Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.
Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.
Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa lalu yang di ungkit
"Mama pikir kalian nggak bisa datang kesini." Ucap Farah yang baru saja bergabung di meja yang sama dengan Arslan dan Zulfa.
"Bukannya nggak bisa datang ma, tapi Om Anton hampir lupa ngundang kita kesini. Masa ngasih undangannya tadi sore, mana mendadak banget lagi. Iya kan sayang?" Sambil melirik ke arah Zulfa. Meyakinkan ibunya kalau ucapannya benar.
"Iya ma. Om Anton baru ngasih undangannya tadi sore. Untung Zulfa yang pegang Hp-nya Arslan jadi bisa langsung baca isi chat-nya Om Anton." Terang Zulfa.
Maklum, Arslan memang terkenal lambat membalas pesan. Bahkan tidak jarang pesan-pesan yang masuk dibiarkan menumpuk hingga tenggelam begitu saja. Karena kebiasaannya itu, sebagian besar rekan bisnis lebih memilih menghubungi sekretarisnya jika ada urusan penting yang membutuhkan respon cepat.
"Oo ... begitu! Untung aja kalian dateng ke acara keluarga kayak gini. Karna mama suka pusing kalau ada yang nanya-nanya kalian yang sukanya ngumpet-ngumpet nggak jelas kalau ketemu saudara."
"Bukannya ngumpet ma, tapi males aja ketemu orang-orang yang suka kepo nanya-nanya soal anak. Sekali-kali nanyanya ke Tuhan jangan ke kita terus." Ucapan Arslan mewakili perasaan Zulfa saat ini. Senang rasanya jika di anugerahi suami yang sefrekuensi dengannya.
"Ya makanya kalian cepet-cepet punya anak dong!! Mama kan juga capek ditanyain, kapan punya cucu?"
"Anak itu seharusnya di dukung dan di lindungi bukan tambah dikasih beban. Kamu kan liat sendiri kalau Arslan dan Zulfa juga sudah berusaha semaksimal mungkin biar bisa punya keturunan. Kalau memang takdirnya belum dikasih ya sudah kita sabar saja!! Kita juga nggak bakal kehabisan uang buat ngedukung mereka supaya bisa punya anak." Ardiwilaga adalah orang yang paling bisa menjaga perasaan Zulfa. Dia selalu menunjukkan ketulusannya pada menantu kesayangannya itu.
"Maaf ya, mama nggak bermaksud buat nyinggung kalian. Biar bagaimanapun juga mama juga selalu ngedoain kalian kok!!" Senyum yang entah tulus atau sekedar akting belaka muncul dari bibir perempuan yang masih terlihat cantik di usianya.
"Maafin Zulfa kalau Zulfa masih belum bisa ngasih cucu untuk mama dan papa." Zulfa tertunduk, rasanya ingin sekali ia meneteskan air matanya tetapi Zulfa berusaha menahannya.
"Kamu nggak perlu minta maaf begitu, Zulfa. Kalau kamu belum dikasih keturunan itu kan bukan salahmu, itu juga bukan maunya kamu. Itu kehendak Tuhan. Sama halnya kalau tiba-tiba nanti Arslan Nik—"
"Maaa ... Cukup!! Jangan dilanjutin!!" Suara bernada tinggi tiba-tiba menguar dari bibir Arslan seolah ia sudah tau kalimat apa yang akan diucapkan ibunya. Zulfa dan Ardi pun sampai terkejut mendengar Arslan berani membentak ibunya.
"Jangan sekali-kali mama berani ngebahas masalah di telfon kemarin di depan Zulfa." Kalimat ancaman Arslan sontak membuat Zulfa tahu kalimat apa yang akan terucap dari mulut ibu mertuanya sebelum akhirnya terjeda oleh Arslan.
Melihat kedua mata putranya menyalak-nyalak bak api yang baru tersiram bensin membuat Farah ketakutan. Apalagi tatapan intimidasi dari sang suami mulai nampak hingga membuatnya semakin panik.
"Aduh ... Arslan, jangan mikirin ucapan mama tempo hari lalu, Mama cuma bercanda aja kok!! Ini juga tadi mama niatnya ngajak bercanda lagi." Tiba-tia Farah tertawa tak jelas. Berusaha melawan ketegangan yang ada.
"Memangnya mama mu ngomong apa, Arslan?" Tiba-tiba saja sang Ayah begitu penasaran.
"Biasalah pa, mama kebanyakan nonton sinetron ikan terbang jadi kebawa drama hidupnya."
Andai saja Arslan mau mengatakan pada ayahnya tentang Ibunya yang menyuruh Arslan menikah lagi pasti Ardi akan marah pada istrinya itu. Wanita yang terkenal dengan gaya hidupnya yang tinggi itu memang terkadang tidak bisa menjaga lisannya. Mungkin karna terpengaruh oleh kumpulan komunitas sosialitanya yang gemar bergosip.
