Lin Tian sadar dari tidur panjangnya selama 200 tahun dan mendapati tubuhnya masih seperti pemuda 18 tahun. Satu hal yang paling mengganjal: di istana ratu ular, semua makhluk memiliki tubuh ular, tapi ia berkaki dua sempurna. Siapa ayahnya? Siapa sebenarnya Kakek Han yang begitu ia rindukan? Ibunya, Ratu Medusa, mengurungnya berabad lamanya hanya untuk menyembunyikan sesuatu. Kini Lin Tian pergi ke dunia manusia. Bukan untuk bertualang, tapi untuk menggali satu rahasia yang ibunya lebih memilih membekukannya daripada mengakuinya. Rahasia terbesar tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinju Botak dan Sate Lima Tusuk
Keesokan harinya sinar matahari menyusup melalui celah-celah bilik bambu asrama, membangunkan Lin Tian dari tidurnya yang nyenyak. Ia mengucek mata sebentar lalu duduk di dipan, merenggangkan otot-otot yang masih terasa pegal setelah misi kemarin. Bai Feng sudah terjaga lebih dulu, berdiri di depan cermin tembaga sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan.
"Kau bangun juga akhirnya. Ayo cuci muka dulu, setelah itu kita ambil jatah batu roh bulanan," ucap Bai Feng sambil menyisir rambutnya dengan jari. "Sambil jalan, kita lihat-lihat apakah ada berita terbaru tentang makhluk kegelapan."
Lin Tian mengangguk malas lalu turun dari dipan. Mereka berjalan ke sumur di belakang asrama, membasuh wajah dengan air dingin yang menyegarkan. Lin Tian menepuk-nepuk pipinya, berusaha menghilangkan sisa kantuk.
"Kau tahu, kemarin aku bermimpi aneh," kata Bai Feng sambil mengelap wajahnya dengan kain.
"Mimpi apa?"
"Aku mimpi makan ayam panggang sebesar gunung. Tapi setiap kali aku mau menggigit, ayam itu menghilang. Sial banget," Bai Feng menggelengkan kepala dengan ekspresi frustrasi.
Lin Tian tertawa kecil. "Mungkin pertanda kau harus mengurangi porsi makan."
"Tidak mungkin. Itu pertanda aku harus makan lebih banyak," bantah Bai Feng dengan serius.
Setelah selesai obrolan santai itu... mereka berjalan menuju aula distribusi sekte. Sebuah bangunan batu dua lantai yang terletak di sebelah barat lapangan latihan. Di dalamnya sudah ada beberapa murid yang mengantre dengan tertib. Lin Tian dan Bai Feng berdiri di belakang, menunggu giliran.
Saat melewati beberapa murid di lorong, telinga Lin Tian menangkap bisik-bisik pelan yang tidak dimaksudkan untuk didengar.
"...makhluk kegelapan terus muncul... kemarin malam ada laporan dari desa timur..."
"...kabarnya bukan hanya di wilayah kita... seluruh Lingzhao mulai terganggu..."
"...siapa yang mengirim mereka? Ini tidak normal..."
Lin Tian mendengarkan dengan seksama tanpa mengubah ekspresinya. Bai Feng juga terdiam, telinganya ikut memanas mendengar gosip yang juga panas tersebut.
Antrean bergerak cepat. Ketika tiba giliran mereka, seorang petugas tua berjubah abu-abu menyerahkan dua kantong kecil berisi batu roh.
"Dua puluh batu roh tingkat menengah untuk masing-masing. Ini jatah bulanan kalian. Gunakan dengan bijak."
Lin Tian menyentuh cincin penyimpanannya, memasukkan kantong batu roh itu ke dalam. Bai Feng melakukan hal yang sama sambil tersenyum puas.
Setelah keluar dari aula distribusi, Bai Feng mengusulkan, "Ayo ke Kota Naga Patah. Aku bosan di sekte terus. Lagipula kita butuh makan siang yang enak."
Lin Tian tidak keberatan. Mereka naik ke atas pedang terbang lalu melesat rendah meninggalkan area sekte. Perjalanan ke kota hanya memakan waktu sekitar lima belas menit dengan kecepatan santai.
Kota Naga Patah terlihat seperti biasa. Ramai, berisik, dan penuh dengan pedagang yang berteriak menawarkan dagangan mereka. Namun hari ini ada sesuatu yang berbeda. Di alun-alun utama kota, tampak sekelompok orang berpakaian mewah dengan bordiran awan dan mutiara berwarna biru keperakan.
Bai Feng tertegun sejenak, matanya membelalak. "Itu... itu seragam Sekte Mutiara Langit!"
Lin Tian menoleh sekilas. Sekelompok pemuda dan pemudi berjubah putih keperakan berdiri dengan anggun di depan balai kota. Mereka semua tampak rupawan, dengan postur tegak dan aura percaya diri yang kental. Salah satu dari mereka, seorang wanita dengan rambut hitam panjang dan wajah dingin seperti pahatan batu giok, langsung menyita perhatian semua orang di sekitar.
Bai Feng ternganga. "Cantik sekali... sungguh di luar nalar. Wajahnya seperti bulan purnama yang jatuh ke bumi."
Namun Lin Tian tidak sedang melihat ke arah wanita itu. Matanya justru tertuju pada seorang pedagang sate di pinggir jalan yang sedang membakar tusukan daging di atas bara. Asapnya mengepul harum, membawa aroma rempah dan daging yang gosong di pinggirannya.
Lin Tian berjalan mendekati pedagang itu, mengabaikan kerumunan orang yang mengagumi rombongan Sekte Mutiara Langit.
"Paman, saya pesan lima tusuk."
