Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.
Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Jarak Bukan Cuma Angka
Dua minggu pertama berjalan cepat banget. Kayak kita berlari bareng — sama-sama semangat, sama-sama mau tahu segalanya. Tiap pagi ketemu di depan kos, tiap sore cerittiap malam masih sempat telepon sebentar sebelum tidur.
Tapi minggu ketiga mulai berubah.
Dosen mulai kasih tugas bertumpuk. Kelompok diskusi, kunjungan lapangan, ujian kecil tiap hari. Jam di ponsel gue berubah jadi sekadar angka — pulang sore, langsung makan, langsung buka buku, baru lihat HP jam malam. Dan pesan dari Farhan yang tadi siang, baru gue balas sekarang.
"Sibuk ya? Gak apa-apa. Belajar dulu. Nanti kalau ada waktu cerita."
Gue baca pesan itu, dada kerasa sesak dikit. Bukan karena marah — tapi karena gue sadar: kita di kota yang sama, tapi rasanya makin jauh.
Besok paginya, kita ketemu kayak biasa. Tapi kali ini gak sempat ngobrol lama. Farhan udah nunggu di depan, tas di pundak, napasnya sedikit berat.
"Mir... hari ini gue harus berangkat duluan ya. Ada rapat mendadak sebelum kelas mulai."
"Eh... iya. Gak apa-apa. Hati-hati."
"Lo juga. Nanti sore..." Dia berhenti sebentar, natap jam di pergelangan tangan. "Sepertinya sore ini gak bisa di tempat biasa. Gue harus langsung ke perpustakaan. Tugas harus selesai hari ini."
"Oke. Gak apa-apa. Nanti kabarin aja kalau udah selesai."
Dia mengangguk, lalu berjalan cepat ke arah seberang jalan. Gue berdiri sebentar di tempat, natap punggungnya yang makin jauh. Bukan salah siapa-siapa. Tapi rasanya kayak kita mulai jalan ke arah yang berbeda — walau tujuannya sama.
Sore itu gue duduk sendiri di bangku taman tempat kita biasa ketemu. Sepuluh menit, dua puluh menit. Gue tarik HP, ketik hapus ketik lagi: "Gue pulang duluan ya. Semangat tugasnya."
Malamnya baru sempat ngobrol — lewat pesan, singkat, padat.
"Lo udah makan?"
"Udah. Lo?"
"Udah. Capek banget hari ini."
"Sama. Tidur dulu ya."
"Selamat tidur."
Gue taruh HP di meja. Rasanya berat banget. Bukan karena kata-katanya — tapi karena di antara baris itu, ada jarak yang makin lebar. Kita mulai saling tahu keadaan, tapi berhenti saling merasakan.
Hari-hari berikutnya makin terasa. Kadang gue telepon, nada sambungnya lama sekali sebelum diangkat.
"Halo?" Suara Farhan terdengar berat dan terburu-buru. "Mir, sebentar ya. Gue lagi di tengah diskusi. Nanti gue telepon balik, janji."
"Iya. Gak buru-buru. Lanjutin aja dulu."
"Maaf banget ya..."
Gue tutup telepon, tarik napas panjang. Di kampus baru ini, semua orang sibuk. Semua orang punya dunianya masing-masing. Dan gue takut — kalau kita gak jaga, kita bakal jadi dua orang yang saling tahu, tapi hidup terpisah.
Suatu sore, hujan turun deras banget. Gue berdiri di depan gerbang, nunggu reda sambil buka buku. Banyak anak dijemput teman atau berjalan bareng. Tiba-tiba ada yang berdiri di samping gue, payungnya bergerak ke arah gue.
"Kebasahan kalau di situ terus."
Gue nengok. Lina — teman sekelas yang dulu pertama ngajak gue duduk bareng.
"Lina... makasih. Hujan tiba-tiba banget."
"Memang musimnya. Yuk bareng? Gue bawa payung cukup besar."
Jalan ke arah kos bareng di bawah satu payung. Lina cerita tentang tugas, tentang dosen, tentang rumahnya yang jauh di gunung.
"Kamu sering jalan sendiri?" tanyanya pelan.
"Enggak biasanya. Teman gue satu kota, tapi beda kampus. Belakangan ini sibuk banget."
Lina mengangguk pelan. "Gue ngerti. Di sini semua orang sibuk. Kadang yang paling dekat di hati, justru yang paling jarang ketemu. Bukan karena gak sayang — tapi karena lupa kasih waktu."
Kata-katanya masuk dalam banget.
Sampai di depan kos, gue lihat seseorang berdiri di bawah atap — agak jauh dari hujan, tapi bajunya sedikit basah. Farhan. Dia berdiri kaku, natap ke arah gue dan Lina.
"Mir..." Dia melangkah maju pelan. "Gue... gue sempat takut lo pulang sendirian kena hujan. Tadi baru selesai, langsung lari ke sini."
Lina pamit cepat. "Aku duluan ya, Mir. Besok ketemu di kelas."
Tinggal kita berdua. Hujan masih deras di belakang punggung.
"Lo nunggu dari kapan?" tanya gue.
"Sepuluh menit. Mungkin lebih." Dia gugup garuk leher yang gak gatal. "Tadi lihat lo jalan bareng... gue lega. Lo gak sendirian."
