Seluruh Jakarta percaya Narendra Adiwangsa impoten.
Tiga puluh lima tahun hidupnya, pewaris Grup Adiwangsa itu tak pernah menginginkan perempuan. Bahkan dua tahun menikah, ia tak pernah menyentuh istrinya. Setelah perceraian, semua orang yakin satu hal—Narendra memang “tidak bisa”.
Narendra tak pernah repot membantah.
Sampai Sekar Melati Wardani muncul di hadapannya.
Perancang kebaya dari Bekasi itu bukan siapa-siapa. Tak punya nama besar, tak punya harta, bahkan keluarganya sendiri menganggapnya barang tukar demi mahar. Namun saat Narendra melihat Sekar mengenakan kebaya yang membungkus lekuk tubuhnya, sesuatu yang mati selama tiga puluh lima tahun tiba-tiba bangkit.
Untuk pertama kalinya, Narendra menginginkan seorang perempuan.
Bukan sekadar ingin menyentuhnya.
Ia ingin Sekar di rumahnya, di ranjangnya, dan memakai namanya.
Sekar mengira lelaki tampan di seberang apartemennya hanyalah pekerja kantoran biasa. Ia tak tahu Narendra sengaja menyewa tempat itu demi mendekatinya—dan semakin Sekar mencoba menjaga jarak, semakin pria itu kehilangan kendali.
“Katanya kamu tidak bisa?”
Narendra menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel.
“Coba sendiri. Masih percaya rumor itu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19
Mahar
"Sekar, cicilan rumah kakakmu itu harus dibayar minggu ini."
"Itu cicilan Mas Anton. Apa hubungannya sama aku?"
"Kamu adiknya!"
"Siapa yang nggak tahu diri, Mamah tahu sendiri."
Sekar memutuskan panggilan.
Tangannya masih gemetar ketika Bu Laksmi keluar dari ruang dalam. Gurunya melihat gunting di meja dan wajah Sekar, lalu langsung memahami.
"Soal uang lagi?"
"Mamah minta cicilan rumah Mas Anton. Aku bilang gajiku dipotong karena pinjam ke Ibu. Maaf membawa nama Ibu Guru."
"Tidak apa-apa." Bu Laksmi memeriksa garis potong kain. "Kalau mereka telepon, Ibu akan bilang sama. Tapi kebohongan itu nggak bisa ditutup selamanya, Nak."
"Aku cuma butuh waktu sampai mereka berhenti mencari alamat."
"Simpan bukti kalau mereka mengancam. Dan jangan pulang sendirian."
Bu Laksmi duduk di kursi sebelah dan mengambil tangan Sekar. Bekas tusukan jarum serta lecet karena merakit meja masih terlihat.
"Kamu sudah bekerja sejak sebelum masuk sanggar ini," katanya. "Membantu orang tua itu baik. Tapi bantuan yang dipaksa terus-menerus bukan lagi bakti."
"Mereka bilang aku berubah."
"Memang. Dulu kamu tidak punya batas. Sekarang punya. Orang yang biasa melewati batasmu pasti marah ketika pintunya ditutup."
Sekar menelan sesak di tenggorokan. "Kalau nanti Mamah dan Bapak benar-benar kesusahan?"
"Kamu boleh membantu sesuai kemampuan, langsung pada kebutuhan mereka. Bukan membayar rumah kakakmu, bukan menanggung istri dan anaknya. Bedakan orang tua dengan seluruh keluarga besar."
Nasihat itu sama dengan keputusan Sekar mengirim sembako tanpa uang tunai. Ia merasa lebih kuat karena seseorang yang dipercayainya mengakui batas tersebut masuk akal.
Bu Laksmi lalu mendorong kain kembali ke arahnya. "Sekarang potong. Jangan biarkan telepon mereka merusak garis bahu klien."
Sekar tertawa kecil, mengatur napas, dan kembali bekerja.
Sekar mengangguk. Bu Laksmi tidak menyuruhnya memaafkan atau mengalah. Ia memberi perlindungan yang nyata.
***
Di Bekasi, Yuni merebut ponsel dari tangan Bu Warni.
"Dia mulai berani karena tinggal sendiri," katanya. "Kalau dibiarkan, nanti makin susah diatur."
Bu Warni mengusap dada. "Terus cicilan bulan ini bagaimana?"
