NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."

"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"

....

Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 #Kecemburuan sang serigala

Makan malam telah usai, Anya sudah kembali kamarnya. ​Di dalam kamar mandi bilik kamarnya, Anya menatap pantulan dirinya di cermin dengan wajah merona frustrasi. Dia baru saja selesai membersihkan diri, namun kesialan pertama malam ini langsung menyambutnya. Anya baru sadar bahwa dia ceroboh saat berkemas di rumah, dia sama sekali tidak membawa setelan piyama celana panjang yang aman. Dia justru membawa sebuah dress piyama sutra tanpa lengan berwarna putih gading yang cukup pendek, yang untungnya masih memiliki outer kimono longgar dengan warna senada untuk menutupi tubuhnya.

​Anya menjambak rambutnya sendiri dengan gemas, merutuki kebodohannya sore tadi.

​"Zevanya, kenapa kamu bodoh banget sih?!" bisik Anya memaki dirinya sendiri di depan kaca. "Kenapa tadi sore aku nggak minta kue tart yang diterbangkan langsung dari Belanda aja? Atau minta sepatu yang terbuat dari es batu kutub utara sekalian?! Kenapa harus menyebutkan barang yang ternyata sudah ada di dalam dasbor pria gila itu?!"

​Bzzz... Bzzz...

​Ponsel di atas wastafel bergetar bertubi-tubi. Anya membukanya dan mendapati rentetan pesan di grup sahabatnya.

📱Bella 'Anyaaa! Gimana vila pantainya? Beneran seindah di foto nggak?'

📱 Alena 'Heh, yang paling penting... kamu sudah mendapat serangan fajar belum dari si Om Tampan? Wkwkwk!'

​Anya mendengus, berniat mengabaikan mereka sebelum sebuah pesan baru muncul di bagian paling atas. Pesan itu datang dari kontak yang dia namai 'Om Menyebalkan'.

📱​Om Menyebalkan 'Kalau sampai jam 10 malam kamu belum mengetuk pintu kamarku, maka aku sendiri yang akan datang menjemputmu di kamar, Ceri Manis. Dan aku tidak menjamin Jessica tidak akan terbangun saat aku menggendongmu keluar.'

​Anya menelan ludah dengan susah payah. Dia melirik jam di ponselnya. Pukul 21.40. Waktunya tinggal dua puluh menit lagi!

​Dengan langkah super pelan, Anya keluar dari kamar mandi dan mendapati Jessica masih terjaga di atas ranjang mereka, sibuk mengoleskan krim malam ke wajahnya. Sial, wanita berusia 29 tahun itu rupanya belum menunjukkan tanda-tanda mengantuk, malah menoleh dan melemparkan senyum ramah saat melihat Anya mendekat.

​"Anya, sini deh, ngobrol sebentar," panggil Jessica sembari menepuk sisi ranjang di sebelahnya.

​Anya terpaksa tersenyum manis dan duduk di tepi kasur. "Ada apa, Kak Jessica?"

​Jessica menghela napas perlahan, matanya menatap langit-langit villa dengan binar penuh angan-angan. "Kamu kan sudah sah menjadi bagian dari calon keluarga Fernandez melalui Calvin. Menurutmu... apa aku juga cocok untuk masuk ke dalam keluarga itu? Maksudku... menjadi Nyonya Bara Fernandez?"

​Deg.

​Pertanyaan Jessica seketika memicu rasa tidak nyaman yang aneh di ulu hati Anya. Ada sengatan rasa tidak suka yang mendadak muncul mendengar Jessica dengan begitu percaya diri mencocokkan dirinya dengan Bara. Namun, Anya buru-buru menyembunyikan ekspresinya di balik senyuman formal. "Cocok kok, Kak Jessica."

​Jessica tertawa renyah, tampak sangat puas dengan jawaban Anya. "Tante Isyana memang sengaja membawaku ke liburan ini untuk membuatku semakin dekat dengan Bara. Ya... meskipun dia pria yang sangat dingin dan susah didekati, tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan berusaha keras memikatnya." Jessica kemudian menutup pot krim malamnya dan merebahkan tubuhnya di bawah selimut. "Ah, sudah jam segini. Aku harus segera tidur untuk menjaga kecantikan kulitku. Selamat malam, Anya."

​"Selamat malam, Kak," balas Anya, mengembuskan napas lega yang luar biasa dalam hati. Ini dia momen yang ditunggunya!

​Anya ikut merebahkan diri dan berpura-pura memejamkan mata. Dia menunggu dalam keheningan selama lima belas menit penuh, memastikan ritme napas Jessica sudah terdengar halus dan teratur tanda wanita itu telah terlelap dengan nyenyak.

​Melihat waktu yang tersisa tinggal lima menit sebelum jam sepuluh malam, keraguan sempat menyergap benak Anya. Bagaimana jika Jessica tiba-tiba terbangun di tengah malam dan mendapati kasurnya kosong? Namun, ancaman Bara yang akan nekat datang menjemputnya terasa jauh lebih mengerikan.

​Anya menyibak selimutnya dengan sangat hati-hati. Dia turun dari ranjang tanpa menimbulkan suara, merapatkan jubah kimononya, lalu memutar knop pintu kamar dengan gerakan super lambat.

