Tiga tahun lalu, Lin Tian adalah jenius nomor satu di Kota Daun Merah sebelum takdir menghancurkan seluruh meridiannya. Menjadi sampah yang diinjak-injak semua orang tidak membuat pemuda ini menyerah pada nasib buruknya.
Keberuntungan berubah saat darahnya membangkitkan Mutiara Yin-Yang Primordial, pusaka kuno yang menyimpan jiwa Permaisuri Iblis seksi bernama Yue Chan. Di bawah bimbingan sang permaisuri, Lin Tian memulai jalan kultivasi ekstrem melalui pembantaian dan kultivasi ganda.
Dia bukan pahlawan suci, melainkan kultivator bermuka tebal yang sangat realistis. Jika musuh terlalu kuat, dia akan melarikan diri, menyebarkan racun, atau menikam dari belakang.
Namun, siapa pun yang berani menyentuh wanitanya akan menghadapi pembalasan paling kejam. Saksikan kisah Lin Tian menghancurkan surga dan menjadi penguasa tertinggi alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Pelatihan Neraka
Lin Tian berlari secepat kilat melewati gang-gang sempit untuk kembali ke halaman kecilnya yang sunyi. Langkah kakinya sangat ringan dan hampir tidak mengeluarkan suara sama sekali di atas permukaan tanah berdebu.
Sesampainya di depan pintu rumah, dia melihat Su-er yang sedang berdiri dengan cemas sambil meremas kedua ujung pelayan sutranya. Gadis itu langsung menyambutnya dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh ribuan pertanyaan tentang apa yang terjadi di aula utama.
“Tuan Muda, apakah semuanya berjalan dengan lancar di aula pusat?” tanya Su-er dengan nada suara yang bergetar karena rasa khawatir yang sangat mendalam.
Lin Tian tidak langsung menjawab melainkan hanya memberikan seulas senyuman lebar yang terlihat sangat konyol dan tanpa beban. Dia segera menarik tangan halus pelayannya itu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kayu dengan rapat.
“Su-er, ambil beberapa pakaian penting milikmu dan bersiaplah untuk segera pindah ke kediaman inti milik kakek,” ucap Lin Tian dengan nada yang sangat serius namun tetap terdengar tenang.
Su-er terkejut melihat perubahan sikap tuan mudanya yang begitu mendadak dan memancarkan aura ketegasan yang tidak bisa dibantah. “Tuan Muda, apakah situasi di aula utama menjadi sangat buruk hingga kita harus melarikan diri?”
Lin Tian tertawa kecil sambil mengemas beberapa keping batu spiritual hasil rampasan dari Lin Biao ke dalam kantong kainnya. “Aku baru saja menceraikan Liu Meng-er dengan surat berdarah dan membuat tetua sekte itu memakan asap kentut buatanku.”
“Orang-orang tua bangka itu pasti sedang menggila saat ini, jadi kota ini tidak akan aman lagi untukku selama beberapa minggu ke depan,” lanjut Lin Tian dengan wajah bermuka tebal tanpa ada rasa penyesalan sedikit pun.
Su-er menutup mulut kecilnya dengan kedua tangan karena merasa sangat tidak percaya dengan kegilaan yang baru saja dilakukan oleh tuan mudanya. Namun, sebagai seorang pelayan yang cerdas, dia tahu bahwa kakek Lin Tian yang merupakan Patriark klan akan menjadi perlindungan terbaik baginya di dalam kota.
“Saya mengerti, Tuan Muda, saya akan segera pergi ke tempat Patriark melalui jalur belakang agar tidak menarik perhatian mata-mata Tetua Pertama,” ucap Su-er dengan penuh kepatuhan yang luar biasa.
Lin Tian mengelus pipi halus Su-er dengan lembut sebelum gadis itu melangkah pergi meninggalkan area halaman belakang yang sepi. “Tetaplah berada di sisi kakek dan jangan pernah keluar dari area inti klan sampai aku kembali membawa kekuatan yang baru.”
