Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.
Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.
Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.
Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.
"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Denting besi kunci kuningan yang beradu dengan pintu kayu tebal menggema di sepanjang koridor lantai tiga, lantai yang selama ini selalu terlarang bagi Clara.
Kenzo menuntun atau lebih tepatnya mencengkeram lembut namun tegas lengan Clara, membawanya masuk ke dalam sebuah ruangan berukuran luas. Begitu lampu menyala, mata Clara membelalak. Itu bukan sekadar kamar tidur biasa. Ruangan itu didesain sangat mewah dengan nuansa abu-abu dan kayu gelap, dilengkapi jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota malam hari. Ada satu hal yang membuat dada Clara sesak. tidak ada balkon, dan kaca jendela tersebut tebal tanpa engsel untuk dibuka.
"Ini kamar siapa?"
suara Clara bergetar.
"Kamarmu yang baru,"
jawab Kenzo singkat.
Pria itu berjalan menuju lemari besar di sudut ruangan, membukanya, dan memperlihatkan deretan pakaian wanita yang sudah tersusun rapi, semuanya baru, dan semuanya telah disesuaikan dengan selera Kenzo yang cenderung tertutup.
"Kenzo, ini gila! Kamarku di lantai dua!"
Clara melangkah mundur mendekati pintu yang terbuka.
"Aku tidak mau tidur di sini!"
Sebelum Clara sempat mencapai ambang pintu, Kenzo bergerak cepat memotong jalannya. Pria itu menutup pintu rapat-rapat, memutar kunci dari dalam, lalu memasukkan kunci itu kembali ke saku celananya.
"Kamar lama milikmu terlalu dekat dengan pintu keluar,"
kata Kenzo santai, seolah sedang membicarakan cuaca.
"Dan malam ini kau sudah membuktikan bahwa kau tidak bisa dipercaya. Kau butuh pengawasan yang lebih ketat."
"Pengawasan?"
Clara tertawa sumbang, air mata frustrasi akhirnya menetes membasahi pipinya.
"Ini bukan pengawasan, Kenzo! Ini penyekapan! Kau memenjarakanku!"
Kenzo tidak membantah. Ia mendekat, jemarinya terangkat mengusap air mata di pipi Clara dengan gerakan yang teramat lembut. Kontras antara tindakan posesif dan sentuhan lembutnya selalu berhasil mengacaukan pikiran Clara.
"Selama Ayah dan ibumu tidak ada, aturan di rumah ini dibuat olehku."
Ketika Kenzo akhirnya meninggalkan ruangan setelah memastikan semua akses terkunci dari luar, Clara meluruh di tepi tempat tidur berukuran king size yang terlalu empuk. Keheningan malam mulai merayap, membawa ingatannya melayang jauh ke masa lalu, ke masa di mana semuanya dimulai.
Sembilan tahun lalu, saat usia Clara baru sebelas tahun dan Kenzo lima belas tahun.
Clara masih mengingat jelas hari pertama ibunya membawanya pindah ke rumah megah ini setelah pernikahan rahasia mereka dengan ayah Kenzo. Bagi Clara kecil yang terbiasa hidup sederhana, rumah itu terasa seperti istana yang menakutkan. Dan Kenzo adalah pangeran dingin yang tak pernah tersenyum.
Di awal pernikahan, Kenzo bersikap tak acuh. Pria muda itu lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar atau belajar untuk persiapan meneruskan perusahaan. Namun, semuanya berubah di suatu sore saat musim hujan, ketika Clara berusia empat belas tahun.
Hari itu, Clara pulang sekolah dalam keadaan basah kuyup karena hujan deras dan lupa membawa payung. Seorang teman sekelas pria mengantarnya sampai ke depan gerbang rumah dengan sepeda motor. Clara tersenyum dan melambaikan tangan sebagai ucapan terima kasih.
Ia tidak tahu bahwa di balik jendela lantai dua yang gelap, Kenzo berdiri mengamati setiap detik interaksi tersebut dengan rahang mengeras.
setelahnya, teman pria Clara itu tidak pernah lagi menyapanya di sekolah. Bahkan, seminggu kemudian, anak laki-laki itu tiba-tiba pindah sekolah ke luar kota tanpa alasan yang jelas.
