NovelToon NovelToon
The Ghost Of Uchiha In One Piece

The Ghost Of Uchiha In One Piece

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Naruto / One Piece
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.

​Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.

​Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Dinamika Baru dan Tungku Api

​Cahaya matahari pagi mulai mengusir sisa-sisa awan badai di langit perairan North Blue.

​Lautan yang semalaman mengamuk kini kembali tenang. Permukaan air memantulkan warna keemasan yang hangat. Kapal Bajak Laut Taring Berkarat meluncur dengan ritme yang konstan menembus ombak kecil.

​Suasana pagi di atas kapal itu seharusnya membawa kedamaian setelah malam yang penuh dengan teror.

​Namun bagi para kru kapal, pagi ini justru membawa sebuah kejutan baru yang membuat jantung mereka nyaris melompat keluar dari dada.

​Mantan kapten bajak laut yang bertubuh gemuk menguap lebar. Dia berjalan gontai keluar dari kabin bawah. Tangannya menggaruk perut buncitnya yang terasa lapar. Dia melangkah menuju ruang dapur kapal untuk mencari sisa roti atau sup dari semalam.

​Dia membuka pintu kayu dapur yang sedikit berderit.

​Udara hangat yang membawa aroma herbal dan bunga menyapu wajahnya.

​Mantan kapten itu membuka sebelah matanya yang masih mengantuk. Detik berikutnya, kedua matanya membulat sempurna. Rasa kantuknya menguap tanpa sisa.

​Di depan meja dapur yang terbuat dari kayu kusam, berdiri seorang gadis remaja yang sangat cantik. Gadis itu memiliki rambut berwarna merah muda sebahu yang sangat mencolok. Dia mengenakan kemeja gelap yang rapi dan sebuah celemek kain yang dia temukan di sudut ruangan.

​Gadis itu sedang menyeduh sesuatu di dalam poci keramik tua. Gerakan tangannya sangat anggun. Postur tubuhnya tegak sempurna. Cara dia menuangkan air panas dan mengaduk campuran dedaunan di dalam cangkir memancarkan keanggunan seorang bangsawan kelas atas.

​Mantan kapten itu menahan napas. Mulutnya terbuka lebar.

​Dia mengenali rambut merah muda itu. Dia mengenali wajah cantik yang menyimpan aura mematikan tersebut. Itu adalah Vinsmoke Reiju. Putri sulung dari kerajaan pembunuh Germa 66 yang kemarin baru saja mereka tinggalkan di tengah lautan.

​'Kenapa putri iblis itu ada di dapur kapal kita?!' batin mantan kapten itu menjerit histeris.

​Kakinya gemetar hebat. Dia ingin berbalik dan berlari, tetapi tubuhnya membeku akibat ketakutan.

​Namun, kejutan di dapur itu belum selesai.

​Di sudut ruangan, duduk di atas kursi kayu tua, Nico Robin sedang menyilangkan kakinya dengan santai.

​Gadis berambut hitam itu sedang memegang sebuah buku bersampul tebal di tangan kirinya. Tangan kanannya memegang sebuah cangkir kayu. Robin mengenakan pakaian kasual pinjaman yang sama seperti kemarin.

​Mata biru Robin tidak menatap buku yang sedang dibacanya. Tatapannya tertuju tajam ke arah Reiju.

​Sebuah aura permusuhan yang sangat tipis namun mematikan menguar dari tubuh Robin. Hawa dingin dari tatapan itu membuat suhu di dalam dapur terasa membeku, bertabrakan langsung dengan kehangatan uap teh yang sedang diseduh oleh Reiju.

​Mantan kapten gemuk itu menelan ludah. Dia merasakan percikan api tak kasatmata yang menyambar-nyambar di antara kedua wanita tersebut.

​Tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, mantan kapten itu melangkah mundur. Dia menutup pintu dapur kembali dengan sangat perlahan. Dia memutuskan bahwa kelaparan jauh lebih aman daripada berada di tengah medan perang dua wanita mematikan ini.

​Di dalam dapur, keheningan yang tegang kembali mengambil alih.

​Robin membalik satu halaman bukunya. Suara kertas bergesekan terdengar sangat keras di ruangan yang sunyi itu.

​“Kau terlalu banyak memasukkan daun mint,” ucap Robin tanpa mengangkat wajahnya dari buku. Suaranya tenang, tetapi memiliki nada mengkritik yang sangat jelas.

