Di bawah langit Las Angeles, Scarlett Langford bertarung melawan kemiskinan dengan kecerdasan dan percaya diri.
Demi mempertahankan harga dirinya di High School, gadis yatim ini nekat menciptakan sebuah kebohongan besar sebagai kekasih rahasia Millian Vale-Knight—Pria yang tak pernah ia temui.
Namun, takdir gemar bercanda.
Saat bekerja paruh waktu sebagai pelayan pesta borjuis, Scarlett terlibat bentrokan sengit dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan bermata heterochromia.
Tanpa rasa takut, Scarlett memaki pria tersebut seraya berteriak bahwa ia hanya takut jika pria itu adalah Millian Vale-Knight .
Scarlett tidak pernah tahu bahwa pria 'brengsek' yang baru saja ia maki di depan mukanya justru adalah Millian yang sesungguhnya.
Ketika tameng kebohongan menabrak realitas, akankah kepalsuan ini berubah menjadi jerat cinta, atau justru menjadi awal dari kehancuran Scarlett?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#2
Semburat jingga sisa matahari sore mulai meredup di langit San Marino ketika Scarlett melangkah melewati pintu kayu rumahnya yang sudah agak lapuk.
Aroma kayu tua dan harum masakan sederhana menyambut penciumannya.
Biarpun sederhana, tempat ini adalah satu-satunya pelabuhan di mana ia bisa melepas seluruh topeng keangkuhan yang ia kenakan sepanjang hari di sekolah.
“Aku pulang, Ibu,” seru Scarlett, meletakkan tas sekolahnya di atas kursi rotan yang berada di ruang tamu.
Seorang wanita berwajah teduh keluar dari arah kamar dengan pakaian yang sudah rapi dan wangi.
Cristine, ibu tiri Scarlett, adalah sosok wanita yang tegar.
Sejak kematian ayah Scarlett bertahun-tahun lalu, Cristine-lah yang berdiri paling depan sebagai pelindung sekaligus penyokong hidup mereka.
Ia bekerja sebagai pelayan di sebuah perusahaan Event Organizer (EO) ternama. Karena reputasi EO tempatnya bekerja sangat tinggi, Cristine sudah sangat terbiasa mondar-mandir melayani acara-acara kelas Atas di kawasan-kawasan elite Los Angeles.
Melihat ibunya yang sudah mengenakan seragam kerja hitam-putih yang licin dan rapi, Scarlett menaikkan sebelah alisnya.
“Malam ini ada job ke mana, Bu? Tumben sekali Ibu sudah bersiap-siap secepat ini.”
Cristine tersenyum hangat, mengusap sekilas rambut anak tirinya yang sudah ia anggap seperti darah dagingnya sendiri.
“Ibu dan tim malam ini mendapat job besar, Sayang. Sebuah pesta privat anak-anak muda kaya di salah satu rumah mewah. Manajemen meminta kami harus hadir di sana lebih cepat untuk memastikan semua persiapan dan hidangan tidak ada yang kurang sedikit pun.”
Mendengar kata 'pesta mewah', insting Scarlett langsung bekerja.
Otak cerdasnya melihat peluang untuk menambah pundi-pundi tabungan demi membeli kebutuhan penunjang penampilannya.
“Kabari aku kalau tim Ibu kekurangan orang. Aku free malam ini, tidak ada tugas sekolah yang mendesak.”
Cristine memandang tubuh semampai Scarlett sejenak, lalu mengangguk setuju.
“Baiklah, Sayang. Ibu akan berangkat duluan dengan mobil operasional. Kamu bersiaplah, nanti Ibu kirim alamat lokasinya lewat pesan.”
“Baik, Ibu,” sahut Scarlett patuh.
Jika ada orang di sekolah yang penasaran dari mana seorang gadis miskin seperti Scarlett Langford bisa mendapatkan tata krama bergaul layaknya orang-orang kaya kelas atas, maka jawabannya adalah Cristine.