Setelah memastikan keselamatan Su-er terjamin di bawah perlindungan perlindungan kakeknya, Lin Tian segera bergerak memutari dinding belakang kediaman klan. Dia melompat melewati pagar batu yang tinggi dan langsung mengarah ke luar gerbang perbatasan Kota Daun Merah dengan kecepatan penuh.
Tujuannya saat ini adalah Hutan Binatang Buas, sebuah wilayah hutan belantara kuno yang terletak sekitar dua puluh mil di bagian utara kota. Tempat itu terkenal sebagai wilayah yang sangat mematikan karena dipenuhi oleh berbagai macam siluman dan binatang buas yang haus darah.
Bagi kultivator biasa tingkat rendah, memasuki hutan tersebut sama saja dengan mengantarkan nyawa secara sukarela ke dalam mulut harimau. Namun, bagi Lin Tian yang memiliki Seni Iblis Penelan Surga, tempat penuh pertumpahan darah itu adalah surga pelatihan yang paling ideal untuk meningkatkan kultivasinya.
Matahari mulai meninggi di ufuk langit saat Lin Tian akhirnya tiba di area luar dari perbatasan Hutan Binatang Buas yang sangat luas. Udara di sekitar tempat ini terasa sangat lembap dan dipenuhi oleh aroma lumut tua serta bau samar darah yang terbawa oleh embusan angin.
Pohon-pohon pinus hitam berukuran raksasa tumbuh dengan sangat rapat, membuat sinar matahari pagi hampir tidak mampu menembus ke permukaan tanah. Lumut hijau tebal menutupi sebagian besar batuan purba, menciptakan kesan mistis sekaligus mencekam bagi siapa saja yang memandangnya.
Lin Tian melangkah masuk ke dalam area hutan dengan langkah kaki yang penuh dengan kalkulasi strategis yang sangat matang. Indra tajam miliknya segera diaktifkan secara maksimal untuk mendeteksi setiap pergerakan sekecil apa pun di balik semak-semak belukar yang berduri.
‘Bocah, wilayah luar ini hanya dihuni oleh binatang buas tingkat rendah yang energinya sangat encer dan tidak terlalu berguna,’ suara sinis Permaisuri Iblis Yue Chan kembali menggema di dalam kesadaran jiwa Lin Tian.
Lin Tian mendengus kecil di dalam hatinya sambil terus melangkah lebih dalam melewati akar-akar pohon yang saling melilit laksana ular raksasa. ‘Yue Chan, untuk saat ini aku harus bersikap realistis karena tubuh fisiku masih terlalu rapuh untuk menghadapi siluman tingkat tinggi.’
Tiba-tiba, telinga Lin Tian menangkap suara gesekan dedaunan kering yang cukup halus dari arah semak-semak yang berada di sebelah kanan depannya. Langkah kakinya langsung terhenti seketika, dan seluruh otot di tubuh tegapnya menegang dalam posisi siap untuk melakukan serangan balik.
Dari balik bayang-bayang pohon pinus yang gelap, sepasang mata berwarna merah menyala tampak mengunci posisi berdiri Lin Tian dengan sangat pekat. Seekor Serigala Iblis Cakar Besi perlahan-lahan keluar dari tempat persembunyiannya sambil mengeluarkan suara geraman yang sangat rendah.
Binatang buas ini memiliki ukuran tubuh sebesar anak sapi dengan bulu hitam pekat yang tampak keras menyerupai lapisan jarum baja. Sepasang cakar depannya terlihat berkilau dengan warna keperakan yang sangat tajam, mampu merobek baju zirah besi dengan sekali ayunan.
Serigala tersebut berada di tingkat kedua ranah pengumpulan Qi, sebuah level yang biasanya membutuhkan tiga orang kultivator biasa untuk bisa menjatuhkannya. Namun, di mata Lin Tian, makhluk berbulu hitam di depannya ini hanyalah sebuah gumpalan nutrisi berjalan yang siap untuk diserap.
