NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."

"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"

....

Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 #Nyonya kedua

Satu jam kemudian...

​Angin laut berembus kencang, menerbangkan ujung rambut Anya dan mengibas-ngibaskan kain dress kuning cerahnya. Mereka kini berada di tengah hamparan laut biru lepas, di atas kapal pesiar pribadi milik keluarga Fernandez yang membelah ombak dengan megah. Namun, bagi Anya, kemewahan ini terasa seperti sebuah panggung sandiwara yang sangat menyesakkan.

​Calvin terus memegang tangan Anya dengan erat. Genggaman itu tidak terlepas sedetik pun sejak mereka menaiki kapal. Anya sebenarnya merasa sedikit risih, ada rasa tidak nyaman yang merayap di kulitnya setiap kali Calvin menyentuhnya namun dia tidak bisa melepaskan diri. Di sekeliling mereka, para orang tua menatap dengan senyum penuh harap. Anya tahu, jika dia memberontak sekarang, dia akan memancing kecurigaan.

​"Jangan lepaskan tanganmu vin, aku merasa takut setelah melihat ombak dari dekat," bisik Anya pelan dengan nada manja, Namun suaranya jelas terdengar oleh Bara yang berdiri tak jauh dari mereka.

​Calvin, yang malam tadi sudah berjanji pada ayahnya untuk menjadi tunangan sempurna, segera menuruti permintaan itu. Dia merangkul pinggang Anya dengan posesif, mendekatkan tubuh mereka hingga tidak ada celah. "Tenang sayang aku akan tetap di sampingmu."

​Anya tersenyum manis, sebuah senyuman yang sebenarnya adalah senjata. Dia melirik Bara melalui sudut matanya. Di sana, pria itu berdiri dengan kaku, bahunya tegap menahan amarah yang seolah ingin meledak. Anya merasa puas. 'Rasakan itu, Om. Bagaimana rasanya melihat keponakanmu menyentuh apa yang sebenarnya kau inginkan?'

​Di sisi lain dek kapal, Jessica mencoba melakukan pendekatan. Wanita itu mengenakan bikini yang dibalut outer tipis, berusaha tampil memukau di depan calon suaminya. Dia mendekati Bara yang sedang memegang gelas champagne dengan rahang mengeras.

​"Bara, kenapa kau berdiri sendirian? Sini, duduk di sampingku," ajak Jessica lembut, mencoba menyentuh lengan pria itu.

​Namun, reaksi Bara jauh dari kata hangat. Dengan gerakan yang sangat halus namun tegas, Bara menarik lengannya menjauh sebelum jemari Jessica sempat menyentuh kain kemejanya. Pria itu menatap lurus ke cakrawala, auranya dingin dan tidak bisa didekati.

​"Aku lebih suka berdiri di sini, Jessica," jawab Bara dengan nada rendah, datar, dan tajam. "Dan tolong, jangan terlalu berharap banyak padaku. Kau tahu betul bagaimana pandanganku mengenai perjodohan konyol ini. Aku tidak menyukainya, dan aku tidak akan memaksakan diri untuk berpura-pura menyukainya."

​Jessica tertegun. Senyumnya sedikit goyah, namun dia tetap mempertahankan topeng anggunnya. "Aku hanya berusaha mengenalmu lebih jauh, Bara."

​"Kenal atau tidak, jawabannya tetap sama," potong Bara tanpa menoleh sedikit pun.

.

.

​Di kapal yang sama, para orang tua sudah masuk ke dalam kabin utama kapal yang berpendingin ruangan, meninggalkan anak-anak muda di dek luar.

​"Pa," bisik Isyana sambil menyenggol lengan suaminya, Tomi. "Semoga adikmu itu bisa klik dengan Jessica seperti halnya Calvin dan Anya ya. Lihat mereka, serasi sekali."

​Tomi hanya menghela napas, matanya menatap kejauhan. "Semoga saja, Ma. Aku hanya ingin yang terbaik untuk Anya."

​Di luar, Anya sudah selesai berpose untuk foto-foto yang diambil oleh Calvin. Gadis itu berdiri di dekat pagar pembatas kapal, menyandarkan tubuhnya menghadap ke laut. Topinya sudah dilepas, membiarkan rambutnya berantakan diterpa angin laut.

​Jessica, yang merasa canggung setelah penolakan Bara, berjalan mendekat ke arah Anya. Dia mengeluarkan botol semprotan cairan anti-UV yang mahal. "Anya, panas sekali di sini. Sini, biar aku bantu semprotkan pelindung matahari ke wajah dan lenganmu. Kulitmu bisa kusam nanti."

​Anya refleks mundur selangkah, menutupi leher dan dadanya dengan tangan. "Eh, tidak perlu, Kak. Terima kasih."

​'Kalau cairan itu menyemprot leherku, concealer tebal yang menutup bekas gigitan Bara semalam bisa luntur! Bisa gawat!' batin Anya panik.

​"Tapi ini panas sekali, Anya," desak Jessica.

​"Tidak apa-apa, Kak. Kalau kusam, tinggal perawatan saja. Calvin yang bayar, iya kan, Vin?" Anya sengaja merangkul lengan Calvin, menatapnya dengan tatapan manja, sambil matanya melirik ke arah Bara yang masih berdiri menyendiri.

​Calvin tersenyum pahit, namun tetap mengangguk. "Tentu saja, Sayang. Apapun untukmu."

