NovelToon NovelToon
TAKDIR DI BALIK SORBAN

TAKDIR DI BALIK SORBAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:738
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 — RENO

Angin malam pantai berembus cukup kencang, menerbangkn ujung pasmina sutra warna rose gold yang dikenakan Aurel. Di sekeliling mereka, dentum musik akustik dan riuh gelak tawa tamu pesta ulang tahun Clarissa di Restoran Sunset Bay masih berkumandang hangat.

Namun, di sudut pelataran kayu yang sedikit menjauh dari kerumunan, suasana mendadak diliputi canggung.

Reno Pratama menatap Aurel tanpa berkedip. Pria itu menyilangkan tangan di dada, geleng-geleng kepala dengan cengiran yang terukir tipis di wajahnya.

"Serius kamu udah menikah, Rel?" tanya Reno sekali lagi. Suaranya penuh nada takjub bercampur keheranan yang tidak berusaha ia sembunyikan.

Aurel menegakkan posisi berdirinya, membetulkan letak tas bahunya. Ia mengangguk pelan, berusaha bersikap seluwes mungkin. "Iya, Ren. Sudah hampir dua bulan."

"Gokil sih," Reno terkekeh pelan seraya melangkah satu tindak mendekati bangku kayu tepi pantai. "Aku kira kamu tipe cewek yang paling anti sama pernikahan muda. Dulu pas awal kuliah, kamu kan yang paling keras ngomong kalau hidup itu buat dikejar mimpinya dulu, bukan buat terikat aturan rumah tangga."

Sebuah senyum tipis—agak getir namun dewasa—terukir di bibir Aurel. "Orang bisa berubah, Ren. Lagi pula, hidup nggak selalu berjalan sesuai rencana yang kita bikin di umur sembilan belas tahun."

"Iya sih," Reno mengangguk memaklumi. Ia menatap kerudung dan gaun santun yang melekat di tubuh Aurel. "Tapi jujur, pangling banget liat kamu sekarang. Kelihatan beda banget. Anggun, tenang... beda sama Aurel yang dulu suka balapan liar kecil-kecilan sama anak-anak atau nongkrong di bengkel sampai subuh."

Aurel tertawa renyah. Reno adalah salah satu teman lamanya di masa awal masuk kuliah—pria yang tahu betul bagaimana liarnya sikap pemberontak Aurel sewaktu masih sangat terpukul atas kepergian ibunya. Dulu, sebelum Reno pindah kuliah ke Surabaya dua tahun lalu, mereka sering menghabiskan waktu bersama kelompok otomotif kampus.

"Ya kali aku mau gitu-gitu terus," sahut Aurel santai. "Kamu sendiri gimana? Kapan balik ke Arunika?"

"Baru seminggu lalu," Reno tersenyum, menyandarkan punggungnya pada pagar kayu pembatas pantai. "Dapet kerja di perusahaan kontraktor cabang sini. Pas dengar Clarissa bikin acara, aku sempetin dateng. Nggak nyangka malah ketemu kamu dalam wujud 'Bu Ustadz'."

Aurel menyenggol bahu Reno pelan dengan sikutnya seraya terkekeh. "Jangan panggil gitu ah! Aneh denger dari kamu."

"Lagian beneran kan? Katanya suamimu anak kiai besar di Arunika Timur?" tanya Reno penasaran, matanya memancarkan ketertarikan yang murni sebagai kawan lama.

Mereka berdua berdiri obrol berdua di tepi pelataran kayu itu selama hampir lima belas menit. Mengenang masa-masa konyol semester awal, membicarakan teman-teman yang sudah lulus, dan saling bertukar kabar pekerjaan. Tidak ada niat buruk, tidak ada riak romantis yang melintasi di antara mereka—hanya dua kawan lama yang saling bertukar cerita kehidupan.

Namun, dari balik rerimbunan pohon palem dekorasi yang berjarak sekitar lima belas meter, sebuah lensa kamera ponsel berkamera canggih merekam setiap gestur dan tawa mereka.

