NovelToon NovelToon
RNG Absolut: Dari Pecundang Jadi Legenda

RNG Absolut: Dari Pecundang Jadi Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anime / Game / Slice of Life
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: webnakama

Kurosawa Kaito adalah pria paling sial di seluruh Jepang bukan kiasan, itu fakta yang bisa dibuktikan lewat statistik. Payung selalu ketinggalan pas hujan deras, promosi kerja direbut orang lain di detik terakhir, bahkan mesin ATM pernah menelan kartunya di hari gajian.

Semua berubah saat sahabatnya memaksanya mencoba Aeon Requiem, VRMMORPG full-dive terbaru yang sedang jadi fenomena dunia. Saat membuat karakter, Kaito yang selama ini terlalu sial untuk berharap apa pun asal memasukkan seluruh poin stat awal ke satu parameter yang paling sering diabaikan pemain lain: Luck (Keberuntungan).

Yang tidak ia sangka: sistem game ini menghitung keberuntungan bukan sebagai angka kosmetik, tapi sebagai variabel nyata yang memengaruhi drop rate, critical hit, event tersembunyi, bahkan takdir NPC. Seorang pemain yang di dunia nyata tidak pernah menang undian apa pun, kini menjadi satu-satunya orang yang ditakdirkan untuk selalu beruntung di dunia yang bukan dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon webnakama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27 — Rencana ke Osaka

Kaito nyeritain semua yang kejadian di wawancara itu ke Rin lewat telepon, detail demi detail, sampe akhirnya mereka berdua sepakat buat ngumpul bareng Souma, Mei, dan Amagi di markas malam itu juga walau udah larut.

"Jadi intinya developer sendiri juga nggak sepenuhnya ngerti sistem ini, dan udah ada minimal tiga orang yang kena efek parah." kata Souma, setelah Kaito selesai cerita ulang semuanya.

"Itu yang bikin gue nggak bisa tenang, gue tau Kirishima bilang ini bukan sepenuhnya salah gue, tapi tetep aja... tiga orang Souma. Mungkin lebih." kata Kaito, natap tangannya sendiri.

Rin, yang duduk di sampingnya, natap dia dengan ekspresi yang campuran antara khawatir dan tegas. "Kaito, kita udah bahas ini. Lo nggak minta jadi wadah sistem ini."

"Gue tau, tapi tau secara logika sama ngerasa secara emosional itu dua hal yang beda." kata Kaito.

Mei yang duduk di pojok sambil meluk lututnya, nyeletuk pelan. "Aku juga kepikiran sih. Kalo emang efeknya bisa se-signifikan itu, gimana kalo suatu saat itu kena ke salah satu dari kita? Maksudku, kita kan sering banget deket-deket sama Kaito."

Ruangan itu diem sejenak, pertanyaan itu jelas belum pernah kepikiran sama siapa pun sebelumnya.

"Itu pertanyaan bagus, tapi kalo dari data yang Kaito dapetin, sepertinya efek negatifnya nggak otomatis nular ke orang-orang deket. Lebih ke random di seluruh server, bukan berdasarkan kedekatan personal." kata Amagi, natap Mei dengan ekspresi serius.

"Semoga aja," gumam Souma, walau nadanya nggak sepenuhnya yakin.

Amagi yang dari tadi diem sambil nyusun catatan di panelnya, akhirnya nyeletuk lagi. "Kalo boleh saran, daripada terus muter di rasa bersalah, mungkin lebih produktif kalo kita fokus ke hal yang bisa kita lakuin. Kita punya nama satu korban yang udah teridentifikasi, Kazenagi. Kita punya kontak dia, walau terbatas."

Rin natap Amagi, ngerti arah pembicaraan. "Lo mau bilang kita harus ketemu dia langsung."

"Itu logis, chat terbatas kayak yang udah kalian lakuin cuma bisa ngasih informasi sedikit. Kalo emang niat bantu dia, atau minimal ngerti penuh apa yang kejadian, pertemuan langsung bakal jauh lebih efektif." kata Amagi.

Mei ngangguk semangat. "Aku setuju! Lagian, kalo emang dia masih ragu buka diri lewat chat, mungkin ketemu langsung bisa bikin dia ngerasa lebih... nyata? Kayak bukti kalo Rin beneran peduli, bukan cuma ngirim pesan doang." Dia natap Rin dengan mata berbinar, penuh semangat mendukung.

