Shen Yu hanyalah seorang pemburu yatim piatu dari desa terpencil yang setiap hari hidup dalam hinaan. Takdirnya berubah saat ia memperoleh warisan Menara Dewa Kuno, peninggalan terakhir Sekte Dewa Kuno yang telah dimusnahkan.
Di balik kekuatan itu tersembunyi rahasia kematian kedua orang tuanya dan konspirasi Dua Belas Sekte Besar yang menguasai dunia kultivasi.
Dengan tekad membalas dendam, membangkitkan kembali Sekte Dewa Kuno, dan mencapai puncak kultivasi, Shen Yu memulai perjalanan untuk menjadi True God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemburu dari Istana Salju
Berikut adalah hasil rombakan Bab 8 dengan gaya penulisan khas platform Noveltoon. Di bab ini, fokusnya adalah mempertegas kedatangan antagonis baru (Han Lie) dengan aura rivalitas yang pekat, menghidupkan aksi pertarungan jarak jauh berbasis ilusi gelombang suara, serta menjaga karakteristik humor sarkas khas Shen Yu.
BAB 8: Pemburu dari Istana Salju
Jauh di ujung utara Dunia Kultivasi Atas.
Berdiri sebuah istana hitam megah yang diselimuti oleh lapisan salju abadi. Langit di atas wilayah terlarang itu tidak pernah menampakkan berkas sinar matahari; hanya ada hamparan awan kelabu dan badai es kutub yang berputar-putar tanpa henti, memancarkan hawa dingin yang sanggup membekukan jiwa.
Di atas singgasana utama yang terbuat dari balok es mistis, duduk seorang pria tua berjubah putih bersih.
Rambutnya yang panjang memutih sempurna menyerupai salju, namun sepasang kelopak matanya yang terbuka memancarkan manik mata berwarna merah darah yang teramat mengerikan. Di wilayah ini, tidak ada satu pun makhluk yang memiliki keberanian untuk menatap matanya secara langsung.
Ia adalah penguasa absolut tempat ini, yang dikenal dengan gelar: Penguasa Istana Salju Abadi.
Tepat di bawah undakan singgasana, puluhan kultivator elit berjubah putih sedang berlutut serempak dengan kepala tertunduk dalam-dalam ke lantai es.
"Kalian semua... pastinya telah mendengar gemuruh hukum alam beberapa saat yang lalu."
Suara pria tua itu terdengar sangat datar dan pelan, namun getaran frekuensinya mengandung tekanan spiritual masif yang membuat seluruh pilar istana bergetar hebat.
"Sesosok pewaris baru dari Menara Dewa Kuno... telah resmi memanifestasikan dirinya di dunia bawah."
"Pergilah. Temukan bajingan kecil itu."
"Hapus namanya, eksistensinya, dan garis darahnya secara absolut dari kolong langit ini. Jangan sampai kalian mengulangi kelalaian fatal yang sama seperti tiga puluh ribu tahun yang lalu!"
"Hamba menerima perintah mutlak, Yang Mulia!" Seluruh kultivator elit menjawab serempak, suara mereka menggema patuh.
Detik berikutnya, salah seorang dari barisan depan berdiri dan melangkah maju.
Kultivator ini tampak masih sangat muda, memiliki wajah yang teramat tampan dengan garis rahang tegas, namun sepasang matanya berpendar sedingin es kutub. Di pinggang kirinya, tergantung sebilah pedang pusaka tipis berwarna biru pucat yang memancarkan uap beku.
"Guru," ucap pemuda itu seraya membungkuk hormat. "Izinkan muridmu ini yang turun langsung ke dunia bawah untuk menangani tikus kecil tersebut."
Pria tua bermata merah itu mengalihkan pandangannya, menatap murid kesayangan sekaligus jenius nomor satu di istananya. "Kau begitu yakin dengan kemampuanmu, Han Lie?"
Han Lie menegakkan tubuhnya, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rasa percaya diri yang tinggi. "Jika benar bocah itu baru saja memperoleh akses warisan di dasar jurang, maka artinya tingkatan kultivasinya saat ini masih berada di level fana yang teramat lemah."
"Sebelum dia sempat menumbuhkan sayapnya, aku bersumpah akan membawa kepala botaknya kembali ke hadapan Guru."
Penguasa Istana Salju Abadi menarik sudut bibirnya. "Jangan pernah sekali-kali meremehkan takdir, Han Lie. Sejarah telah mencatat bahwa semua pewaris sah Menara Dewa Kuno... lahir sebagai monster di antara para monster."
