Ye Xinyue, mahasiswa hukum tingkat akhir, meninggal karena kelelahan mengerjakan skripsi. Namun, bukannya masuk surga, ia justru terbangun sebagai Selir ke-20 Kaisar Tianyu dalam webtoon *** yang sering dibacanya. Mengetahui bahwa tokoh ini akan mati di tengah perebutan kekuasaan, Xinyue bertekad mengubah takdir. Ia memilih hidup tenang, menjauhi kaisar, politik istana, dan para selir. Sayangnya, rencananya gagal ketika Kaisar Tianyu mulai memperhatikannya. Lebih buruk lagi, alur cerita perlahan berubah: tokoh yang seharusnya mati masih hidup dan kejadian baru bermunculan. Kini Xinyue harus bertahan hidup sambil mencari alasan mengapa kedatangannya telah mengubah seluruh takdir Tianyu dan rahasia besar di balik semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Twenty Concubines
Gema langkah kaki Zhao Fengting telah lama menyapu bersih keheningan Taman Teratai, namun atmosfer di sekitarnya masih membeku layaknya musim dingin yang datang terlalu cepat. Xinyue secara perlahan menegakkan tubuhnya, mengusap debu tanah yang melekat pada lutut gaun hijau pucatnya. Saat ia berdiri, pandangan mata belasan selir yang mengepungnya terasa seperti bilah-bilah pisau tak kasat mata yang siap menguliti hidup-hidup.
"Adik Ye..." suara Selir Liang mengalun manis, namun nada dasarnya menggelegar oleh ancaman yang terselubung. Wanita itu bangkit dari kursi utamanya, menggerakkan gaun sutra mewahnya dengan keanggunan yang tertata rapi. "Ternyata pesona Kediaman Fenghua jauh lebih memikat daripada yang kubayangkan. Mengaku takut dan berpura-pura sakit, namun diam-diam menyimpan trik untuk menarik perhatian Yang Mulia. Sungguh strategi yang memukau."
Xinyue langsung menundukkan wajahnya, memasang raut ketakutan yang telah dilatihnya secara presisi. Otak hukumnya mulai memetakan risiko situasi: Zhao Fengting telah sengaja menjadikannya umpan. Jika ia menunjukkan sedikit saja kepintaran atau pembelaan diri yang arogan saat ini, Selir Liang dan faksi-faksinya akan memprioritaskan penumpasannya sebelum matahari terbenam.
"Hamba... hamba sama sekali tidak berani, Kakak Selir Liang!" cicit Xinyue dengan nada panik murni, air mata kepalsuan mulai menggenang di sudut matanya. "Hamba sungguh tidak tahu mengapa Yang Mulia berkata demikian. Kertas dan teh yang dimaksud Yang Mulia adalah kepanikan hamba saat tidak sengaja menumpahkan minuman karena terkejut semalam. Yang Mulia hanya sedang menguji keberanian hamba dan mengejek kecerobohan hamba!"
Ia menekankan kata mengejek dengan penekanan yang pas, berusaha menggeser persepsi publik dari "perhatian romantis" menjadi "hukuman yang terselubung".
Selir Chen tertawa sinis, mengibaskan kipas bulunya lebih keras. "Mengejek? Dengan mengalihkan jatah teh kualitas terbaik dari kediaman utama ke gubukmu yang terpencil itu? Jangan berpura-pura bodoh, Ye Xinyue! Selir tingkat rendah sepertimu tidak berhak menyentuh barang istana kelas satu!"
"Jika Kakak Selir Chen menginginkannya, hamba dengan senang hati menyerahkan seluruh teh itu ke kediaman Kakak begitu jatahnya tiba," potong Xinyue cepat tanpa ragu sedikit pun. Tangannya gemetar secara terukur di hadapan mereka. "Hamba hanya ingin hidup tenang dan selamat. Hamba tidak pernah bermimpi bersaing dengan keanggunan Kakak-kakak sekalian."
Selir Liang memperhatikan reaksi Xinyue secara mendalam. Sikap penakut, kepatuhan yang instan, serta kesediaan untuk melepas hadiah istimewa tanpa beban menunjukkan dua hal: gadis ini benar-benar tidak bercita-cita mengejar kekuasaan, atau ia adalah seorang aktris ulung yang sanggup menelan rasa malunya bulat-bulat. Untuk saat ini, Selir Liang memilih menaruhnya dalam kategori penakut yang patut diwaspadai.
"Cukup, Adik Chen," ujar Selir Liang tenang, mengatur kembali selendang sutranya. "Karena Adik Ye begitu bertekad untuk menunjukkan rasa hormatnya, mari kita lihat seberapa jauh ketaatannya. Besok adalah Hari Peringatan Leluhur Istana. Selir yang berbudi luhur wajib menyalin seribu bait Sutra Kedamaian dengan tangan sendiri di Aula Doa. Adik Ye, mengingat kesehatanmu sudah membaik berkat 'jamu penenang jiwa' itu, tugas menyalin sutra malam ini kuserahkan penuh padamu."
