Hari itu, Alya memberikan hadiah terakhir untuk suaminya.
Bukan harta, bukan pula kenangan. Melainkan kesempatan untuk hidup bersama wanita yang lebih dipilihnya.
Lalu ia pergi, membawa sebuah rahasia yang baru disadari Adrian saat semuanya sudah terlambat.
Follow instagram @Tantye005 untuk info seputar novel🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanggung jawab seorang ayah
Alya membungkukkan sedikit tubuhnya, sebelah tangan mengetuk kaca mobil, sebelah lagi memegang perut, seolah isinya akan terjatuh jika dia tidak menyentuh.
"Bisa kita bicara?" tanya Alya ketika pemilik mobil menurunkan kaca mobilnya.
"Alya?"
"Bisa kita bicara Adrian?" Ulang Alya dan kali ini mendapatkan anggukan dari mantan suaminya.
Lantas Alya membuka pintu mobil dan duduk tepat di samping Adrian. Dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Tidak ada emosi, atau tatapan kebencian dimatanya.
Benarkah hanya membutuhkan lima bulan lebih untuk menata hati yang hancur berkeping-keping?
"Aku sudah bilang untuk jangan muncul di kehidupanku lagi," ujar Alya tenang, tetapi sorot matanya menatap lurus ke depan.
Berbeda dengan Adrian yang menatap Alya, bahkan menahan diri agar tidak agresif yang bisa membuat mantan istrinya tidak nyaman.
"Tapi kenapa kamu datang lagi dan membayar semuanya? Kamu mengira aku nggak bisa hidup tanpa uangmu?" ujar Alya lagi dan kali ini Adrian bungkam.
"Aku bisa Adrian, sangat bisa."
"Mas tau kamu sangat mampu melakukannya. Kamu nggak akan membiarkan anakmu menderita, mas tau Alya."
"Lalu kenapa?" Kali ini Alya menoleh dan menatap lurus bola mata Adrian.
"Karena mas merasa bertanggung jawab atas kehamilanmu. Mungkin kamu adalah mantan istri, tapi nggak dengan anak kita. Mas ayahnya. Mas merasa nggak berguna jika melepaskanmu seutuhnya sedangkan setengah hidupku ada padamu."
Alya terdiam, dan tatapannya tidak lagi tertuju pada Adrian.
"Mas akan mengurus perceraian kita seperti keinginanmu. Mas nggak akan menuntut hak asuh atas anak kita, tapi izinkan mas menjalankan tanggung jawab yang sudah seharusnya dilakukan seorang ayah."
Mata Alya terpejam, tangannya mengepal di pangkuan. Dia membenarkan semua ucapan Adrian. Tidak ada yang salah jika seorang ayah ingin menafkahi anaknya. Tapi yang bermasalah adalah dirinya. Dia tidak ingin menerima bantuan dari pria yang pernah menghancurkan hidupnya.
"Mas nggak memberitahu siapapun tentang keberadaanmu."
"Apa Safira tahu bahwa kamu ingin mengambil tanggung jawabmu sebagai seorang ayah? Bukankah dia juga sedang hamil ...."
"Dia keguguran lima bulan yang lalu."
Hening
Baik Adrian atau pun Alya sama-sama bersandar pada jok mobil, menatap lurus ke depan. Hal itu berlangsung cukup lama sehingga membuat Dipta yang memperhatikan dari kejauhan terbakar api cemburu padahal bukan siapa-siapa.
Bagaimana jika dia kehilangan tanpa sempat memiliki? Ada banyak kemungkinan Alya kembali pada Adrian. Ada anak mereka dan cinta Adrian.
Hati mengalahkan logikanya, dia turun dari mobil dan berlari pelan menghampiri mobil Adrian. Dia hendak mengetuk pintu, tetapi pintunya lebih dulu terbuka dari dalam dan Alya keluar.
"Mas Dipta?" Alya terlihat terkejut. "Kenapa mas ada di sini?"
"Itu ...." Ah sial, Dipta kehilangan kata-kata untuk membuat alasan. "Saya melihatmu masuk ke mobil ini, saya khawatir jadi menghampiri takut kamu bertemu orang jahat. Saya nggak tau bahwa ini mobil mantan suamimu."
Sungguh rasanya Pradipta ingin menghilang karena terlalu malu berhadapan langsung dengan Alya di situasi saat ini. Apalagi Adrian ikut turun dan menatapnya dengan alis terangkat.
"Terimakasih untuk kesempatan yang kamu berikan Alya." Adrian tersenyum dan kembali masuk ke mobil. Melajukannya, menyisakan Alya dan Pradipta di pinggir jalan.
