NovelToon NovelToon
Cinta Tulus Sang Penguasa

Cinta Tulus Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Risnawati

Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berdoa bersama

Sejak mengunci diri di kamar, Annisa tidak keluar selama berjam‑jam. Ia duduk bersandar di sisi tempat tidur, menangis dalam diam sambil memegang perutnya yang mulai terasa membesar. Di satu sisi ia mengerti alasan Chensi yang ingin melindungi, tapi di sisi lain hatinya terasa perih karena tidak bisa mendampingi ibu yang sedang menghadapi momen berbahaya itu.

Beberapa kali Chensi datang mengetuk pintu, memanggilnya dengan nada yang semakin lembut, namun Annisa tetap tidak menjawab. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri dan menerima kenyataan.

Menjelang sore, suara ketukan terdengar lagi, namun kali ini disertai suara yang lebih lembut dan penuh penyesalan.

“Annisa… tolong bukakan pintunya sebentar. Aku ingin bicara baik‑baik, tidak akan memaksamu apa pun,” panggil Chensi dari luar.

Setelah ragu sejenak, akhirnya Annisa bangkit dan membuka pintu sedikit, hanya menampakkan separuh wajahnya yang masih tampak bengkak karena menangis.

“Aku tahu kau kecewa, dan aku mengerti rasanya ingin ada di sisi orang yang kita cintai saat dia butuh,” ucap Chensi segera, matanya menatap dengan pandangan tulus. “Tapi percayalah, larangan ini bukan untuk menyakiti hatimu. Dokter tegas melarangmu bepergian jauh karena tekanan emosi dan perjalanan yang melelahkan bisa membahayakan janin. Jika terjadi apa‑apa denganmu atau anak kita, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri.”

Annisa menunduk, air matanya kembali menetes. “Saya mengerti, Tuan… tapi rasanya tidak enak. Saya hanya bisa menunggu di sini, tidak bisa berbuat apa‑apa selain berdoa.”

“Kau bisa berbicara dengan mereka setiap hari, kapan saja kau mau. Aku sudah pasang sambungan telepon langsung ke kamar Ibumu agar kau bisa menghubunginya kapan pun tanpa biaya,” jawab Chensi lembut.

Malam itu juga, Annisa segera menelepon Anna, lalu meminta berbicara dengan ibunya. Suara Bu Sari terdengar lemah namun masih jelas.

“Kakak, kenapa tidak bisa datang ke sini? Ibu rindu ingin melihat wajahmu,” tanya Bu Sari dengan nada sedih.

Annisa menahan isak tangis, lalu menjawab dengan nada ceria pura‑pura. “Maafkan Kakak, Bu. Saat ini pekerjaan Kakak sedang sangat padat dan tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Majikan Kakak sangat baik, tapi aturannya juga ketat sekali. Kakak tidak bisa mengambil cuti mendadak. Tapi Kakak selalu memikirkan Ibu, dan berdoa setiap saat agar Ibu segera sembuh.”

“Tidak apa‑apa, Nak. Ibu mengerti,” jawab Bu Sari lembut. “Sampaikan terima kasih yang sebesar‑besarnya pada Tuan Chensi ya. Tanpa bantuannya, Ibu mungkin sudah tidak bisa bertahan sampai hari ini. Dia sangat baik sekali pada kita, orang asing saja mau menolong sebegitu rupa.”

Annisa hanya bisa menjawab dengan anggukan dan ucapan terima kasih, hatinya terasa semakin berat karena tidak bisa menceritakan kenyataan yang sebenarnya.

Setelah telepon ditutup, suasana kembali hening. Chensi yang melihat gadis itu masih terlihat murung, tiba‑tiba memiliki ide kecil. Ia berjalan ke dapur, meminta bantuan koki untuk menyiapkan bahan‑bahan yang sama seperti yang dibeli hari itu, lalu mencoba meraciknya sendiri. Ia ingat betapa rujak itu selalu membuat Annisa merasa lebih tenang dan mengingat kampung halamannya.

Dengan tangan yang tidak terbiasa mengupas dan memotong sayuran, Chensi berusaha sekuat tenaga. Potongannya tidak rapi, ada yang terlalu tebal, ada yang terlalu tipis, bahkan jari‑jarinya sempat tergores sedikit. Namun saat mencicipi bumbunya, ia memastikan rasanya sudah pas—asam, manis, dan sedikit pedas sesuai selera Annisa.

Setelah selesai, ia membawanya ke kamar Annisa dengan nampan kayu.

“Coba lihat… aku mencoba membuatnya sendiri,” ucapnya sambil meletakkan piring di meja kecil.

Annisa menoleh, lalu matanya terbelalak melihat piring berisi rujak yang bentuknya agak berantakan, tapi aromanya tercium harum dan menggugah selera.

“Ini… Tuan yang membuatnya sendiri?” tanyanya tak percaya.

