NovelToon NovelToon
Tawanan Hati Sang Don Mafia

Tawanan Hati Sang Don Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.

Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.

Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.

Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.

Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8 : Mansion Keluarga Moretti

Sementara itu...

Rolls-Royce Phantom melaju dengan tenang di jalanan Zurich, diiringi tiga SUV hitam yang mengawal dari depan dan belakang. Seperti malam sebelumnya, Aurora duduk di kursi belakang bersama Adrian.

Namun kali ini suasananya jauh lebih canggung. Aurora beberapa kali melirik pria di sampingnya. Adrian sibuk membaca beberapa berkas di tablet yang berada di tangannya. Tidak sedikit pun ia mengangkat kepala.

Aurora akhirnya tidak tahan. "Apa kau memang selalu bekerja, bahkan di dalam mobil sekalipun?"

"Hm."

"Itu jawaban apa?"

"Ya."

Aurora memutar bola matanya. "Menyebalkan sekali."

Adrian tetap fokus membaca, beberapa menit berlalu tanpa percakapan.

Aurora kembali membuka suara. "Sebenarnya... mansion yang kau maksud itu apa?"

"Kediaman utama keluargaku."

Aurora berkedip. "Lalu markas yang semalam?"

"Itu pusat operasional."

Aurora langsung menganga kecil. "Jadi... rumahmu ada dua?"

"Tiga."

Aurora spontan menatapnya. "Tiga?"

Adrian mengangguk singkat.

Aurora hanya bisa geleng-geleng kepala. "Orang kaya memang beda."

Johan yang duduk di kursi depan kembali menahan senyum. Belum pernah ia mendengar seseorang mengomentari kehidupan Don mereka dengan begitu santainya.

Aurora kembali bersandar. "Kalau begitu... kenapa aku harus ikut ke mansion?"

"Kau akan bekerja di sana."

"Aku belum menerima pekerjaan itu."

"Kau akan menerimanya."

Aurora langsung menoleh tajam. "Kenapa kau selalu yakin?"

Adrian akhirnya menutup tabletnya. Tatapan dinginnya bertemu dengan mata Aurora. "Karena aku tidak memaksamu melakukan sesuatu yang tidak mampu kau lakukan."

Aurora terdiam, kalimat itu terdengar begitu percaya diri. "Tapi... aku bahkan tidak tahu pekerjaannya."

"Isabel akan mengajarimu."

"Aku tidak punya pengalaman bekerja di rumah sebesar itu."

"Kau akan belajar."

Aurora mendengus pelan. "Jawabanmu selalu sesederhana itu."

Adrian tidak menjawab lagi.

Beberapa saat kemudian...

Mobil mulai memasuki kawasan elit di pinggiran Zurich. Tak lama kemudian sebuah gerbang besi raksasa terbuka perlahan.

Aurora kembali dibuat terpana. "Astaga..."

Di hadapannya berdiri sebuah mansion bergaya klasik Eropa yang jauh lebih megah daripada markas semalam. Dinding batu berwarna krem berpadu dengan pilar-pilar tinggi.

Taman bunga yang tertata rapi membentang hingga ke air mancur besar di tengah halaman. Puluhan pelayan telah berbaris di depan pintu utama. Begitu Rolls-Royce berhenti, seluruh pelayan membungkukkan badan bersamaan.

"Selamat datang, Don Muda."

Aurora menelan ludah. "Ini... lebih besar lagi dari yang kemarin."

Adrian turun lebih dulu, ia kemudian menoleh ke arah Aurora.

"Turun."

Aurora keluar perlahan sambil terus melihat sekeliling. "Berapa orang yang tinggal di sini?"

"Sedikit."

Aurora menatap Adrian heran. "Sedikit?"

"Sekitar seratus orang."

Aurora hampir tersedak mendengarnya. "Itu namanya sedikit?"

Johan akhirnya benar-benar tidak mampu menahan senyum. "Bagi keluarga Moretti... itu memang sedikit, Nona."

Aurora hanya bisa menggeleng pasrah. "Aku benar-benar masuk ke dunia yang berbeda..."

