Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya
Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,
Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.
Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.
Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.
Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Ketenangan yang Mengganggu
Di ruang kerja, ponsel Alden bergetar.
Notifikasi pemakaian kartu muncul. Nama Belvina tertera jelas.
Alden melirik sekilas. Lalu mengambil ponselnya. Alisnya terangkat tipis.
“Belanja?” gumamnya.
Ia langsung menekan nomor. Panggilan tersambung.
“Ya, Tuan,” suara di seberang terdengar sigap.
“Lapor.”
“Ny— Nyonya sejak tadi berkeliling, Tuan. Lalu berhenti di butik langganannya. Sekarang sedang di meja kasir.”
Alden bersandar. Matanya sedikit menyipit.
“Sendiri?”
“Iya, Tuan. Dan…”
Pria itu ragu.
“Dan apa?”
“Selera Nyonya… berubah.”
Alden terdiam. “Seperti apa?”
“Tidak ada drama. Tidak pilih yang mencolok. Langsung ambil.”
Alden menatap ke depan. Kosong. Namun pikirannya berjalan cepat.
“Awasi terus,” ucapnya singkat. “Jangan sampai dia sadar.”
“Baik, Tuan.”
Panggilan terputus.
Alden tidak langsung meletakkan ponselnya.
Perubahan kecil. Namun justru itu yang mengganggu.
“Semakin jauh…” gumamnya pelan.
Bukan hanya sikap. Cara memilih. Bereaksi. Dan… mengabaikan. Semuanya tidak lagi sama.
Dan Alden tidak menyukai hal yang tidak bisa ia baca.
---
Sementara itu di butik.
Belvina keluar dengan beberapa tas di tangan. Langkahnya ringan. Wajahnya puas.
“Ini baru namanya hidup…” katanya ringan.
Ia masuk kembali ke mobil. Namun belum langsung pulang. Mobil melambat di persimpangan.
Belvina tidak langsung menekan gas lagi. Ia tertarik pada sebuah bangunan di seberang jalan.
Tulisan di depannya jelas. Tempatnya terlihat mahal. Tenang.
Spa.
Ia menatap beberapa detik. Bukan karena mengenalinya. Justru karena tidak.
Tempat seperti ini… bukan dunia yang pernah ia masuki.
Ragu sejenak. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.
“Sekali-sekali…” gumamnya ringan.
Keputusan itu diambil tanpa banyak pikir. Bukan karena yakin. Tapi karena ingin mencoba sesuatu yang belum pernah ia miliki.
Beberapa menit kemudian.
Aroma lavender memenuhi ruangan spa. Musik lembut mengalun pelan, menenangkan.
Belvina berbaring di ranjang perawatan, tubuhnya mulai rileks meski sesekali masih terasa canggung. Ini pertama kalinya ia merasakan sentuhan seperti ini, hangat, teratur, memanjakan.
“Tekanannya sudah pas, Nyonya?” tanya terapis dengan suara lembut.
“Iya… enak,” jawabnya jujur, matanya terpejam sesaat.
Dalam hati ia nyaris tertawa.
“Dulu buat makan saja mikir dua kali… sekarang dipijat begini.”
Beberapa menit berlalu.
Pintu terbuka perlahan. Seseorang masuk. Langkahnya tenang. Terukur.
Terapis langsung menunduk hormat.
“Selamat datang, Nona Seraphina.”
Nama itu membuat Belvina membuka mata. Ia menoleh.
Wanita itu berdiri di sana. Rapi. Tenang. Terlihat… terbiasa berada di tempat seperti ini.
Ada sesuatu yang terasa familiar. Bukan dari ingatan. Tapi dari potongan cerita yang pernah ia baca.
“Oh… jadi ini orangnya.”
Dina, yang kini hidup sebagai Belvina, langsung mengenalinya. Wanita ini yang dicintai Alden.
Seraphina.
Di cerita yang sempat ia baca, wanita ini selalu digambarkan sempurna. Lembut. Baik. Pantas dicintai.
Belvina hanya melirik sebentar. Lalu kembali memejamkan mata.