Ibu sambungnya itu tidak pernah lelah mengajari Scarlett banyak hal tentang dunia borjuis.
Mulai dari cara berjalan yang anggun, bagaimana memegang gelas sampanye yang benar, hingga cara menatap lawan bicara agar tidak terlihat minder.
Sejak usia tujuh belas tahun, Scarlett sudah sering diajak ikut bekerja paruh waktu di pesta-pesta mewah, mulai dari pernikahan artis Hollywood hingga pesta ulang tahun anak-anak konglomerat.
Pengalaman itulah yang menempa otaknya untuk merekam setiap gerak-gerik kaum jetset, yang kemudian ia gunakan sebagai modal utama untuk membangun kebohongan sempurnanya di sekolah.
...ΩΩΩΩ...
Malam Harinya, di sebuah kawasan paling eksklusif di Los Angeles, atmosfer yang sepenuhnya berbeda sedang bergolak.
Raungan mesin mobil sport mewah menggema membelah keheningan malam, saling bersahutan memekakkan telinga.
Di halaman sebuah mansion megah yang disewa khusus, dentuman musik dari DJ terkenal terdengar biasa saja, kalah telak oleh suara bising knalpot-knalpot bernilai jutaan dolar.
Pesta malam itu bukanlah pesta dansa biasa, melainkan arena unjuk gigi bagi anak-anak muda kaya untuk memamerkan koleksi mobil sport terbaik mereka.
Mereka saling berkerumun, mendengarkan dengan saksama raungan mesin mana yang paling merdu, paling garang, dan paling luar biasa.
Deretan mobil Bugatti, Ferrari, hingga Lamborghini berjejer rapi di sepanjang jalan masuk, berkilau di bawah lampu-lampu sorot yang mahal.
Di tengah-tengah pameran ego tersebut, sebuah mobil hitam dengan kombinasi abu-abu pekat di bagian moncong depannya menjadi pusat perhatian mutlak.
Mobil itu telah dimodifikasi sedemikian rupa hingga penampilannya terlihat sangat menakutkan sekaligus menawan.
VROOOMM!!!!
Sang pengemudi baru saja menginjak pedal gas dalam-dalam, membuat mesinnya mengaum dahsyat hingga menggetarkan kaca-kaca mansion.
“Wah, luar biasa! Kau berhasil, Yang!” seru salah seorang pemuda yang berdiri di dekat pembatas jalan, bertepuk tangan dengan raut wajah takjub.
Pria yang baru saja membuat raungan mesin Luar biasa itu keluar dari pintu mobil yang terbuka ke atas.
Namanya adalah Millian Vale-Knight.
Usianya baru menginjak dua puluh tahun, namun pesonanya sudah mampu mendominasi setiap ruangan yang ia masuki.
Di kalangan keluarga dan teman-teman dekatnya, ia memiliki nama kecil yang sangat akrab: Yang.
Panggilan kecil itu sudah melekat sejak ia balita, dan seluruh karibnya sudah terbiasa memanggilnya dengan sebutan tersebut.
Saat ia melepas kacamata hitamnya, lampu taman menyinari wajahnya, memperlihatkan salah satu fitur paling langka yang ia miliki: mata heterochromia.
Mata kirinya berwarna biru jernih sementara mata kanannya berwarna cokelat gelap keemasan—sebuah warisan genetik mutlak dari sang Mommy yang menjadikannya terlihat luar biasa tampan bak pahatan dewa Yunani namun sekaligus misterius.
“Lanjutkan pestanya,” ucap Millian datar, melemparkan kunci mobilnya ke udara lalu menangkapnya kembali dengan santai.
“Aku akan pulang sekarang.”
Sahabat karibnya, James, yang sedang memegang gelas minuman langsung mendekat dengan kening berkerut.
“Ya, hati-hati di jalan. Titip salam buat Killian.”