Rin diem mikirin kemungkinan itu. "Gue... jujur, gue takut. Tapi lo semua bener. Chat doang nggak bakal cukup."

Kaito natap dia. "Kalo lo mau ke sana, gue ikut. Kayak janji gue dulu."

"Lo bisa cuti kerja?" tanya Rin sedikit khawatir.

"Gue punya beberapa hari cuti yang belum kepake, lagian gue baru aja dijadiin koordinator proyek, kayaknya bakal ada waktu senggang sebelum proyeknya beneran mulai bulan depan. Pak Nishida juga selalu bilang gue kerja kelewat rajin, jadi mungkin ini kesempatan bagus buat istirahat sekalian." kata Kaito.

"Untung juga ya kerjaan lo lagi lancar, dulu lo cerita hidup lo penuh drama kantor. Sekarang malah dikasih cuti gampang gitu." kata Rin dengan senyum kecil.

"Ironis emang, tapi gue nggak komplain." Kaito ketawa.

Mereka mutusin buat berangkat ke Osaka akhir minggu itu, naik kereta cepat shinkansen pagi-pagi biar bisa nyampe siang dan punya banyak waktu buat ngobrol sama Kazenagi, seandainya dia emang bersedia ketemu langsung setelah mereka nyampe di sana.

Ini bakal jadi pertama kalinya Kaito ketemu Rin di dunia nyata.

Malem sebelum keberangkatan, Kaito duduk di kamarnya, ngerasa gugup dengan cara yang beda dari biasanya, bukan gugup soal misi atau bahaya, tapi gugup yang lebih personal, lebih deket ke dada.

Dia udah nyiapin tas kecil buat perjalanan sehari itu, ngecek isinya berkali-kali walau isinya cuma barang-barang standar, dompet, charger HP, sebotol air minum.

Dia buka chat pribadi mereka.

Kaito: Besok jadi ya? Ketemuan di stasiun jam 7?

Rin: Jadi. Gue... agak nervous jujur aja. Bukan cuma soal Kazenagi.

Kaito: Kenapa emang?

Rin: Gue nggak pernah ketemu orang dari game secara langsung sebelumnya. Rasanya aneh, kayak dua dunia yang biasanya kepisah tiba-tiba nyatu.

Kaito senyum baca pesan itu, ngerasa hal yang sama persis. Dia ngetik beberapa kali, hapus, ngetik lagi, nyoba nyari kata-kata yang pas.

Kaito: Sama. Tapi gue rasa bakal oke. Toh kita udah kenal lama, cuma medianya aja yang beda.

Rin: Iya. Sampai jumpa besok, Kaito.

Kaito: Oke. Sampai jumpa besok juga, Rin.

Paginya, Kaito dateng ke stasiun lebih awal dari waktu yang disepakati, berdiri di titik ketemuan sambil ngeliatin jam tangannya berkali-kali, walau dia tau dia masih kepagian.

Dia pake kemeja yang lebih rapi dari biasanya, sesuatu yang dia sadar sendiri agak berlebihan buat sekadar perjalanan ke Osaka, tapi entah kenapa dia pengen keliatan cukup baik buat pertemuan pertama ini.

Beberapa menit kemudian, dia liat sosok yang langsung dia kenalin walau cuma dari kejauhan, rambut sebahu, postur tegap yang khas, jalan dengan langkah yang percaya diri sama persis kayak avatar-nya di game.

Dia pake jaket denim simpel dengan tas ransel kecil, jauh dari kesan "petarung top-tier" yang biasa Kaito bayangin, tapi entah kenapa tetep langsung dikenalin dari cara dia berjalan.

Rin berhenti pas ngeliat dia, dan buat sesaat mereka berdua cuma diem saling natap, ngerasa canggung yang aneh tapi juga familiar di saat bersamaan.

"Jadi... ini beneran lo," kata Rin akhirnya dengan senyum kecil muncul di wajahnya.

"Iya, ini beneran gue, aneh ya rasanya." Kaito ketawa canggung.

"Aneh banget, tapi... aneh yang bagus." Rin ngangguk.