​Reiju menghentikan adukannya sejenak. Dia menoleh ke arah Robin dengan senyuman yang sangat manis. Senyuman palsu yang dilatih dengan sempurna di lingkungan istana Germa 66.

​“Ini adalah daun peppermint laut utara,” balas Reiju dengan suara yang sangat lembut dan sopan. “Kandungan mentolnya sangat baik untuk melancarkan sirkulasi darah setelah pertarungan yang melelahkan. Ini bukan teh biasa.”

​Reiju kembali mengaduk cangkirnya. Dia menuangkan cairan berwarna hijau keemasan itu dengan sangat hati-hati.

​“Aku meracik teh stamina ini khusus untuknya. Tubuh manusia biasa membutuhkan pemulihan yang optimal setelah memaksakan diri melampaui batas,” jelas Reiju.

​Dia memberikan penekanan pada kata meracik khusus. Seolah ingin menegaskan posisinya sebagai dokter kapal yang baru saja diangkat malam tadi.

​Robin mendengus pelan. Dia menutup bukunya dan meletakkannya di atas meja.

​Gadis dari Ohara itu berdiri dari kursinya. Dia berjalan menuju perapian dapur. Di sana, sebuah teko logam berukuran sedang sedang mendidih di atas bara api. Aroma kopi hitam yang sangat pekat dan pahit memenuhi sudut ruangan tersebut.

​Robin mengambil teko logam itu menggunakan kain pelindung. Dia menuangkan cairan hitam pekat ke dalam sebuah cangkir besar.

​“Orang yang kau sebut manusia biasa itu tidak menyukai hal-hal yang manis atau beraroma bunga,” kata Robin dingin.

​Dia menatap mata biru Reiju dengan tatapan menantang.

​“Dia lebih menyukai sesuatu yang praktis dan kuat. Kopi hitam pekat tanpa gula. Itulah yang selalu dia minum setiap pagi sejak dia berada di kapal ini,” tambah Robin.

​Robin memberikan penekanan pada fakta bahwa dia telah berada di kapal ini lebih lama. Dia lebih memahami kebiasaan dan selera dari penguasa mereka.

​Reiju tidak menghilangkan senyum manis di wajahnya. Dia menata cangkir tehnya di atas sebuah nampan kayu kecil. Dia juga meletakkan dua potong roti gandum panggang yang terlihat sangat rapi di sebelah cangkir tersebut.

​“Sebuah kebiasaan bisa diubah jika itu membawa manfaat medis yang lebih baik,” sahut Reiju santai. “Sebagai dokter kapalnya, adalah tugasku untuk memastikan dia mendapatkan asupan yang paling sempurna. Bukan sekadar air hitam pahit yang hanya memberikan dorongan kafein sesaat.”

​Kedua wanita itu kini berdiri berhadapan.

​Nampan kayu Reiju dengan teh stamina yang elegan. Dan cangkir kopi hitam Robin yang memancarkan aroma tajam.

​Mereka berdua memiliki masa lalu yang gelap. Reiju adalah seorang pembunuh bayaran kerajaan sejak lahir. Robin adalah buronan yang selalu selamat dari pengkhianatan sejak usia delapan tahun. Keduanya memiliki insting bertahan hidup yang sangat tinggi.

​Dan saat ini, insting mereka mengatakan bahwa mereka harus membuktikan nilai mereka kepada satu-satunya orang yang bisa memberikan perlindungan mutlak di lautan ini.

​Suara langkah kaki yang berat dan teratur terdengar dari arah luar dapur.

​Langkah itu tidak terburu-buru, namun memiliki ritme yang menuntut perhatian dari siapa pun yang mendengarnya. Lantai kayu geladak berderit pelan menyambut kedatangan sang pemilik langkah.

​Robin dan Reiju segera memutuskan kontak mata mereka. Keduanya merapikan postur tubuh masing-masing dan menghadap ke arah pintu masuk.

​Pintu dapur terbuka.

​Uchiha Madara melangkah masuk.

​Pemuda itu mengenakan kemeja hitam lengan panjang berlambang kipas merah putih di punggungnya, yang ujung lengannya digulung hingga ke siku. Celana panjang kain gelapnya dipadukan dengan sandal kayu khas shinobi. Dia tidak mengenakan armor merahnya pagi ini.

​Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai sedikit berantakan. Wajah remajanya terlihat sangat datar. Matanya yang hitam kelam menyapu isi dapur dengan satu kali pandangan.

