NovelToon NovelToon
Aku Benar-Benar Manusia Biasa, Percayalah!

Aku Benar-Benar Manusia Biasa, Percayalah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

​"Sialan! Kenapa transmigrasiku tidak memberiku kekuatan super?!"

​Ye Xuan adalah seorang pemuda dari Bumi yang terbangun di Benua Sembilan Cakrawala, sebuah dunia di mana para kultivator bisa membelah lautan dengan satu tebasan pedang. Sialnya, ia menempati tubuh seorang Tuan Muda Klan Ye yang dibuang karena tidak memiliki bakat kultivasi sedikit pun.

​Tanpa energi spiritual, tanpa sistem bela diri, Ye Xuan terpaksa hidup terasing di sebuah puncak gunung terpencil. Untuk bertahan hidup, ia hanya bisa berkebun ubi, menyapu halaman, dan memancing di kolam belakang gubuknya.

​Namun, yang tidak Ye Xuan sadari adalah:

​Air bekas cucian ubi yang ia buang sebenarnya adalah Cairan Kehidupan Abadi yang diperebutkan para Kaisar.

​Sapu lidi tua miliknya adalah Senjata Pemusnah Dao yang ditakuti seluruh iblis.

​Dan ubi bakar yang ia anggap "makanan rakyat jelata" sebenarnya adalah Obat Dewa yang bisa membuat seseorang menerobos ranah dalam semalam!

​Ketika para dewi sekte suci d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: MEMASAK UBI, MEMICU KIAMAT

​Udara di dalam pondok bambu Ye Xuan berbau harum—bukan bau parfum mewah, melainkan bau tanah setelah hujan bercampur dengan aroma manis ubi yang sedang dibakar. Bagi Ye Xuan, ini adalah bau kemiskinan yang menyedihkan. Namun bagi Lin Meier, setiap molekul udara yang ia hirup terasa seperti meminum nektar para dewa.

​Ye Xuan sibuk di depan tungku tanah liatnya yang retak. Ia meniup api dengan sembarang, tapi setiap tiupan napasnya mengandung Essence of Fire yang bisa melelehkan es abadi di Benua Utara.

​"Nona Lin, maaf ya kalau pondokku agak berantakan," ucap Ye Xuan sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia merasa sangat minder. Di depannya ada seorang dewi, sementara dia hanya punya meja kayu kusam yang kakinya diganjal batu.

​"Tidak... Senior, ini adalah tempat paling... paling suci yang pernah saya kunjungi," jawab Lin Meier dengan suara gemetar.

​Ia duduk di kursi bambu tua. Saat kulitnya bersentuhan dengan bambu itu, ia merasakan arus informasi raksasa mengalir ke otaknya. Kursi ini tidak dibuat dari bambu biasa, melainkan Bambu Dao Abadi yang sudah punah sejak Zaman Primal. Di tangan Ye Xuan, bambu legendaris itu hanyalah furnitur murah hasil tebangan di belakang rumah.

​Ye Xuan tertawa pahit. Suci? Dia pasti sedang menyindirku atau otaknya agak bergeser karena jatuh tadi. Siapa yang menyebut gubuk reot ini suci?

​"Ah, kau terlalu baik. Ini hanya gubuk tempatku bersembunyi dari kejamnya dunia," kata Ye Xuan. Ia kemudian mengambil sebuah ubi dari abu tungku, mengupas kulitnya yang menghitam, dan menyodorkannya pada Lin Meier. "Ini, makanlah. Ini ubi jalar terbaik yang bisa kutanam, meski rasanya mungkin agak hambar karena aku kehabisan garam."

​Lin Meier menerima ubi itu dengan tangan gemetar. Saat ia menggigit sedikit daging ubi yang berwarna emas itu, matanya tiba-tiba membelalak.

​BOOM!

​Di dalam lautan kesadarannya, sebuah ledakan energi spiritual terjadi. Luka dalam yang dideritanya karena serangan Sekte Bayangan Darah sembuh seketika. Tidak hanya itu, fondasi kultivasinya yang tadinya retak kini menyatu kembali dan menjadi sepuluh kali lebih kokoh.