Chensi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, terlihat sedikit canggung. “Bentuknya memang tidak sebagus buatanmu, tapi aku sudah memastikan rasanya sama persis. Makanlah sedikit, siapa tahu bisa membuat suasana hatimu lebih baik. Maafkan aku lagi jika perkataanku tadi terasa menyakitkan.”

Annisa menatapnya lama, melihat bekas luka kecil di ujung jari Chensi, dan rasa kesal di hatinya perlahan luluh. Ia menyadari bahwa di balik sikap keras dan kaku lelaki itu, tersimpan usaha yang tulus untuk menenangkan hatinya.

“Terima kasih, Tuan…” ucapnya lirih, lalu mengambil sendok dan mencicipinya. Rasanya memang enak, meski bentuknya tidak sempurna. Setiap suapan terasa membawa kehangatan yang berbeda.

Chensi menghela nafas lega saat Annisa menyukai rujak buatan dari tangannya sendiri. Wanita hamil itu sudah mulai tersenyum lagi.

Hari yang ditunggu-tunggu sekaligus mencemaskan akhirnya tiba. Pagi itu, langit di luar masih diselimuti kabut tipis, namun di dalam kediaman Chensi suasana terasa tegang. Operasi pencangkokan ginjal Bu Sari akan dimulai dalam waktu beberapa jam lagi, dan kabar terbaru menyebutkan bahwa semuanya sudah siap di rumah sakit.

Chensi baru saja selesai menerima laporan terbaru dari asistennya. Ia hendak kembali ke kamar utama untuk menemani Annisa menunggu kabar, namun begitu membuka pintu, ia mendapati kamar itu kosong. Tempat tidur masih rapi, barang-barang Annisa tetap ada di tempatnya, namun gadis itu sendiri tidak terlihat di mana pun.

“Annisa?” panggilnya pelan, tidak mendapat jawaban.

Rasa cemas segera menyelimuti hatinya. Ia keluar kamar dan mulai bertanya pada setiap pelayan yang ia temui.

“Apakah kalian melihat Nyonya Annisa ke mana?” tanyanya dengan nada yang mulai tergesa.

Semua pelayan menggeleng serempak. “Tidak, Tuan. Kami tidak melihatnya keluar dari rumah ini.”

Chensi mulai melangkah lebih cepat, hendak memeriksa setiap sudut rumah, hingga seorang pelayan tua yang sudah lama bekerja di sana maju mendekat dengan hati-hati.

“Maaf, Tuan… tadi saya lewat di belakang, dan melihat Nyonya Annisa masuk ke ruang cuci dan penyimpanan perlengkapan di bagian belakang. Dia bilang ingin mencari tempat yang sepi sebentar,” ucapnya pelan.

Tanpa membuang waktu, Chensi segera berjalan menuju bagian belakang rumah. Ruangan itu biasanya sepi, jarang orang lewat, dan hanya digunakan untuk menyimpan barang atau mencuci pakaian. Begitu ia sampai di depan pintu yang setengah tertutup, langkah kakinya terhenti seketika.

Ia tidak membuka pintu itu langsung. Dari balik celah pintu, terdengar suara lirih namun jelas, penuh ketenangan dan kerendahan hati—suara Annisa yang sedang berdoa dengan sangat khusyuk.

“Ya Allah… hamba memohon kepada‑Mu. Jagalah Ibu hamba saat ia berada di bawah pisau bedah. Berikanlah kekuatan pada tubuhnya, berikanlah kelancaran pada tangan dokter yang mengobatinya. Hilangkanlah rasa takut dan sakit yang ia rasakan, gantikanlah dengan rasa tenang dan harapan.”

Suaranya bergetar, diselingi isak tangis yang ditahan sekuat tenaga.

“Ya Allah… hamba tahu hamba banyak kekurangan. Hamba terjebak dalam situasi yang membingungkan, antara menjaga keyakinan hamba dan memikirkan nasib anak yang hamba kandung. Hamba bingung, ragu, dan sering kali merasa takut akan masa depan. Namun kali ini, hamba hanya memohon satu hal—selamatkanlah nyawa Ibu hamba. Jadikanlah bantuan yang diberikan Tuan Chensi ini sebagai jalan kebaikan yang Engkau ridhai, dan jangan jadikan ia sebagai jalan yang membuat hamba tergelincir dari jalan yang Engkau ajarkan.”

Chensi berdiri terpaku di sana, tidak berani bergerak sedikit pun. Setiap kata yang didengarnya menusuk hatinya dengan lembut. Ia baru menyadari betapa berat beban yang dipikul gadis itu sendirian—bukan hanya soal kesehatan ibunya, tapi juga perjuangan batinnya yang terus berusaha memegang teguh apa yang ia yakini, meski di tengah situasi yang sulit.