​Dia langsung merasakan ketegangan yang menggantung di udara. Haki Pengamatannya menangkap emosi persaingan yang bergejolak dari kedua wanita di depannya.

​Madara mendengus pelan di dalam hati. Dia tidak memiliki waktu untuk mengurusi drama konyol seperti ini.

​Robin melangkah maju satu langkah. Dia menyodorkan cangkir berisi kopi hitam pekat itu ke arah Madara.

​“Selamat pagi, Tuan. Kopi hitam Anda sudah siap,” sapa Robin dengan nada suara yang sangat hormat.

​Dari sisi yang lain, Reiju juga melangkah maju. Dia mengangkat nampan kayunya dengan kedua tangan. Senyuman anggun terpasang sempurna di wajahnya.

​“Selamat pagi, Kapten. Saya telah menyiapkan teh herbal pereda ketegangan otot dan roti gandum murni untuk sarapan Anda. Ini akan mempercepat pemulihan sel-sel tubuh Anda,” ucap Reiju dengan nada yang sangat meyakinkan.

​Madara menghentikan langkahnya tepat di tengah-tengah kedua wanita tersebut.

​Dia menoleh ke arah kiri. Menatap cangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap. Bau pahit yang pekat itu memang selalu berhasil membangunkan kesadarannya di pagi hari.

​Dia lalu menoleh ke arah kanan. Menatap cangkir teh berwarna hijau dan potongan roti panggang yang terlihat bersih. Perutnya memang sedang membutuhkan asupan makanan padat untuk mendukung metabolisme chakranya.

​Robin menatap Reiju dari sudut matanya. Reiju membalas tatapan itu dengan senyuman yang menyembunyikan kemenangan. Keduanya menunggu keputusan dari sang penguasa. Siapa yang akan dipilihnya pagi ini?

​Madara tidak repot-repot memilih.

​Dia mengulurkan tangan kanannya. Dia mengambil cangkir kopi hitam itu dari tangan Robin dengan gerakan santai.

​Robin tersenyum tipis. Sebuah kemenangan kecil bagi sang arkeolog.

​Namun sebelum senyuman Robin bertahan lama, Madara mengulurkan tangan kirinya ke arah nampan kayu Reiju. Dia tidak mengambil cangkir tehnya. Dia mengambil dua potong roti gandum panggang itu sekaligus dan menjepitnya di antara jari-jarinya.

​Reiju sedikit melebarkan matanya. Senyumannya menjadi sedikit kaku.

​Tanpa mengucapkan terima kasih, tanpa memberikan pujian, dan tanpa memedulikan tatapan kedua wanita itu, Madara melangkah maju. Dia berjalan lurus melewati Robin dan Reiju begitu saja.

​Dia mengabaikan persaingan mereka sepenuhnya.

​Bagi Madara, mereka berdua hanyalah bawahan yang menjalankan tugas mereka. Dia tidak akan membuang tenaganya untuk mengapresiasi sesuatu yang memang sudah seharusnya mereka lakukan untuknya.

​Madara mendorong pintu belakang dapur yang mengarah langsung ke geladak belakang kapal. Pintu kayu itu tertutup kembali dengan suara benturan pelan.

​Di dalam dapur, Robin dan Reiju tertinggal dalam keheningan.

​Robin menatap punggung pintu kayu yang tertutup itu. Lalu dia menoleh ke arah Reiju.

​Reiju masih memegang nampan kayunya yang kini hanya berisi secangkir teh herbal yang diabaikan. Dia membalas tatapan Robin.

​Percikan api tak kasatmata kembali menyambar di antara mereka. Persaingan pasif-agresif ini sepertinya baru saja dimulai dan tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Keduanya kembali ke sudut masing-masing dalam diam, merencanakan cara lain untuk membuktikan nilai mereka esok hari.

​Di geladak belakang kapal, udara pagi terasa lebih segar.

​Bagian belakang kapal ini biasanya digunakan sebagai tempat penyimpanan peralatan kebersihan dan tali tambang cadangan. Namun pagi ini, area itu telah dikosongkan atas perintah mutlak yang diberikan Madara tadi malam.

​Madara berjalan ke sudut geladak. Dia meletakkan cangkir kopinya di atas sebuah tong kayu kosong. Dia menggigit salah satu roti gandum buatan Reiju.

​Roti itu terasa hambar, tidak ada rasa manis atau gurih sedikit pun. Tetapi teksturnya padat dan mengenyangkan. Sempurna untuk bahan bakar energi fisik.