Tanpa memberikan peringatan apa pun, Serigala Iblis itu langsung melompat maju ke depan dengan kecepatan yang sangat luar biasa tinggi. Angin sapuan cakarnya menciptakan suara siulan yang tajam di udara, mengarah tepat ke arah tenggorokan Lin Tian yang terbuka.
Lin Tian tidak menunjukkan rasa panik sedikit pun menghadapi serangan mendadak yang mengincar bagian vital dari tubuhnya tersebut. Dia merendahkan posisi tubuhnya dengan sangat fleksibel, membiarkan cakar besi serigala itu lewat hanya beberapa inci di atas rambut hitamnya.
Pada saat yang bersamaan, Lin Tian mengepalkan tangan kanannya dan melapisi permukaan kulitnya dengan aliran energi iblis berwarna merah tua yang redup. Dia melayangkan sebuah pukulan lurus ke arah bagian perut serigala yang sedang melayang bebas di udara tanpa pertahanan.
Duak!
Hantaman keras dari tinju mentah Lin Tian mendarat dengan sangat akurat tepat di atas jaringan rusuk bagian bawah dari binatang buas tersebut. Kekuatan fisik brutal dari Tubuh Iblis Awal membuat pukulan itu mampu menghasilkan daya hancur yang sangat masif.
Suara retakan tulang yang sangat renyah langsung terdengar jelas mengiringi tubuh besar serigala itu yang terpental sejauh tiga meter ke samping. Makhluk itu menghantam batang pohon pinus dengan keras sebelum akhirnya jatuh terkapar di atas tanah berlumut dengan mulut memuntahkan darah segar.
Meskipun menderita luka dalam yang cukup parah, naluri liar dari Serigala Iblis itu membuatnya kembali bangkit berdiri dengan mata yang semakin memerah. Makhluk itu kembali mengaum keras dan mencoba menerjang kaki Lin Tian dengan menggunakan sisa-sisa kekuatan terakhirnya.
Lin Tian tersenyum kejam melihat kegigihan dari mangsa pertamanya di dalam hutan belantara yang sangat kejam ini. Dia melangkah maju dengan satu gerakan cepat, menghindari terkaman mulut serigala lalu menangkap bagian leher belakang makhluk tersebut dengan tangan kirinya.
Dengan menggunakan cengkeraman jarinya yang sekeras catut besi kuno, Lin Tian menekan tubuh serigala itu ke atas permukaan tanah batu yang keras. Tangan kanannya segera bergerak mencengkeram rahang bawah makhluk itu lalu memutarnya dengan satu sentakan kuat yang sangat bertenaga.
Krak!
Leher Serigala Iblis Cakar Besi itu langsung patah sepenuhnya, dan seluruh sisa kehidupan di dalam matanya yang merah seketika padam menjadi gelap. Lin Tian menarik napas panjang untuk menstabilkan aliran energinya yang sempat bergejolak akibat pertarungan singkat tersebut.
Tanpa membuang waktu, Lin Tian segera menempelkan kedua telapak tangannya di atas luka robek pada leher serigala yang masih mengalirkan darah hangat. Dia mulai mengaktifkan mantra Seni Iblis Penelan Surga yang berada di dalam pusat kesadaran spiritual jiwanya.
Pusaran energi berwarna hitam pekat mulai berputar dengan sangat rakus di dalam dantian Lin Tian, menciptakan daya hisap yang sangat kuat melalui pori-pori kulitnya. Esensi darah dan sisa energi spiritual yang berada di dalam tubuh serigala itu langsung mengalir masuk ke dalam tubuh Lin Tian laksana aliran air sungai.
Lin Tian merasa seolah-olah ada cairan hangat yang sangat membakar mengalir melewati jalur-jalur meridian barunya dengan sangat cepat. Proses penyerapan ini berlangsung selama beberapa menit hingga tubuh besar serigala itu perlahan-lahan mengering menjadi seonggok mumi tanpa darah.
