Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.
This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.
Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.
Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 014: Berkas yang Mengunci
Ruang pemeriksaan Polsek Waringin tidak besar.
Ada meja panjang, kipas angin di sudut, lemari arsip, dan bau kertas lama yang bercampur kopi sachet. Bagi Siska, ruangan itu tampak lebih menakutkan daripada ruang VIP restoran. Di restoran, ia bisa memilih angle kamera. Di sini, setiap kata masuk berita acara.
Siska duduk di seberang Bima dengan masker diturunkan ke dagu. Matanya sembap. Lina menunggu di luar ruang pemeriksaan; suaranya sempat terdengar tadi: "Anak saya korban juga!"
Melati duduk di sebelah Siska, lebih pucat. Fifi menunduk terus, jari-jarinya meremas tisu sampai hancur.
Sebelum konfrontasi dimulai, Pak Wanto membacakan aturan singkat: tidak memotong keterangan, tidak merekam tanpa izin di dalam ruang pemeriksaan, dan semua pihak boleh menambahkan bukti melalui penyidik. Bima memperhatikan wajah Siska saat kata "tidak merekam" disebut. Kelopak matanya bergerak, jari telunjuknya menyentuh ponsel yang sudah ditaruh di meja barang.
Dunia Siska mengecil begitu kamera diambil darinya.
Ratna duduk di belakang Bima sebagai saksi. Ia membawa map sendiri, bukan lagi sekadar menemani kakaknya. Di map itu ada screenshot grup kampus, daftar nomor yang mengirim pesan pribadi, dan surat keterangan dari admin kelas bahwa Ratna diminta tidak masuk sementara karena tekanan teman-teman.
Bima tidak suka melihat surat itu. Sebagai bukti, surat itu berguna. Luka yang ditulis dengan format resmi lebih sulit disangkal.
Di ujung meja, seorang pengacara keluarga Darmawan membuka map dengan wajah terlalu percaya diri.
"Pak Wanto," katanya, "kami berharap perkara ini diselesaikan secara kekeluargaan. Anak-anak ini hanya kurang bijak memakai media sosial. Tidak ada niat jahat."
Bima hampir tertawa.
Pak Wanto menatap Bima. "Saudara pelapor, tanggapan?"
"Saya keberatan dengan istilah anak-anak," kata Bima. "Mereka cukup dewasa untuk membuat akun palsu, memotong video, menyusun caption, menyebar alamat rumah, dan membiarkan keluarga saya diintimidasi. Kalau itu disebut kurang bijak, mungkin kamus kita berbeda."
Pengacara itu tersenyum tipis. "Emosi wajar, Saudara Bima. Tapi hukum juga mengenal perdamaian."
"Hukum juga mengenal bukti. Kita mulai dari sana saja."
Pak Wanto memberi isyarat. Bima mengeluarkan flashdisk utama dan salinan cetak. Ia tidak menyerang Siska dengan kata-kata kasar. Ia menyerang dengan urutan.
Pertama, video viral.
Kedua, rekaman asli restoran.
Ketiga, perbandingan frame.
Keempat, metadata ekspor dari perangkat Fifi.
Kelima, chat Melati yang menyuruh memotong bagian Darmawan.
Keenam, chat Siska: "Biar orang lihat dia kasar. Bawa-bawa keluarga miskin tapi sombong."
Saat kalimat itu dibacakan, Siska langsung mengangkat kepala. "Itu konteksnya bercanda!"
Bima menatapnya. "Kamu juga bercanda saat alamat rumah kami menyebar?"
Siska membuka mulut. Tidak ada suara.
Penyidik meminta Fifi menjelaskan proses edit. Awalnya ia berkelit, mengatakan hanya menaikkan brightness dan memotong bagian kosong. Bima lalu menunjukkan frame 00:12 sampai 00:15, tempat suara Lina menangis ditempel di atas gambar Siska mundur.
"Ini bukan brightness," kata Bima. "Ini tempelan audio. Kalau mau, ahli forensik bisa melihat waveform-nya."
Fifi menatap pengacaranya. Pengacara itu tidak segera menjawab. Di situlah mentalnya runtuh sedikit.
"Aku cuma disuruh bikin lebih dramatis," bisiknya.
Siska memutar kepala cepat. "Fifi!"
Pak Wanto langsung mencatat.
Fifi mulai menangis. "Aku cuma edit sesuai permintaan. Aku tidak tahu bakal sebesar ini."
Melati menoleh tajam. "Fi!"