​Dia mengunyah rotinya sambil menatap sebuah struktur aneh yang berada di tengah geladak belakang.

​Semalam, dia telah menyuruh mantan kapten kapal untuk mengumpulkan semua batu bata tahan api dari tungku dapur tua di bawah geladak. Madara telah menyusun batu-bata kemerahan itu menjadi sebuah tungku pandai besi berukuran kecil namun sangat kokoh.

​Di sebelah tungku batu bata itu, terdapat sebuah karung goni tebal.

​Madara menyelesaikan kunyahan rotinya dan menelan sisa kopi hitamnya dalam satu tegukan. Dia meletakkan cangkir kosong itu kembali ke atas tong.

​Dia melangkah mendekati karung goni tersebut. Dia menendang karung itu hingga isinya tumpah ke atas lantai kayu.

​Suara logam beradu terdengar nyaring.

​Potongan-potongan besi berwarna abu-abu gelap berserakan di atas geladak. Bentuknya melengkung tidak beraturan. Ada yang berbentuk pelindung lutut, pelindung lengan, dan beberapa bagian dari pelat dada.

​Itu adalah pecahan eksoskeleton milik prajurit klon Germa 66.

​Kemarin, saat Madara memukul dan menghancurkan tubuh para prajurit itu, dia secara diam-diam mematahkan dan menyimpan beberapa bagian besi dari armor mereka. Haki Pengamatannya dan pengalamannya dalam menggunakan berbagai macam senjata membuatnya sadar akan satu hal penting.

​Logam yang digunakan oleh kerajaan Germa bukanlah besi biasa.

​Logam itu memiliki tingkat kepadatan molekul yang sangat tinggi. Bobotnya cukup ringan, namun ketahanannya terhadap benturan fisik sangat luar biasa. Bahkan chakra Jonin Elit miliknya harus dipadatkan secara maksimal untuk bisa menghancurkan logam tersebut.

​Madara berjongkok. Dia memungut sebuah pecahan pelindung lengan yang melengkung.

​Dia mengusap permukaan logam dingin itu dengan ibu jarinya.

​'Logam ini kuat,' batin Madara mengevaluasi. 'Tetapi terlalu kaku. Tidak memiliki kemampuan untuk menyalurkan energi spiritual. Ini adalah logam mati.'

​Di dunia shinobi, senjata terbaik dibuat dari logam pengantar chakra. Logam langka yang bisa menyerap dan memancarkan sifat dari elemen chakra penggunanya. Pisau yang dialiri elemen petir akan menjadi lebih tajam, sementara pedang yang dialiri elemen angin bisa memotong dari jarak jauh.

​Karena dia belum menemukan logam pengantar chakra di dunia ini, dia harus menggunakan bahan terbaik yang tersedia saat ini. Besi eksoskeleton Germa adalah bahan dasar yang cukup bagus untuk menciptakan sebuah senjata fisik murni yang tidak mudah hancur.

​Tujuannya sangat jelas.

​Seorang Uchiha Madara tidak bertarung menggunakan tangan kosong selamanya. Taijutsu memang mematikan, tetapi untuk pertempuran skala besar, dia membutuhkan jangkauan dan daya hancur area.

​Dia membutuhkan Gunbai. Kipas perang legendaris yang menjadi simbol kekuatannya.

​Namun menciptakan Gunbai membutuhkan kayu pohon keramat dan material khusus yang belum dia ketahui keberadaannya di dunia ini. Oleh karena itu, dia akan menciptakan senjata pendampingnya terlebih dahulu.

​Sebuah Kama. Sabit rantai yang mematikan.

​Madara melemparkan potongan besi itu ke dalam tungku batu bata. Dia memasukkan beberapa potongan eksoskeleton lainnya hingga tungku kecil itu terisi penuh oleh logam Germa.

​Dia berdiri tegak di depan tungku.

​Tidak ada arang. Tidak ada kayu bakar. Tidak ada alat peniup api untuk menaikkan suhu tungku. Bahan bakar biasa tidak akan pernah mampu mencapai titik lebur dari paduan logam super buatan Vinsmoke Judge ini.

​Untuk melelehkan logam ini, dibutuhkan suhu api yang melampaui batas normal.

​Madara menarik napas panjang. Udara pagi mengalir memenuhi paru-parunya.

​Dia mulai memfokuskan chakra di dalam tubuhnya. Dia tidak mengalirkan energinya ke tangan atau kakinya. Dia memusatkan seluruh chakra elemen api miliknya ke arah tenggorokan dan mulutnya.

