Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.
Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Riak di Luar Gerbang
Suara deru mesin mobil sedan mewah berwana hitam legam yang meluncur meninggalkan area parkir SMA Bina Bangsa terdengar begitu berisik di tengah senja yang mulai merangkak turun. Di dalam mobil itu, Kolonel Purnawirawan Surya duduk dengan napas memburu dan keringat dingin yang masih membasahi pelipisnya. Tangannya yang biasanya kokoh memegang kemudi kini tampak sedikit gemetar.
"Ayah... apa kita benar-benar akan membiarkan anak sialan itu lolos begitu saja?" suara Kevin terdengar parau dari kursi belakang, memecah keheningan kabin yang terasa menyesakkan. Wajahnya pucat pasi, sisa-sisa keangkuhan yang biasanya melekat pada dirinya lenyap tak bersisa sejak rekaman suara di restoran mewah itu diperlihatkan oleh Rian.
Surya menoleh ke belakang melalui spion tengah, menatap putranya dengan kilatan mata penuh amarah yang tertahan, namun bercampur dengan rasa takut yang rasional.
"Diam, Kevin!" bentak Surya dengan suara berat yang menggetarkan kaca jendela mobil. "Kau benar-benar bodoh karena meremehkan orang tanpa menyelidiki latar belakangnya terlebih dahulu! Rekaman percakapan rapat tertutup itu... itu membuktikan bahwa ada seseorang di lingkaran internal kita yang membocorkannya, atau anak itu memang memiliki akses informasi di luar nalar kita."
Bara, yang duduk di sebelah Kevin dengan lengan kanan masih terbungkus gips, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Rasa benci di dadanya semakin membara, namun kini rasa takut jauh lebih mendominasi. "Tapi, Paman... apakah kita akan menyerah dan membiarkan dia menginjak-injak harga diri kita?"
"Menyerah?" Surya mendengus sinis, mencengkeram lingkar kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. "Di dunia luar sana, kekuasaan tidak hanya diukur dari seberapa banyak uang yang kau sumbangkan ke sekolah, anak bodoh. Masih ada cara lain untuk membuat seseorang lenyap tanpa harus mengotori tangan kita sendiri di lingkungan sekolah."
Surya menarik napas panjang, lalu melirik layar ponselnya yang tergeletak di konsol tengah. Ia mendial sebuah nomor rahasia—sebuah kontak yang jarang ia hubungi kecuali dalam situasi darurat mutlak yang melibatkan urusan bawah tanah kota.
"Halo...?" sebuah suara serak dan dingin terdengar dari ujung sambungan telepon setelah dering ketiga.
"Aku butuh jasa kalian," bisik Surya dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk Kevin dan Bara meremang. "Ada seorang anak SMA sok jagoan di daerah pinggiran kota yang harus diberi pelajaran agar dia tahu di mana tempatnya berdiri. Aku tidak peduli caranya, pastikan dia tidak bisa berjalan tegak lagi besok pagi."
Sementara itu, di sisi lain kota yang mulai diterangi lampu-lampu neon jalanan, Rian berjalan santai menyusuri trotoar menuju rumah susun tempat tinggalnya yang sederhana. Udara malam bulan September membawa angin sejuk yang berhembus pelan, mengibaskan ujung kemeja seragam putihnya yang belum sempat ia ganti.
Di dalam tubuhnya, inti energi Qi berputar dengan ritme yang sangat harmonis. Setiap tarikan napasnya menyerap energi alami malam hari, memperkuat jaringan otot dan mempertajam seluruh panca inderanya.
[ Peringatan Sistem: Mata Dewa Pengamat mendeteksi anomali gelombang elektromagnetik dan pelacakan sinyal dari perangkat komunikasi terdekat. ] [ Analisis ancaman: Penguntitan tingkat rendah menggunakan kendaraan bermotor roda dua di sektor utara. ]
Teks transparan berwarna keemasan itu melintas sekilas di retinanya. Rian tidak menunjukkan perubahan ekspresi yang berarti. Ia hanya melirik sekilas ke arah pantulan kaca etalase sebuah toko kelontong di samping kirinya.
Di seberang jalan, dua orang pria berbadan kekar dengan jaket kulit gelap tampak mengendarai sepeda motor matic berkecepatan rendah, menjaga jarak aman sekitar dua puluh meter di belakangnya. Gelagat mereka sangat mencurigakan bagi siapa pun yang memiliki kepekaan tinggi.
Rian menghentikan langkah kakinya sejenak di dekat sebuah halte bus yang sudah sepi dari penumpang. Ia berbalik perlahan, menatap lurus ke arah lorong gang sempit yang agak gelap di sebelah sebuah gedung tua terbengkalai—sebuah lokasi yang sangat sepi dan jauh dari jangkauan kamera pengawas publik.
"Keluar lah," panggil Rian dengan suara tenang, namun cukup jelas untuk memecah suara bising kendaraan di jalan raya utama. "Kalian sudah mengikuti saya sejak tiga kilometer dari gerbang sekolah. Tidak melelahkan?"
Suasana di sekitar gang sempit itu mendadak sunyi. Beberapa detik kemudian, suara deru ban motor berhenti tepat di mulut gang. Dua orang pria berbadan besar turun dari kendaraan, mengenakan helm full-face hitam yang menutupi wajah mereka, sementara tangan kanan masing-masing memegang sebatang pipa besi pendek yang berkilat tertimpa cahaya lampu jalan.
"Wah, rupanya anak SMA zaman sekarang memiliki indra penciuman yang cukup tajam," ucap pria bertubuh lebih gempal dengan nada mengejek, melangkah maju sambil mengetuk-ngetukkan pipa besi ke telapak tangan kirinya. "Kau tahu, bocah? Ada seseorang di atas sana yang merasa terganggu dengan cara bicaramu tadi siang."
