"Salah satu kakinya diamputasi setelah ditabrak sebuah mobil 8 tahun silam. Sayangnya, mobil itu kabur, CCTV rusak." Kenan tersenyum getir, seolah hal itu sudah biasa terjadi jika pelakunya orang-orang berduit. "Ada saksi yang mengatakan jika yang menabrak Ilona adalah mobil sport warna merah, tapi..." Ia kembali terkekeh. "Beberapa hari kemudian, kesaksiannya berubah. Entahlah."
Mendengar itu, tubuh Elang seketika mengalami tremor. Jantungnya berdebar kencang, dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Semoga saja ini hanya kebetulan. 8 tahun yang lalu, Elang menabrak seseorang saat dini hari, sepulang dari party kelulusan SMA bersama teman-temannya. Kondisinya setengah mabuk saat itu. Karena takut, di tambah kondisi jalanan yang sepi, ia langsung kabur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Brak Brak Brak
"ELANG! BANGUN!"
Jam 6 pagi. Matahari masih baru naik, sinarnya belum masuk ke kamar Elang yang tirainya tertutup rapat, namun di luar sudah sangat berisik. Aida dengan daster rumahan dan rambut yang dicepol asal, menggedor pintu kamar putranya.
"ELANG! BANGUN!"
Mata Elang masih tertutup rapat meski mendengar suara gedoran dan teriakan mamanya. Menarik selimut yang sempat melorot hingga lutut. Ia baru tidur beberapa jam, setelah semalaman sibuk mengemasi barang-barang penuh kenangan dengan Alisya yang ada di kamarnya. Ia ingin secepat mungkin bisa melupakan gadis itu.
Brak Brak Brak
"ELANG, KAMU DENGER NGGAK?!"
Suara Bu Aida makin tinggi.
Elang menghela nafas panjang. "Iya Mah... bentar..." Ia menyingkap selimut, mengacak rambut frustasi lalu turun dari ranjang.
Pintu kebuka, Elang muncul dengan muka bantal dan rambut acak-acakan.
Tapi Aida bukan sedang ingin mempermasalahkan itu. Dengan kedua tangan berkacak pinggang, ia menatap Elang tajam. "Kamu keterlaluan!" bentaknya.
"Apa sih, Mah. Masih pagi juga udah ngomel-ngomel." Elang menutup mulut dengan telapak tangan, menguap lebar.
"Alisya nelpon dari jam 5 tadi, nangis-nangis. Dia cerita semuanya. Kamu mutusin dia semalam.
Elang langsung terdiam, mulai faham kenapa Mamanya marah-marah. Ia Mengusap wajah dengan kedua telapak tangan, lalu membuang nafas berat.
"Kamu lupa, kamu sudah meminta dia pada kedua orang tuanya. Kamu sudah melamarnya, berjanji akan menjaganya, membahagiakan dia. Tapi yang kamu lakukan justru kebalikannya. Kamu bikin dia sedih, kamu menyakiti dia."
"Dia akan lebih tersakiti kalau kami tetap bersama, Mah. Hati dan fikiranku sudah pada perempuan lain. Aku gak_"
"DIAM!" Bu Aida memotong. "Kamu ingin menebus kesalahan, tapi cara kamu salah. Kamu menyakiti perempuan lain. Alisya nggak salah apa-apa, tapi dia jadi korban."
"Justru karena dia nggak salah, aku nggak mau makin nyakitin dia. Apa yang lebih menyakitkan daripada bersama laki-laki, tapi hatinya untuk perempuan lain."
"Alasan!" Bu Aida mendengus kesal. "Hati kamu masih untuk Alisya, kamu hanya sedang kasihan saja pada perempuan itu. Pokoknya hari ini juga, kamu ketemu Alisya. Minta maaf. Terus cabut kata-kata kamu semalam, mumpung kedua orang tua Alisya belum tahu."
Elang angkat kepala, menggeleng pelan. "Maaf Ma, aku gak bisa."
"APA?" Wajah Aida menegang.
"Keputusanku sudah bulat Ma, aku akan bersama Ilona."
Bu Aida tersenyum kecut. "Memang dia mau sama kamu? Kalau dia tahu kamu yang membuat dia cacat, jangankan menikah denganmu, lihat muka kamu saja dia tak akan mau. Dengarkan apa kata Mama sama Papa. Lupakan gadis itu, kembali ke kehidupan kamu sebelum bertemu dengannya. Kembali fokus dengan masa depan kamu dan Alisya."
"Gak segampang itu, Mah. Mama fikir gampang, dihantui rasa bersalah, apalagi seumur hidup."
Aida mendengus kesal. "Kamu lupa dengan apa yang dikatakan Papa kamu malam itu hah? Kamu lupa, kalau Papa akan ngusir kamu dari rumah ini sekaligus perusahaan jika kamu sampai memutuskan pertunangan dengan Alisya."
"Aku udah siap kok, Mah."
"Elang!" bentak Aida. Dadanya naik turun, telapak tangannya terkepal kuat. "Kamu gak akan bisa."
"Elang akan buktikan kalau Elang bisa."
Aida frustasi, sampai tak tahu harus berkata apa lagi.
"Mah." Elang memegang kedua lengan Mamanya, menatap matanya. "Aku tau Mama kecewa. Aku juga sadar telah menyakiti Alisya, tapi aku gak ada pilihan Mah. Aku gak akan sanggup membawa rasa bersalah ini seumur hidup. Aku harus menebus kesalahanku."
Bu Aida diam, napasnya berat. Ia tahu, keputusan Elang akan membuat ketegangan besar di keluarga ini nantinya. Suaminya tidak pernah main-main dengan ucapannya. Baru membayangkan dua laki-laki yang ia sayang berseteru, ia sudah sedih.
"Besok, pembukaan toko bungaku dengan Ilona. Mama datang ya. Mama lihat sendiri bagaimana kondisi Ilona. Mama coba ngobrol dengan Ibunya. Mama bayangkan, jika anak Mama yang ada di posisi Ilona, yang kehilangan kakinya karena ulah seseorang yang tidak bertanggung jawab. Mah, andai saja yang terjadi pada Ilona, terjadi pada Kak Marsha, apa Mama masih bisa bicara seperti tadi?"
Bu Aida masih diam, tak memberi respon apapun.
"Aku akan kirim alamatnya ke WA mama. Please, Mama datang ya."
biarlah elang menebus kesalahan'a dgn seumur hidup menemani ilona, & smoga ilona iklhas
apa elang bener" mencintai ilona apa cm kasihan krn ingin menebus kesalahan masa lalu'a✌
ngeri✌pasti SGT SYOK🥺
nangis bener-bener dengan ketulusan & cinta elang yang bukan sekedar mau bertanggung jawab...
beri kesempatan elang untuk menceritakan kejadian 8 Th lalu ILona.. apalagi silikonnya waktu dulu tidak sama dengan elang yang sekarang...
semoga Harimu Luluh dengan ketulusan Cintamu pad elang yang akan membawa kebahagiaan dalam hidupnya ILona...
Semua tidak lepas dari takdir.. begitupun pertemuanmu dengan elang... 😭😭😭💙💛💙😘😘😘
prihatin dengan hubungan yang tulus tapai dinhancurkan hanya gara² masa lalu yang sebenarnya tidak mungkin akan bisa di ulang apalagi kembal... 😥😥😥
klo pun elang hrus dipenjara semoga hub elang dan ilona bisa membaik