Killian adalah saudara kembar dari Millian, yang malam itu memilih untuk menetap di mansion keluarga mereka di Bel Air ketimbang ikut berbaur dalam kebisingan pesta otomotif ini.
“Ya, baiklah. Aku pulang,” jawab Millian pendek.
Mendengar salah satu magnet utama pesta itu hendak angkat kaki, Arthur, sang pemilik acara sekaligus anak seorang pengusaha properti terpandang, berteriak dari atas balkon lantai satu.
“Kau akan pulang, Yang? Kau tidak ikut berpesta dengan kami hingga jam dua pagi?”
“Tidak, brother,” sahut Millian tanpa menoleh, menaikkan sebelah tangannya sebagai tanda pamit. “Aku harus pulang. Aku belum belajar untuk ujian besok pagi.”
Dengan langkah kaki yang lebar dan santai, Millian berbalik menuju ke arah mobilnya.
Sifatnya yang bad boy, angkuh, namun terkadang terlalu jujur membuat tidak ada satu pun orang di pesta itu yang berani menahan langkahnya jika ia sudah mengambil keputusan.
Namun, sebelum langkah kakinya mencapai pintu mobil hitam abu-abu miliknya, pandangan mata Millian menangkap sosok seorang pelayan wanita yang sedang berjalan membawa nampan berisi aneka minuman dingin.
Karena tenggorokannya terasa kering akibat udara malam, Millian langsung mengulurkan tangannya yang terbiasa memerintah untuk mengambil segelas cairan berwarna oranye dari atas nampan tersebut.
“Sorry, Sir... itu bukan jus jeruk,” ucap pelayan wanita itu dengan nada suara yang lugas, mencoba memperingatkan.
Gerakan tangan Millian terhenti di udara.
Ia mengernyitkan dahinya dalam-dalam.
Namun, kernyitan itu muncul bukan karena ia kecewa minuman tersebut bukan jus jeruk, melainkan karena telinganya mendadak merasa sangat tersinggung mendengar kata yang diucapkan oleh sang pelayan.
“Sir?” beo Millian dengan nada suara yang mendadak dingin dan penuh intimidasi.
Ia menatap pelayan itu dari atas ke bawah, menyadari seragam EO yang dikenakannya.
“Kau pikir kau sedang berbicara dengan sopirmu? Ataukah kau pikir aku ini babu sepertimu?”
Deg.
Wanita muda yang memegang nampan itu terdiam seketika. Ia mendongakkan kepalanya, membuat matanya langsung bertubrukan dengan sepasang mata aneh yang memiliki dua warna berbeda milik pria di hadapannya.
Di dalam hatinya, wanita itu memaki habis-habisan. Wah, gila pria ini. Aku memakai kata ‘Sir’ hanya agar terdengar sopan dan profesional sebagai pekerja.
Wanita itu tidak lain adalah Scarlett Langford. Ia memang akhirnya menyusul ibunya untuk ikut membantu sebagai tenaga tambahan di pesta mewah ini, tanpa pernah menduga bahwa malamnya akan dinodai oleh keangkuhan seorang pemuda kaya.
Bukannya menunduk ketakutan seperti pelayan-pelayan lain yang biasanya gemetar menghadapi amarah kaum borjuis, Scarlett justru menegakkan punggungnya yang tinggi semampai.
Tatapan matanya balas menantang pria itu dengan tajam.
“Kenapa kalau saya seorang babu?” jawab Scarlett dengan suara yang tenang namun terdengar sangat lugas dan menantang.
Millian tertegun sejenak, tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
Sepanjang hidupnya di kalangan elite Los Angeles, tidak pernah ada satu pun pelayan—bahkan anak orang kaya sekalipun—yang berani menjawab perkataannya dengan nada bicara seperti itu.
“Wah... pelayan sepertimu berani menjawab perkataanku?” ucap Millian dengan volume suara yang mulai meninggi, menyita perhatian beberapa anak muda di sekitar area parkir.