Han Lie mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat, hawa es meletus dari sela jarinya.
"Kalau begitu... aku hanya perlu menjadi sosok monster yang jauh lebih mengerikan untuk memburu dan menjagal monster tersebut!"
Sementara itu, jauh di kedalaman terasing Menara Dewa Kuno dunia bawah.
Shen Yu sama sekali tidak mengetahui bahwa namanya kini telah tertulis di urutan teratas dalam daftar buruan paling dicari oleh penguasa dunia atas.
Ia saat ini sedang berdiri santai, membolak-balikkan telapak tangan kanannya untuk memperhatikan Cincin Penyegel Langit berwarna hitam polos yang kini melingkar pas di jari tengahnya.
"Kakek Tua, sepotong logam hitam ini... bagaimana sebenarnya cara mengoperasikannya?" tanya Shen Yu bingung.
Roh Menara melayang mendekat, tersenyum tipis. "Sangat sederhana. Cobalah salurkan sedikit energi Qi Kekacauan Purba yang baru saja kau dapatkan dari kolam ke dalam inti cincin tersebut."
Shen Yu mengangguk paham. Ia mengedarkan formula Kitab Dewa Abadi di dalam tubuhnya, lalu mengalirkan seberkas kecil energi Qi ke arah jari tengahnya.
Wuuuung!
Cincin hitam polos itu mendadak memancarkan pendaran cahaya hitam pekat yang pekat.
Satu detik kemudian, ruang hampa udara tepat di hadapan Shen Yu mendadak terbelah secara magis, memunculkan sebuah portal dimensi spasial yang luasnya setara dengan sebuah rumah besar.
"Oh? Cincin ruang penyimpanan?" tebak Shen Yu, melongokkan kepalanya ke dalam portal.
"Bukan. Jangan samakan artefak ini dengan kantong spasial murahan milik para kultivator biasa," sergah Roh Menara seraya menggelengkan kepala. "Ini adalah [Ruang Penyegel]. Apa pun objek atau entitas yang berhasil kau masukkan ke dalam pusaran portal ini, maka eksistensinya akan tersegel secara absolut dari hukum dunia luar."
"Kau bisa memasukkan senjata pusaka, pil obat, artefak kuno... bahkan..." Roh Menara menjeda kalimatnya sejenak, menatap Shen Yu dengan serius. "...makhluk hidup yang status kekuatannya berada di bawahmu."
Shen Yu mengangkat sebelah alisnya, menyadari potensi mengerikan dari cincin ini. "Kalau fungsinya seperti itu, bukankah benda ini sangat berbahaya jika digunakan untuk menjebak orang?"
"Itulah alasan utama mengapa Sang Pendiri Agung dahulu sangat jarang memperlihatkan cincin ini kepada publik. Daya rusaknya terlalu tabu."
Shen Yu menyeringai kecil, menepuk-nepuk cincin di jarinya. "Syukurlah kalau begitu. Untung saja cincin berbahaya ini jatuh ke tangan seorang pemuda baik hati dan jujur seperti diriku."
Roh Menara seketika mendengus remeh. "Kita lihat saja nanti, apakah kau akan tetap menjadi 'orang baik' setelah dunia luar mulai memaksamu menumpahkan darah."
BOOOOMMM!!!
Tiba-tiba, tanpa ada peringatan apa pun, seluruh struktur Menara Dewa Kuno kembali berguncang dengan sangat hebat.
Namun, insting Shen Yu segera menyadari sesuatu yang berbeda. Dentuman masif kali ini sama sekali tidak berasal dari gempuran segel luar di atas jurang. Getaran destruktif ini justru bersumber dari arah lantai di atas mereka!
Roh Menara dengan cepat mendongak menatap langit-langit aula Lantai Pertama. Wajah tuanya seketika berubah menjadi sangat serius dan tegang.
"Lantai Kedua menara... segelnya telah terbuka dengan sendirinya secara paksa!"
Shen Yu mengernyitkan dahi, membetulkan posisi pedang tuanya. "Bukannya itu seharusnya menjadi kabar baik bagi kita? Artinya aku bisa mengambil harta lagi, kan?"
Roh Menara menggelengkan kepalanya perlahan, ekspresinya tampak rumit. "Tidak selalu. Karena pembukaan segel otomatis seperti ini hanya akan terjadi jika Sang Penjaga Jiwa dari Lantai Kedua itu sendiri... yang secara aktif memanggil paksa sang pewaris untuk naik."
