NovelToon NovelToon
Restu Yang Ditarik Kembali

Restu Yang Ditarik Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.

​Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.

​Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu Yang Ditarik Kembali

Sore itu, langit di atas rumah sakit nampak mendung kelabu, seolah sedang menahan amarah yang sama besarnya dengan apa yang dirasakan Adila. Adila melangkah keluar dari lobi rumah sakit dengan tas kerja tersampir di bahunya. Tubuhnya lelah setelah sif panjang di bangsal Obgyn, namun pikirannya tetap tajam.

Baru saja ia mengeluarkan kunci mobil, sebuah mobil SUV perak yang sangat ia kenali memotong jalannya dengan kasar di area parkir khusus dokter. Pintu-pintunya terbuka hampir bersamaan. Keluar dari sana adalah formasi lengkap keluarga Revan: Mama Revan yang nampak kalap, Tiara yang wajahnya merah padam, dan untuk pertama kalinya, Papa Revan yang biasanya diam kini ikut turun dengan wajah kaku.

"Adila! Berhenti kamu!" teriak Mama Revan, suaranya melengking hingga beberapa petugas keamanan dan perawat yang baru pulang menoleh.

Adila berhenti, namun ia tidak mundur. Ia berdiri tegak di samping mobilnya, melipat tangan di depan dada dengan ketenangan yang menghina. "Keamanan rumah sakit ini cukup ketat, Mah. Jika Mama datang untuk membuat keributan, saya tidak akan segan memanggil mereka."

"Lancang kamu ya!" Papa Revan akhirnya angkat bicara, suaranya berat dan penuh intimidasi. "Adila, Papa menyangka jika kamu sekarang jadi istri yang durhaka. Mengusir suami dan membawanya ke pengadilan? Di mana letak kehormatanmu sebagai wanita?"

Adila tertawa, tawa pendek yang terdengar sangat pedas. "Kehormatanku, Pah? Kehormatanku sudah habis dikuliti oleh anak Papa saat dia membawa wanita lain ke rumah kami. Di mana kehormatan Papa saat tahu anak Papa menipu istrinya sendiri selama berbulan-bulan?"

"Mbak Adila nggak usah bawa-bawa Papa!" Tiara menyela dengan nada sok pahlawan. "Mas Revan itu cuma kasihan sama Meisya! Dia teman kita dari kecil! Mbak saja yang hatinya dingin kayak es, makanya nggak bisa punya anak, nggak punya perasaan juga!"

Adila mengalihkan pandangannya pada Tiara. Tatapan itu begitu tajam hingga Tiara sempat terdiam. "Kasihan, Tiara? Kamu menyebut pengkhianatan sebagai rasa kasihan? Kamu ini perempuan, Tiara. Satu gender denganku. Tapi melihatmu mendukung pengkhianatan kakakmu hanya karena dia membela sahabatnya, itu benar-benar menjijikkan."

Adila melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Tiara, membuat gadis itu mundur selangkah.

"Dengar ya, Tiara. Aku berdoa... benar-benar berdoa agar suatu saat nanti kamu merasakan apa yang aku rasakan. Aku ingin melihat, saat suamimu nanti membawa teman masa kecilnya yang sedang hamil ke rumahmu, apakah kamu masih bisa bicara soal kasihan dan perasaan? Aku ingin lihat apakah kamu akan tetap tersenyum saat mertuamu menyebutmu tanah tandus sementara suamimu menggenggam tangan wanita lain di depan matamu!"

"Kamu... kamu menyumpahiku?!" Tiara berteriak dengan suara gemetar, air mata kemarahan mulai menggenang.

"Itu bukan sumpah, itu cermin," sahut Adila dingin. "Agar kamu tahu betapa busuknya dukungan yang kamu berikan pada pengkhianat."

"Cukup!" Mama Revan mencoba memukul lengan Adila, namun Adila dengan tangkas menghindar. "Kamu tidak berhak bicara begitu pada adik iparmu! Pokoknya Mama tidak terima! Batalkan gugatan cerai itu! Bagi harta gono-gini itu secara adil! Revan punya hak atas rumah itu!"

Adila mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan sebuah pesan singkat dari pengacaranya. "Persidangan perdana akan dilakukan minggu depan, Mah. Dan tolong sampaikan pada Revan, jangan berharap ada pembagian harta satu rupiah pun. Surat perjanjian pra-nikah itu sudah diverifikasi oleh notaris dan pengadilan. Segala bentuk pengkhianatan emosional dan keputusan sepihak membatalkan hak Revan atas aset bersama. Rumah, mobil, dan seluruh investasi yang ada di bawah nama kami, secara hukum sah menjadi milik saya."

"Kamu mau memiskinkan anakku?!" Papa Revan membentak.

"Saya hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik saya dan membuang apa yang sudah menjadi sampah," jawab Adila tanpa kedip. "Anak Papa masih punya Meisya, kan? Silakan hidup bahagia dengan rasa kasihan dan janin yang bukan darah dagingnya itu di rumah Mama. Itu tempat yang cocok untuk mereka."

