NovelToon NovelToon
Saving My Ex-Husband

Saving My Ex-Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mafia / Penyelamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hyacinthus Rainwood

IG: @hyacinthschia

Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.

Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Kebohongan demi Menjaga Nama Baik

Kondisi Brooklyn yang terus memburuk sejak dua hari terkurung tanpa makan dan minum akhirnya memaksa staf rumah tangga penthouse mereka mengambil tindakan tanpa sepengetahuan Liam. Marta, kepala pelayan yang telah lama bekerja untuk keluarga Whitmore dan diam-diam selalu bersimpati pada Brooklyn, menemukan nyonya rumahnya tergeletak lemas di kamarnya pagi itu dengan suhu tubuh yang tinggi dan kondisi dehidrasi yang cukup parah.

Tanpa banyak bertanya, Marta segera menghubungi ambulans dan membawa Brooklyn ke Rumah Sakit Presbyterian Manhattan, salah satu rumah sakit terbaik di kota itu, tanpa sempat memberi tahu Liam yang saat itu sedang sibuk mengurus Helena yang masih dalam perawatan intensif di kamar tamu.

Brooklyn dirawat selama beberapa jam untuk pemulihan cairan tubuh dan pemantauan kondisi umum, dan ketika ia akhirnya sadar sepenuhnya, ia mendapati dirinya terbaring di ranjang rumah sakit dengan selang infus terpasang di lengannya, ruangan berwarna putih bersih yang begitu berbeda dari kemewahan dingin penthouse tempat ia tinggal selama ini.

Namun kejutan yang lebih besar menantinya ketika ia menoleh dan mendapati kedua orang tuanya, Margaret dan Richard Hartley, duduk di kursi samping ranjangnya dengan wajah yang dipenuhi kekhawatiran mendalam.

"Brooklyn, sayang, syukurlah kau sudah sadar," ucap Margaret dengan suara bergetar, segera menggenggam tangan putrinya dengan erat, air mata menggenang di sudut matanya. "Kami mendapat telepon dari salah satu pelayan di rumahmu tadi pagi. Kami langsung bergegas ke sini secepat mungkin."

Brooklyn merasakan hatinya menghangat sekaligus tercekat melihat kekhawatiran tulus dari kedua orang tuanya, namun bersamaan dengan itu, kepanikan mulai menjalar dalam dirinya menyadari bahwa ia harus segera memikirkan cara untuk menyembunyikan kebenaran dari mereka.

"Ibu, Ayah, aku baik-baik saja," ucap Brooklyn lemah, mencoba tersenyum meski tubuhnya masih terasa lelah. "Aku hanya sedikit kelelahan belakangan ini, mungkin karena kurang istirahat dan makan dengan teratur."

Richard Hartley, ayah Brooklyn yang dikenal tegas namun penuh kasih sayang terhadap putri satu-satunya itu, menatap Brooklyn dengan tatapan penuh selidik. "Dokter bilang kau mengalami dehidrasi parah, Brooklyn. Ini bukan sekadar kelelahan biasa. Apa yang sebenarnya terjadi?"

Brooklyn menelan ludah, berusaha keras menjaga ekspresinya tetap tenang meski dalam hatinya ia bergulat dengan keputusan sulit antara mengatakan kebenaran yang menyakitkan atau terus mempertahankan citra pernikahan yang baik-baik saja demi menjaga nama baik kedua keluarga besar mereka.

"Aku memang sedang tidak nafsu makan belakangan ini, Ayah," jawab Brooklyn akhirnya, memilih untuk memperhalus kebenaran tanpa sepenuhnya berbohong. "Pekerjaan sosial dan berbagai acara amal yang aku hadiri belakangan ini cukup menyita waktu dan energi, jadi mungkin aku sedikit mengabaikan pola makanku sendiri."

Margaret mengernyitkan dahi, tidak sepenuhnya puas dengan penjelasan itu. "Di mana Liam? Kenapa dia tidak ada di sini bersamamu? Bukankah seharusnya seorang suami menemani istrinya di saat seperti ini?"

Pertanyaan itu menusuk lebih dalam dari yang bisa dibayangkan Brooklyn, mengingat kenyataan pahit bahwa suaminya sendiri bahkan tidak mengetahui ia telah dilarikan ke rumah sakit, terlalu sibuk dengan urusannya sendiri bersama wanita lain di rumah mereka.

"Liam sedang ada urusan bisnis penting pagi ini," jawab Brooklyn cepat, suaranya berusaha terdengar senormal mungkin meski hatinya terasa semakin teriris dengan setiap kebohongan yang harus ia ucapkan. "Aku belum sempat mengabarinya karena tidak ingin mengganggu rapat pentingnya."

"Belum sempat mengabarinya?" Richard mengangkat alis, tampak semakin curiga dengan situasi yang terasa janggal ini. "Brooklyn, kau di rumah sakit. Ini bukan hal sepele yang bisa ditunda pemberitahuannya."

