Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 — Pelarian
Hector terus berlari menembus hutan dengan tubuh Ryosuke yang masih terkulai di atas pundaknya. Keringat membasahi wajahnya, tetapi langkahnya sama sekali tidak melambat. Di belakang mereka, suara terompet perang Empire Krusador masih terdengar menggema, bercampur dengan gemuruh puluhan ribu langkah kaki yang perlahan menyapu setiap desa di sepanjang perbatasan Green Continent. Getaran tanah bahkan masih dapat mereka rasakan meski jarak mereka dari medan pertempuran semakin jauh.
Lance berada paling depan.
Matanya terus menyapu jalan setapak yang membelah hutan lebat. Sesekali ia mengubah arah, menghindari jalur utama yang biasa digunakan pedagang maupun penduduk desa. Ia memilih jalan-jalan kecil yang hampir tertutup semak belukar, jalur yang hanya diketahui oleh para pemburu dan tentara bayaran yang sering menjelajahi wilayah perbatasan.
"Jangan ada yang tertinggal," ucapnya tanpa menoleh.
Hana mengangguk pelan.
Amanda menggenggam tongkat kayunya erat-erat sambil terus mengikuti langkah Hector. Sementara Melinda beberapa kali berlari lebih dahulu, memanjat batu atau batang pohon besar untuk memastikan tidak ada pasukan Krusador yang bergerak memotong jalur pelarian mereka.
Mereka terus berlari hingga suara benturan senjata perlahan mulai menghilang.
Namun keheningan itu justru terasa jauh lebih menyesakkan.
Tidak lama kemudian mereka tiba di sebuah lereng kecil yang menghadap ke dataran luas di luar hutan. Dari tempat itu, sebagian wilayah perbatasan masih terlihat jelas.
Hana yang tanpa sengaja menoleh ke belakang mendadak membeku.
Tubuhnya bergetar.
"Amanda..."
Suara Hana terdengar lirih.
Amanda mengikuti arah pandangan Hana.
Sesaat kemudian wajahnya kehilangan warna.
Di kejauhan, sebuah desa lain yang berada tidak jauh dari lokasi pertempuran mulai diselimuti kobaran api. Penduduk berlarian keluar melalui gerbang desa, tetapi pasukan berkuda Empire Krusador telah lebih dahulu mengepung seluruh jalan keluar.
Seorang pria tua yang berusaha melindungi cucunya roboh setelah dihantam tombak.
Beberapa wanita berteriak memanggil anggota keluarga mereka yang terpisah di tengah kepanikan.
Anak-anak kecil menangis sambil berlari tanpa tujuan, berharap menemukan orang tua mereka.
Namun yang menyambut mereka hanyalah deretan pedang para prajurit Krusador.
Amanda menggigit bibirnya.
Tangannya gemetar.
"Kenapa..." bisiknya.
"Mereka bukan prajurit..."
Air mata Hana mulai mengalir tanpa mampu ia tahan.
Di tengah lautan pasukan itu tampak seekor kuda hitam berjalan perlahan melewati jalan utama desa.
Di atasnya duduk seorang pemuda dengan zirah kebesaran keluarga kekaisaran.
Pangeran Lucien Krusador.
Tatapannya tetap lurus ke depan.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada kegembiraan.
Tidak ada pula belas kasihan.
Seolah pembantaian yang terjadi di hadapannya hanyalah bagian biasa dari sebuah rencana yang telah lama ia susun.
Sesekali tangannya bergerak memberi isyarat singkat.
Setiap isyarat itu segera diikuti oleh para prajurit Krusador yang bergerak semakin jauh memasuki desa, membakar rumah-rumah penduduk dan menebas siapa saja yang masih berusaha melawan.
Hana menutup mulutnya agar tangisnya tidak terdengar.
"Apa..."
"Apa mereka benar-benar manusia...?"
Tidak ada yang menjawab.
Bahkan Lance hanya mengepalkan tangannya sambil terus memandang ke arah desa yang perlahan berubah menjadi lautan api.
"Ayo." ucapnya akhirnya.
"Kita tidak boleh berhenti."
Hector kembali melangkah.
