6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29. BALAI DESA KOSONG LAGI
Sirine itu meraung. Suara HT berisik memecah hutan Muara Medak yang sudah 7 hari mengurung kami.
Aku, Selvi, hampir pingsan saat melihat 4 seragam oranye itu. Tim SAR. Akhirnya.
"ADA KORBAN! KORBAN DITEMUKAN HIDUP!" teriak salah satu dari mereka.
Aku yang memimpin mereka. Aku yang berlari ke balai desa lapuk itu sambil teriak, "Di sini Pak! Teman-teman saya di dalam! Ada 5 orang lagi!"
Yang ada di dalam balai desa itu seharusnya Maya yang kakinya patah, Sinta yang demam tinggi, Riko yang menjaga mereka, serta Bima dan Farhan yang tadi malam masih memeluk senter karena ketakutan.
Pak Ketua tim, Pak Jono, mengangguk. "Tim, masuk! Evakuasi 5 orang!"
Tiga anggota SAR masuk dengan senter besar. Aku di belakang mereka, air mata sudah mau jatuh karena lega.
Senter menyapu ruangan.
Dan dunia ku runtuh.
KOSONG.
Balai desa itu kosong lagi. Total kosong. Tidak ada Maya. Tidak ada Sinta. Tidak ada Riko, Bima, Farhan. Tidak ada tikar, tidak ada ransel, tidak ada sisa mie instan yang kami makan tadi pagi. Lantainya penuh debu tebal, sarang laba-laba di pojok, seperti tidak pernah dimasuki manusia 10 tahun.
"Nak, kamu yakin temanmu di sini? Ini bangunan kosong bekas gudang karet," kata Pak Jono, menatapku curiga.
"ADA! TADI ADA DI SINI! MAYA! SINTA! RIKO!" Aku berteriak sampai serak, aku lari ke pojok tempat Maya tadi terbaring. Kosong.
Salah satu anggota SAR muda berbisik, "Pak, halusinasi berat kayaknya. Dehidrasi."
Aku mau membantah, tapi mataku menangkap sesuatu di papan tulis hitam yang ada di balai desa itu.
Ada tulisan kapur putih yang masih baru. Debunya masih jatuh.
JANGAN BAWA DIA PERGI. SELVI SUDAH KAMI TANDAI.
6 - 1 \= 5. KURANG SATU LAGI.
Tubuhku langsung dingin. Mereka menulis namaku. Selvi.
Pak Jono juga membaca itu. "Siapa yang nulis ini, Nak? Temanmu iseng?"
BELUM sempat aku jawab, HT Pak Jono berbunyi sangat keras, penuh statik.
"TIM ALFA! TIM ALFA MONITOR! ANDA KELUAR JALUR! KOORDINAT ANDA SAAT INI DI TENGAH DANAU HITAM! ULANGI, ANDA DI TENGAH DANAU! SEGERA KELUAR! DANAU ITU TERLARANG!"
Kami semua saling pandang. Danau? Kami di dalam bangunan!
Saat itu juga, dari celah papan kayu lantai, air hitam pekat merembes naik. Pelan. Dingin menusuk tulang. Baunya busuk lumpur dan anyir darah.
Air itu naik ke mata kaki. Ke betis.
"KELUAR! SEMUA KELUAR!" Pak Jono menarikku.
Kami berempat melompat keluar dari balai desa. Dan begitu kaki kami menginjak tanah hutan di luar...
Balai desa itu HILANG.
Di belakang kami bukan hutan lagi. Tapi hamparan danau hitam yang sangat luas, airnya tenang, tidak beriak sama sekali, memantulkan langit mendung.
Dan di tengah danau itu, mengapung 5 batu nisan dari kayu nangka yang masih basah.
Aku menghitung dengan napas terputus. 1, 2, 3, 4, 5.
Pak Jono berbisik pucat, "Kamu bilang rombongan KKN ada 6 orang?"
"6... 6 sama saya Pak," jawabku.
"Lalu ini 5..."
Aku berjalan ke pinggir danau, lututku masuk ke air hitam itu. Batu nisan pertama mendekat sendiri, seperti ditarik magnet.
Tulisannya jelas.
MAYA - 2005-2026
Batu kedua mendekat: SINTA - 2005-2026
Batu ketiga: RIKO - 2004-2026
Batu keempat: BIMA - 2004-2026
Batu kelima, yang paling baru, kayunya masih meneteskan air hitam...
FARHAN - 2004-2026
Lima nama teman ku. Lima orang yang tadi ada di balai desa.
Berarti aku yang keenam.
6 - 1 \= 5. Kurang satu lagi.
Aku baru sadar, yang kurang itu bukan aku. Yang kurang itu salah satu dari Tim SAR ini untuk menggenapkan 6.
Dari dalam air hitam, sebuah tangan pucat, tangan perempuan dengan kuku penuh tanah, tiba-tiba mencengkeram kaki anggota SAR termuda dan menariknya dengan kekuatan gila ke bawah. Tidak ada teriakan, hanya bunyi GUBRAK air.
Tinggal kami bertiga.
Pak Jono menarik tanganku sekuat tenaga, "LARI SELVI!"
Aku tidak lari. Aku tahu Danau Hitam ini hanya mau aku.
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