‘Luar biasa, efisiensi dari teknik ini benar-benar sangat mengerikan untuk mempercepat akumulasi energi dalam tubuh,’ batin Lin Tian dengan kegembiraan yang meluap-luap. Kultivasinya yang berada di tingkat ketiga ranah pengumpulan Qi terasa menjadi semakin padat dan mendekati batas pembatas tingkat berikutnya.
Namun, pelatihan neraka yang sesungguhnya baru saja dimulai bagi pemuda bermuka tebal yang sedang haus akan kekuatan ini. Bau darah segar dari bangkai serigala yang baru saja dibunuhnya ternyata mengundang kedatangan predator lain dari wilayah dalam hutan.
Dari balik kegelapan semak-semak belukar yang lebih dalam, suara lolongan serigala yang saling bersahutan mulai terdengar menggema dengan sangat mengerikan. Tidak hanya satu atau dua ekor, melainkan ada sekitar belasan pasang mata merah menyala yang kini mulai mengepung posisi berdiri Lin Tian.
Lin Tian melihat sekelilingnya dan menyadari bahwa dia telah dikepung oleh satu kawanan penuh dari Serigala Iblis Cakar Besi yang sedang kelaparan. Sifat konyol dan lucunya seketika menguap, digantikan oleh kalkulasi realistis yang sangat dingin untuk menghadapi situasi hidup dan mati ini.
“Wah, tampaknya hari ini aku mengundang seluruh anggota keluarga besar mereka untuk makan siang bersama,” ucap Lin Tian dengan nada bergurau yang dipenuhi kelicikan.
Kawanan serigala itu tidak memberikan kesempatan bagi Lin Tian untuk memikirkan strategi pelarian lebih jauh lagi dari area kepungan tersebut. Tiga ekor serigala berukuran paling besar langsung melompat maju secara bersamaan dari tiga arah yang berbeda untuk merobek tubuh tegap pemuda itu.
Lin Tian bergerak laksana bayangan hantu di bawah panduan indra spiritualnya yang sangat tajam menghadapi keroyokan massal dari binatang buas tersebut. Dia tidak lagi menggunakan teknik menghindar yang bersih, melainkan mulai membiasakan diri dengan pertumpahan darah yang sangat kotor dan brutal.
Pukulan, tendangan, dan sundulan kepala digunakan oleh Lin Tian secara realistis untuk mematahkan setiap bagian tubuh dari serigala yang mendekatinya. Dia membiarkan beberapa cakar serigala menggores kulit bahunya demi mendapatkan posisi yang tepat untuk menghancurkan tengkorak kepala musuhnya.
Darah segar berwarna merah tua bercampur dengan darah hitam makhluk siluman mulai membasahi seluruh permukaan jubah kain kasar yang dikenakan oleh Lin Tian. Setiap kali ada serigala yang tewas di bawah tangannya, Lin Tian langsung menyerap esensi darahnya dalam hitungan detik untuk memulihkan staminanya yang terkuras.
Pertarungan brutal massal itu berlangsung selama hampir satu jam di tengah keheningan hutan pinus yang kini telah berubah menjadi ladang pembantaian kecil. Ketika serigala terakhir akhirnya jatuh dengan kepala hancur terinjak, Lin Tian langsung terduduk di atas tumpukan bangkai dengan napas yang memburu sangat hebat.
Seluruh tubuhnya kini dipenuhi oleh belasan luka robek akibat gigitan dan sayatan cakar besi dari kawanan serigala yang mengeroyoknya tadi. Rasa sakit yang sangat perih mulai menyerang kesadarannya, namun Lin Tian justru tertawa lebar dengan raut wajah yang tampak sangat sadis dan puas.
Dia bisa merasakan bahwa dinding pembatas di dalam dantian miliknya kembali bergetar hebat, menandakan kemajuan kultivasi yang sangat signifikan dari hasil pembantaian ini. Sifat adaptasi dari Tubuh Iblis membuat luka-luka di permukaan kulitnya mulai menutup secara perlahan-lahan di bawah pengaruh energi spiritual yang diserap.
