NovelToon NovelToon
Devil Dragon System

Devil Dragon System

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Balas Dendam / Sistem
Popularitas:203
Nilai: 5
Nama Author: BE SA

Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.

Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.

Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.

Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.

Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?

[Ding!]

[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Dekrit Perburuan Level S

Aula Agung Istana Ethereal berdiri megah di jantung Prefektur Ethereal, dengan dinding kristal biru yang memancarkan cahaya seperti ribuan bintang yang terperangkap di dalam batu.

Di singgasana tertinggi, Kaisar Ethereal Indrawarman duduk dengan Blue Ethereal Cloak Armor pekat yang menjuntai, hingga lantai marmer putih.

Matanya berwarna putih murni tanpa pupil, tanda kultivasi yang sudah melampaui batas pemahaman ksatria biasa.

Komandan Wiryo berlutut di hadapannya, kepala menunduk dalam, dan tangan gemetar.

"Ceritakan sekali lagi …!" titah Kaisar Indrawarman, suaranya tenang tapi dingin seperti es yang membeku selama ribuan tahun. "Dari awal!"

"Ampun, Yang Mulia," ucap Wiryo, suaranya bergetar penuh malu dan kemarahan yang tertahan. "Prajurit bernama Arjuna Sasrabahu. Seorang manusia murni yang kami rekrut tiga tahun lalu telah membantai enam puluh prajurit elit perbatasan dalam satu malam."

Keheningan melanda aula itu.

Lalu seorang anggota dewan berdiri. Ia adalah Dewan Senior Tharaka. Tubuhnya memancarkan aura biru gelap dengan lima belas benang emas di lengan jubahnya.

"Manusia murni?" ulang Tharaka, nada suaranya penuh penghinaan. "Manusia murni membantai enam puluh prajurit elit kita hanya dalam dua puluh empat jam?"

"Dia sudah bukan manusia biasa lagi, Yang Terhormat Konselor Dewan Agung," jawab Wiryo, giginya terkatup rapat. "Dia memiliki kekuatan yang tidak dikenal. Energi merah gelap, domain pertempuran, dan pedang artefak yang mengerikan."

Dewan lainnya mulai berbisik satu sama lain, dan suara mereka bercampur seperti angin yang tidak tentu arahnya.

Kaisar Indrawarman mengangkat tangan, dan semua kebisingan itu berhenti seketika.

"Keluarkan Dekrit Perburuan Level S!" titah Kaisar, suaranya tidak naik satu not pun. "Hidup atau mati. Hadiah satu juta koin emas."

Tharaka mengangguk, lalu tangannya bergerak di atas panel hologram yang muncul di depannya.

"Dekrit resmi dikeluarkan," ucap Tharaka, suaranya bergema di seluruh aula. "Arjuna Sasrabahu, manusia pengkhianat dan mata-mata Demonia. Buruan Level S. Hadiah satu juta koin emas bagi siapapun yang membawa kepalanya."

Hologram wajah Arjuna muncul di tengah aula, dikelilingi teks merah yang berkedip dengan tulisan: [Buruan Berbahaya Level S]

Wiryo menatap wajah hologram itu dengan mata yang menyipit.

"Kau tidak akan bisa berlari selamanya," bisiknya pelan.

---

Dua hari kemudian, di tepi hutan perbatasan Prefektur Abyssal.

Gelang tipis di pergelangan tangan kiri Arjuna bergetar pelan.

Dia tidak berhenti berjalan, hanya melirik sebentar ke arah gelang itu dengan mata datar.

Hologram kecil muncul dari permukaan gelang, menampilkan wajahnya sendiri dengan latar merah menyala, dan tulisan yang tidak bisa disalahartikan.

[Buruan level: S. Hadiah: 1.000.000 koin emas. Kondisi: Hidup atau mati]

Arjuna membaca informasi itu sekali, lalu melanjutkan langkah.

"Satu juta ya?" gumam Arjuna, suaranya tidak naik tidak turun. "Terlalu murah untuk seseorang yang sudah membunuh enam puluh prajurit elit mereka."

Wirantaka yang berjalan di sampingnya melirik dengan ekspresi tidak percaya.

"Kau tidak takut?" tanya Wirantaka, alis hijaunya terangkat tinggi.

"Takut tidak masuk dalam kalkulasiku," jawab Arjuna singkat.

Wirantaka menghela nafas panjang, lalu berdiri di depan Arjuna untuk menghentikan langkahnya.

"Dengarkan aku sebentar!" ucap Wirantaka, nada suaranya lebih serius dari biasanya. "Sekarang kau adalah buruan Level S Prefektur Ethereal. Dalam waktu dekat, pemburu bayaran dari seluruh benua akan mengejarmu. Kau butuh perlindungan."

Arjuna menatap Wirantaka dengan mata kosong, menunggu.

"Ada organisasi bernama Phantom," lanjut Wirantaka. "Mereka tidak terafiliasi dengan prefektur manapun. Anggotanya adalah orang-orang yang tidak punya tempat di sistem prefektur ini."