Sementara Zulfa hanya bisa terdiam melihat pemandangan menegangkan itu. Walau sebenarnya ia tau apa yang sedang di bahas akan tetapi dirinya seakan tak memiliki tempat untuk ikut campur dalam urusan ini. Setidaknya ada perasaan lega pada diri Zulfa saat ibu mertuanya mengatakan kalau ucapannya yang sempat membuat Zulfa tidak bisa tidur nyenyak selama berhari-hari itu hanya bercanda. Ya, sekali lagi hanya bercanda. Entah itu hanya benar-benar bercanda atau hanya sekedar menutupi ketakutannya. Zulfa tak peduli. Selama Arslan dan Ayah mertuanya masih membersamainya, hidupnya akan baik-baik saja.
Di saat mereka sedang sama-sama menikmati hidangan yang tersaji tiba-tiba saja Zulfa merasa tak nyaman dengan perutnya. "Maaf ya, Zulfa ijin ke toilet dulu."
"Aku juga." Tiba-tiba saja Arslan turut serta mengantar Zulfa pergi ke toilet. Mereka pun saling bergandengan menuju toilet yang tersedia.
"Pasti kamu mules, kan! Tadi aku liat kamu makan sambel banyak banget."
"Hehehe iya, habisnya sambel bawangnya menggoda banget." Zulfa memang sangat suka sekali makan yang pedas-pedas tapi entah mengapa sambal yang ia makan kali ini membuat perutnya berontak. Biasanya perutnya tak pernah seperti ini.
"Kan aku uda bilang, kamu itu harus ngurangin makan pedas-pedas kayak gitu. Apalagi kalau makannya sampe malem-malem gini." Bukan tanpa alasan Arslan melarangnya sebab baru beberapa bulan lalu Zulfa sempat di diagnosa dokter terkena asam lambung. Walau tidak sampai parah tapi cukup membuat Arslan khawatir.
"Iya maaf. Habis ini aku bakal puasa makan sambel lagi, deh." Janji Zulfa kepada suaminya seolah ingin menghindari ocehan suaminya yang membuat keinginan membuang hajatnya tertunda.
Arslan yang sebenarnya sedang tidak ingin ke toilet pun terpaksa harus segera masuk ke dalam toilet pria untuk sekedar memperbaiki penampilannya yang sebenarnya sudah terlihat rapi dan sempurna.
"Zulfa, apa kabar?" Tiba-tiba Zulfa mendengar seseorang yang menyapanya.
"Bude Rahmi ..." Zulfa yang saat ini sudah berada di luar toilet pun turut menyapa orang tersebut dengan bersalaman seraya mencium telapak tangan orang yang usianya jauh lebih tua darinya.
"Alhamdulilah Zulfa sehat. Bude sendiri gimana kabar __" Belum selesai Zulfa menyelesaikan ucapannya, Tiba-tiba wanita paru baya yang bernama Rahmi itu memotong ucapan Zulfa dan mengelus-elus perutnya yang rata.
"Gimana udah ada isinya belum?" Hal yang selalu Zulfa takuti setiap kali bertemu orang itu. Rasanya ingin sekali Zulfa menghilang saat itu juga.
"Alhamdulilah udah bude." Zulfa berusaha untuk menjawab dengan santai. Zulfa sudah tau cara merespon orang-orang seperti itu agar dirinya tidak ada perasaan sakit hati lagi, jika ada yang menyinggung soal kehamilan. Sebab hatinya sudah kebal.
"Wah selamat yaa, kok bude nggak dikabarin?" Bude Rahmi yang tak mengerti maksud ucapan Zulfa pun tiba-tiba terlihat sumringah mendengar jawaban Zulfa.
"Ih ... Kenapa pake di ucapin selamat sih, bude? Ini perut kan habis ke isi banyak makanan tadi. Ini barusan kosong lagi habis kebuang disana." Sambil menunjuk kearah toilet.
"Ya ... Ampun Zulfa, di tanyain serius kok malah ngajak bercanda." Mimik wajah bude Rahmi pun berubah menjadi mengkerut.
"Maaf bude, habisnya Zulfa bingung mau jawab apa. Masa jawabannya sama terus."
"Makanya Zulfa kamu itu jangan capek-capek kerja. Dari awal menikah kan kami semua udah nyuruh kamu tinggal dirumah aja, nggak perlu ngejar karir segala. Toh, Penghasilan Arslan juga bisa mencukupi hidupmu sampai tujuh turunan." Suara Yevi yang entah darimana datangnya tiba-tiba membuat jantung Zulfa seakan mencelus keluar. Entah sejak kapan Yevi berada di dekatnya.
