Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35
Firasat: Besok Pasti Terjadi Sesuatu
Pagi berikutnya, Vivi berdiri di depan cermin dan memeriksa lehernya.
Tidak ada tanda merah.
Tidak ada memar yang harus ditutup dengan concealer. Bibirnya hanya sedikit lebih merah akibat ciuman yang ia setujui sendiri.
Perbedaan itu sederhana, tetapi membuat dadanya sesak oleh emosi yang sulit diberi nama.
Ponselnya berbunyi. Tiga notifikasi masuk hampir bersamaan.
Pertama, akses rutin Sebastian ke pintu kamar telah dicabut pukul enam pagi. Pak Yanto kini menjadi satu-satunya pemegang akses darurat, dan setiap penggunaan akan mengirim alarm kepada Vivi.
Kedua, pengacara pilihan Vivi menerima salinan komunikasi dokter lama, termasuk pesan Sebastian yang meminta penyebab bekas merah disamarkan. Pengacara sudah menjadwalkan penilaian etik dan hukum secara terpisah dari tim Gunawan Group.
Ketiga, pemeriksaan awal laboratorium pada kue tidak menemukan obat tidur atau zat penenang umum. Uji lengkap masih berjalan, tetapi pernyataan Sebastian bahwa kue malam tadi tidak diberi obat memperoleh dukungan pertama.
Ia melaksanakan semua yang dijanjikan tanpa datang meminta pujian.
Vivi turun ke ruang makan. Sebastian sudah duduk di tempatnya, membaca laporan dari tablet. Ketika ia melihat Vivi, tatapannya berhenti pada bibir perempuan itu sepersekian detik.
Giginya menggigit bibir bawah sendiri.
“Pagi,” kata Vivi.
“Pagi.”
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, Sebastian tidak menarik kursi di sebelahnya atau meminta Vivi duduk dekat. Ia menunggu.
Vivi memilih kursi di sampingnya atas kemauan sendiri.
Bahunya yang tegang turun sedikit.
“Aku menerima pemberitahuan akses,” kata Vivi.
“Kalau sistem darurat dipakai, kamu akan mendapat rekaman alasan dan waktu.”
“Berkas dokter juga sudah sampai.”
“Ada satu pesan suara yang belum ditemukan. Tim sedang memulihkannya.”
Vivi mengoles selai pada roti. “Terima kasih karena tidak menunda.”
Sebastian menatap tangannya sendiri. “Aku yang membuatnya harus dilakukan.”
Jawaban itu tidak menghapus masalah, tetapi cukup untuk membuat Vivi tidak ingin menjauh dari meja.
***
Pada siang hari, seluruh linimasa kota seolah hanya membicarakan Balai Seni Jakarta.
The Sweet Ballerinas mengunggah video latihan, wawancara, hitung mundur, dan tantangan bagi “penjaga balet lama”. Tagar mereka masuk daftar terpopuler lokal. Potongan tari Nadya diputar di layar pusat perbelanjaan dan dibagikan ulang oleh akun hiburan.
Kelompok pendukungnya menyebut pertunjukan itu perang antara balet baru dan tradisi usang. Hanya sedikit yang menyebut nama Regina atau hak cipta Angsa di Bawah Cahaya Bulan.
Joce mengirim dua belas tangkapan layar melalui WA.
`Mereka menang jumlah unggahan, bukan kualitas kaki.`
Vivi membalas, `Jangan perang komentar. Simpan yang memfitnah dan kirim ke pengacara.`
`Aku lebih jago menghina daripada pengacara.`
`Justru itu yang kutakutkan.`
Panggilan video grup dimulai beberapa menit kemudian. Regina bergabung dari studio sementara Joce berada di mobil, mengenakan kacamata hitam dan ekspresi siap berperang.
“Kostum asli berangkat pukul empat sore besok,” kata Vivi. “Segel difoto sebelum keluar. Aku sendiri yang membukanya di ruang ganti.”
Regina mengangguk. “Ruang ganti nomor tiga sudah dikunci khusus.”
“Periksa ulang ventilasi, cermin, dan semua minuman. Tidak ada makanan dari luar.”
“Sudah masuk daftar.”
“Bagaimana dengan lampu panggung?” tanya Joce.
Vivi menatap lembar posisi yang difoto saat geladi resik. Firasatnya tidak memberi gambar jelas. Ia hanya mengingat rasa panas, suara logam dari atas, dan sesuatu yang buruk terjadi pada hari pertunjukan dalam kehidupan pertama. Bentuk bahayanya tetap tertutup kabut.
