Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBL13
PERUSAHAAN PROPERTI
“Mas... ayo masuk! Lihat apaan sih di luar?”
“Lihat apaan? Kamu ada-ada saja.”
Romi memaksakan senyum tipis. Dadanya masih berdegup lebih cepat dari biasanya. Bayangan wajah yang baru saja ia lihat terus berputar di kepalanya, tetapi ia berusaha menyingkirkannya sebelum Hannah menangkap sesuatu dari sorot matanya.
“Ya habisnya dari tadi juga aku panggil-panggil nggak nyaut. Lihat apaan sih sebenarnya? Cewek ya?” tebak Hannah.
“Sembarangan!” Seru Romi cepat. Sebenarnya Hannah asal ucap, sekenanya saja, siapa sangka ekspresi sang suami justru membuatnya bertanya-tanya.
“Beneran kamu lihat cewek tadi?”
Hamnah buru-buru memajukan wajahnya ke arah kaca depan mobil. Namun nihil, tidak ada siapa pun di sana.
“Kamu ngapain sih, Na? Ayo cepat pasang safety belt-nya. Mobilnya nggak bisa jalan kalau kamu belum pakai.”
Setelah duduk dengan benar dan memasang safety belt, akhirnya mereka keluar dari pelataran supermarket.
“Jujur deh mas, tadi kamu lihat apa waktu di dalam supermarket juga di parkiran?” tanya Hannah penasaran.
“Sebenarnya bukan buah kan yang kamu perhatiin tadi?” sambung Hannah ketika mobil yang dikendarai sang suami berhenti di depan lampu lalu lintas.
Romi menoleh sebentar sebelum kembali melajukan mobilnya.
“Enggak usah aneh-aneh, Na pertanyaannya. Pusing sendiri loh kamu nantinya,” balas pria itu.
“Habisnya kamu sih ngelamun terus dari tadi? Sebenarnya apa sih yang kamu lamuni dari tadi? Perasaanku dari tadi kamu melamun terus.” Bibir Hannah mencebik kesal saat sang suami tak ada niatan untuk menjelaskan atau sekedar menampik prasangkanya.
Hannah menggeleng pelan pada pikirannya sendiri. Mungkin benar kata Romi. Sejak kejadian kartu nama itu, ia memang jadi lebih mudah memikirkan yang tidak-tidak. Berkali-kali ia mencoba mengusir semua prasangka itu, tetapi tetap saja gagal.
Dan benar saja seperti yang dikatakan sang suami jika dirinya pasti akan pusing sendiri. Terbukti dengan Romi, suaminya itu sudah terlelap lebih dulu setelah membantu Hannah menata barang belanjaan di lemari penyimpanan.
“Huft!”
Hannah menghembuskan napas panjang sebelum bergabung tidur dalam pelukan sang suami.
Pagi hari…
“Na, kayaknya entar malam aku pulang telat. Tadi Gunawan nge-chat kalau ada meeting sama perusahan properti dari luar kota. Gak lama sih harusnya, tapi buat jaga-jaga aku izin telat pulang ya.”
Gerakan Hannah yang sedang menyusun peralatan makan diatas meja seketika berhenti sesaat ketika mendengar kata ‘properti’, namun itu tak berlangsung lama sebab Hannah dengan cepat mengembalikan kesadarannya dan kembali menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda tadi. Terlebih waktu sudah menunjukkan kurang 20 menit mereka sudah harus berangkat bekerja guna menghindari kemacetan.
“Iya, Mas,” balas Hannah disertai helaan napas. Suasana pagi yang cukup sunyi mampu membuat pria 36 tahun itu mendengar helaan napas sang istri.
“Kamu kenapa? Berat banget napasnya, mana kayak lemes lagi? Kamu sakit?”
“Gak apa-apa, Mas. Cuma kurang tidur, kayaknya karena itu deh badan jadi lemes,” jawab Hannah sekenanya.
“Pulang kantor nanti aku beliin vitamin booster biar badan fit terus. Kamu gak boleh capek, bentar lagi mau dinas luar kan?”
Mendengar perkataan suaminya membuat moodnya sedikit lebih baik. Dalam hati wanita itu terus menyakinkan dirinya jika tak ada yang perlu ia khawatirkan.
Ayolah, Na. Apa yang kamu pikirkan? Lihatlah Romi, suamimu itu bersikap seperti biasa. Jadi nggak ada yang perlu kamu khawatirkan. Soal properti? Halo, Na. Di dunia ini memang hanya Dia yang bekerja di bidang properti? Belum tentu juga perusahaan yang akan meeting dengan suamimu perusahaan tempat perempuan itu bekerja.
Kembali Hannah menghembuskan napasnya. Kali ini sedikit lebih panjang dan berat. Seolah sedang melepaskan sesuatu yang berat dari dalam tubuhnya.
Tanpa Hannah sadari, Romi pun tengah bergulat dengan kecemasannya sendiri. Meeting bersama perusahaan properti beberapa jam lagi membuatnya harap-harap cemas. Entah harus senang atau takut. Ia tak berani berekspektasi apa pun.