Seribu bait sutra dalam satu malam. Itu adalah bentuk perundungan halus yang dirancang untuk merusak jemari dan menguras stamina hingga habis. Jika Xinyue menolak, ia melanggar aturan hierarki Istana Dalam. Jika ia menerimanya, ia harus begadang semalaman di Aula Doa yang dingin.
Xinyue membungkuk amat dalam, menyembunyikan senyum kepuasan yang tertahan. Terima kasih atas tugas hukuman ini, Selir Liang. Berada di Aula Doa semalaman jauh lebih aman daripada berbaring di kamar sembari menunggu Kaisar gila itu melompat dari jendela lagi.
"Hamba menerima petunjuk dari Kakak Selir Liang dengan penuh rasa syukur," sahut Xinyue patuh.
Malam kembali merayap, membawa hawa dingin yang menusuk tulang di sepanjang lorong batu Aula Doa. Dinding-dinding kayu cedar tua berbau aroma dupa yang pekat, dipenuhi oleh ratusan lilin kecil yang bergoyang tertiup angin malam.
Xinyue duduk bersimpuh di atas alas jerami tipis di depan meja kayu rendah. Tangannya yang memegang kuas bergerak secara konstan di atas gulungan kertas beras. Kuas, tinta, dan kertas tiga hal yang semalam hampir mencabut nyawanya, kini menjadi tempat perlindungannya dari intrik istana.
"Yang Mulia Selir, minumlah teh hangat ini dulu," cemas Mingzhu, meletakkan cangkir tanah liat berisi seduhan jahe hangat di sudut meja. "Hamba sangat khawatir. Selir Liang sengaja menyusahkan Anda. Salinan seribu bait ini mustahil diselesaikan sebelum fajar tanpa membuat tangan Anda lumpuh!"
Xinyue tidak menghentikan torehan kuasnya. Tulisannya rapi, teratur, dan terukur cerminan dari ketelitian seorang praktisi hukum yang terbiasa menyusun dokumen penting di bawah tekanan tenggat waktu.
"Ini bukan hukuman, Mingzhu," gumam Xinyue pelan tanpa mengalihkan pandangan dari kertas. "Ini adalah biaya perlindungan. Selama Selir Liang merasa dia berhasil menindas dan mengendalikanku, dia tidak akan mengirim pembunuh bayaran ke kediaman kita. Di tempat seperti ini, menjadi korban yang teraniaya jauh lebih aman daripada menjadi bintang yang bersinar."
"Logika yang sangat menarik untuk seorang wanita yang mengaku berasal dari desa perbatasan."
Suara bergelombang yang dingin dan berwibawa itu menyentuh pendengarannya bagaikan bilah es.
Xinyue membeku seketika. Kuas di tangannya meneteskan titik tinta hitam di atas kertas beras yang bersih.
Mingzhu menjerit pelan dalam teror, langsung menjatuhkan dirinya bersimpuh hingga dahinya menempel rapat ke lantai batu.
Dari balik bayang-bayang pilar kayu Aula Doa, sosok tinggi berselimut jubah hitam muncul secara perlahan. Zhao Fengting melangkah tanpa suara, seolah-olah hukum fisika tidak berlaku bagi sang tiran. Rambut hitamnya dibiarkan terurai sebagian, membingkai wajah tampannya yang tampak begitu dingin di bawah pendar remang lilin doa.
"Yang... Yang Mulia," bisik Xinyue, buru-buru meletakkan kuasnya dan ikut bersimpuh di samping mejanya. Jantungnya kembali berpacu liar. Pria ini benar-benar tidak punya pekerjaan lain selain menghantuiku setiap malam?!
Zhao Fengting mengabaikan keberadaan Mingzhu dan menyuruh pelayan itu pergi hanya dengan satu lambaian jari yang acuh tak acuh. Mingzhu bergetar hebat, menatap Xinyue dengan mata penuh ketakutan sebelum akhirnya mundur merangkak keluar dari aula, meninggalkan mereka berdua dalam kesunyian yang mencekam.
Langkah kaki Zhao Fengting mendekat, berhenti tepat di samping meja tulis Xinyue. Pria itu menunduk, mengambil salah satu lembaran sutra yang telah disalin oleh Xinyue.
"Gaya penulisan yang sangat tegas," komentar Zhao Fengting seraya meneliti aksara demi aksara di bawah cahaya lilin. "Garis-garisnya lurus, tidak ada keraguan, dan strukturnya sangat efisien. Ini bukan gaya tulisan tangan seorang gadis desa, apalagi tulisan seseorang yang baru saja pulih dari ingatan yang kabur."
Xinyue menelan ludah paitnya. Sialan, analisis grafologinya sangat tajam!
"Menjawab Yang Mulia..." Xinyue mengatur napasnya agar terdengar gemetar secara alami. "Hamba hanya meniru aksara yang ada di kitab dengan ketakutan luar biasa. Hamba takut jika tulisan hamba berantakan, Kakak Selir Liang akan menghukum hamba lebih berat..."
Zhao Fengting menjatuhkan lembaran kertas itu kembali ke meja. Ia berjongkok di hadapan Xinyue, memiringkan kepalanya sedikit. Tatapan matanya yang kelam seolah mampu menembus setiap lapisan kebohongan yang dirancang oleh otak Xinyue.
