NovelToon NovelToon
Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Dosen / CEO
Popularitas:30
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".

Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.

Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.

*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*

Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 31: Mabuk

Seluruh kendali Arya memang tinggal seutas benang, tetapi ia tidak membiarkannya putus.

Ia menahan wajah Kirana sebelum bibir perempuan itu mencapai bibirnya. Ibu jarinya mengusap pipi yang panas.

“Saya suka kamu,” katanya pelan. “Jauh lebih banyak daripada yang kamu kira.”

Mata Kirana berbinar. “Kalau begitu cium.”

“Tidak malam ini.”

“Kenapa?”

“Karena besok kamu harus bisa memilih tanpa alkohol.” Arya menyentuhkan dahinya sebentar. “Saat kamu sadar, katakan lagi. Saya akan menagihnya.”

Kirana mengerucutkan bibir. “Mas menyebalkan.”

“Saya tahu.”

Arya menyodorkan air dan kali ini menunggu sampai ia menghabiskan setengah gelas. Ferdy membawa roti serta pisang, sedangkan Winda memastikan tidak ada rekaman tertinggal di ponsel kru. Mahasiswa yang tadi mengangkat kamera menghapus video di depan Winda, lalu menunjukkan folder sampahnya.

“Rian sudah di bawah,” kata Bima. “Gue antar Winda. Dia juga mulai bicara sama pot tanaman.”

“Tanamannya pendengar yang baik,” protes Winda.

Arya mengangkat Kirana karena perempuan itu tidak sanggup berjalan lurus. Kirana langsung melingkarkan tangan ke lehernya dan menyembunyikan wajah di dada pria itu.

“Aku bisa jalan.”

“Tadi kamu minta maaf kepada meja.”

“Mejanya menabrakku.”

Di lift privat, Kirana kembali menggigil. Arya membungkus jas lebih rapat di tubuhnya. Rian telah membuka pintu belakang mobil dan menyediakan kantong kertas, air, tisu basah, serta termos wedang jahe tanpa susu.

“Rute langsung ke apartemen,” kata Arya.

Rian mengangguk dan menaikkan sekat kabin.

Sepanjang perjalanan, Kirana berpindah antara mengantuk dan cerewet. Ia bertanya kenapa lampu jalan berlari, mengeluh Jakarta terlalu terang, lalu memegang tangan Arya seolah takut pria itu menghilang.

“Mas jangan pergi.”

“Saya di sini.”

“Besok juga?”

“Kalau kamu masih menginginkan saya saat sadar.”

“Aku selalu mau.”

Arya menutup mata sesaat. Kata-kata itu tidak boleh ia jadikan persetujuan. Bukan malam ini.

Kirana lalu menemukan kancing manset Arya dan memutarnya seperti mainan. “Mas selalu rapi. Bahkan habis pentas.”

“Kamu sedang merusak kancing saya.”

“Beli lagi.”

“Mahal.”

“Bukannya Mas dosen galak yang banyak uang?”

Arya hampir tertawa. Kirana belum tahu seberapa dekat tebakannya dengan kebenaran. Ia menahan tangan perempuan itu agar tidak terjepit sabuk pengaman.

Di lampu merah, Rian menanyakan lewat interkom apakah perlu berhenti di klinik. Arya memeriksa kesadaran Kirana, napas, dan respons matanya. Tidak ada tanda bahaya selain mabuk dan mual ringan.

“Kita lanjut,” katanya. “Kalau dia sulit dibangunkan atau muntah berulang, langsung ke IGD.”

Kirana membuka satu mata. “Aku tidak sakit.”

“Bagus. Sebutkan nama lengkapmu.”

“Kirana Saraswati.”

“Kita di kota apa?”

“Bandung.”

Arya menatapnya.

Kirana terkikik. “Jakarta. Aku bercanda.”

“Leluconmu memendekkan umur saya.”

“Katanya jangan cepat tua.”

Ia kembali menyandarkan kepala. Beberapa menit kemudian, suaranya menjadi sangat kecil. “Mas tidak malu punya aku?”

“Tidak.”

“Walau aku bikin kacau?”

“Saya lebih takut kamu terluka daripada takut terlihat kacau.”

Kirana terdiam, lalu mengeratkan genggamannya. Kali ini ia tidak mengatakan apa pun sampai mobil tiba.

Ketika mobil berhenti, ia membawa Kirana melalui parkir privat agar tidak bertemu penghuni lain. Kode 1103 membuka apartemen 803. Winda belum pulang; Bima mengirim pesan bahwa ia membawa Winda makan bubur lebih dahulu.

Arya menyalakan lampu kamar, lalu menurunkan Kirana di tepi ranjang. Ia melepaskan sepatu perempuan itu tanpa mengganti pakaian atau menyentuh lebih jauh. Ia membawa kapas pembersih dan menyerahkannya.

“Bisa bersihkan wajah sendiri?”

Kirana mengangguk, tetapi kapas itu malah menempel di dahinya.

Arya mengembuskan napas. “Saya bantu bagian wajah saja. Boleh?”

“Boleh. Mas baik.”

Ia membersihkan riasan dengan gerakan hati-hati, menjaga sentuhan tetap singkat. Setelah Kirana minum wedang dan obat lambung yang biasa ia konsumsi, Arya meletakkan air, tisu, serta tempat sampah di sisi ranjang.

“Tidur miring,” katanya. “Kalau mual, bangunkan saya.”

“Mas tidur di mana?”

“Kursi.”

“Kasur besar.”

“Dan kamu mabuk.”

Kirana menarik ujung lengan kemejanya. “Aku tidak akan nakal.”

“Saya yang tidak percaya pada diri sendiri.”

Jawaban itu membuat Kirana tertawa kecil sebelum akhirnya berbaring. Arya menyelimuti tubuhnya sampai bahu. Telapak kakinya masih dingin, sehingga ia mengambil kaus kaki bersih dari laci yang pernah ditunjukkan Kirana.

Pukul dua, Kirana terbangun dan muntah. Arya memegang rambutnya, membersihkan lantai, lalu memberinya air sedikit demi sedikit. Ia tidak menunjukkan jijik atau lelah.

“Malu,” gumam Kirana.

“Besok saja malunya. Sekarang bernapas.”

Setelah tubuhnya tenang, Kirana kembali tidur. Jarinya tetap mencengkeram satu ruas jari Arya.

Menjelang fajar, Winda pulang bersama Bima. Arya menemui mereka di ruang tamu dan menjelaskan obat serta jumlah air yang sudah diminum Kirana. Winda mengangguk, lalu melirik ke kamar.

“Mas bisa pulang. Aku jaga.”

Arya kembali ke sisi ranjang untuk mengambil jas. Saat ia mencoba melepaskan tangannya, Kirana bergerak dalam tidur.

“Jangan pergi,” bisiknya.

Arya berhenti. Ia menatap wajah yang kini bersih dan rapuh, lalu duduk kembali di kursi.

“Saya tidak pergi,” jawabnya, meski Kirana mungkin tidak mendengar.

Ia merapikan selimut, menjaga jarak yang aman, dan tetap di sana sampai cahaya pagi menyusup melalui tirai.

Di luar kamar, Jakarta mulai bergerak perlahan menyambut hari. Di dalam, Arya tetap menunggu satu jawaban jujur pagi itu yang hanya akan ia terima dari Kirana yang sepenuhnya sadar nanti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!