NovelToon NovelToon
Istriku Seorang Putri

Istriku Seorang Putri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyelamat / Perperangan
Popularitas:457
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Sinopsis

Putri viona Isabella berangkat menuju Kerajaan Timur untuk menikahi putra mahkota sesuai perjodohan antar kerajaan. Namun, di tengah perjalanan rombongannya diserang perampok hingga seluruh pengawal tewas.

Dengan tubuh penuh luka, viona melarikan diri ke dalam hutan dan diselamatkan oleh Derek Henrick, pria misterius yang memilih hidup mengasingkan diri. Seiring waktu, cinta tumbuh di antara mereka.

Saat identitas Fiona akhirnya terungkap, ia harus memilih antara memenuhi takdirnya sebagai seorang putri atau mempertahankan cinta yang telah menyelamatkan hidupnya. Namun, Derek ternyata menyimpan rahasia besar yang dapat mengubah nasib kedua kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Penantian dan Bayang-Bayang Masa Lalu

Malam berlalu dengan lambat. Derek sudah pergi sejak matahari terbenam, meninggalkan lembah yang kini terasa sangat sepi. Viona berdiri di depan kabin untuk waktu yang lama, menatap jalan setapak yang telah ditelan kegelapan. Angin malam berhembus dingin, membawa aroma pinus dan tanah basah, tetapi Viona tidak merasakannya. Pikirannya hanya tertuju pada Derek—pria yang kini sedang menunggang kuda sendirian menuju utara, mencari adiknya yang telah mengkhianati segalanya.

"Ayo masuk, Nak. Angin malam bisa membuatmu sakit." Suara Nenek Gita terdengar dari belakang, lembut namun tegas. Wanita tua itu telah menyiapkan teh hangat di atas meja kayu, dan aroma jahe serta madu mulai memenuhi ruangan.

Viona akhirnya masuk dan duduk di kursi dekat perapian. Ia memegang cangkir teh dengan kedua tangannya, menghirup uap hangat yang menenangkan. "Nenek Gita, kau sudah kenal Derek sejak lama?"

Nenek Gita tersenyum, duduk di kursi di seberang Viona. "Sudah cukup lama, Nak. Sejak ia pertama kali datang ke lembah ini—masih muda, masih terluka, dan membawa beban yang sangat berat di pundaknya."

"Kau tahu siapa dia sebenarnya?" tanya Viona.

"Aku tahu." Nenek Gita menyesap tehnya. "Aku tahu ia adalah Putra Mahkota Kerajaan Timur. Aku tahu ia melarikan diri setelah kehilangan ibunya. Dan aku tahu ia memilih hidup menyendiri karena ia tidak bisa mempercayai siapa pun lagi."

Viona menunduk. "Ia tidak pernah bercerita banyak tentang ibunya. Hanya mengatakan bahwa ia adalah koki terbaik yang pernah ia kenal."

Nenek Gita tertawa kecil, tetapi tawanya terdengar sedih. "Ratu Elara—ibunda Derek—memang seorang koki yang hebat. Tapi ia lebih dari sekadar itu. Ia adalah wanita paling cerdas dan paling kuat yang pernah aku kenal. Ia adalah satu-satunya orang yang berani menentang Dewan Raja saat mereka mulai menggerogoti kekuasaan kerajaan."

Viona mengangkat kepalanya. "Dewan Raja? Apa yang mereka lakukan?"

"Ratu Elara adalah wanita dari darah bangsawan rendah, bukan dari keluarga kerajaan besar. Saat ia menikah dengan Raja, Dewan Raja merasa terancam. Mereka menganggap bahwa seorang wanita tanpa garis keturunan kerajaan tidak pantas menjadi ratu. Selama bertahun-tahun, mereka berusaha menjatuhkannya. Dan pada akhirnya, mereka berhasil." Nenek Gita menatap api unggun dengan tatapan kosong. "Ratu Elara tewas dalam kecelakaan berburu. Tapi aku tidak pernah percaya itu kecelakaan."

Viona merasakan jantungnya berdegup kencang. "Maksudmu... dia dibunuh?"

"Dewan Raja tidak pernah bisa membuktikannya. Tapi Derek tahu. Derek tahu bahwa ibunya dibunuh, dan ia tahu siapa pelakunya. Itulah sebabnya ia melarikan diri. Karena jika ia tetap tinggal di istana, ia bisa menjadi target berikutnya."

Viona menggenggam cangkir tehnya lebih erat. "Jadi, Derek melarikan diri untuk menyelamatkan nyawanya."

"Dan untuk melindungi Neil," tambah Nenek Gita. "Derek tahu bahwa jika ia tetap di istana, Neil akan dijadikan sandera oleh Dewan Raja. Dengan perginya Derek, Neil menjadi pangeran kedua yang tidak mengancam siapa pun. Dewan Raja membiarkannya hidup selama ia tidak mencoba merebut takhta."

Tapi Neil justru kabur," bisik Viona. "Neil meninggalkan semuanya."

"Neil tidak sekuat kakaknya," kata Nenek Gita. "Derek lahir sebagai pemimpin. Neil lahir sebagai pengikut. Dan ketika Derek pergi, Neil kehilangan panutannya. Ia mencari cinta dan perlindungan di tempat yang salah, dan sekarang ia terjebak dalam pelarian yang tidak bisa ia kendalikan."