Saat mereka hendak memasuki mansion, seorang pria paruh baya berambut perak keluar dari dalam rumah. Usianya sekitar enam puluh tahun, mengenakan setelan jas abu-abu yang rapi.

Tatapannya langsung tertuju pada Adrian. "Don muda." Pria itu kemudian membungkukkan badan hormat. "Selamat datang."

Adrian mengangguk pelan. "Bagaimana keadaan Ayah?"

"Don besar sudah menunggu Anda sejak pagi."

Aurora yang berdiri di samping Adrian mengernyit. "Ayah?"

Pria paruh baya itu baru menyadari keberadaan Aurora. Tatapannya melembut. "Don... apakah ini tamu yang semalam Don bawa ke markas?"

Adrian menjawab singkat. "Ya. Namanya Aurora Bellini."

Pria itu tersenyum ramah. "Selamat datang, Nona Aurora. Perkenalkan, saya Carlo. Saya kepala pelayan di Mansion Moretti."

Aurora membalas dengan senyum sopan. "Senang bertemu dengan Anda."

Namun sebelum percakapan berlanjut, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari dalam aula. Semua pelayan kembali membungkukkan badan lebih dalam daripada sebelumnya. Ekspresi Johan pun berubah serius. Adrian perlahan mengangkat pandangannya ke arah pintu utama.

Seseorang akhirnya muncul dari dalam mansion. Seorang pria paruh baya berwibawa dengan rambut sedikit memutih yang disisir rapi, mengenakan setelan jas hitam klasik. Usianya terlihat masih sekitar lima puluh tahun, sorot matanya tajam dan penuh kewibawaan.

Begitu melihat Adrian, wajah pria tua itu sedikit melunak. "Akhirnya kau datang juga."

Namun, saat pandangannya beralih kepada Aurora, langkahnya perlahan terhenti. Tatapan matanya memancarkan keterkejutan yang sulit disembunyikan.

"Gadis itu..." Ia bergumam pelan seolah mengenali sesuatu pada diri Aurora.

Aurora yang menyadari tatapan itu hanya bisa berdiri bingung. Dalam hati, ia bertanya-tanya... kenapa semua orang di keluarga Moretti menatapku seperti mereka mengenalku?

Leonardo Moretti masih memandang Aurora dengan saksama. Tatapannya tidak menunjukkan kecurigaan ataupun kebencian, melainkan kebingungan yang bercampur rasa penasaran.

"Wajah gadis ini..." batinnya. "Sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi di mana?"

Ia mencoba mengingat-ingat, namun bayangan itu begitu samar hingga sulit ditangkap.

Aurora mulai merasa tidak nyaman ditatap terus-menerus. Sementara itu, Adrian melangkah mendekati ayahnya.

"Ayah."

Leonardo mengalihkan pandangannya kepada putranya. "Ada apa?"

"Aurora akan bekerja di mansion ini mulai hari ini."

Leonardo sedikit mengangkat alisnya. "Bekerja?"

Adrian mengangguk. "Ya. Untuk sementara, dia akan membantu Isabel merawat Ayah dan mempelajari seluruh pekerjaan di mansion."

Ucapan itu membuat Aurora langsung menoleh. "Merawat ayahnya?" batinnya.

Ia baru mengetahui alasan dirinya dibawa ke mansion hari itu.

Leonardo tersenyum tipis. "Begitu rupanya."

Namun beberapa detik kemudian, tatapannya kembali jatuh kepada Aurora. Ia terus berusaha mengingat sesuatu.

Aurora akhirnya tidak tahan lagi. "Maaf, Tuan..."

Leonardo berkedip pelan.

Aurora menunjuk wajahnya sendiri. "Saya tidak suka kalau Tuan terus menatap saya seperti itu."

Semua orang di aula langsung menahan napas. Carlo membelalakkan mata.

Johan bahkan refleks memejamkan mata sejenak. "Astaga... lagi-lagi dia."

Belum pernah ada orang yang berani menegur Don Besar Moretti secara langsung.

Aurora melanjutkan dengan polos. "Memangnya ada sesuatu di wajah saya?"

Belum sempat Leonardo menjawab...

"Aurora." Suara Adrian memotong.

Aurora menoleh.