Di kejauhan, tak jauh dari tempat kejadian, sebuah mobil sedan hitam mewah nampak terparkir tenang. Di dalamnya, dr. Adrian duduk diam, menyesap kopi hitamnya. Ia tidak turun, tidak juga ikut campur. Namun, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat langka. Ia memperhatikan bagaimana Adila menghadapi tiga orang itu sekaligus tanpa goyah sedikit pun.

"Dokter yang tangguh," gumam dr. Adrian pelan. Ia menyukai cara Adila mengiris mental lawan-lawannya seakurat ia menggunakan pisau bedah.

"Pergi dari sini," usir Adila dengan nada final. "Jika kalian masih di sini dalam satu menit, saya akan menuntut kalian atas dasar perbuatan tidak menyenangkan di tempat umum. Dan percayalah, sebagai dokter di sini, kata-kataku lebih didengar daripada teriakan kalian."

Mama Revan nampak ingin meledak, namun Papa Revan melihat beberapa petugas keamanan mulai berjalan mendekat. Ia menarik tangan istrinya dan anaknya.

"Ayo pergi! Kita urus ini di pengadilan!" ajak Papa Revan dengan wajah menanggung malu yang luar biasa.

Saat mobil mereka melesat pergi dengan suara ban yang mencicit, Adila akhirnya menghela napas panjang. Pundaknya yang tadi tegak sedikit merosot karena lelah yang luar biasa. Ia menyandarkan tubuhnya ke pintu mobil, memejamkan mata sejenak untuk menenangkan detak jantungnya yang menggila.

Tiba-tiba, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di sampingnya. Kaca jendela turun perlahan, menampakkan wajah dingin Dr. Adrian.

"Pilihan diksi yang bagus di bagian bukan sumpah tapi cermin tadi," ucap dr. Adrian datar, seolah baru saja mengomentari sebuah presentasi medis.

Adila tersentak, ia menoleh dan mendapati dokter pembimbingnya itu sedang menatapnya. "Dokter... sudah lama di sana?"

"Cukup lama untuk tahu bahwa kamu tidak butuh bantuan siapa pun untuk menjinakkan anjing yang menggonggong," sahut dr. Adrian. Ia kemudian mengulurkan sebuah cokelat batangan dari dalam mobilnya. "Glukosa. Kamu membutuhkannya untuk menstabilkan emosimu sebelum menyetir."

Adila menerima cokelat itu dengan tangan yang sedikit gemetar. "Terima kasih, Dokter."

"Minggu depan persidangan?" tanya Adrian lagi.

Adila mengangguk. "Iya, Dok."

"Bagus. Selesaikan dengan cepat. Pasien di bangsal menunggumu dengan pikiran yang bersih, bukan pikiran yang penuh dengan sampah masa lalu," ucap Adrian sebelum menaikkan kembali kaca jendelanya dan melaju pergi, meninggalkan Adila yang terpaku di parkiran.

Adila menatap cokelat di tangannya, lalu menatap langit yang kini mulai meneteskan hujan. Ia tersenyum kecil. Ternyata, di tengah badai yang paling hebat sekalipun, selalu ada cara untuk bertahan, asalkan kita berani untuk melawan dan tidak membiarkan diri kita diinjak-injak oleh siapa pun.

1
stela aza
payah bgt udh gitu aja masih di tampung si Memes ,,,, pekok bin bahlul s Revan 🤦
falea sezi
lanjutt
falea sezi
cerai lah oon di usir secara halus gk paham🤣 bego katanya. dokter masak ngemis2 ke laki🤣
falea sezi
mengejar. karir makanya g hamil🤣
falea sezi
10 tahun g hamil. mandul kahh
Suanti
mampus lah kau revan sekalian aja mantan mertua bangun dri pingsan langsung stroke 🤭
Dew666
🩵🩵🩵🩵
cinta semu
syukurin ,salah sendiri jadi suami plin-plan ...sudah dewasa masih aja mau di atur ibu yg mulut ny pedas level 1000... gunakan kedewasaan u untuk berpikir bijak Revan ...dah pulang Sono ...ngadu lagi sm ibu u ...
Sri Widiyarti
lanjut kak semangat up-nya...
Lee Mba Young
lanjut
Dew666
👑👑👑👑
cinta semu
😁😁kaki manusia ...kok q baca ny bisa senyum sendiri ...mungkin efek tegang Krn keluarga Revan nyerang Dil kali😂😂
stela aza
❤️❤️❤️❤️
stela aza
rasakan itu sampah di pungut ,,, istri luar biasa multitalent di buang ,,, pekok ora ketulungan 🤦
Sri Widiyarti
satu kata buat Kel Revan bodoh bela2in perempuan kayak Meisya...🤦🤦🤦
stela aza
lanjut thor up Double y Thor ❤️❤️❤️
stela aza
good job Dila ❤️❤️❤️
stela aza
q suka karakter s Adila ,,, yg tegas pintar dan cerdik ,,, bagaimana menghadapi para benalu dan suami bahlul bin plin-plan ,,, good job Dila
stela aza
stupid bin tongkol sampah loe pungut ,,, punya istri cerdas hebat multitalent loe ganti dg sampah bau busuk bener2 suami bahlul 🤦
Heni Setiyaningsih
untung punya perjanjian pranikah 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!