Clara kecil tidak pernah menghubungkan kepindahan teman sekolahnya dengan Kenzo, sampai ia secara tidak sengaja menemukan surat perpindahan sekolah anak itu di dalam laci meja kerja Kenzo saat mencari buku yang dipinjam.
Saat itulah Clara menyadari sesuatu yang mengerikan. Kenzo tidak pernah menganggapnya sekadar adik tiri. Sejak garis remaja mulai membentuk tubuh Clara, Kenzo telah memandang gadis itu sebagai milik pribadinya yang tidak boleh disentuh, dilihat, atau dimiliki oleh siapapun selain dirinya.
Suara langkah kaki di luar kamar menghentikan kenangan masa lalu Clara.
Clara langsung menegang di atas kasur. Ia menatap ke arah bawah pintu, di mana celah kecil memperlihatkan bayangan seseorang yang berdiri diam di luar.
Kenzo tidak masuk. Pria itu hanya berdiri di sana, di balik pintu kayu yang terkunci, memperhatikannya dari bayangan, seperti yang selalu ia lakukan selama bertahun-tahun.
Clara menahan napas, tidak berani bergerak sedikit pun. Ketakutan merayapi dadanya, namun di saat yang sama, ada kesadaran pahit yang mulai meracuni pikirannya, tidak peduli seberapa keras ia berusaha lari, bayangan Kenzo akan selalu menemukannya.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar dua kali di pintu, disusul suara Kenzo yang terngiang rendah namun jernih di tengah kegelapan malam.
"Besok pagi aku yang akan mengantarmu ke kampus, Clara. Dan pastikan kau tidak menemui pria bernama Julian itu lagi atau kau tidak akan pernah melihatnya lagi selamanya."
Darah Clara mendadak berhenti mengalir. Bagaimana Kenzo bisa tahu nama Julian?
Ancaman itu tergantung di udara, dingin dan beracun. Nama Julian yang keluar dari mulut Kenzo menghantam kesadaran Clara seperti hantaman benda tumpul. Julian adalah satu-satunya teman kampus yang diam-diam membantu Clara mengurus berkas beasiswa pertukaran pelajar ke luar negeri. Tidak ada satu orang pun di rumah ini yang tahu tentang Julian, seharusnya begitu.
Clara meloncat dari tempat tidur, berlari menghampiri pintu dan menggedor permukaannya dengan telapak tangan.
"Kenzo! Apa yang kau lakukan pada Julian?!"
jerit Clara, suaranya parau menahan tangis yang membendung di tenggorokan.
"Dia hanya teman kampusku! Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini!"
Keheningan kembali menyelimuti koridor di balik pintu. Tidak ada jawaban. Namun, Clara bisa mendengar gesekan halus kain kemeja dan langkah kaki yang sangat pelan mendekat, berhenti tepat di balik daun pintu yang memisahkan mereka.
"Kau selalu berpikir bisa menyembunyikan sesuatu dariku, Clara,"
suara Kenzo terdengar begitu dekat, seolah pria itu sedang menyandarkan dahinya di balik pintu kayu tersebut.
"Setiap pesan singkat, setiap dokumen yang kau unduh di laptopmu, setiap tempat yang kau kunjungi... aku tahu semuanya."
Lutut Clara terasa lemas. Penyataan itu mengonfirmasi ketakutan terbesarnya selama ini, ponsel dan laptopnya telah disadap. Seluruh ruang pribadinya telah diinvasi tanpa sisa.
"Kau gila, Kenzo"
bisik Clara, suaranya gemetar hebat.
"Kau benar-benar sakit!"
"Aku hanya menjaga apa yang menjadi milikku," balas Kenzo datar, tanpa penyesalan sedikit pun. "Tidurlah. Besok akan jadi hari yang sangat panjang untukmu."
Langkah kaki Kenzo perlahan menjauh, menghilang ditelan keheningan lantai tiga. Clara meluruh ke lantai marmer yang dingin, memeluk lututnya sendiri di balik pintu yang terkunci rapat. Dalam kegelapan kamar barunya, satu hal menjadi sangat jelas, sangkar emas ini tidak lagi memiliki celah, dan permainan yang diciptakan Kenzo baru saja dimulai.