Ia mendengar Annisa melanjutkan doanya dengan lebih lirih, seolah membisikkan ke dalam hati yang paling dalam.

“Jika ini memang jalan yang Engkau berikan, maka berikanlah hamba petunjuk. Berikanlah jalan yang jelas untuk kebaikan semua, agar hamba tidak terus hidup dalam keraguan. Lindungilah juga anak yang ada di dalam kandungan hamba, dan berikanlah ketenangan hati bagi lelaki yang kini berusaha menjaga hamba… meskipun kami memiliki jalan yang berbeda.”

Air mata Chensi perlahan menggenang di sudut matanya. Ia merasa tersentuh sekaligus terharu. Selama ini ia melihat Annisa hanya sebagai wanita yang pendiam, patuh, dan kadang keras kepala. Namun di balik itu, ia memiliki hati yang begitu kuat, teguh pada prinsipnya, dan tetap berdoa untuk kebaikan semua orang di sekitarnya.

Setelah beberapa menit yang terasa lama, doa itu berakhir dengan salam panjang. Chensi baru berani mengetuk pintu pelan, lalu membukanya perlahan.

Annisa terkejut, segera menyeka sisa air matanya dan berdiri tegak dengan mukena yang masih ia kenakan. “Tuan… kapan Tuan datang ke sini?”

Chensi melangkah masuk dengan langkah lembut, lalu berdiri di hadapannya. Ia tidak menanyainya dengan nada curiga, melainkan menatapnya dengan pandangan yang jauh lebih dalam dan penuh pengertian.

“Sudah dari tadi… aku mendengar semuanya,” ucapnya pelan. “Maafkan aku jika mendengarkan tanpa izin. Tapi aku ingin kau tahu satu hal. Doamu itu didengar. Dan aku berjanji… aku akan berusaha sekuat tenaga agar jalan yang kita tempuh ini tidak melanggar apa yang kau yakini. Aku tidak akan memaksamu, dan aku akan mencari cara terbaik agar tidak ada lagi keraguan yang menyiksa hatimu.”

Annisa menatapnya, terkejut sekaligus merasa lega. Ia tidak marah karena didengar, justru merasa beban di dadanya sedikit terangkat.

“Terima kasih, Tuan… saya hanya tidak tahu harus bercerita pada siapa lagi selain pada Tuhan,” jawabnya lirih.

Chensi mengangguk, lalu mengulurkan tangannya dengan lembut. “Mulai sekarang, ceritakan juga padaku. Kita hadapi semuanya bersama-sama. Sekarang mari kita kembali ke ruang tengah, menunggu kabar dari rumah sakit. Aku yakin, semuanya akan berjalan lancar sesuai harapan.”

Mereka berjalan berdampingan keluar dari ruangan itu, dengan hati yang sama-sama lebih tenang dan membawa harapan baru.

1
Kasih Bonda
next Thor semangat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Jalanilah hubungan kalian berdua seperti ini dulu, sambil terus berdoa suatu saat jika Tuhan sudah berkehendak kalian untuk bersatu selamanya.
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Chensi saat ini mulai tertarik untuk mempelajarinya, siapa tahu suatu saat nanti atas ijin Yang Maha Kuasa Chensi tidak hanya mempelajari saja namun juga memperdalam ilmunya serta meyakini apa yang sudah ditegaskan di dalam setiap ayat-ayatnya.
Naufal Affiq
semoga chensi mendapat hidayah
Naufal Affiq
bagus chensi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
lanjut kak dewi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
seiring berjalannya waktu semoga hubungan kalian.bisa menemukan jalan yang baik
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
asingkan aliin keluar pulau terpencil biar tidak bisa balik lagi 🙄
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
chensi mana mau dengar wong calon cucu sendiri mau di lenyapkan
Naufal Affiq
bagus chensi,buat mereka jera seumur hidup
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Rukun-rukun ya kalian berdua 🥰👍
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
hukuman yg pantas buat kalian bertiga mk nya mikir sebelum bertindak
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
memang pengawal bodo hrsnya konfirmasi dl sm tuanmu , trima sj hukumnya nya skrg
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Akhirnya Aulin menerima hukuman dari Chensi, semoga saja dia benar-benar tak akan mengganggu kehidupan Annisa di kemudian hari 👍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
kasiann Annisa semoga dia tidak apa apa dan Chensi cepat datang menolong 😟😟
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
bego banget penjaganya mudah percaya ditambah iming iming uang lagi harusnya konfirmasi sendiri sama Chensi mengenai kedatangan Ailin🤧😤
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
huaa senangnya mendengar pengakuan kalian sekarang jangan galau lagi Annisa nanti Chansi pasti pulang
Naufal Affiq
chensi cepat pulang,annisa di bawa ailin pergi dari rumah mu,alasan kau yang menyuruhnya.tolong annisa vhensi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!