Seraphina sedikit terdiam. Tatapannya tertuju pada Belvina. Alisnya hampir tak terlihat mengernyit.
Biasanya, wanita itu akan langsung memasang wajah dingin. Tajam. Bahkan terkadang terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan.
Namun sekarang?
Tenang. Terlalu tenang.
“Apakah aku mengganggu?” tanya Seraphina lembut.
Belvina membuka mata lagi, menoleh sekilas. “Tidak. Silakan saja.”
Jawabannya ringan. Tanpa beban. Tanpa emosi.
Seraphina tersenyum tipis. “Terima kasih.”
Ia berjalan ke tempat perawatan di sebelahnya. Namun matanya sempat kembali melirik.
Berbeda… Sangat berbeda. Sikapnya, riasan wajahnya. Semua berbeda.
Belvina kembali memejamkan mata. Namun pikirannya tidak sepenuhnya tenang.
Wanita itu sempurna. Dan ia tahu… pria seperti Alden tidak akan memilih tanpa alasan.
Napasnya terlepas pelan.
"Kalau begitu…"
Sebuah kemungkinan muncul. Bukan keputusan. Belum. Tapi cukup jelas untuk tidak diabaikan.
Mungkin… menjauh akan membuat semuanya lebih sederhana.
Tubuhnya semakin rileks. Keputusan itu terasa ringan di pikirannya. Seolah itu jalan keluar terbaik.
Tanpa ia sadari, ia sedang melangkah menuju sesuatu yang jauh lebih rumit.
Di sisi lain, Seraphina berbaring dengan anggun. Matanya terpejam. Namun pikirannya… tidak.
Belvina tidak menyerang. Tidak menjauh. Mengabaikan.
Senyumnya tetap lembut. Sempurna. Namun di balik itu, ada sesuatu yang bergerak.
Dingin. Menghitung.
"Menarik… Perubahan ini… bukan hal kecil."
Perubahan seperti ini… tidak pernah terjadi tanpa alasan.
Ia membuka mata perlahan. Menatap langit-langit.
"Kalau dia berubah… berarti aku juga harus menyesuaikan."
Senyumnya tidak berubah. Tetap hangat. Tetap baik. Namun niat di baliknya, tidak pernah sesederhana itu.
---
Di kantor.
Ponsel Alden kembali bergetar. Satu pesan masuk. Singkat. Alden membacanya.
> Lokasi Nyonya saat ini: Aurelia Spa. Bersama Nona Seraphina.
Tatapan Alden berhenti di layar.
Lokasi yang sama. Waktu yang sama. Dan dua orang yang seharusnya tidak bertemu tanpa alasan.
Rahangnya mengeras tipis. Ini bukan kebetulan. Seseorang bergerak. Dan ia belum tahu siapa.
Jarinya bergerak, menekan nomor dengan tenang. Terlalu tenang.
“Ya, Tuan.” Suara dari seberang terdengar.
“Satu ruangan?” suara Alden rendah.
“Iya, Tuan. Ruang perawatan VIP.”
Alden bersandar, menatap ke depan. Tidak ada perubahan berarti di wajahnya. Namun udara di sekitarnya terasa berat.
“Apa yang mereka lakukan?”
“Tidak ada konflik, Tuan. Nyonya terlihat… biasa saja. Bahkan tidak banyak berbicara.”
“Dan Seraphina?”
“Seperti biasa, Tuan.”
Jawaban itu justru membuat tatapan Alden berubah. Lebih tajam. Lebih dalam.
Ia menutup panggilan tanpa kata tambahan. Ponsel diletakkan pelan di meja. Tangannya menyatu di depan bibir.
Diam.
Namun pikirannya bergerak cepat.
Belvina. Wanita itu tidak menyerang. Tidak mencari perhatian. Tidak juga mencoba menjatuhkan Seraphina seperti biasanya.
Justru… diam. Menjauh. Seolah tidak peduli.
Jari Alden mengetuk meja sekali. Pelan. Terukur.
“Main apa kamu…” gumamnya rendah.