Malam pun tiba dengan sangat cepat, membawa kegelapan total dan penurunan suhu udara yang sangat drastis di dalam area Hutan Binatang Buas. Lin Tian menyeret beberapa bangkai serigala yang belum mengering ke dalam sebuah lubang pohon raksasa yang cukup tersembunyi untuk tempat beristirahat.
Perutnya mulai mengeluarkan suara keroncongan yang sangat keras, menandakan bahwa tubuh fisiknya membutuhkan pasokan energi makanan yang nyata untuk bertahan hidup. Lin Tian melihat ke arah daging paha serigala yang berada di depannya dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh pertimbangan taktis.
Sifat realistisnya membuat Lin Tian tahu bahwa menyalakan api unggun di dalam hutan malam hari sama saja dengan mengundang siluman tingkat tinggi untuk datang memangsanya. Tanpa ada keraguan sedikit pun di dalam hatinya, Lin Tian mengeluarkan pisau kecil hasil rampasan dari pengawal Lin Biao tadi pagi.
Dia memotong sepotong daging paha serigala yang masih segar lalu memasukkannya langsung ke dalam mulutnya sendiri tanpa dimasak sama sekali. Rasa daging mentah itu sangat amis, alot, dan dipenuhi oleh rasa zat besi dari sisa darah yang menempel di jaringan ototnya.
Lin Tian mengunyah daging mentah itu dengan gerakan rahang yang lambat namun konstan, memaksa tenggorokannya untuk menelan makanan yang sangat tidak higienis tersebut. Dia tahu bahwa di dunia kultivasi yang kejam ini, kenyamanan adalah sebuah kemewahan yang hanya dimiliki oleh mereka yang sudah berada di puncak kekuasaan.
‘Bocah bermuka tebal, aku tidak menyangka kamu benar-benar sudi memakan daging mentah siluman tanpa ada rasa jijik sedikit pun,’ suara Yue Chan kembali terdengar, kali ini dengan sedikit nada kekaguman yang tersembunyi di balik ejekannya yang sinis.
Lin Tian menelan potongan daging terakhir lalu menyeka sisa darah di sudut bibirnya dengan menggunakan punggung tangan kirinya yang kotor. ‘Yue Chan, jika memakan kotoran bisa membuatku menjadi cukup kuat untuk membantai Sekte Awan Putih, aku bahkan akan memakannya dengan senyuman lebar di wajahku.’
Yue Chan tertawa renyah mendengar jawaban yang sangat pragmatis dan penuh determinasi dari pemuda yang berada di bawah bimbingannya tersebut. Jiwa wanita iblis itu memancarkan kilatan cahaya merah dari dalam Mutiara Yin-Yang Primordial yang menggantung di leher tegap Lin Tian.
‘Bagus sekali, pertahankan kegilaan ini karena besok aku akan membawamu ke wilayah yang lebih dalam untuk memulai pelatihan neraka yang sesungguhnya,’ ucap Yue Chan penuh dengan janji-janji provokatif yang menantang nyali Lin Tian.
Lin Tian memejamkan kedua matanya dan kembali memposisikan tubuhnya dalam sikap meditasi penuh di dalam kegelapan lubang pohon yang dingin dan sunyi. Aliran Seni Iblis Penelan Surga terus bekerja memurnikan setiap tetes darah serigala yang telah diserapnya sepanjang hari yang penuh dengan pertumpahan darah ini.
tapi ini kok aku rasa keterlaluan bersikap dingin kepada semuanya walaupun orang itu baik dan benar-benar setia kepada dia
bahkan terhadap orang yang berbuat baik kepadanya
tak perlu membuang-buang energi hanya untuk menyelamatkan orang yang pernah mencampakkanmu dan memandang rendah pada dirimu👍👍👍