"Tolong bicara yang lebih sopan kepada Ayahku." Nada suara Adrian tetap tenang, tetapi cukup tegas.

Aurora langsung terdiam. "Oh..." Ia menundukkan kepala sedikit. "Maaf... saya tidak bermaksud kurang sopan, saya hanya tidak nyaman kalau di tatap seperti itu."

Suasana kembali hening.

Beberapa detik kemudian, Leonardo justru tersenyum kecil. "Biarkan saja, Adrian."

Adrian menatap ayahnya.

Leonardo kembali memandang Aurora. "Aku hanya merasa pernah mengenalmu."

Aurora menggeleng pelan. "Rasanya kita belum pernah bertemu, Tuan."

"Mungkin." Leonardo menghela napas. "Atau mungkin hanya perasaanku saja." Ia tersenyum hangat kepada Aurora. "Jangan dipikirkan."

Aurora membalas senyum itu dengan canggung. "Baik, Tuan."

Leonardo kemudian menoleh kepada Isabel yang sejak tadi berdiri di samping Aurora.

"Isabel."

"Ya, Don Besar."

"Mulai hari ini, ajarkan Aurora seluruh pekerjaan di mansion. Pastikan dia beradaptasi dengan baik."

Isabel membungkukkan badan. "Baik, Don Besar."

Leonardo kembali menatap putranya. "Kau juga, jangan terlalu keras kepada gadis itu."

Adrian menjawab singkat. "Aku mengerti, Ayah."

Entah mengapa, ucapan itu membuat Johan nyaris tersenyum. "Justru Don sudah jauh lebih lunak kalau urusannya Nona Aurora," batinnya.

Leonardo melambaikan tangan pelan. "Sudahlah. Adrian, ikut Aku ke ruang kerja. Ada beberapa hal yang harus kita bicarakan."

"Baik."

Sebelum pergi, Adrian sempat menoleh kepada Aurora. "Belajar yang baik."

Aurora spontan mengerucutkan bibir. "Iya... Don Muda."

Kali ini sudut bibir Adrian terangkat sangat tipis sebelum ia kembali memasang wajah datar dan berjalan mengikuti ayahnya.

Johan yang melihatnya hanya bisa menggeleng pelan. "Don benar-benar berubah sedikit demi sedikit."

Setelah Adrian dan Leonardo menghilang menuju lantai dua, suasana aula kembali terasa lebih santai.

Isabel tersenyum kepada Aurora. "Mari, Nona. Hari ini saya akan memperkenalkan seluruh bagian mansion kepada Anda."

Aurora mengangguk. "Baik."

Mereka mulai berjalan menyusuri koridor panjang mansion. Sepanjang perjalanan, Aurora melihat puluhan pelayan yang bekerja dengan disiplin. Ada yang membersihkan jendela, merapikan vas bunga, menyiapkan ruang makan, hingga mengurus taman belakang.

"Sebanyak ini pekerjanya..." gumam Aurora.

Isabel tersenyum. "Mansion ini sangat besar. Setiap orang memiliki tugas masing-masing."

Aurora mengangguk pelan. "Lalu... tugasku nanti apa?"

Isabel berhenti di depan sebuah pintu besar. "Tugas utama Anda adalah membantu saya merawat Don Besar. Selain itu, Anda juga akan belajar etika pelayanan, mengatur jadwal, menyiapkan kebutuhan harian beliau, serta memahami aturan keluarga Moretti."

Aurora menarik napas panjang. "Sepertinya... pekerjaannya jauh lebih sulit daripada yang kubayangkan."

Isabel tersenyum lembut. "Jangan khawatir. Saya akan mengajari Anda pelan-pelan."

Aurora mengangguk sambil tersenyum tipis. "Kalau begitu... mohon bimbingannya, Kak Isabel."

Mendengar sapaan itu, Isabel tampak sedikit terkejut, lalu tersenyum hangat. "Tentu, Aurora."

1
It's me Sky
terimakasih kakak🙏
Arditya
Mafia lali ini seru thoor, kagak kalah seru sama buku sebelumnya👍
Arditya
sukses terus thor, bukunya selalu menceritakan yang tidak membosankan/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!