Pak Wanto mengetuk meja. "Jangan saling mempengaruhi keterangan. Jawab saat ditanya."
Pengacara mereka mencoba masuk. "Pak, chat pribadi seperti ini belum tentu sah kalau diperoleh tanpa izin."
Bima sudah menunggu kalimat itu.
"Karena itu saya tidak hanya membawa chat," katanya. "Saya membawa tautan publik unggahan pertama, hash file video yang beredar, salinan komentar ancaman, screenshot dari ponsel adik saya, foto intimidasi fisik di pagar, serta permintaan agar penyidik melakukan pemeriksaan forensik resmi ke perangkat terlapor. Chat ini petunjuk awal. Penguncinya ada di perangkat mereka sendiri."
Pak Wanto mengangguk pelan. "Permintaan penyitaan dan pemeriksaan perangkat akan diajukan sesuai prosedur."
Siska menatap Bima dengan benci. "Kamu puas? Aku ini sepupumu."
"Aku tahu," jawab Bima. Kali ini ia memakai aku, bukan saya. Lebih dekat, dan karena itu lebih dingin. "Itu yang membuat perbuatanmu lebih rendah. Orang asing tidak tahu rumah kami. Kamu tahu. Orang asing tidak tahu Mama mudah panik. Kamu tahu. Orang asing tidak tahu Ratna kuliah di mana. Kamu tahu. Kamu memakai semua itu."
Lina yang berada di luar tiba-tiba berteriak, "Bima! Jangan putar balik fakta!"
Pak Wanto memerintahkan anggota menutup pintu.
Konfrontasi berlangsung tiga jam. Ratna memberi keterangan tentang grup kampus. Pak Harto menjelaskan konteks restoran dengan suara pelan. Ia tidak mundur. Bu Sri tidak ikut masuk ruang pemeriksaan; Bima sengaja menjaga ibunya dari tekanan langsung. Surat pernyataannya tentang telepon dan intimidasi ikut masuk berkas.
Bima juga menyerahkan daftar komentar yang tidak ia masukkan ke laporan utama hari itu. "Ini masih saya pisahkan, Pak. Ada ratusan akun yang ikut menyebarkan alamat dan menambah tuduhan. Saya ingin kasus inti ini jalan dulu. Setelah itu, saya akan ajukan langkah berikutnya."
Pak Wanto menatap jumlah di halaman depan. "Anda serius mengejar semuanya?"
"Yang serius bukan saya, Pak. Mereka yang serius menulis ancaman. Saya hanya membaca nama mereka satu per satu."
Pengacara Darmawan mendengar itu dan wajahnya berubah. Ia mungkin baru sadar bahwa Bima tidak sedang mencari permintaan maaf keluarga. Bima sedang membangun mesin.
Menjelang sore, wajah pengacara Darmawan tidak lagi percaya diri.
"Kami tetap mengajukan permohonan mediasi," katanya.
Bima menutup mapnya. "Silakan ajukan. Saya tetap menolak."
"Saudara akan terlihat kejam."
"Tidak. Saya akan terlihat konsisten."
Pak Wanto menyerahkan salinan tanda penerimaan bukti tambahan. "Berkas awal akan kami limpahkan untuk proses lebih lanjut setelah pemeriksaan perangkat. Saudara Bima, tetap siap dipanggil."
"Siap, Pak."
Di luar Polsek, Lina menerobos mendekati Bima. Wajahnya kusut, suaranya tidak lagi manis.
"Kamu puas menghancurkan sepupumu?"
Bima berhenti. Banyak orang di halaman Polsek menoleh. Ia sengaja menjawab cukup keras.
"Tante Lina, saya tidak mengedit video. Saya tidak menyebar alamat. Saya tidak mengirim orang melempar telur. Kalau semua itu menghancurkan Siska, berarti yang menghancurkan dia adalah pekerjaannya sendiri."
Darmawan menarik Lina mundur sebelum ia makin mempermalukan diri.
Di layar ponsel Bima, notifikasi SBE muncul.
[Berkas konfrontasi selesai.]
[Mediasi paksa ditolak.]
[Poin +2.000]
[Status kasus: menuju penuntutan]
Bima memandang keluarga Darmawan masuk mobil. Siska menoleh dari kursi belakang, mata merah dan penuh dendam. Kali ini tidak ada kamera di tangannya.
Untuk pertama kalinya sejak video itu viral, ia berada di tempat yang tidak bisa diedit sesuka hati.