​Jalur tenketsu di sekitar dadanya mulai terasa panas.

​Madara memposisikan kedua tangannya di depan dada. Jari-jarinya bergerak dengan kecepatan yang meninggalkan bayangan buram.

​Kuda. Harimau. Ular. Domba. Monyet. Babi hutan. Kuda. Harimau.

​Segel tangan diselesaikan dalam waktu kurang dari dua detik.

​'Katon: Goukakyu no Jutsu.'

​Madara memajukan wajahnya sedikit ke arah lubang tungku. Alih-alih menyemburkan sebuah bola api raksasa yang akan membakar seluruh kapal, dia menggunakan tingkat kendali chakra yang sangat mengerikan.

​Dia mengompresi pelepasan elemen apinya.

​Dari sela-sela bibirnya, menyembur sebuah aliran api yang sangat tipis namun sangat padat. Api itu tidak berwarna oranye kemerahan seperti api biasa. Inti dari aliran api itu berwarna biru keputihan, menandakan tingkat suhu panas yang sangat ekstrem.

​Aliran api kecil itu meluncur seperti sebuah obor las bertekanan tinggi. Ujung api yang tajam langsung menghantam tumpukan besi eksoskeleton di dalam tungku batu bata.

​Suara mendesis yang sangat keras terdengar seketika.

​Udara di sekitar geladak belakang langsung mendidih. Gelombang panas menyebar ke segala arah, mengeringkan sisa-sisa embun pagi di atas kayu kapal dalam hitungan detik.

​Madara tidak menghentikan semburannya. Dia terus mengalirkan chakra secara konstan. Dia mengatur pernapasan dan pasokan energinya agar suhu api tetap berada pada titik didih yang sempurna.

​Batu bata tahan api di sekitar tungku mulai memancarkan cahaya merah terang.

​Perlahan tapi pasti, potongan besi eksoskeleton yang diklaim sebagai karya teknologi tak terhancurkan dari Germa 66 itu mulai meleleh. Bentuknya yang kaku melunak. Tepi-tepi logam yang tajam mencair menjadi cairan kental berwarna jingga menyala yang menetes ke dasar tungku.

​Dari kejauhan, di balik dinding kayu yang memisahkan geladak belakang dengan area tengah kapal, beberapa pasang mata sedang mengintip dengan rahang terjatuh.

​Para kru bajak laut, yang dipimpin oleh sang mantan kapten, saling berdesakan mencoba melihat apa yang sedang dilakukan oleh monster yang memimpin mereka.

​Mereka merasakan hawa panas yang luar biasa menyengat kulit mereka dari jarak sejauh itu. Mereka melihat cahaya biru keputihan yang menyilaukan mata berasal dari mulut Madara.

​Mantan kapten gemuk itu menyeka keringat yang bercucuran deras di dahinya. Matanya membulat tidak percaya.

​“D-Dia menyemburkan api dari mulutnya secara terus menerus,” bisik pria bermata satu dengan suara bergetar.

​“Itu pasti kekuatan Buah Iblis tipe Logia. Tidak ada manusia biasa yang bisa menghasilkan api sepanas itu dari dalam tubuhnya sendiri,” sahut kru yang lain.

​Mantan kapten itu menelan ludah.

​“Tapi... apa yang sedang dia lakukan?” tanyanya dengan nada kebingungan yang bercampur dengan rasa takut. “Dia mengumpulkan batu bata, dan sekarang dia melelehkan besi curian itu...”

​Seorang kru yang dulunya pernah bekerja di galangan kapal terbelalak saat menyadari proses yang sedang terjadi.

​“Tuan Madara menggunakan kekuatan Logia Apinya... untuk membuat pedang?!” seru kru itu dengan suara tertahan.

​Kebodohan dan kesalahpahaman kru bajak laut itu mencapai tingkat yang baru.

​Di dunia ini, pengguna kekuatan Logia biasanya menggunakan elemen mereka untuk menghancurkan pulau, menenggelamkan kapal, atau membunuh musuh dalam pertempuran jarak jauh. Menjadi kekuatan alam yang tidak tersentuh adalah kebanggaan para pengguna Logia.

​Tetapi melihat seorang penguasa mutlak menggunakan kekuatan destruktifnya sebagai alat pertukangan untuk melelehkan besi curian adalah sebuah pemandangan yang sama sekali tidak masuk akal bagi mereka.