Mereka berdua ketawa kecil, ngerasa sedikit lebih rileks. Kaito notice Rin di dunia nyata nggak jauh beda dari avatar-nya tegas di caranya berdiri, tapi ada kelembutan di matanya yang mungkin cuma bisa keliatan kalo ketemu langsung.

"Kereta kita berangkat sepuluh menit lagi, ayo biar nggak ketinggalan." kata Rin sambil ngecek jam.

Mereka jalan bareng ke peron, dan di sepanjang jalan, obrolan mereka ngalir natural, nggak jauh beda dari obrolan mereka biasanya di dalam game, cuma sekarang lengkap sama detail-detail kecil yang cuma bisa dirasain langsung, suara asli Rin yang sedikit beda dari yang Kaito bayangin, cara dia ketawa yang lebih lepas dibanding di dalam game, dan caranya jalan yang cepat dan pasti, persis kayak caranya dia bertarung.

Begitu naik kereta dan nemuin kursi mereka, Rin ngeluarin dua kaleng kopi dari tas ranselnya, nyodorin satu ke Kaito. "Nih, gue beli di minimarket deket rumah tadi. Gue kira lo bakal butuh, ngeliat muka lo yang keliatan kurang tidur."

"Segitu keliatan banget?" Kaito ketawa sambil nerima kopinya.

"Banget... gue juga sama sih, semalem susah tidur." Rin nyengir.

Di dalam kereta, duduk berdampingan, Rin natap keluar jendela sebentar sebelum akhirnya buka suara.

"Makasih ya, udah nemenin gue ke sini. Gue nggak yakin bisa ngelakuin ini sendirian." katanya.

"Nggak perlu makasih, gue udah janji kan? Bareng-bareng." kata Kaito.

Dia natap Rin sekilas, ngerasa yakin banget sama kata-katanya sendiri tanpa ragu sedikit pun.

Rin senyum sambil natap dia lama, sebelum akhirnya nyender pelan ke bahunya, sesuatu yang nggak pernah dia lakuin sebelumnya bahkan di dalam game.

"Bareng-bareng," ulangnya pelan.

Kaito diem, ngerasa jantungnya berdegup kenceng dengan cara yang beda dari rasa gugup biasa, tapi dia biarin aja momen itu berjalan apa adanya, nggak buru-buru dianalisis atau dipikirin terlalu jauh.

Dia natap pantulan mereka berdua di jendela kereta, dua orang yang beberapa minggu lalu bahkan belum saling kenal, sekarang duduk berdampingan saling sandar, menuju sesuatu yang lebih besar dari yang pernah mereka bayangin waktu pertama kali ketemu di reruntuhan kuil itu.

Kereta melaju kencang menuju Osaka ninggalin Tokyo di belakang mereka, membawa dua orang yang tanpa mereka sadari sepenuhnya, lagi menuju satu babak baru yang bakal ngubah lebih banyak hal dari yang mereka bayangin.

Kaito natap pemandangan luar jendela yang berlalu cepat, gedung-gedung tinggi Tokyo perlahan berganti jadi hamparan sawah dan perbukitan hijau, langit biru cerah tanpa satu pun awan yang menghalangi.

Dia ngerasa aneh, duduk di kereta biasa dengan orang biasa di sampingnya, padahal beberapa jam lalu mereka berdua abis ngobrol sama seorang perancang sistem misterius yang mungkin tau lebih banyak soal takdir dunia game daripada siapa pun.

Dua dunia yang keliatannya jauh berbeda, tapi entah kenapa, makin lama makin terasa saling terjalin, nggak bisa lagi dipisahin dengan rapi kayak dulu.

1
Zyren Vale
ikut meramaikan 🔥
Zyren Vale
kena kutukan nih
Zyren Vale
inti bumi kah
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Semangat ya thor🙏👍💪
Tio Buki
Lanjut
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Mampir gan👍👍👍👍
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Ngak tau saya, yang hanya buang buang waktu saja
Tio Buki
Mungkin nama spesial
Tio Buki
Apa itu
Tio Buki
Tidak mengapa
Tio Buki
Bumi ya
Tio Buki
Siapakah dia
Tio Buki
Wow
Tio Buki
Seberapa jau kah
the virtuso
saling support yah thor👍
Giooooo
Keren ceritanya thorku 💪
Author Melda
salah suport kak mampir yah ke novel ak KKN DESA MATI👍
Author Melda: terimakasih kak👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!