"Phantom bisa memberikanmu akses ke informasi, sumber daya, dan jaringan perlindungan yang tidak bisa kau dapatkan sendirian."

Arjuna diam selama tiga detik penuh.

"Aku akan pertimbangkan," balas Arjuna, lalu melanjutkan langkah.

Wirantaka menatap punggung Arjuna yang menjauh. Matanya mengikuti setiap langkah dengan cermat. Lalu senyuman licik perlahan merayap di sudut bibirnya.

Arjuna berjalan sendirian meninggalkan Wirantaka di belakang.

Pikirannya sudah bekerja sejak dua hari lalu untuk memetakan setiap informasi yang dia kumpulkan tentang tujuh prefektur di Benua Sangakama.

"Ethereal, Celestial, Empyrean," gumam Arjuna, langkahnya tidak melambat satu pun. "Tiga prefektur dengan satu kepentingan yang sama."

Semuanya berbasis energi cahaya, semuanya menganggap ras lain lebih rendah, dan semuanya memiliki sejarah aliansi yang sudah berlangsung ratusan tahun.

"Jika Ethereal bergerak, dua prefektur lainnya tidak akan tinggal diam," desah Arjuna, matanya menerawang jauh ke depan. "Itu artinya tiga prefektur sekaligus akan mengincarku."

Tiga prefektur yang tidak boleh dia masuki jika ingin tetap bergerak bebas.

Draconis adalah pilihan yang paling masuk akal.

"Dragonoid punya permusuhan panjang dengan aliansi cahaya itu," batin Arjuna, kalkulasinya terus berputar tanpa henti. "Mereka juga punya jantung yang masuk dalam daftar Sapta Dewanata."

Dua alasan yang cukup.

Arjuna mengubah arah, melangkah ke jalur yang menuju timur, ke wilayah perbatasan Prefektur Draconis.

Perjalanan itu panjang, melewati hutan yang semakin rapat, dan udara yang berubah lebih panas dengan setiap kilometer yang berlalu.

Dia terbiasa dengan kesunyian, dan perhitungan yang menemaninya.

***

Dua jam kemudian, dia melewati jalur sempit di perbatasan antara dua wilayah, zona abu-abu yang tidak diklaim prefektur manapun.

Di sanalah dia melihatnya.

Tiga sosok Reploid tegak di tengah jalanan tanah seperti algojo yang turun dari singgasana neraka.

Armor segmental hitam pekat melapisi tubuh humanoid mereka dari bahu hingga kaki. Setiap panel baja tergores bekas pertempuran yang tidak pernah mereka anggap perlu disembunyikan.

Wajah mereka adalah wajah manusia, tapi di situlah kesamaan itu berakhir.

Mata mereka adalah sepasang lensa merah yang memancarkan cahaya seperti bara api abadi, bersinar dengan kenikmatan yang jauh lebih mengerikan dari kekosongan mesin manapun.

"Di mana lokasi gerbang tersembunyi itu?" bentak Reploid yang paling besar, suaranya meledak penuh amarah dan penghinaan. "Jawab, atau kami tingkatkan intensitasnya!"

Mereka adalah makhluk yang merasakan segalanya, yang menikmati setiap jeritan, setiap tulang yang patah, dan setiap nafas terakhir yang mereka curi dari korban mereka.

Kenikmatan itu berlipat ganda ketika yang berdiri di hadapan mereka adalah manusia murni. Ras yang mereka anggap sebagai kotoran paling hina yang pernah mengotori tanah Benua Sangakama.

Di antara mereka, seorang manusia tergantung di rantai energi biru yang menancap di tanah.

Manusia itu muda, mungkin seumuran Arjuna, bajunya robek, tubuhnya penuh luka, dan darah mengering di sisi wajahnya.

"Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan," jawab manusia itu, suaranya lemah tapi matanya tidak padam.

Reploid setinggi 210 cm itu tertawa, suara tawanya seperti logam yang bergesekan dengan batu.

"Sampah manusia masih berani bicara," ejeknya, kepalan mekanis kembali terangkat dengan kenikmatan yang tidak disembunyikan sama sekali. "Tulangmu akan habis satu per satu sebelum kau menjawab."

Arjuna berhenti di bayangan pohon. Matanya mengamati seluruh situasi dengan kalkulasi yang cepat.

Panel hologram di gelangnya bergetar pelan, menampilkan satu baris teks yang muncul tanpa suara.

[Jantung ras Reploid terdeteksi dalam radius 30 meter]

Arjuna menatap teks itu sebentar, lalu mengalihkan pandangan kembali ke tiga Reploid di depannya.

Kalkulasi selesai dalam dua detik.

"Tiga jantung," bisik Arjuna, senyuman tipis muncul di sudut bibirnya untuk pertama kalinya malam itu, "Sistem memang selalu tepat waktu."

1
carat28
Hai kak, boleh follback? Saya mau kirim inbox terkait penawaran kepenulisan. Terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!