​Suasana koridor vila tengah malam itu terasa sangat sunyi, hanya diterangi lampu dinding temaram dan suara deburan ombak dari luar. Kamar Bara berada di ujung kanan koridor. Anya berjalan berjinjit, menahan napasnya di setiap langkah. Namun, tepat saat Anya baru saja tiba di depan kamar Bara dan mengangkat tangannya yang gemetar hendak mengetuk pintu...

​Klek.

​Pintu kamar di ujung kiri mendadak terbuka. Anya membeku sempurna saat menoleh dan mendapati Calvin melangkah keluar dari kamarnya. Kedua mata mereka seketika bertemu di bawah cahaya temaram.

​Anya panik setengah mati. Otaknya berputar gila mencari alasan paling konyol untuk menyelamatkan dirinya. Sebelum Calvin sempat bertanya, Anya dengan cepat menurunkan tangannya dan menyentuh sebuah ornamen kayu yang menggantung di gagang pintu kamar Bara.

​"Eh... Calvin? Kamu belum tidur?" tanya Anya dengan tawa kaku yang dipaksakan. "Ini... aku tadi mau ke dapur ambil minum, terus pas lewat sini, aku melihat gantungan di pintu kamar Om Bara ini lucu banget. Aku penasaran terbuat dari bahan apa, makanya aku samperin buat melihatnya lebih dekat. Hehe..."

​Calvin berjalan mendekat, lalu mengulas senyuman tampan yang tampak maklum tanpa menaruh curiga sedikit pun. "Oh, aku kira kamu mau menemui Om Bara. Tapi malam-malam begini untuk apa juga, ya?" Calvin terkekeh pelan. "Ya sudah, aku cuma mau ke dapur mau ambil minum. mau aku ambilin aja nya?"

​"Ah.. Tidak perlu Calvin. Aku tidak jadi haus." Jawab Anya sedikit mulai panik karena waktunya sudah hampir habis.

"Baiklah, kalau begitu aku ke dapur dulu kamu cepat tidur gih," Ucap Calvin dengan senyum teduhnya.

"I-iya Calvin, dah selamat malam." cicit Anya, melambaikan tangan sampai tubuh Calvin benar-benar hilang menuruni tangga.

​Anya menyandarkan punggungnya ke dinding koridor, memegangi dadanya yang berdegup gila karena hampir terkena serangan jantung. Namun, sebelum dia bisa mengembuskan napas leganya dengan sempurna...

​Sret! Klik!

​Pintu kamar di belakangnya tiba-tiba terbuka dengan cepat. Sebuah tangan kekar bermandikan urat menonjol melesat keluar, mencengkeram pergelangan tangan Anya, dan menarik tubuh mungilnya masuk ke dalam kegelapan kamar dalam satu sentakan kuat. Pintu kamar langsung ditutup dan dikunci dari dalam.

​Brukk!

​Tubuh Anya didorong lembut namun tegas hingga membentur daun pintu yang tertutup. Sebelum Anya sempat memprotes atau mengeluarkan satu patah kata pun, tubuh tegap Bara Fernandez sudah mengurungnya sepenuhnya. Aroma maskulin yang dominan dan memabukkan seketika menyerbu indra penciuman Anya.

​Bara tidak memberikan celah sedikit pun. Detik itu juga, pria matang itu menundukkan kepalanya, meraup ranum bibir Anya dengan sebuah ciuman yang teramat intens, menuntut, dan penuh dengan emosi yang meledak-ledak. Sentuhan bibir Bara terasa begitu panas dan menguasai, melumat habis sisa-saudara di rongga dada Anya hingga gadis itu kewalahan menyeimbangkan dominasi sang harimau yang sedang mengamuk.

​Anya mencengkeram kuat kemeja hitam yang dikenakan Bara, mencoba mendorong dada bidang pria itu dengan sisa tenaganya karena merasa dunianya mulai berputar akibat kekurangan pasokan udara.

​"Om... stop... mphh... aku nggak bisa bernapas," cicit Anya dengan suara terputus-putus saat Bara memberikan celah satu milimeter di belah bibirnya.

​Bara akhirnya melepaskan tautan bibir mereka, namun sama sekali tidak mengendurkan dekapannya yang begitu posesif di pinggang ramping Anya. Napas pria itu terdengar memburu, berembus hangat di atas permukaan wajah Anya yang sudah memerah padam dengan bibir yang sedikit membengkak akibat ulahnya.

​Sepasang mata elang Bara menatap lurus ke dalam manik mata Anya dengan binar gelap yang sangat pekat, sebuah tatapan penuh amarah terpendam dan cemburu buta yang sejak makan malam tadi dia tahan mati-matian.

​"Kenapa? Kamu takut tunanganmu yang masih muda, tampan, dan enerjik itu melihat kita, hm?" bisik Bara dengan suara baritonnya yang teramat rendah, serak, dan berbahaya, mengulangi kata-kata pujian Anya untuk Calvin di meja makan tadi. "Panggilan Calvin Sayang yang kamu ucapkan tadi sore... benar-benar membuatku ingin menghancurkan sesuatu, Zevanya. Dan malam ini, aku pastikan kamu akan menerima konsekuensi penuh karena telah memancing kemarahanku."

1
Yohana Pandie
lnjut thor.ceritanya keren bnget
Novaa: Halo, terimakasih sudah mampir. pantengin terus ya karena om Bara bakal semakin memBara 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!