GROOOOOMMM...
Langit-langit aula berbatu di ujung ruangan perlahan-lahan terbelah dua.
Sebuah tangga batu berukuran raksasa—tiga kali lipat lebih besar daripada tangga lantai pertama—turun secara perlahan dari kegelapan kabut atas. Setiap permukaan anak tangganya dipenuhi oleh ukiran jalinan rune kuno yang memancarkan pendaran cahaya kebiruan yang dingin.
Shen Yu menatap tangga raksasa itu dengan rasa penasaran yang membumbah di matanya. "Jadi, penunggu di atas sana sengaja memanggilku? Menurutmu, apakah ini sebuah pertanda buruk?"
"Bisa menjadi mimpi buruk yang teramat mengerikan... namun di sisi lain, bisa juga menjadi sebuah keberuntungan yang sangat besar," sahut Roh Menara penuh misteri.
Shen Yu menyeringai lebar, menatap latus ke atas tangga. "Jawaban diplomatis gantungmu itu selalu sukses membuat rasa penasaranku bertambah, Kakek. Mari kita lihat monster apa yang menungguku di atas."
Tanpa membuang waktu lagi, Shen Yu mengayunkan kakinya, melangkah mantap menaiki anak tangga pertama.
BUM!!!
Tepat pada detik ketika telapak kakinya menyentuh permukaan anak tangga pertama, sebuah tekanan gravitasi spiritual yang luar biasa masif mendadak menghantam seluruh tubuh Shen Yu bagai dijatuhi bongkahan meteor.
Krek!
Kedua lutut Shen Yu bergetar hebat, hampir saja tertekuk menghantam lantai batu.
"Sialan... Berat sekali!" geram Shen Yu, langsung mengerahkan seluruh sirkulasi energi fisik dari alam Body Tempering Tingkat Pertama miliknya untuk menjaga tubuhnya tetap tegak berdiri.
Semakin tinggi ia melangkah mendaki tangga spiral tersebut, tekanan gravitasi tak kasat mata itu terus berlipat ganda secara tidak masuk akal.
Sepuluh anak tangga... Dua ratus... Lima ratus...
Seluruh keringat dingin mengucur deras membasahi tubuhnya, membuat baju berburunya yang robek melekat erat di kulit. Tepat di anak tangga kesembilan puluh sembilan, paru-parunya terasa seperti terbakar dan napasnya mulai tersengal-sengal parah.
"Kakek... apa semua penjaga jiwa di menara sialan ini... memiliki hobi aneh suka menyiksa anak bawah umur?!" gumam Shen Yu terengah-engah, memegangi lututnya sejenak.
Roh Menara yang melayang santai di belakangnya tampak terkekeh geli. "Jika untuk sekadar menaiki tangga ujian fisik ini saja kau sudah mengeluh setengah mati, bagaimana mungkin kau bermimpi untuk meremukkan para Dewa Sejati di dunia atas nanti, huh?"
Shen Yu mendengus kesal, menyeka keringat di pelipisnya. "Aku akan mengeluh dan memaki tempat ini dulu selama lima detik untuk melepas stres, baru setelah itu aku akan lanjut mendaki sampai ke puncak!"
Hup!
Dengan satu hentakan kaki yang dipenuhi tekad, Shen Yu akhirnya berhasil melompati anak tangga terakhir dan mencapai bibir aula Lantai Kedua.
Berbeda total dengan aula Lantai Pertama yang dipenuhi oleh ribuan rak kayu berisi harta karun pusaka, lanskap aula Lantai Kedua ini justru tampak kosong melompong tanpa ada satu pun perabot. Tempat ini hanya berupa sebuah ruangan batu super luas dengan sebuah arena pertempuran berbentuk lingkaran sempurna di titik tengahnya.
Dan tepat di titik tengah arena lingkaran tersebut, sesosok wanita berpakaian gaun jubah berwarna hijau lumut tampak sedang duduk bersila dengan kedua kelopak mata terpejam rapat.
Rambut hitamnya yang lurus dan teramat panjang menjuntai indah hingga menyentuh lantai batu, sementara di atas pangkuannya, tergeletak sebilah kecapi kuno bersenar tujuh yang terbuat dari giok hijau mistis.
Meskipun wanita itu hanya duduk diam membisu tanpa melakukan gerakan apa pun, namun atmosfer aura tekanan yang dipancarkannya terasa sepuluh kali lipat lebih tajam dan menindas dibandingkan dengan zirah Qin Luo di lantai pertama.