Yuni meletakkan tangan di perut. "Nikahkan saja cepat. Saudara dari kampung itu masih mau cari istri. Kerjanya mapan, punya pensiun."
"Sekar pasti menolak."
"Jangan bilang dulu siapa orangnya. Bilang ada acara keluarga." Yuni merendahkan suara. "Keluarga laki-laki siap kasih mahar tiga puluh juta kalau cepat."
Ia membuka lima jari lalu tiga, seolah angka itu sudah berada di tangannya.
"Bisa buat cicilan dan biaya bayi," lanjutnya.
Bu Warni ragu. "Mahar itu hak Sekar."
"Nanti kita bilang dipakai untuk acara nikah. Dia anak perempuan, akhirnya uangnya juga buat keluarga."
Keraguan Bu Warni perlahan berubah menjadi hitungan. Tiga puluh juta bisa menutup beberapa bulan cicilan. Jika Sekar menikah, tuntutan kamar dan biaya hidup juga selesai.
"Coba tanya dulu," katanya.
Yuni tersenyum.
Ia langsung menghubungi kerabat di kampung, berbicara seolah keputusan Sekar sudah pasti. Umur dua puluh lima diubah menjadi `hampir tiga puluh`. Pekerjaan desainer disebut `jahit rumahan`. Penghasilan Sekar dibesar-besarkan saat membahas kemampuan membantu suami, tetapi dikecilkan saat membahas nilai mahar.
Bu Warni mendengar tanpa mengoreksi.
"Jangan kirim foto terbaru dulu," bisik Yuni. "Pakai foto kebaya waktu acara keluarga. Biar kelihatan nurut."
Setelah telepon, ia menghitung rencana penggunaan uang di kertas: tunggakan cicilan, perlengkapan bayi, dan sisa untuk arisan. Tidak ada satu baris pun untuk Sekar.
"Kalau dia marah?" tanya Bu Warni sekali lagi.
"Nanti kalau sudah ketemu laki-lakinya, dia juga malu menolak di depan banyak orang."
Itulah rencananya. Bukan meyakinkan Sekar, melainkan menempatkannya di ruang yang membuat penolakan tampak sebagai aib.
Anton masih di pabrik Swarna. Pak Slamet belum pulang dari shift. Tanpa keduanya, dua perempuan itu sudah menetapkan harga bagi hidup Sekar.
***
Sore hari, Sekar berdiri di depan The Cempaka Residence sambil membuka GoFood. Ia memilih nasi ayam, menghapusnya, memilih sup, lalu kembali ke halaman awal.
Satu porsi terasa terlalu sepi.
Ia duduk di tepi air mancur dan melihat keluarga kecil keluar masuk lobi. Dulu kesunyian adalah hal yang paling ia inginkan. Setelah pindah, kesunyian memberinya keamanan. Namun rupanya aman dan sepi bukan hal yang sama.
Narendra tidak pernah memaksa mengisi rumahnya. Ia mengetuk, menunggu izin, lalu pulang ketika Sekar lelah. Justru karena itu, kehadirannya terasa mudah dirindukan.
Selama berminggu-minggu, ia terbiasa mendengar Narendra mengetuk menjelang makan. Malam ini unit seberang gelap. Mungkin pria itu lembur.
Sekar baru memahami maksud kalimat `makan sendirian tidak enak` setelah rumahnya benar-benar sunyi.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Narendra.
Malam ini masak nggak?
Sekar tersenyum sebelum sempat mencegahnya.
Ia mengetik `nggak, mau pesan`, lalu menghapus. Mengetik `Mas mau numpang makan?`, lalu merasa terlalu berharap.
Akhirnya ia mengirim satu kalimat.
Makanan luar kurang enak.
Tanda mengetik muncul seketika.
Kalau begitu kasih aku kesempatan traktir kamu makan di luar.
Sekar menatap pintu seberang yang masih gelap.
Malam yang tadi terasa kosong mendadak dipenuhi sesuatu yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Di Bekasi, keluarganya sedang menghitung harga untuk menyerahkan hidupnya. Di Jakarta, seorang pria justru meminta kesempatan, memberi Sekar ruang penuh untuk menjawab iya atau tidak.
Perbedaan itu terasa sangat jelas dan nyata malam ini.
semoga konsisten bagus sampe tamat 🥰