​Hambar?! Lin Meier ingin menangis. Satu gigitan ini setara dengan mengonsumsi sepuluh ribu Pil Penambah Jiwa tingkat tinggi! Senior Ye mengatakan ini hambar? Standar macam apa yang ia miliki?!

​"Kenapa? Rasanya aneh ya?" Ye Xuan bertanya dengan cemas melihat ekspresi Lin Meier yang membeku. "Maaf, tanah di gunung ini memang kurang nutrisi. Ubi itu tumbuh agak liar."

​Kurang nutrisi?! Lin Meier menatap ke luar jendela, ke arah ladang ubi yang disebutkan Ye Xuan. Di sana, ia melihat aura energi berwarna ungu—warna keberuntungan tertinggi—membubung tinggi ke langit, menciptakan pelangi abadi yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang memiliki mata batin.

​Sementara itu, beberapa kilometer dari pondok, di wilayah yang lebih rendah dari gunung tersebut.

​Sekelompok pria berseragam zirah perak sedang terbang di atas pedang mereka. Mereka adalah Pasukan Penegak Hukum dari Kekaisaran Sembilan Langit. Pemimpin mereka, Jenderal Long, adalah seorang ahli ranah Golden Core yang sangat ditakuti.

​"Jenderal! Lihat itu!" salah satu prajurit menunjuk ke arah puncak gunung. "Fenomena Langit! Aura ungu membubung setinggi sepuluh ribu meter! Itu... itu adalah tanda kelahiran Pusaka Dewa atau munculnya seorang Kaisar Surgawi!"

​Jenderal Long menahan napas. "Aura sekuat itu... aku bahkan tidak bisa menatapnya langsung tanpa merasa mataku akan terbakar. Cepat! Kita harus menyelidiki siapa ahli agung yang tinggal di sana. Tapi ingat! Jangan bertindak kasar. Jika kita menyinggung sosok seperti itu, Kekaisaran kita akan musnah dalam satu malam!"

​Mereka pun mempercepat laju pedang terbang mereka, menuju koordinat pondok Ye Xuan dengan hati yang penuh ketakutan dan harapan.

​Di dalam pondok, Ye Xuan sama sekali tidak sadar bahwa dia baru saja "memicu kiamat" bagi kestabilan politik benua hanya karena membakar ubi. Ia justru sedang sibuk memikirkan cara untuk "menembak" Lin Meier, atau setidaknya membuatnya betah.

​Dia cantik sekali saat makan ubi, batin Ye Xuan sambil mencuri pandang. Tapi dia seorang kultivator. Pasti dia suka laki-laki yang bisa bela diri, bukan laki-laki yang hanya jago mengupas ubi. Sial, kenapa transmigrasiku tidak memberiku kekuatan super?

​Karena merasa canggung dengan keheningan itu, Ye Xuan mengambil sebuah seruling kayu tua dari rak dan mulai meniupnya. Ia hanya ingin memecah suasana yang kaku.

​"Aku akan memainkan lagu kecil untukmu, Nona Lin. Anggap saja sebagai hiburan setelah hari yang berat," ucap Ye Xuan rendah hati.

​Begitu nada pertama keluar dari seruling itu, waktu di Benua Sembilan Cakrawala seolah berhenti.

​Lagu itu berjudul "Gugurnya Daun Musim Gugur", sebuah lagu sedih yang sering ia dengar di YouTube dulu. Namun, di dunia kultivasi ini, nada-nada itu berubah menjadi "Simfoni Kehancuran dan Penciptaan".

​Lin Meier yang sedang mengunyah ubi, tiba-tiba merasa jiwanya ditarik keluar dari tubuhnya. Ia melihat siklus hidup dan mati, ia melihat bagaimana galaksi tercipta dan hancur. Pengetahuannya tentang Dao meningkat ribuan tahun dalam hitungan detik.

​Di luar pondok, burung-burung di hutan berhenti terbang dan hinggap di pagar dengan kepala menunduk, seolah sedang menyembah. Binatang buas tingkat tinggi yang biasanya mengaum liar, kini meringkuk di bawah pohon, meneteskan air mata karena terharu mendengar musik tersebut.