"Kamu dengan mudah menyerahkan ginseng salju. Kamu dengan sukarela menyerahkan jatah teh terbaik kepada Selir Chen di depan umum siang tadi. Dan sekarang, kamu bersimpuh di Aula Doa yang dingin ini tanpa mengeluh sepatah kata pun," tutur Zhao Fengting, suaranya mengalun bagai bisikan maut. "Kamu melakukan segala cara untuk terlihat tidak berdaya, tidak berambisi, dan tidak berguna."
Pria itu mengulurkan tangannya, jemarinya yang dingin dan berotot menyentuh dagu Xinyue, memaksa selir ke-20 itu untuk mengangkat wajah dan menatap langsung ke dalam manik matanya.
"Tetapi makin kamu berusaha menyembunyikan diri," lanjut Zhao Fengting dengan senyuman tipis yang mengerikan, "makin aku penasaran untuk mengupas seluruh topengmu sampai tidak ada yang tersisa."
Napas Xinyue tertahan di tenggorokan. Kontak mata dari jarak sedekat ini mengungkapkan aura berbahaya dari sang Emperor. Pria ini bukan sekadar tiran yang kejam; pria ini adalah seorang manipulator ulung yang menikmati permainan kucing dan tikus.
"Yang Mulia salah paham..." bisik Xinyue dengan mata berkaca-kaca, memanfaatkan senjata emosionalnya. "Hamba sungguh-sungguh tidak memiliki topeng apa pun. Hamba hanya seorang wanita yang takut mati di dalam istana yang luas ini."
"Takut mati?" Zhao Fengting mendekatkan wajahnya, hingga Xinyue bisa merasakan helaan napas dingin sang Kaisar menyentuh kulit pipinya. "Kalau kamu begitu takut mati, mengapa nadimu tidak bertumpuk liar seperti semalam? Kamu panik, Ye Xinyue... tetapi pikiranmu di balik mata ini sedang berhitung dengan sangat tenang."
Xinyue tersentak dalam hati. Pria ini... dia bisa membaca respons fisiologis-ku!
Sebelum Xinyue sempat menyusun argumen pembelaan baru di dalam kepalanya, Zhao Fengting melepaskan cengkeramannya di dagu gadis itu. Pria itu berdiri tegak, membelakangi patung leluhur yang menjulang tinggi di dalam aula.
"Selir ke-20," panggil Zhao Fengting tanpa menoleh. "Mulai besok, kamu tidak perlu lagi datang ke acara teh sore atau bersimpuh menyalin sutra untuk menyenangkan siapa pun."
Xinyue tertegun sejenak. "Maksud... Yang Mulia?"
"Aku telah mengangkatmu menjadi Pengawas Perpustakaan Kerajaan," ujar Zhao Fengting datar, memberikan sebuah keputusan yang akan mengguncang seluruh hierarki istana. "Tugasmu adalah menata seluruh dokumen hukum dan arsip wilayah selatan. Kedudukanmu tetap seorang selir, namun kamu berada di bawah perintah langsung dariku."
Xinyue membelalakkan matanya tak percaya. Perpustakaan Kerajaan?! Tempat penyimpanan seluruh dokumen negara, rahasia klan, dan catatan hukum kekaisaran? Zhao Fengting tidak sekadar menarik perhatian padanya pria ini melemparkannya langsung ke tengah-tengah sarang serigala!
"Yang Mulia, hamba tidak memiliki kapasitas untuk tugas sebesar itu! Hamba hanya..."
"Ini bukan penawaran, Selir ke-20," potong Zhao Fengting dingin, menoleh sekilas dengan tatapan mata yang menandakan keputusan absolut. "Ini adalah perintah kekaisaran. Jika kamu menolak, hukuman atas tindakan manipulasi dan kebohongan di hadapan Raja adalah hukuman mati bagi seluruh anggota klan Ye di perbatasan."
Xinyue mengepalkan tangannya rapat-rapat di atas pangkuannya, meremas kain gaun kusamnya hingga kusut. Rasa dingin yang menjalar di punggungnya bukan lagi karena udara malam, melainkan karena kesadaran bahwa ia telah masuk ke dalam perangkap yang dibuat secara presisi oleh sang tiran.
Zhao Fengting menyunggingkan senyum kemenangan, lalu melangkah pergi menembus bayang-bayang malam, meninggalkan Xinyue sendirian di bawah pendar redup lilin doa.
Xinyue menatap gumpalan kertas sutra di mejanya, memejamkan mata rapat-rapat seraya menghembuskan napas berat. Aturan Bertahan Hidup Nomor Satu telah hancur total. Sang Kaisar tidak hanya meliriknya, tetapi kini telah menguncinya dalam papan catur politik yang paling berbahaya.
"Baiklah, Zhao Fengting..." gumam Xinyue pada kegelapan aula, matanya terbuka kembali dengan kilatan tekad tajam seorang ahli hukum yang siap bertarung. "Jika kamu ingin bermain catur denganku, akan kuikuti permainan gila ini sampai akhir."