Pedagang sate itu tersenyum ramah. "Siap, Tuan Muda. Tunggu sebentar."
Bai Feng yang baru sadar dari kekagumannya berteriak kaget, "Lin Tian! Kau tidak lihat itu? Wanita cantik dari Sekte Mutiara Langit! Seumur hidupku belum pernah melihat kecantikan seperti itu!"
Lin Tian mengambil tusukan sate pertama dari tangan pedagang, lalu menggigit dagingnya dengan lahap.
"Enak juga, Paman. Bumbunya meresap sempurna."
Pedagang sate itu tertawa bangga. "Resep turun-temurun, Tuan Muda. Sudah tiga generasi keluarga saya berjualan sate di kota ini."
Bai Feng mendekat dengan wajah tidak percaya. "Kau tidak dengar aku bicara? Wanita itu... wajahnya, tubuhnya, auranya... sempurna!"
Lin Tian mengunyah daging sate keduanya, lalu menelan sebelum menjawab, "Aku dengar, tapi tidak terlalu penting. Lagipula, ibuku pernah bilang bahwa jika suatu hari nanti aku menikah, istriku harus secantik atau bahkan lebih cantik darinya. Kalau tidak, ibuku akan membenci wanita itu sepanjang hidupnya."
Bai Feng terdiam. "Ibumu... secantik itu?"
Lin Tian hanya tersenyum tipis tanpa menjawab. Ia menghabiskan tusukan ketiga dan keempat, lalu membayar pedagang itu dengan dua batu roh rendah. "Terima kasih, Paman. Besok saya kembali lagi."
Setelah Lin Tian selesai makan, Bai Feng menghela napas panjang. "Baiklah, kalau kau tidak tertarik pada wanita secantik itu, setidaknya ikut aku ke satu tempat. Tempat pertarungan para pria sejati."
Lin Tian mengangkat alis. "Maksudnya?"
"Kau akan lihat sendiri. Ikut saja."
Bai Feng memimpin Lin Tian melewati gang-gang sempit di belakang pasar, melewati gudang-gudang tua, hingga sampai di sebuah halaman belakang yang cukup luas. Di sana, puluhan pria berkumpul membentuk lingkaran. Dari tengah lingkaran terdengar suara pukulan keras dan teriakan semangat.
Lin Tian mendekat dan melihat dua pria kekar sedang beradu tinju di atas panggung tanah yang dipadatkan. Keduanya bertelanjang dada, hanya memakai celana panjang hitam. Keringat bercucuran di sekujur tubuh mereka. Satu pria botak dengan dada bidang, satu lagi berambut keriting dengan lengan penuh tato.
"Ini namanya gelanggang tinju rakyat. Tidak pakai Qi, tidak pakai senjata. Hanya otot dan tenaga murni. Pria sejati bertarung dengan tangannya sendiri," jelas Bai Feng sambil memesan sepiring kacang goreng dan dua gelas anggur merah dari seorang pedagang kecil di pinggir gelanggang.
Lin Tian menonton dengan antusias. Ini pertama kalinya ia melihat pertarungan tanpa kultivasi. Hanya kekuatan fisik murni. Pukulan demi pukulan dilancarkan, kadang mengenai sasaran, kadang melambung. Kedua pria itu sudah saling babak belur, bibir botak itu pecah dan berdarah, sementara mata pria keriting itu bengkak dan membiru.
"Ini sesuatu yang baru," ucap Lin Tian dengan mata berbinar.
Pertarungan semakin sengit. Pria botak itu melancarkan pukulan beruntun ke perut lawannya, sementara pria keriting membalas dengan pukulan ke rahang. Mereka saling jatuh bangun seperti dua banteng yang sedang memperebutkan wilayah.
Lin Tian merasa tidak tahan lagi. Darah mudanya mendidih melihat kegarangan pertarungan ini.
"Paman! Pukul terus botaknya hingga sinar matahari pun memantul kembali ke langit!" seru Lin Tian memberikan semangat dengan suara lantang.
Beberapa penonton menoleh dan tertawa. Bahkan pria botak di atas panggung sempat melirik sekilas ke arah Lin Tian sambil tersenyum tipis, lalu kembali memusatkan perhatian pada lawannya.
Bai Feng terkekeh sambil mengunyah kacang. "Kau benar-benar menikmati ini, ya?"
"Tentu. Lihat mereka. Tidak ada trik, tidak ada teknik rahasia. Hanya kemauan dan ketahanan fisik," jawab Lin Tian sambil tetap menatap panggung. "Ini murni dan jujur."
Di ujung pertarungan, pria botak berhasil menjatuhkan lawannya dengan sebuah pukulan hook ke rahang. Pria keriting itu jatuh tersungkur dan tidak bisa bangkit sebelum hitungan kesepuluh. Kerumunan bersorak. Pria botak mengangkat tangannya sebagai tanda kemenangan, lalu menunjuk ke arah Lin Tian sambil mengangguk.
Lin Tian membalas anggukan itu dengan memberikan jempol dan senyum lebar.
"Luar biasa."
Bai Feng menepuk pundak Lin Tian. "Kita pulang. Masih ada latihan sore di sekte. Aku tidak mau dimarahi Tetua hanya karena bolos."
Lin Tian mengangguk enggan. Ia menatap gelanggang itu sekali lagi sebelum berbalik. Ada satu hal yang ia pelajari hari ini. Dunia manusia ternyata tidak hanya tentang kultivasi dan kekuatan Qi. Ada juga hal-hal sederhana seperti sate yang enak dan pertarungan tinju yang seru. Dan Kakek Han pasti akan tersenyum melihat ia menikmati semua ini.