​Namun bagi Ye Xuan?

​"Aduh, nada terakhirnya agak sumbang," gumam Ye Xuan sambil menurunkan serulingnya. "Napas paru-paruku memang kurang kuat untuk nada tinggi."

​Lin Meier: "..." (Ingin pingsan untuk kedua kalinya).

Jenderal Long dan selusin prajurit elitnya mendarat dengan gemetar di depan pagar kayu yang reyot. Sebagai ahli ranah Golden Core, Jenderal Long seharusnya bisa menghancurkan pagar seperti itu hanya dengan satu jentikan jari. Namun, saat ia berdiri di sana, ia merasa seperti seekor semut yang berdiri di depan gerbang istana dewa.

​"Jenderal... lihat pagar itu," bisik salah satu prajurit dengan wajah pucat.

​Jenderal Long menajamkan penglihatannya. Matanya hampir melompat keluar. Pagar kayu yang tampak tua dan lapuk itu ternyata dirajut dari Kayu Penahan Langit—sejenis tanaman legendaris yang konon bisa menahan hantaman petir kesengsaraan tingkat sembilan. Di dunia luar, satu serpihan kayu ini bisa memicu perang saudara, tapi di sini, kayu itu hanya dijadikan pagar untuk menahan ayam agar tidak lari.

​"Tetap tenang... jangan bernapas terlalu keras," perintah Jenderal Long dengan suara serak. "Kita di sini untuk memberi hormat, bukan untuk mencari mati."

​Tepat saat mereka ragu untuk mengetuk, pintu pondok terbuka.

​Ye Xuan keluar sambil membawa sebuah ember kayu berisi air bekas cucian ubi. Ia melihat sekelompok orang berbaju zirah lengkap dengan pedang besar di punggung mereka sedang berdiri mematung di depan pagarnya.

​Waduh! Tentara?! Ye Xuan seketika merinding. Apakah mereka datang untuk menagih pajak? Atau aku dituduh menempati lahan hutan lindung tanpa izin? Sial, hidup di dunia lain benar-benar rumit!

​Ye Xuan mencoba memasang wajah setenang mungkin, meskipun lututnya ingin sekali beradu. Ia teringat nasihat di internet: "Jika kau takut, pura-puralah tidak peduli."

​Dengan santai—atau setidaknya ia pikir itu santai—Ye Xuan berjalan ke pinggir pagar dan menyiramkan air bekas cucian ubi itu ke arah semak-semak di dekat para prajurit.

​Wush!

​Bagi Ye Xuan, itu hanya membuang air kotor. Namun bagi Jenderal Long dan pasukannya, mereka melihat aliran air yang memancarkan cahaya perak, mengandung energi kehidupan yang begitu pekat hingga semak-semak di bawahnya seketika tumbuh menjadi pohon-pohon bunga spiritual langka dalam hitungan detik.

​Cairan Kehidupan Abadi?! Dia membuangnya seperti air comberan?! Jenderal Long hampir pingsan karena syok.

​"Ehem," Ye Xuan berdehem, mencoba terdengar berwibawa. "Ada perlu apa kalian datang ke gubukku yang kumuh ini? Aku tidak punya uang untuk membayar pajak, dan ubi-ubiku belum semuanya panen."

​Mendengar kata "gubuk kumuh", Jenderal Long merasa ingin menangis. Jika ini gubuk kumuh, lalu istana Kekaisaran kami itu apa? Kandang babi?

​Jenderal Long segera berlutut dengan satu kaki, diikuti oleh seluruh pasukannya. "Junior Long dari Kekaisaran Sembilan Langit, datang untuk memberikan penghormatan kepada Senior! Kami melihat fenomena langit dari kejauhan dan hanya ingin memastikan keselamatan Senior!"

​Ye Xuan berkedip. Senior? Keselamatan? Oalah, mereka pasti mengira aku ini kakek-kakek yang sudah lama tinggal di sini karena wajahku mungkin terlihat kusam karena asap tungku, pikir Ye Xuan. Dan keselamatan? Apa mereka sedang mengejekku karena aku terlihat lemah?