​Itu seperti melihat seekor naga menggunakan napas apinya untuk memanggang roti.

​Madara tentu saja mendengar bisikan-bisikan bodoh tersebut berkat Haki Pengamatannya. Namun dia mengabaikannya sepenuhnya.

​Dia tidak punya waktu untuk menjelaskan perbedaan antara ninjutsu elemen api dan buah kutukan murahan kepada sekelompok serangga.

​Logam di dalam tungku kini telah mencair sepenuhnya menjadi genangan cairan baja cair yang menyala terang.

​Madara menghentikan semburan apinya. Dia menutup mulutnya. Sebuah kepulan asap putih keluar dari sela-sela bibirnya. Tenggorokannya terasa kering, namun dia puas dengan hasil kompresi chakranya.

​Dia mengambil sebuah palu besi besar yang biasa digunakan untuk memperbaiki jangkar kapal. Berat palu itu mencapai belasan kilogram, namun di tangan Madara, palu itu terasa seringan ranting pohon.

​Dia juga mengambil sebuah penjepit logam panjang. Dia menjepit wadah cetakan kasar yang berada di dasar tungku, menarik bongkahan baja yang masih menyala merah terang itu ke atas sebuah balok besi datar yang dia jadikan landasan tempa.

​Tanpa membuang waktu satu detik pun, Madara mengangkat palu besinya.

​Teng.

​Suara hantaman logam yang sangat keras memecah udara pagi. Bunga api memercik liar ke segala arah.

​Teng. Teng. Teng.

​Madara tidak menempanya secara sembarangan. Setiap ayunan palunya dihitung dengan presisi matematika tingkat tinggi.

​Dia tidak hanya mengandalkan tenaga fisik otot. Dia menyalurkan sedikit chakra ke dalam kepala palu setiap kali hantaman terjadi. Chakra itu memaksa molekul-molekul baja eksoskeleton yang meleleh itu untuk merapat dan memadat dengan struktur baru yang lebih kuat.

​Dia membuang sifat kaku dari logam Germa, dan memasukkan sifat fleksibilitas serta ketahanan murni.

​Di bawah hantaman tanpa henti dari sang Pandai Besi Uchiha, bongkahan logam merah itu perlahan mulai berubah bentuk.

​Madara sedang membentuk sebuah bilah sabit yang melengkung tajam. Bentuk sabit pembunuh yang tidak memiliki belas kasihan. Bagian dalam lengkungannya diratakan hingga menjadi setajam silet, sementara bagian punggung bilahnya dibuat tebal untuk menahan benturan senjata berat musuh.

​Keringat mulai menetes dari dahi Madara. Udara panas di sekitar tungku membuat kulit remajanya memerah. Namun matanya tidak berkedip menatap baja yang sedang dia bentuk.

​Setelah bilah sabit selesai dibentuk dan dimasukkan ke dalam tong air laut untuk didinginkan dengan suara mendesis yang nyaring, Madara kembali ke tungku.

​Dia mengambil sisa baja cair dan mulai menempa sesuatu yang lain.

​Teng. Teng. Teng.

​Dia sedang membentuk rantai. Sebuah rantai baja hitam yang mata rantainya tidak terlalu besar, namun memiliki ketebalan yang luar biasa. Dia menyambung mata rantai itu satu per satu dengan kecepatan dan akurasi yang menakutkan.

​Rantai itu akan dipasangkan ke ujung gagang sabit. Senjata yang bisa digunakan untuk pertarungan jarak dekat, sekaligus senjata mematikan untuk menjerat musuh dari jarak menengah.

​Para kru bajak laut yang mengintip dari balik dinding saling berpandangan dengan wajah pucat pasi.

​Mereka baru saja menyadari sebuah kenyataan yang mengerikan. Tuan besar mereka tidak hanya bisa membunuh dengan tangan kosong. Tuan besar mereka juga memiliki kemampuan untuk menciptakan senjata pembunuhnya sendiri dari sisa-sisa musuh yang telah dia hancurkan.

​Hantu itu kini sedang menempa taring aslinya.

​Bunyi dentingan palu terus bergema di atas geladak Bajak Laut Taring Berkarat, menjadi melodi pengiring yang mengantarkan pelayaran mereka menuju kegilaan dunia bawah tanah yang telah menanti di pelabuhan North Blue berikutnya.

1
Pi Xi
aku tunggu
Pi Xi
hahahaha
Pi Xi
semangat
Pi Xi
lanjut
Pi Xi
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!