“Pemeriksaan terakhir dilakukan setelah semua kru keluar,” kata Vivi. “Dua pengawal menyaksikan. Setelah itu area atas disegel sampai pertunjukan.”
“Aku ingin satu orang memotret setiap pengunci dari dekat,” kata Joce. “Bukan cuma tanda tangan petugas.”
“Setuju.”
Regina menulis tambahan itu. “Audio cadangan?”
Vivi mengangkat dua perangkat kecil. “File musik ada di dua pemutar terpisah dan satu salinan offline. Partitur piano lengkap juga dibawa.”
“Siapa yang akan bermain kalau sistem suara gagal?” tanya Joce.
“Pianis festival ada dalam daftar siaga.” Vivi ragu, lalu menambahkan, “Sebastian juga bisa memainkan karya itu.”
Joce menurunkan kacamata. “Suamimu bisa bermain piano?”
“Aku pernah mendengarnya di acara keluarga. Dia tidak tahu aku menyiapkan partitur untuk kemungkinan darurat.”
“Konglomerat, petarung, pemanas manusia, sekarang pianis. Menyebalkan sekali.”
Vivi hampir tertawa. “Tugasmu besok duduk di sisi kanan dan awasi akses lorong.”
“Siap, komandan angsa.”
Setelah panggilan, Vivi mengirim daftar final kepada kepala keamanan. Setiap orang memiliki satu tugas yang jelas. Tidak ada yang hanya diminta “berhati-hati”.
Sore harinya, Pak Yanto dan pengawal perempuan menjalankan simulasi pengangkutan dari lantai tiga sampai garasi. Mereka tidak membawa gaun, hanya koper kosong dengan berat yang sama. Lift utama membutuhkan empat puluh detik. Tangga layanan membutuhkan dua menit dua belas detik dan memiliki satu sudut tanpa kamera.
“Sudut itu dijaga orang kedua,” kata Vivi setelah melihat rekaman simulasi. “Tidak ada koper berhenti di sana.”
Pengawal perempuan menunjukkan dua segel bernomor. “Segel pertama dipasang pada ritsleting koper. Segel kedua pada peti kendaraan. Nomornya dikirim ke ponsel Ibu sebelum berangkat.”
“Kalau kendaraan utama terhalang?”
“Mobil pengganti mengikuti dari jarak dua puluh meter. Koper berpindah hanya di lokasi tertutup dan direkam.”
Pak Yanto menyerahkan kartu pembuka kepada Vivi. Kartu kedua dimasukkan ke amplop transparan, ditandatangani keduanya, lalu dipegang pengawal perempuan untuk keadaan darurat.
“Pak Sebastian tidak memiliki salinan?” tanya Vivi sekali lagi.
“Tidak, Bu Vivian.”
Jawaban itu penting. Setelah rahasia kamar dibongkar, Vivi tidak ingin menerima keamanan yang dibangun dengan cara mengambil kembali kendali darinya.
Mereka juga memeriksa tas darurat: pakaian latihan cadangan tanpa hiasan, plester kain, jarum-benang, obat alergi yang diresepkan dokter, air tersegel, senter kecil, dan salinan dokumen hak cipta Regina. Kalau satu bagian rencana gagal, ia tidak akan kehilangan seluruh pertunjukan.
“Besok tidak ada improvisasi tanpa kabar kepadaku,” kata Vivi.
“Baik, Bu.”
***
Hari tanpa kejadian berlalu terlalu cepat.
Pada malam sebelum festival, koper Lucien masih tersegel di lantai tiga. Dua pemutar audio sudah diisi penuh. Partitur piano berada dalam map hitam di bawah pengawasan Regina. Foto pengunci lampu terakhir dijadwalkan pukul tiga sore besok, setelah pemasangan selesai.
Semua yang dapat dipikirkan Vivi sudah dipersiapkan.
Tetap saja, ia tidak bisa tidur.
Dari jendela kamar, lampu Jakarta membentang sampai jauh. Vivi menempelkan telapak tangan ke dada. Detaknya terlalu cepat meski rumah sunyi.
Potongan ingatan datang lalu hilang: kilatan putih, panas pada wajah, suara orang berteriak, dan musik yang berhenti mendadak.
Ia tidak tahu mana yang akan terulang. Masa depan telah berubah terlalu banyak.
Vivi memandang boneka beruang di samping bantal, lalu membuka pesan terakhir dari Sebastian.
`Aku akan duduk di tempat yang kamu berikan.`
Ia menggenggam ponsel.
“Kali ini aku sudah bersiap,” bisiknya. “Tapi besok pasti terjadi sesuatu.”