"Aku akan menghubunginya nanti, Ayah, setelah rapatnya selesai," ucap Brooklyn, berusaha keras mengalihkan topik pembicaraan sebelum orang tuanya semakin curiga dengan kondisi pernikahannya yang sesungguhnya. "Bagaimana kabar kalian berdua? Sudah lama kita tidak sempat mengobrol dengan santai seperti ini."

Meski upaya pengalihan itu berhasil sedikit meredakan kecurigaan kedua orang tuanya, Margaret masih menatap putrinya dengan tatapan penuh perhatian yang sulit disembunyikan seorang ibu terhadap anaknya. "Brooklyn, kau tahu kau bisa menceritakan apa pun pada kami, bukan? Jika ada sesuatu yang mengganggumu, jika pernikahan ini tidak berjalan sebagaimana mestinya, kami akan selalu ada untuk mendukungmu."

Kata-kata penuh kasih sayang itu hampir membuat pertahanan Brooklyn runtuh sepenuhnya. Ia menahan air mata yang mendesak keluar, mengumpulkan segala kekuatan yang tersisa untuk terus mempertahankan kebohongan yang telah ia bangun demi melindungi nama baik keluarga besar mereka, serta demi menghindari kekhawatiran berlebihan yang mungkin akan membebani kesehatan ayahnya yang memang tidak terlalu prima belakangan ini.

"Aku tahu, Ibu," jawab Brooklyn lembut, menggenggam tangan Margaret dengan erat. "Dan aku sangat menghargai itu. Tapi sungguh, semuanya baik-baik saja. Aku hanya perlu lebih menjaga kesehatanku ke depannya."

...***...

Sementara itu, jauh dari rumah sakit tempat Brooklyn dirawat, suasana di penthouse keluarga Whitmore justru dipenuhi kehangatan yang sama sekali berbeda. Liam duduk di samping ranjang Helena di kamar tamu, tangannya menggenggam lembut tangan wanita itu yang masih dibalut perban akibat "luka bakar" yang sesungguhnya hanya rekayasa belaka.

"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Liam penuh perhatian, matanya menatap Helena dengan kekhawatiran yang begitu tulus.

"Sedikit lebih baik," jawab Helena dengan suara lemah yang dibuat menggemaskan, sengaja memperlihatkan ekspresi rapuh yang selalu berhasil meluluhkan hati Liam. "Terima kasih sudah merawatku dengan begitu baik, Liam. Aku tidak tahu harus berbuat apa tanpamu."

Liam tersenyum lembut, mengusap rambut Helena dengan penuh kasih sayang. "Kau tidak perlu berterima kasih. Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja."

Mereka berdua terlibat dalam percakapan hangat yang berlangsung berjam-jam, tertawa bersama mengenang berbagai kenangan masa lalu mereka sebelum Helena pergi meninggalkan New York bertahun-tahun lalu, seolah waktu yang telah berlalu tidak pernah benar-benar memisahkan ikatan emosional yang begitu kuat di antara mereka berdua.

Tidak sekali pun terlintas dalam pikiran Liam untuk memeriksa keberadaan Brooklyn yang sejak pagi tidak terlihat di penthouse mereka. Ia bahkan tidak menyadari bahwa istrinya sendiri sedang terbaring di ranjang rumah sakit, ditemani oleh kedua orang tuanya yang begitu mengkhawatirkan kondisinya, sementara ia sendiri sibuk menikmati kehangatan bersama wanita yang telah lama menguasai hatinya.

Baru menjelang sore hari, ketika Marta akhirnya memberanikan diri menelepon Liam untuk memberitahukan kondisi Brooklyn yang telah dilarikan ke rumah sakit, ekspresi Liam berubah menjadi sedikit terkejut, meski rasa khawatirnya tidak sebesar yang seharusnya ia rasakan sebagai seorang suami.

"Dia dirawat di rumah sakit?" tanya Liam dengan nada yang lebih terdengar seperti kewajiban formalitas dibandingkan kekhawatiran tulus. "Baiklah, aku akan mengunjunginya nanti setelah menyelesaikan beberapa urusan di sini."

Ia mengakhiri panggilan itu dan kembali duduk di samping Helena, tidak menunjukkan urgensi apa pun untuk segera bergegas menuju rumah sakit tempat istrinya sedang berjuang memulihkan kondisinya, sekaligus berjuang menyembunyikan kebenaran pahit dari kedua orang tuanya yang begitu mencintainya.

Di rumah sakit, Brooklyn menatap keluar jendela kamarnya yang menampilkan pemandangan gedung-gedung tinggi Manhattan, hatinya dipenuhi kepedihan yang semakin mendalam menyadari bahwa bahkan dalam kondisi kritisnya sekalipun, ia masih harus berbohong demi menjaga citra pernikahan yang telah lama kehilangan segala maknanya—sebuah pernikahan yang kini terasa lebih seperti penjara daripada ikatan cinta yang seharusnya membawa kebahagiaan bagi kedua belah pihak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!