"Kamu tau nggak kalau menantuku si Hanna hamil lagi? Pasti nggak tau kan?! Masa kamu kalah sama Hanna yang baru kemaren melahirkan udah hamil lagi." Nada sinis penuh dengan kalimat sindiran mulai menyayat hati Zulfa lagi. Rasanya ingin sekali Zulfa berkata dengan nada tinggi,
"So what gitu, lohhh??"
Tapi seakan tertahan di kerongkongan karna pasti di anggap tidak sopan. Padahal Zulfa sudah berjuang mati-matian untuk terlihat biasa saja merespon ucapan orang-orang yang selalu membahas kehamilan dan anak padanya, nyatanya ini terlalu menyakitkan untuk di dengarkan.
"Kamu itu nggak boleh gitu, Yev. Anak itu kan rejeki. Jangan dibanding-bandingkan. Nanti juga ada waktunya Zulfa akan hamil dan melahirkan anak yang lucu dan cantik kayak ibunya." Rahmi tersenyum iba menatap Zulfa yang terlihat sedang meratapi nasibnya. Walau Zulfa sering dibuat kesal oleh budenya Arslan itu, tetapi Rahmi tidak seperti Yevi yang terlihat tidak suka dengan Zulfa. Sampai saat ini Zulfa tidak pernah tau kenapa tante Yevi dari dulu selalu bersikap ketus padanya. Masa iya dia iri melihat kecantikan Zulfa yang memiliki tubuh tinggi langsing bak super model?!
"Bukannya mau banding-bandingin, tapi saya lagi ngasih tau ke Zulfa aja kalau si Hanna lagi hamil lagi. Tujuannya biar Zulfa ini makin semangat punya anaknya." Yevi berkilah padahal tujuannya jelas menyinggung perasaan Zulfa.
"Coba kamu liat Arslan disana!" Yevi mengedikkan matanya pada Zulfa agar Zulfa melihat suaminya yang sedang sibuk mengobrol dengan beberapa wanita yang diketahuinya sebagai anak buah Anton.
"Begitu mudahnya suamimu itu di dekati banyak wanita. Apa kamu nggak takut kalau sampai ada perempuan yang bisa ngasih kebahagiaan yang kamu nggak bisa kasih ke dia." Ucapan Yevi kali ini benar-benar seperti belati yang menikamnya dalam-dalam.
"InshaAllah suami saya masih bisa menjaga hatinya buat saya, tante." Suara Zulfa bergetar bahkan kedua tangan Zulfa sudah mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Yevi! Kamu nggak boleh berbicara seperti itu! Arslan itu bukan laki-laki yang gampang di goda. Kalau memang Arslan itu laki-laki nakal sudah dari dulu dia selingkuh."
"Ada apa ini?" Tiba-tiba saja Arslan datang yang langsung menguraikan ketegangan disana.
"Nggak apa-apa kok Arslan. Ini kamu bawa aja istrimu kembali ke meja." Rahmi menarik pergelangan tangan Zulfa dan memberikannya pada Arslan. Rahmi paham bahwa Zulfa sedang tidak nyaman mendengar ucapan Yevi, adik iparnya. Arslan pun menuruti permintaan budenya itu.
"Kamu itu kenapa sih Yev, kok kasar banget ngomong sama Zulfa?" Rahmi bertanya disaat Zulfa dan Arslan sudah pergi meninggalkan mereka.
"Nggak apa-apa mbak, cuma kesel aja sama Zulfa yang dari dulu selalu sok sibuk dan sok ngejar karir segala. Sikapnya itu uda kayak ngehina keluarga kita aja. Dipikir Arslan nggak mampu nyukupin gaya hidupnya."
"Itu kan dulu, Yev. Sekarang kan Zulfa udah ninggalin karirnya dan fokus jadi ibu rumah tangga kayak kita juga." Rahmi berusaha mendinginkan hati Yevi yang sedang kesal.
"Itu kan karna dia belum punya anak aja, mbak. Coba kalau dari dulu dia punya anak. Pasti dia bakal angkuh lagi sama jabatannya." Yevi masih menunjukkan kekesalannya.
"Ya, kamu tetap nggak boleh menyalahkan Zulfa seperti itu Yev, Berkarir atau tidak itu kan haknya dia. Toh Arslan, Ardi dan Farah dulu juga nggak pernah melarang Zulfa berkarir."
"Coba kalau dulu Arslan nikahnya sama keponakanku yang cantik itu. Pasti sekarang mas Ardi dan mbak Farah udah punya banyak cucu."
"Astaghfirullah, kok kamu jadi bahas masa lalu, sih. Mereka itu udah punya jodohnya masing-masing. Kita nggak boleh menyalahkan takdir seperti itu. Belum tentu juga kalau Arslan nikahnya sama orang lain langsung punya anak. Memangnya kamu tangan kanan Tuhan bisa tau segalanya?!" Rahmi terkejut mendengar adik iparnya yang masih membahas masa lalu Arslan dan juga keponakannya. Apalagi ini sudah 10 tahun berlalu.
***