​"Aku baik-baik saja. Kalian tidak perlu repot," jawab Ye Xuan sambil melambai-lambaikan tangannya. "Lebih baik kalian pulang. Di sini tidak ada apa-apa selain debu dan ubi."

​Di saat yang sama, Lin Meier keluar dari dalam pondok. Wajahnya yang tadi pucat kini bersinar cerah, auranya jauh lebih kuat dari sebelumnya.

​"Jenderal Long?" Lin Meier terkejut melihat jenderal terkenal itu berlutut di tanah.

​"Putri Meier? Anda... Anda berada di sini?" Jenderal Long menyadari bahwa aura Lin Meier telah berubah drastis. "Kultivasi Anda... Anda menerobos ke ranah Nascent Soul hanya dalam sekejap?!"

​Lin Meier mengangguk dengan khidmat, menatap punggung Ye Xuan dengan pandangan penuh pemujaan. "Itu semua berkat bimbingan Senior Ye. Beliau... beliau memberiku makanan dewa dan memainkan musik yang melampaui dunia ini."

​Ye Xuan yang mendengar pembicaraan itu hanya bisa menggaruk telinganya. Menerobos? Ranah apa? Makanan dewa? Dia benar-benar berlebihan. Dia cuma makan ubi bakar yang agak gosong.

​"Sudahlah, jangan dibesar-besarkan," potong Ye Xuan karena merasa malu dipuji setinggi langit. "Nona Lin, jika teman-temanmu ini sudah datang, mungkin kau ingin pulang bersama mereka? Aku takut stok ubiku tidak cukup jika kalian semua ikut makan di sini."

​Ye Xuan sebenarnya hanya ingin mengusir mereka dengan halus karena ia takut kalau mereka tetap di sana, rahasianya sebagai "pengangguran lemah" akan terbongkar.

​Namun, Jenderal Long menangkap maksud lain. Senior sedang mengusir kami! Beliau pasti marah karena kami mengganggu ketenangannya saat sedang 'melatih mentalitas manusia biasa'!

​"Maafkan kelancangan kami, Senior!" Jenderal Long membungkuk hingga kepalanya menyentuh tanah. "Kami akan segera pergi! Ini... ini adalah sedikit tanda penghormatan dari Kekaisaran kami. Mohon Senior sudi menerimanya!"

​Jenderal Long meletakkan sebuah cincin perak di atas pagar kayu. Itu adalah Cincin Ruang berisi jutaan batu spiritual dan ramuan langka.

​Ye Xuan menatap cincin itu. Cincin perak? Kelihatan seperti barang imitasi dari pasar malam. Tapi ya sudahlah, mungkin ini kenang-kenangan.

​"Baiklah, aku terima. Sekarang pergi, aku mau menyapu halaman lagi. Debunya sangat banyak," ucap Ye Xuan sambil mengambil cincin itu dan memasukkannya ke saku celananya seperti menyimpan koin receh.

​Jenderal Long dan pasukannya mundur perlahan dengan wajah penuh keringat dingin. Mereka merasa baru saja meloloskan diri dari gerbang kematian. Begitu sudah cukup jauh, mereka terbang dengan kecepatan maksimal, seolah-olah dikejar setan.

​Ye Xuan menghela napas lega setelah mereka pergi. Ia mengambil sapu lidinya dan mulai menyapu lagi.

​"Dunia ini benar-benar aneh," gerutunya. "Orang-orang berbaju besi datang, berlutut, memberi cincin mainan, lalu lari ketakutan. Apa mungkin asap ubi bakar tadi mengandung zat halusinasi?"

​Lin Meier yang berdiri di belakangnya hanya bisa tersenyum kecil. Ia merasa beruntung. Meskipun ia menyukai Senior Ye, ia tahu bahwa dengan identitasnya sebagai murid sekte biasa, ia tidak akan pernah pantas bersanding dengan pria yang bisa memerintah hukum alam hanya dengan sebatang sapu.

​Aku akan tetap di sini sebentar lagi, batin Lin Meier tekad. Meskipun hanya sebagai pelayan penyeduh teh, itu adalah kehormatan tertinggi di seluruh benua ini.

Jenderal Long

1
Pecinta Gratisan
semangat💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!