Beberapa jepretan foto diambil dari sudut yang menyudutkan: saat Reno tertawa seraya condong mendekati Aurel, saat Aurel menyiku lengan Reno seraya tersenyum lebar, dan saat mereka berdiri berdekatan di bawah pendar remang lampu taman pantai. Dari sudut pandang tertentu, foto-foto itu tampak seperti sepasang kekasih yang sedang menikmati momen mesra di malam hari.

Oknum yang memegang ponsel itu tersenyum puas, lalu mengetik sebuah pesan singkat pada aplikasi pesan instan.

Sementara itu, di lantai dua kediaman Faruqi, jam dinding kayu menunjukkan pukul 21.30 WIB.

Ruang kerja Rasyid terasa amat hening. Pria itu baru saja selesai mengoreksi draf hafalan Al-Qur'an para santriwati. Peci hitamnya sudah ia lepas dan tergeletak di samping cangkir teh manis yang telah mendingin. Rasyid mengenakan kemeja katun abu-abu lembut dengan lengan tergulung rapi hingga siku.

Rasyid meregangkan otot lehernya yang agak kaku, lalu mengulurkan tangan meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja.

Ia berniat mengirimkan pesan singkat pada Aurel untuk menanyakan apakah acara di pantai sudah selesai dan apakah istrinya membutuhkan tumpangan pulang.

Namun, sebelum Rasyid sempat mengetik kata pertama, sebuah notifikasi dari nomor tak dikenal masuk ke aplikasi pesan instan-nya.

Tidak ada teks. Hanya lima buah berkas foto berukuran besar yang dikirimkan secara beruntun.

Rasyid mengerutkan dahi pelan. Jemari tangannya mengetuk layar, membuka kiriman foto tersebut.

Seketika, seluruh sel darah di tubuh Rasyid serasa membeku.

Layar ponselnya menampilkan foto-foto Aurel di Restoran Sunset Bay malam ini. Di dalam foto itu, Aurel yang mengenakan gaun rose gold tampak sedang tertawa lepas bersama seorang pria asing bertubuh tegap berkemeja hitam. Di salah satu foto, pria itu tampak tersenyum condong ke arah Aurel, dan di foto lainnya, Aurel terlihat sangat bahagia berbincang berdua di sudut pantai yang temaram.

Sebuah pesan teks menyusul masuk di bawah foto-foto tersebut dari nomor yang sama:

"Istrimu terlihat sangat bahagia bersama pria lain di pantai malam ini, Ustadz Rasyid. Apakah ini perilaku istri seorang pengajar pesantren yang patut dicontoh?"

Ruang kerja beraroma kayu cendana itu mendadak terasa begitu dingin dan pekat.

Genggaman tangan Rasyid pada lingkar ponselnya menegang rapat. Bukunya sampai memutih. Mata cokelat gelapnya yang biasanya jernih dan dipenuhi kedamaian seketika meredup—dikuasai oleh gelombang emosi rumit yang menghantam dadanya secara bertubi-tubi.

Rasa kaget, rasa kecewa, dan kecemburuan yang teramat dalam bergejolak hebat di balik dada tegapnya. Pria yang selama ini terkenal amat tenang dan tidak pernah kehilangan kendali diri itu kini terpaku kaku di balik meja kerja.

Rasyid memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara malam yang dingin mengisi paru-parunya seraya menguapkan zikir di dalam hati untuk menenangkan gemuruh di kepalanya.

Pria itu berdiri dari kursi, berjalan menuju jendela kamar yang terbuka, menatap kegelapan malam kompleks pesantren yang sunyi.

Ia tidak langsung menuduh. Ia tidak menelepon Aurel dengan amarah yang meledak-ledak. Dan ia juga tidak membalas pesan dari nomor misterius tersebut.

Rasyid memilih untuk diam, mengendalikan seluruh emosinya yang memuncak, dan menunggu istrinya pulang untuk mendengar kebenaran langsung dari bibir wanita yang dicintainya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!