Wanita jubah hijau itu perlahan membuka sepasang kelopak matanya.
Sepasang manik mata berwarna hijau zamrud yang teramat jernih namun dingin seketika mengunci pandangannya tepat pada sosok Shen Yu yang baru tiba.
"Kau... pergerakanmu terlalu lambat untuk ukuran seorang pewaris," ucap wanita itu, nadanya datar tanpa riak emosi fana, namun suaranya terdengar begitu merdu bagaikan desiran angin malam.
Shen Yu mengaruk pipinya yang tidak gatal dengan ekspresi tanpa dosa. "Maaf saja, Nona Cantik. Tapi jumlah anak tangga yang dibuat oleh arsitek menara ini benar-benar terlalu banyak dan tidak ramah bagi kesehatan lututku."
Mendengar respons yang teramat santai dan cenderung asal-asalan dari Shen Yu, wanita jubah hijau itu sempat terdiam membisu selama beberapa detik.
Detik berikutnya, sebuah riak halus melintas di matanya, dan sudut bibirnya yang tipis tampak sedikit terangkat ke atas.
Melihat fenomena langka tersebut, sepasang mata Roh Menara di belakang Shen Yu seketika membelalak sempurna penuh horor. "Mustahil! Wanita es ini... dia baru saja tersenyum?!"
Wanita jubah hijau itu bangkit berdiri secara perlahan dari posisi bersilanya, memegang kecapi gioknya dengan satu tangan yang anggun.
"Namaku adalah Lin Yue, Penjaga Sah dari Lantai Kedua Menara Dewa Kuno," ucapnya dingin. "Ujian pertamamu bersamaku teramat sangat sederhana."
Lin Yue mengangkat kecapi giok di tangannya secara vertikal di depan dada. "Di dalam area arena ini, jika kau memiliki kemampuan untuk melangkah maju dan berhasil menyentuh bahkan hanya seujung kain lengan bajuku saja... maka kau akan langsung dinyatakan lulus dari lantai ini."
Shen Yu mengedipkan kedua matanya, sedikit terkejut. "Hanya itu saja syaratnya? Tidak perlu bertarung sampai berdarah-darah seperti di bawah?"
Lin Yue mengangguk pelan. "Hanya itu."
Shen Yu seketika menyunggingkan senyuman penuh percaya diri, memutar pedang tuanya di udara. "Kalau begitu, sepertinya ujian dari Nona Cantik kali ini akan jauh lebih mudah untuk kuselesaikan."
Namun, tepat pada fraksi detik ketika kalimat optimis Shen Yu baru saja selesai diucapkan...
Tiiinggg...
Lin Yue menggerakkan jari telunjuk kirinya yang lentik, memetik satu senar teratas dari kecapi gioknya secara perlahan.
Sebuah gelombang distorsi suara tak kasat mata yang membawa riak energi makro mendadak melesat horizontal, menyapu seluruh permukaan lantai arena dengan kecepatan suara!
BOOOOMMMM!!!
Shen Yu bahkan tidak sempat melihat datangnya serangan tersebut. Detik berikutnya, ia merasakan dadanya seperti dihantam oleh palu gada raksasa seberat ratusan ton.
Tubuh pemuda itu seketika terpental puluhan meter ke udara, melesat horizontal sebelum akhirnya menghantam dinding batu kokoh aula dengan sangat keras hingga memicu retakan sedalam beberapa senti.
"Uhuk!"
Shen Yu merosot jatuh ke lantai, berlutut seraya menyeka tetesan darah segar yang mengalir dari sudut bibirnya yang robek. Dadanya terasa sesak dan tulang rusuknya berdenyut nyeri.
"Sialan... Hanya dengan satu kali petikan senar santai... jarak sejauh ini saja sudah bisa melempar diriku?" batin Shen Yu mendelik penuh horor.
Untuk pertama kalinya sejak ia menapaki jalan kultivasi di dalam Menara Dewa Kuno, Shen Yu akhirnya menyadari sebuah realitas baru yang kejam. Di hadapannya saat ini, berdiri sesosok lawan yang bahkan celah untuk mendekatinya pun... sama sekali tidak bisa ia temukan.
Lin Yue menatap sosok Shen Yu yang tergeletak dari kejauhan dengan pandangan matanya yang kembali sedingin es, tanpa ada riak belas kasihan.
"Segera bangkit kembali, wahai Pemburu. Ujian hidup dan matimu yang sesungguhnya... baru saja dimulai detik ini."