Atau… ini memang dirimu yang sebenarnya?
Nada suaranya bukan sekadar curiga. Ada sesuatu yang lebih gelap di dalamnya. Kehilangan kendali. Dan Alden Virel, tidak pernah menyukai itu.
Ia meraih jasnya. Berdiri.
“Siapkan mobil.”
---
Di sisi lain—
Aroma lavender masih memenuhi ruangan.
Belvina menikmati pijatan dengan mata terpejam. Tubuhnya mulai benar-benar rileks. Bahkan pikirannya yang tadi penuh mulai melambat.
Sampai suara itu kembali terdengar. Lembut. Tenang.
“Aku tidak menyangka kita bisa setenang ini di satu ruangan.”
Belvina membuka mata. Menoleh sedikit.
“Memangnya harus bagaimana?” jawabnya ringan.
...✨“Saat semua orang mulai bergerak, yang paling berbahaya adalah yang terlihat diam.”✨...
.
To be continued
"boleh ya..." 🤣🤣🤣🤣
Mesti di usut sampai tuntas, Seraphina harus menerima konsekuensinya.sm Sampai Seraphina jera tak akan mendekati Alden sekaligus tidak mengusik Belvina lagi.
Belvina terpesona dengan tubuh didepannya yang sedang dia bantu melepas baju.
Alden selesai mandi menyerahkan dokumen untuk ditandatangani Belvina.
Belvina terkejut.
Alden serius memindahkan hampir seluruh asetnya atas nama Belvina.
Belvina pasti tak menyangka dengan jawaban Alden, ketika dia bilang jika dirinya kabur membawa hampir seluruh aset milik Alden.
Seluruh kekayaan Alden dipindah atas nama Belvina.
Dimas kenapa takut Belvina meninggalkan Bos-nya. Kerjakan saja perintahnya Bos.
Bagi Alden itu hanya sebuah penebusan kecil. Tidak sebanding dengan penderitaan Belvina rasakan karena dirinya.
dibaca lagi jadi penasaran...
lanjut baca, jd jatuh cinta 😍😍😍😍
Tujuan Alden menghubungi Dimas supaya Belvina tahu kejadian yang sebenarnya.
Tuh Dimas malah komplit menjawabnya ketika Alden bertanya tentang kejadian tadi.
Dimas, cari tuh orang yang sudah bikin salah paham Belvina. Usut tuntas seakar-akarnya.
Belvina menyerahkan ponselnya yang telah dibuka aplikasi pesannya pada Alden. Minta penjelasan dari Alden.
Alden melihat foto-foto dirinya bersama Seraphina, sedikit terkejut pastinya.
Dari pada ribut dengan istrinya, Alden menghubungi Dimas, ponsel dalam mode pengeras suara.
Bawaan Ibu hamil lebih dominan, emosinya tak terkontrol.
Alden yang sudah merebahkan tubuhnya di belakang Belvina, lengannya melingkar di pinggang Belvina. Reflek Belvina menepis tangan Alden.
Belvina diam ketika Alden bertanya belum tidur.
Alden memeluk lagi, Belvina kembali menepis lebih keras.
Alden belum tahu kenapa Belvina bersikap begitu.
Dipanggilnya Belvina "sayang."
Jangan panggil aku sayang.
Waduuuh
Rasa penasaran Raymond harusnya sudah terjawab dengan penjelasan Alden.
Raymond bicaranya semakin jauh. Tidak menjaga kepantasan dengan apa yang dia ucapkan. Mengurusi rumah tangga orang lain.
Dimas ikut bicara, Seraphina geram, dalam hati mengumpat.
Mereka benar telah salah paham. Seraphina saja yang tidak paham, dadanya jadi terasa sesak kan 😄.
Seraphina ini pintar tapi kesadarannya tumpul. Kenapa mesti tidak terima kalau Alden terus berada di sisi Belvina. Belum sadar juga kalau Alden sudah membangun benteng.
Raymond bikin malu Seraphina. Duduknya yang tidak di sebelah Alden di bahas. Malah bicaranya jadi merembet ke masalah pribadi.