Dengan berat hati mereka meninggalkan pemandangan mengerikan itu.
Suara tangisan para penduduk perlahan menghilang ditelan lebatnya pepohonan, tetapi bayangan yang baru saja mereka lihat terus terpatri di benak masing-masing.
Langit telah berubah gelap ketika Lance akhirnya memberi isyarat agar mereka berhenti sejenak di sebuah cekungan hutan yang tersembunyi di balik batu-batu besar.
Mereka tidak berani menyalakan api.
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Hanya suara serangga malam yang terdengar mengisi keheningan.
Hector perlahan menurunkan tubuh Ryosuke dan menyandarkannya pada batang pohon besar.
Beberapa saat kemudian kelopak mata Ryosuke bergerak pelan.
Pandangan yang semula kabur perlahan mulai kembali fokus.
"...Hector..."
Hector mengembuskan napas lega.
"Syukurlah."
Ryosuke memegang bagian belakang lehernya.
Rasa nyeri akibat pukulan Lance masih terasa.
Dalam sekejap ingatannya kembali.
Pertempuran.
Puluhan ribu pasukan.
Pangeran Lucien.
Lalu pukulan yang membuatnya kehilangan kesadaran.
Tubuh Ryosuke langsung menegang.
"Desanya!"
Ia berusaha bangkit.
"Aku harus kembali!"
Belum sempat ia melangkah, Lance sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Sudah terlambat."
Dua kata itu menghentikan langkah Ryosuke.
"Aku masih bisa bertarung."
"Aku masih..."
"Kau akan mati." potong Lance datar.
"Bersama semua orang di sini."
Ryosuke mengepalkan kedua tangannya.
"Kalau begitu setidaknya aku mati bersama mereka!"
"Tidak!"
Suara Hana membuat semua orang menoleh.
Matanya masih sembab karena menangis.
"Kami melihatnya..." ucap Hana dengan suara bergetar.
"Kami melihat semuanya..."
Ryosuke menatap Hana.
Hana perlahan menundukkan kepalanya.
"Penduduk desa..."
"...dibantai."
Ucapan itu membuat tubuh Ryosuke seakan kehilangan seluruh tenaganya.
Ia terduduk lemas di atas tanah.
Bayangan desa tempat keluarganya dahulu terbunuh kembali memenuhi pikirannya.
Dulu...
Ia datang terlambat.
Hari ini...
Ia kembali pergi tanpa mampu menyelamatkan siapa pun.
Kedua tangannya perlahan mengepal hingga kukunya menembus telapak tangan sendiri.
"Aku..."
"...gagal lagi."
Lance membiarkan keheningan menyelimuti mereka beberapa saat. Tidak ada satu pun kata yang mampu menghapus rasa sesal yang kini memenuhi hati Ryosuke. Pria itu hanya menatap tanah di hadapannya dengan napas yang mulai tidak teratur. Bayangan para penduduk yang berteriak meminta pertolongan terus berputar di kepalanya, bercampur dengan kenangan ketika desa tempat ia dilahirkan dihancurkan Empire Krusador beberapa bulan sebelumnya.
"Dulu..." suara Ryosuke terdengar pelan.
"Aku tidak bisa menyelamatkan ayah, ibu... dan seluruh penduduk desaku."
Ia mengangkat kepalanya perlahan. Tatapannya kosong.
"Hari ini..."
"...aku kembali membiarkan hal yang sama terjadi."
Tidak ada yang menyela.
Hector hanya memandang sahabatnya itu tanpa mampu menemukan kata-kata yang tepat. Melinda memalingkan wajahnya ke arah lain, sementara Amanda menundukkan kepala sambil menggenggam tongkat kayunya erat-erat.
Lance akhirnya melangkah mendekat.
"Aku mengerti perasaanmu."
Ryosuke tertawa hambar.
"Tidak."
"Kau tidak mengerti."
Lance tidak terpancing.
"Aku memang tidak kehilangan keluargaku seperti dirimu."
"Tapi selama menjadi tentara bayaran, aku sudah melihat banyak desa lenyap dari peta."
"Satu regu..."
"Satu kompi..."