"Saya akan mengantarmu pulang."
Pradipta berjalan di sisi kiri Alya demi menghalanginya dari kendaraan lain juga sinar matahari. Sesekali ekor matanya mencuri-curi pandang pada Alya yang berjalan tanpa ekspresi.
Matanya tidak bengkak, berarti Alya tidak menangis.
"Kamu memberinya kesempatan untuk memasuki hidupmu lagi?" tanya Pradipta sembari membukakan pintu mobil.
"Itu mustahil terjadi Mas." Alya tersenyum, memasang sabuk pengamannya dan duduk dengan tenang. "Aku memberikan kesempatan untuknya menjadi ayah."
"Kamu akan menberikan hak asuh padanya?" Jelas Pradipta sedikit terkejut.
"Bukan, tetapi membiarkan dia memberikan nafkah pada anaknya sampai saya bisa bekerja lagi."
"Syukurlah," gumam Pradipta. Dia benar-benar takut tidak mendapatkan kesempatan memiliki Alya.
***
Safira menatap aneh suaminya. Kali ini Adrian pulang dengan wajah sumbringan dan membeli banyak barang untuknya. Dan ada bunga di tangan kanan yang langsung diserahkan padanya.
"Maaf karena membuatmu menunggu dan khawatir, lain kali nggak akan aku lakukan," ujar Adrian mengecup kening Safira di depan Adrina dan mamanya yang kebetulan melintas.
Hati Safira seketika menghangat, dia senang Adrian yang seperti ini. Perhatian padanya dan menganggapnya ada.
"Mas sudah makan?"
"Belum, aku berencana mengajakmu untuk makan malam bersama."
"Mas serius?" Safira tersenyum lebar dan dijawab anggukan oleh Adrian. Keduanya berjalan beriringan ke kamar dan tidak luput dari perhatian Adrina.
"Kok aku kesal lihat mas Adri baik sama kak Safira?" Adrina merengut. Sungguh, dia berharap wanita itu pergi dari kehidupan kakaknya.
Tidak harus Alya yang kembali menjadi menantu, setidaknya wanita yang masuk ke kehidupan mereka secara baik-baik.
"Jangan mengurusi rumah tangga masmu, fokus pada hidupmu sendiri," ujar sang mama.
Wanita paruh baya itu senang melihat rumah tangga Adrian perlahan membaik, meski masih ada rasa tidak terima Alya harus pergi dari kehidupan mereka.
Alya adalah sosok yang tidak mungkin didapatkan lagi. Dia begitu lihai membagi waktunya. Seolah memiliki waktu 48 jam dalam sehari. Dia bisa bekerja, tetapi selalu ingat dan perhatian pada keluarga suaminya. Terlihat alami, bukan dibuat-buat agar semua orang suka padanya.
"Sepertinya ada yang sengaja menyembunyikan keberadaan Alya dari kita. Nggak satu pun orang bisa menemukannya," ujar papa Adrian sembari melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya.
"Jangan terlalu terobsesi pada cucu kita Pa. Alya berhak bahagia."
"Papa nggak masalah dengan itu, tapi dia membawa cucu kita pergi."
"Alya nggak pernah mau pergi Pa, tapi putra kita sendiri yang membuatnya pergi. Andai saja Adrian nggak melakukan kesalahan, kita nggak mungkin seperti ini." Mama Adrian berusaha menyadarkan suaminya.
Akhir-akhir ini papa Adrian mengerahkan banyak orang untuk mencari keberadaan Alya. Apalagi setiap mendengar Safira memeriksakan diri dan hasilnya negatif.
"Papa nggak mau tau, setelah anak itu lahir dia harus kembali ke rumah ini ada atau nggaknya Alya!" ujar papa Adrian tegas.
Mama Adrian menghela napas panjang melihat suaminya masuk ke kamar mandi. Dia sangat takut seandainya suaminya terobsesi pada cucu mereka. Dia takut Alya dalam bahaya.
"Semoga nggak satu pun orang bisa menemukan dirimu Nak," lirih mama Adrian.
Wanita paruh baya itu berharap semuanya berakhir di sini saja. Mereka hidup masing-masing sebab kesalahan ada pada Adrian.
Dia juga menginginkan cucunya, apalagi jika itu lahir dari rahim Alya. Namun, memisahkan dan mengambil paksa dari menantunya tidak pernah ada dalam pikiran mama Adrian. Belum lagi perasaan Safira akan terluka.
.
.
.
Jangan lupa like, komen, dan subscribe. Dukungan kalian semangat author.
makin besar kepala aja diaa....
Biarkan Alya dengan kebahagiaan nya