"Han..." Gue tarik napas dalam. "Kita gini terus gak boleh."
Dia diam, natap sepatunya sendiri. "Gue tau. Gue salah. Gue biarkan tugas dan waktu ngejar kita sampai lupa berhenti sebentar."
"Bukan salah lo. Gue juga sama. Gue juga sibuk, gue juga balas pesan telat, gue juga bilang 'nanti dulu'." Gue pegang lengannya pelan. "Tapi kalau gini terus... kita bakal jadi orang asing yang saling kenal. Dan gue takut banget hal itu terjadi."
Dia angkat muka, matanya jujur dan sedih. "Gue juga takut. Tiap malam gue tidur sambil mikir — apa lo mulai terbiasa tanpa gue? Apa lo udah nyaman sama dunia baru tanpa gue di dalamnya?"
"Gue gak akan nyaman. Karena dunia baru ini gue masuki karena kita berdua." Gue tatap dia dalam-dalam. "Jarak di peta gak menakutkan. Yang menakutkan itu jarang di hati — saat kita tahu segalanya tentang orang lain, tapi lupa perasaan satu sama lain."
Dia mendekat pelan, suaranya lembut dan mantap. "Mulai besok. Kita ubah. Bukan harus tiap jam ketemu. Bukan harus telepon lama. Tapi kasih waktu — sepuluh menit, cukup buat cerita: hari ini lo capek di mana? Hari ini lo senang karena apa? Sepuluh menit supaya kita tetap ada di dunia masing-masing."
"Dan jangan pernah bilang 'gak apa-apa' kalau sebenarnya berat," tambah gue. "Kalau lo capek, bilang. Kalau lo kangen, bilang. Gue juga begitu."
"Janji." Dia genggam tangan gue di antara dua tangannya. "Gue gak mau kehilangan lo karena hal sepele kayak waktu. Kita melewati terlalu banyak hal berat buat berakhir karena sibuk."
Malamnya, gue baru selesai belajar jam sepuluh. HP berbunyi — pesan dari Farhan, bukan singkat kayak biasanya:
"Baru selesai semua. Capek banget. Tapi sekarang gue ingat satu hal — semua ini berat, tapi gue jalan supaya suatu hari nanti gue bisa kasih lo masa depan yang layak. Dan kalau di tengah jalan gue lupa kasih kabar... tolong ingetin gue. Gue takut sekali hilang arah dari lo."
Gue ketik balas pelan, hati terasa hangat kembali:
"Gue gak bakal biarkan lo hilang. Kalau lo sibuk, gue nunggu. Kalau lo lupa, gue ingetin. Kalau lo capek, gue temani. Karena gue milih lo bukan saat gampang aja. Gue milih lo di semua hari — yang ringan, yang berat, yang sibuk, dan yang sepi."
Lalu muncul pesan lain, dari Dimas. Foto bengkelnya yang makin lengkap, ada beberapa anak sedang belajar di sudut ruangan:
"Dengar kabar kalian sibuk di sana. Ingat satu hal — jarak itu ujian yang tenang. Gak ada teriak, gak ada bentrok. Cuma pelan-pelan ngejauh kalau gak dijaga. Kalian kuat. Tapi jangan lupa pegang tangan walau gak ketemu."
Gue senyum, mata terasa hangat. Dimas — yang dulu paling berat jalannya — sekarang jadi orang yang paling paham: cinta itu dijaga setiap hari, bukan cuma sekali di awal.
Besok paginya, kita ketemu di depan kos. Lebih awal dari biasanya.
"Gue bangun sepuluh menit lebih awal," kata Farhan sambil senyum lebar. "Buat cerita dikit sebelum pisah jalan."
Dia cerita tentang dosen yang aneh, tentang teman sekamar yang mendengkur, tentang hal kecil yang bikin dia senang kemarin. Gue cerita tentang Lina, tentang tugas yang bikin bingung, tentang rindu pada nasi goreng Ibu di rumah.
Hanya sepuluh menit. Tapi rasanya seperti kita jalan berdua sepanjang pagi.
"Terima kasih," kata Farhan sebelum kita berpisah di persimpangan. "Ternyata yang kita butuhin bukan waktu yang banyak. Cuma waktu yang sengaja disisihkan."
"Iya. Supaya kita tetap bagian dari hari satu sama lain."
Dia melangkah ke kanan, tapi kali ini langkahnya ringan. Gue ke kiri, hati gue tenang.
Di buku catatan, gue tulis pelan:
"Jarak di peta bisa diukur. Tapi jarak di hati — itu yang harus dijaga setiap hari. Bukan dengan kata-kata panjang. Bukan dengan janji besar. Cuma dengan: 'Saya ingat kamu. Saya sisihkan waktu untuk kamu. Dan saya tidak akan membiarkan kita terpisah tanpa alasan yang jelas.'"
Langit di atas terang. Hari masih panjang, tugas masih banyak, jalan masih jauh. Tapi gue gak takut. Karena gue sadar — jarak bukan penghalang. Jarak itu cuma cara kehidupan bertanya: "Apakah kalian mau saling menyisihkan waktu?"
Dan jawaban kita: mau. Selalu mau.