"Bahkan satu batalion..."
"...tidak akan mampu menghentikan puluhan ribu pasukan."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Kalau tadi aku membiarkanmu kembali..."
"...yang bertambah hanyalah jumlah mayat."
Kalimat itu terdengar tajam.
Namun tidak ada kebohongan di dalamnya.
Ryosuke perlahan menutup matanya.
Ia tahu Lance benar.
Tetapi menerima kenyataan jauh lebih sulit daripada sekadar memahaminya.
Hana kemudian duduk di samping Ryosuke.
Dengan suara lembut ia berkata,
"Kalau Kak Ryosuke ikut kembali..."
"...aku juga akan kembali."
Ryosuke menoleh.
Hana tersenyum tipis, tetapi matanya kembali dipenuhi air mata.
"Lalu Hector..."
"Melinda..."
"Amanda..."
"...kami semua pasti ikut."
"Dan akhirnya..."
"...tidak ada seorang pun yang tersisa."
Ryosuke terdiam.
Ucapan Hana membuatnya perlahan menyadari bahwa keputusan yang diambil Lance bukan hanya menyelamatkan dirinya, tetapi juga seluruh anggota Shugo Ryu.
Ia menarik napas panjang.
"Maafkan aku..." bisiknya.
"Aku hampir membawa kalian menuju kematian."
Hector menggeleng pelan.
"Kita satu regu."
"Kalau kau maju, aku juga akan maju."
"Tapi kali ini Lance benar."
Amanda yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara.
"Kalau kita ingin membalas semua ini..."
"...kita harus tetap hidup."
Kalimat sederhana itu membuat suasana kembali hening.
Di atas langit malam, bulan perlahan muncul dari balik awan. Cahayanya menembus celah dedaunan, menerangi wajah-wajah mereka yang dipenuhi kelelahan dan kesedihan.
Tidak ada lagi yang berbicara.
Malam itu mereka beristirahat bergantian tanpa menyalakan api. Lance dan Melinda mengambil giliran pertama berjaga, memastikan tidak ada pasukan Krusador yang bergerak mendekati tempat persembunyian mereka.
Fajar menyingsing perlahan.
Embun masih menempel di dedaunan ketika Lance memberi isyarat agar mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Sepanjang perjalanan menuju barak tentara bayaran, pemandangan yang mereka lihat semakin memperjelas besarnya invasi Empire Krusador.
Jalan-jalan dipenuhi rombongan pengungsi.
Ada yang mendorong gerobak berisi orang tua yang terluka.
Ada yang menggendong anak kecil yang terus menangis memanggil ayahnya.
Sebagian berjalan tanpa membawa apa pun selain pakaian yang melekat di tubuh mereka.
Tidak sedikit pula yang hanya duduk di pinggir jalan dengan tatapan kosong setelah kehilangan rumah dan keluarga.
Setiap kali rombongan itu berpapasan dengan Ryosuke dan yang lain, pertanyaan yang sama selalu terdengar.
"Ke mana kami harus pergi?"
"Apakah masih ada tempat yang aman?"
Tidak seorang pun mampu menjawab.
Menjelang siang, benteng kayu yang mengelilingi barak tentara bayaran akhirnya terlihat di kejauhan.
Para penjaga yang melihat Lance segera membuka gerbang.
"Lance kembali!"
Suara itu membuat beberapa tentara bayaran berlarian mendekat.
Namun senyum mereka segera menghilang ketika melihat wajah rombongan yang dipenuhi debu dan kelelahan.
"Di mana Alfaro?" tanya Lance singkat.
"Di tenda komandan."
Tanpa membuang waktu, mereka langsung menuju tenda utama.
Alfaro Perez yang sedang mempelajari peta segera berdiri begitu melihat Lance memasuki ruangan.
Tatapannya bergantian memandang Lance, Ryosuke, Hana, Hector, Melinda, dan Amanda.
Ekspresinya berubah serius.
"Apa yang terjadi?"
Lance menarik napas panjang.
"Perang telah dimulai."
Kalimat itu membuat seluruh isi tenda mendadak sunyi.
..._BERSAMBUNG _...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