahwa Elena telah menjalin hubungan dekat dengan Anda," Gavin terbata-bata, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Sekarang kau sudah tahu. Pergilah dari hadapanku sebelum kesabaranku habis," usir Killian dingin.
Tanpa membuang waktu, Gavin menarik tangan Misha dan bergegas pergi menjauh dari sudut aula, meninggalkan Elena dan Killian yang menatap kepergian mereka dengan pandangan penuh kepuasan.
Elena mengembuskan napas panjang yang sedari tadi ditahannya, lalu berbalik menghadap Killian. "Calon tunangan? Anda menambahkan skrip yang tidak ada dalam perjanjian kita, Duke."
Killian menunduk, menatap Elena dengan senyuman tipis yang jarang diperlihatkannya kepada dunia. "Bukankah sebuah aliansi akan jauh lebih meyakinkan jika ada ikatan yang mengikat kita di mata publik? Lagipula, melihat wajah pria itu memucat adalah hiburan gratis yang sangat menyenangkan."
Elena terdiam, menyadari bahwa Killian benar. Untuk menghancurkan Gavin sepenuhnya, ia membutuhkan status yang tidak tersentuh. Menjadi tunangan sang Duke Tirani adalah perisai sekaligus senjata terbaik yang bisa ia miliki saat ini.
"Baiklah," Elena mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan sutra putih. "Mari kita mulai pertunjukan yang sesungguhnya, My Lord. Kehidupan kedua ini akan menjadi neraka paling jahanam bagi mereka, dan kita adalah penguasanya."
Killian menyambut uluran tangan Elena, mengecup punggung tangannya dengan kelembutan yang kontras dengan reputasinya yang kejam. "Dengan senang hati, Elena. Aku akan memimpin tarian ini bersamamu."