Viona menghela napas. "Jadi, Derek pergi untuk mencari Neil. Tapi jika Neil sudah tahu bahwa Derek masih hidup, dan Neil tidak mau kembali ke istana..."

"Maka Derek akan dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit." Nenek Gita menatap Viona. "Dan pilihan itu akan menentukan nasib kerajaan, nasib kau, dan nasib cinta kalian."

Viona terdiam. Api di perapian berderak, memancarkan cahaya hangat yang tidak cukup untuk menghangatkan perasaannya.

Beberapa jam berlalu. Viona dan Nenek Gita berbicara tentang banyak hal—tentang desa, tentang kehidupan, dan tentang Derek. Nenek Gita adalah sumber cerita yang tidak ada habisnya. Ia menceritakan bagaimana Derek dulu pernah membantu membangun jembatan di desa, bagaimana ia selalu membawa hasil buruan untuk anak-anak yatim, dan bagaimana ia menolak semua imbalan yang ditawarkan.

"Derek tidak pernah meminta balasan," kata Nenek Gita. "Ia hanya memberi. Itulah sebabnya aku percaya ia akan menjadi raja yang baik. Kau tahu, Nak? Ketika kau menjadi raja, kau tidak hanya memerintah. Kau melayani."

Viona tersenyum. "Aku berharap ia bisa kembali dengan selamat. Dan aku berharap Neil bisa diajak bicara."

"Semoga," gumam Nenek Gita. "Tapi aku tidak bisa berhenti merasa bahwa ada sesuatu yang salah. Aku merasakannya di tulangku."

Viona mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

Nenek Gita menatap jendela, yang mulai digerakkan oleh angin malam. "Dewan Raja tidak diam. Mereka tahu cincin delima itu ada di suatu tempat. Dan mereka juga tahu bahwa putri yang dinyatakan meninggal itu mungkin masih hidup. Jika mereka menemukan kabin ini..."

Viona merasakan keringat dingin di punggungnya. "Kau pikir mereka akan menyerang?"

"Mungkin. Atau mungkin mereka sudah dekat." Nenek Gita berdiri, berjalan ke jendela. "Ada baiknya kita pindah ke desa besok. Di sini terlalu sunyi. Jika terjadi apa-apa, tidak ada yang akan membantu."

Viona mengangguk. "Baik. Aku akan kemasi barang-barang."

Namun, saat Viona berjalan menuju kamar untuk mengemas pakaiannya, ia mendengar suara langkah kaki yang sangat pelan dari luar kabin. Langkah kaki itu tidak seperti langkah Derek. Langkah itu terdengar hati-hati, teratur, seperti tentara yang sedang bergerak dalam formasi.

" Nenek Gita," bisik Viona. "Ada seseorang di luar."

Nenek Gita langsung membeku. Matanya yang tajam memandang ke arah pintu. "Jangan bergerak. Jangan membuat suara."

Tiba-tiba, terdengar suara ketukan di pintu. Ketukan itu keras dan tidak sabar.

"Derek?" tanya Viona, meskipun ia tahu itu bukan Derek.

Pintu tidak dibuka. Sebaliknya, suara dari luar terdengar jelas. "Kami tahu putri ada di dalam. Buka pintunya, atau kami akan merobohkannya."

Viona merasakan lututnya gemetar. Namun, di balik rasa takutnya, ada kemarahan yang mulai bangkit. Ia tidak bisa lari lagi. Ia sudah lelah bersembunyi.

Dengan langkah tegas, Viona berjalan menuju pintu. Namun, sebelum ia sempat membukanya, Nenek Gita menarik tangannya dan berbisik dengan suara yang sangat pelan.

"Dengar, Nak. Ada lorong rahasia di belakang perapian. Derek yang membuatnya. Itu menuju ke sungai. Kau harus pergi sekarang."

"Tapi Nenek—"

"Jangan khawatir tentang aku. Aku hanya wanita tua. Mereka tidak akan menyakitiku." Nenek Gita tersenyum. "Kau harus hidup. Untuk Derek."

Viona merasakan air mata menggenang di matanya. Ia memeluk Nenek Gita erat. "Terima kasih, Nenek. Aku tidak akan melupakan kau."

Nenek Gita mendorong Viona pelan menuju perapian. Ia menekan sebuah batu di sisi perapian, dan sebuah panel kayu perlahan terbuka, memperlihatkan lorong gelap yang sempit.

"Pergilah, Nak. Dan jangan melihat ke belakang."

Viona melangkah masuk ke dalam lorong itu, merangkak dalam kegelapan. Di belakangnya, ia mendengar suara pintu kabin yang dibuka, dan suara Nenek Gita yang berbicara dengan tenang kepada para penyerbu.

"Maaf, Tuan-tuan. Tidak ada putri di sini. Hanya aku dan kucing tua."

Viona menutup matanya, menahan napas, dan terus merangkak maju melalui lorong gelap. Air matanya mengalir deras, tetapi ia tidak menangis. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan kembali. Dan ketika ia kembali, ia tidak akan lari lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!