“Beneran bisa bawa mobil kan?” tanya Romi ketika akan berpisah dengan sang istri.
Hari ini ia dan Hannah tidak pergi bersama. Kegiatannya dan Hannah cukup padat hari ini jadi mereka memutuskan untuk membawa mobil masing-masing guna mengefisienkan waktu mereka dalam bekerja.
“In syaa Allah, Mas. Kalau begitu aku duluan ya?”
“Hati-hati, kalau nggak kuat nyetir langsung hubungi aku ya?” Pesan Romi pada sang istri sebelum istrinya itu meninggalkan rumah mereka.
“Siap.” Seru Hannah menjawab.
Beberapa menit kemudian…
“Mbak Na!” Panggil seseorang ketika Hannah hendak masuk ke dalam lift.
“Eh kamu, kirain siapa?”
“Kenapa Mbak? Kok lesu gitu? Aku tebak, Mbak pasti sudah tahu kalau jadwal kita dinas lapangan dimajukan, iya kan? Makanya Mbak lemes gitu.”
Kening Hannah mengkerut mendengarnya.
“Tunggu, tunggu.. Mbak Hannah belum tahu ya soal itu?” Tebaknya lagi dan kali ini langsung direspon Hannah dengan anggukan kepala.
“Kenapa di majuin? Kan Jadwalnya pekan depan?” Setelah cukup lama terdiam akhirnya wanita itu buka suara.
“Gak tahu Mbak, tapi yang aku dengar sih karena akan ada lagi proyek baru jadi proyek yang sedang berjalan mau cepat-cepat diselesaikan.”
Tak salah Hannah memilih Luna menjadi partnernya kala itu. Ia sungguh gesit jika sudah berurusan dengan kabar berita.
“Loh, mau kemana lagi Mbak?” tanya Luna ketika melihat sang atasan menekan tombol GF.
“Aku mau ke bawah sebentar. Kamu langsung siapin berkas dan antar ke bagian keuangan kalau begitu ya. Eh, jangan deh. Aku belum sempat ngecek detail laporannya.”
“Mbak ada masalah ya?” tanya Luna penasaran. Pasalnya baru kali ini ia melihat sang bos terlihat linglung.
Mendengar helaan napas sang atasan semakin membuat Luna yakin jika wanita serba bisa itu pasti sedang memiliki masalah pelik.
“Santai aja, Mbak, kayak baru kali ini aja Mbak ke luar negeri?”
“Apa? Luar negeri? Bukannya itu masuk agenda bulan depan ya?” Setahu Hannah jadwal lapangan ke luar negeri itu baru bulan depan.
“Lah? Mbak Hannah yang paling cantik dan serba bisa ini gimana sih, kok jadi kagetan gini?” Heran Luna dengan sikap tiba-tiba sang atasan.
“Nggak jadi keluar, Mbak? Kirain mau ngambil barang di mobil? ” tanya Luna ketika sang atasan tak jadi turun.
“Entar aja sekalian. Yuk masuk, tim yang lain pasti sudah nunggu.”
“Iya Mbak, yuk!”
Luna pun mengikuti langkah kaki sang atasan menuju ruangan mereka di lantai 12 itu.
“Ssstt! Mbak Hannah beneran ada masalah ya? Kok dari tadi gak fokus?” Luna sedikit berbisik ketika departemen lain sedang mempresentasikan pekerjaan mereka.
“Gak ada.” Elak Hannah.
“Serius? Kalau ada juga pasti aku bantu kalau memang Mbak butuh bantuan.”
“Gak ada Luna. Tapi terima kasih atas perhatianmu. Lagipula manusiawi kali manusia punya masalah. Kalau gak mau ada masalah ya mati aja.” Kelakar Hannah.
“Iya juga sih.” Luna mengangguk tanda setuju dengan pernyataan Hannah barusan.
Setelah menyelesaikan rapat terakhir sebelum keberangkatan Hannah dan tim pemasaran, mereka melakukan syukuran kecil-kecilan dengan makan siang bersama di ruangan yang sama tadi mereka rapat.
“Sukses untuk Mbak Hannah dan tim! Semoga semua urusan kalian disana dimudahkan dan pulang bawa proyek baru lagi. Aamiin,” seru salah satu tim pemasaran yang ada disana.
Tawa mereka yang ada disana seketika pecah seketika setelah mengaminkan secara bersamaan doa yang dipanjatkan oleh Rendi.
Hannah tersenyum lebar dan sedikit tergelak melihat kelucuan rekan kerjanya itu.
Ya, ia cukup terhibur siang ini walau sang suami, Romi belum membalas pesannya sedari pagi.
Ponselnya kembali ia buka. Tidak ada balasan dari Romi.
Hannah mencoba tersenyum.
"Mungkin masih meeting..."
Entah kenapa, kali ini kalimat itu justru gagal menenangkan dirinya. Semakin ia mencoba berpikir positif, semakin sulit ia mengabaikan kegelisahan yang kembali mengusik pikirannya.
Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.
Ditunggu semua komenannya.
Love sekeboon buat kalian💐