Sifat sombong dan angkuh yang mengalir di dalam nadinya bergejolak hebat.
Arthur yang melihat situasi di dekat mobil Millian mulai memanas segera berlari turun dari balkon dan mendekat.
“Ada apa, brother? Apa pelayan ini mencoba menggodamu untuk mencari perhatian?” tanya Arthur dengan pandangan meremehkan ke arah Scarlett.
Deg.
Kata ‘menggoda’ yang keluar dari mulut Arthur membuat rahang Scarlett mengencang.
Ego dan harga dirinya sebagai seorang wanita berontak hebat.
“Menggoda?” tanya Scarlett, lalu ia membuat gerakan berdecak remeh yang terdengar sangat menghina.
“Cuih!”
Scarlett menatap lurus ke arah wajah tampan Millian dengan pandangan muak. “Pria sombong sepertinya bahkan tidak termasuk ke dalam tipe pria idamanku, walau dalam mimpi sekalipun.”
“Beraninya kau...” Millian melangkah satu tapak maju, aura permusuhan pekat menguar dari tubuhnya yang tinggi besar.
“Kau benar-benar tidak tahu siapa aku?”
Scarlett tersenyum sinis.
Dari sejak ia tiba di pesta ini, ia berulang kali mendengar teman-teman pria sombong ini memanggilnya dengan sebutan ‘Yang’.
Otak cerdasnya langsung menyimpulkan bahwa pria di hadapannya ini pastilah salah satu anak orang kaya manja bernama Yang yang merasa dunia berputar di sekitar jarinya.
“Oh, ya? Aku memang tidak mengenalmu, brengsek kaya,” ucap Scarlett dengan rentetan kalimat yang cepat dan menusuk.
“Kau pikir kau ini siapa? Kalau kau ini adalah seorang Millian Vale-Knight yang agung dan berkuasa, baru kau bisa menyombongkan kekuasaanmu di depanku!”
Mendengar nama itu keluar dari bibir sang pelayan, Millian Vale-Knight yang asli seketika tertegun di tempatnya berdiri.
Lidahnya mendadak kelu. Sepasang mata heterochromia-nya melebar sedikit, menatap gadis pelayan di hadapannya dengan rasa tidak percaya yang berlipat ganda.
Wah, sialan pelayan ini. Pria yang sedang kau maki ini adalah Millian Vale-Knight, batin Arthur, merasa situasi ini sangat konyol sekaligus menjengkelkan.
“Menyingkir dariku!” bentak Millian akhirnya, menyembunyikan rasa terkejutnya di balik topeng kemarahan.
Arthur dan James yang berada di sana segera menunjuk ke arah koridor belakang mansion dengan wajah gusar.
“Pergi lah ke belakang, Dan kuharap wajahmu jangan pernah muncul lagi di area depan sini!”
Scarlett, yang menolak keras untuk menerima perlakuan rendah meskipun posisinya malam itu hanyalah seorang pelayan paruh waktu, membalikkan badannya dengan anggun.
Namun, sebelum ia melangkah jauh, ia menggumamkan sebuah kalimat dengan suara yang cukup jelas untuk menembus keheningan malam di area parkir tersebut.
“Dasar anak orang kaya sampah. Tahu menghabiskan uang orang tua saja sudah sombong setengah mati,” cibir Scarlett dingin.
Deg.
Kalimat itu tertangkap dengan sangat sempurna oleh pendengaran tajam Millian Vale-Knight.
Pria itu mengepalkan tinjunya erat-erat, menatap punggung semampai Scarlett yang berjalan menjauh tanpa rasa takut sedikit pun, meninggalkan riak badai yang baru saja dimulai di kota Los Angeles.
apa bisa up yg banyak biar aku semakin mager
pleaseeee
tinggal ketahap talking stage 🤣🤣🤣