Pria kedua yang berbadan lebih kurus namun tinggi menyeringai di balik helmnya, menimpali dengan suara serak, "Bos besar kami tidak suka ada anak miskin yang bertingkah terlalu pintar. Jadi, kami di sini sukarela untuk merapikan sedikit tangan dan kakimu agar besok kamu tidak bisa lagi memegang pena di sekolah."
Rian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana abu-abunya. Ia menatap kedua preman bayaran itu dengan pandangan datar, seolah-olah mereka bukanlah ancaman mematikan, melainkan sekumpulan anak kecil yang sedang bermain mainan rusak.
"Surya mengutus kalian?" tanya Rian dengan nada santai, sengaja memancing reaksi mereka.
Kedua preman itu sedikit tertegun mendengar nama klien mereka disebut secara langsung tanpa rasa takut sedikit pun. Pria bertubuh gempal mendengus keras, merasa harga diri profesional mereka diremehkan.
"Banyak tanya sekali bocah ini!" bentak si gempal. "Terima saja nasibmu karena sudah berani mencari musuh yang salah di tempat yang salah!"
Tanpa aba-aba lagi, pria bertubuh gempal itu melompat maju menerjang, mengayunkan pipa besinya dengan tenaga penuh mengarah langsung ke sisi kiri kepala Rian. Serangan itu sangat cepat dan beralur brutal, jelas-jelas bertujuan untuk melumpuhkan secara permanen.
Di saat yang hampir bersamaan, pria kurus di sebelah kanan bergerak melingkar untuk memotong jalur pelarian Rian ke arah belakang, mengayunkan pipa besinya ke arah lutut.
Bagi manusia biasa, terjepit di antara dua arah serangan brutal dalam ruang sempit seperti itu adalah sebuah vonis kematian atau cacat seumur hidup. Namun, bagi Rian yang telah mewarisi esensi kultivator purba, gerakan kedua preman itu terlihat begitu lambat, bagaikan tayangan video yang diputar dalam gerak lambat (slow motion).
Whush!
Rian tidak mengelak ke belakang. Ia melangkah maju setengah langkah dengan presisi yang luar biasa, membiarkan angin dari ayunan pipa besi si gempal lewat tipis beberapa sentimeter di depan hidungnya.
Sebelum pria gempal itu sempat menyadari bahwa serangannya meleset, tangan kanan Rian keluar dari saku celana bagaikan kilat menyambar. Jari-jarinya yang terkonsentrasi oleh aliran energi Qi menotok tepat di titik akupunktur bagian bawah ketiak lawan.
Bum!
Sebuah getaran kejut tak kasat mata menghantam tubuh pria gempal itu seketika. Seluruh tenaga di sekujur tubuhnya lenyap dalam seperseribu detik, membuat matanya mendelik lebar dan lututnya lemas seketika. Pria itu ambruk mencium tanah tanpa sempat mengeluarkan suara teriakan.
Melihat temannya tumbang dalam waktu kurang dari satu detik, pria kurus yang memegang pipa besi di sebelah kanan terkejut setengah mati. Ayunan pipa besinya terhenti di udara, tangannya bergetar hebat saat melihat sosok remaja di depannya menatapnya dengan tatapan dingin yang menusuk tulang.
"Kau... monster apa sebenarnya?!" teriak pria kurus itu dengan suara bergetar ketakutan, melangkah mundur secara spontan hingga hampir tersandung batu di trotoar.
Rian melangkah pelan mendekati pria kurus tersebut, bayangan tubuhnya terpanjang di bawah temaram lampu jalan.
"Kalian dibayar untuk membuat saya cacat," suara Rian terdengar sangat rendah dan tenang, namun mengandung wibawa mutlak yang membuat nyali pria kurus itu ciut seketika. "Sekarang, giliran kalian yang menjawab pertanyaan saya: Siapa saja nama-nama lain di lingkaran Surya yang ikut mendanai kelompok preman jalanan ini?"
Pria kurus itu menggelengkan kepalanya dengan panik, keringat dingin membasahi seluruh wajahnya di balik helm. "Aku... aku tidak tahu apa-apa! Kami hanya menerima pesanan langsung dari orang kepercayaan Tuan Surya, kami tidak tahu urusan internal mereka!"
Rian berhenti tepat satu meter di depan pria tersebut. Ia menatap lurus ke dalam mata pria itu melalui kaca helm yang terbuka sedikit.
"Pulanglah," ucap Rian datar sambil melambaikan tangan kanannya pelan ke udara. "Katakan pada Surya bahwa permainan kecilnya sudah berakhir. Jika dia berani mengirim orang bodoh lagi untuk mengganggu keluarga atau waktu istirahat saya, maka pertemuan kita berikutnya tidak akan berakhir sekadar dengan pingsan di jalanan."
Mendengar kata-kata itu, pria kurus tersebut tidak membuang waktu sedetik pun. Ia langsung melempar pipa besinya ke tanah, berbalik, dan berlari terbirit-birit menghampiri temannya yang masih terkapar pingsan, lalu menyeretnya naik ke atas sepeda motor dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki sebelum tancap gas meninggalkan tempat itu dalam kegelapan malam.
Rian menarik napas panjang, merapikan kerah bajunya yang sedikit kusut, lalu kembali melangkah tenang menyusuri jalan menuju rumah susunnya. Malam semakin larut, namun di dalam dada pemuda itu, api kultivasi baru saja membakar babak penentuan yang jauh lebih besar untuk hari esok.