​Anya sebenarnya salah fokus. Meskipun dia sedang memamerkan kemesraannya dengan Calvin, perhatiannya justru terkunci pada sosok Bara. Bara yang berdiri diam, memandang mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Pria itu adalah sosok visualisasi tipe ideal Anya tegas, berwibawa, dan menuntut. Namun, Anya segera menepis pikiran itu. 'Tidak! Jangan bodoh, Anya. Dia itu om-om mesum yang menyebalkan.'

​Tiba-tiba, Bara melangkah maju. Dia berjalan melangkah pasti menuju arah Anya dan Calvin berdiri.

​Jantung Anya seolah merosot ke lambung. Dia mendekat. Apa dia mau membongkar semuanya? Apa dia marah karena aku menyerangnya terus-menerus? Ini bisa jadi bencana.

​"Zevanya," panggil Bara dengan suara berat yang menghentikan aktivitas mereka.

​Anya menoleh, berusaha memasang wajah setenang mungkin meski tangannya gemetar. "Ya, Om?"

​Bara berdiri tepat di depan mereka. Tatapannya menembus pertahanan Anya, membuat gadis itu merasa seolah seluruh rahasianya terpampang nyata di mata elang pria itu. Namun, di luar dugaan, Bara tidak membongkar apa pun. Tangannya merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua.

​Calvin dan Jessica menatap kotak itu dengan dahi berkerut, bertanya-tanya mengapa Bara memberikan sesuatu yang tampak berharga pada Anya.

​Bara membuka kotak itu, menampilkan sebuah kalung indah dengan liontin berbentuk ceri yang berkilau. Anya terdiam, tak bisa berkata-kata. Kepanikannya berubah menjadi kebingungan yang mendalam.

​"Ini kado untukmu, Anya," ucap Bara dengan senyum bijak yang sangat tipis, senyum yang biasanya dia berikan kepada rekan bisnis. "Waktu itu, Om lupa memberimu tanda sebagai calon anggota baru keluarga Fernandez."

​Bara menatap Anya dengan intens, suaranya merendah seolah hanya ditujukan untuk Anya. "Nyonya kedua Fernandez."

​Anya tersentak. Hanya dia yang paham maksud tersirat dari kalimat itu. Nyonya pertama adalah Isyana, istri dari kakak Bara. Dengan menyebutnya Nyonya kedua, Bara secara tidak langsung mengklaim Anya sebagai miliknya di masa depan, di bawah perlindungan dan kuasanya. Calvin dan Jessica hanya menganggap itu sebagai ucapan selamat datang dalam keluarga, namun bagi Anya, itu adalah pernyataan perang sekaligus kepemilikan.

​Saat Bara hendak memasangkan kalung itu ke leher Anya, Calvin mengambil alih dengan cepat.

​"Biar saya saja, Om," potong Calvin, mengambil kalung itu dari tangan Bara.

​Bara membiarkannya, meski otot-otot di lengannya menegang karena harus menahan dorongan untuk menepis tangan Calvin. Dengan hati-hati namun enggan, Calvin memasangkan kalung ceri itu di leher Anya. Kalung itu menggantung manis di sana, beradu dengan cincin tunangan yang sudah melingkar di jari manis Anya.

​Kini, leher Anya dihiasi oleh simbol dari Bara, sementara jarinya diikat oleh simbol dari Calvin. Anya merasa terjepit di antara dua pria Fernandez ini, seolah dia adalah piala yang sedang diperebutkan.

​"Terima kasih, Om Bara. Saya menyukainya... ini indah," ucap Anya dengan nada yang sengaja dibuat kaku untuk menyembunyikan getaran di suaranya.

​Bara tersenyum, senyum yang kali ini tampak benar-benar tulus namun mematikan. "Sama-sama. Cantik sekali... kalungnya melingkar dengan sempurna di lehermu."

​Jessica, yang awalnya tidak mempedulikan situasi, mulai merasa ada sesuatu yang aneh. Bara terus tersenyum pada Anya, sesuatu yang sangat jarang dilakukan pria itu kepada siapa pun, bahkan kepada Jessica sendiri. Mengapa pria sedingin Bara memberikan hadiah seindah itu hanya kepada calon istri keponakannya?

​Jessica menatap Bara dengan tatapan penuh tanya, namun Bara tidak memperdulikannya. Fokus Bara hanya tertuju pada satu titik, kalung ceri yang kini menempel di kulit putih Anya, sebuah tanda bahwa dalam cara yang terdistorsi dan berbahaya, Zevanya Anneliza Sanjaya adalah miliknya.

1
beybi T.Halim
lama lamaaa anya ini gak bertanggung jawab sama kuliahnya hadeh🙈
beybi T.Halim
mau kaya atau miskin klo soal perasaan gak bisa kompromi.,yg ada hanya bagaimana kita memperjuangkan perasaan itu menjadi kebahagiaan yg nyata atau cuma jadi pecundang👍
beybi T.Halim
haih...buruan lah bara diselesaikan dengan damai,br semua berbahagia
Yohana Pandie
lanjut thor.🙏
beybi T.Halim
ceritanya gemesin sih sebenarnya.,anya yg msh labil dan om bara yg dewasa,cumaa yaa itu jafi kucing2an perkara cinta salah alamat dari awal🤭
Yohana Pandie
lnjut thor.ceritanya keren bnget
Novaa: Halo, terimakasih sudah mampir. pantengin terus ya karena om Bara bakal semakin memBara 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!