Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA
Makanan yang dipesan melalui aplikasi tiba beberapa menit kemudian. Suara motor kurir yang menjauh meninggalkan keheningan yang kembali menebal di ruang makan. Siham menata bungkusan itu di atas piring dengan gerakan lambat, seolah-olah setiap piring yang ia angkat memiliki berat berkuintal-kuintal.
Dewangga duduk di kursi kebesarannya, memperhatikan setiap gerak-gerik Siham. Lampu kristal di atas mereka menyorot tajam, memperlihatkan betapa gemetarnya jemari Siham saat menuangkan air putih ke gelas.
"Duduk, Siham dan makan makanan kamu," perintah Dewangga. Suaranya tidak lagi menggelegar, tapi ada nada tuntutan yang tertahan.
Siham menurut. Ia duduk di hadapan Dewangga, dipisahkan oleh meja makan panjang yang terasa seperti jurang pemisah. Di piringnya ada nasi dan sayur bening, namun Siham hanya mengaduk-aduknya. Aroma makanan yang biasanya menggugah selera kini justru memicu rasa mual yang hebat di pangkal tenggorokannya.
Dewangga menyuap makanannya, namun matanya terus tertuju pada wajah istrinya. Dari jarak ini, ia bisa melihat betapa cekungnya pipi Siham. Tulang selangkanya menonjol di balik kerah daster yang longgar.
"Kamu pucat sekali," ujar Dewangga tiba-tiba, memecah kesunyian. "Besok pergilah ke dokter. Periksa ke rumah sakit yang bagus. Jangan hanya tidur-tiduran di rumah dalam gelap kalau memang tidak enak badan."
Siham mengangkat wajahnya sedikit. Matanya yang sayu menatap Dewangga sesaat, lalu ia kembali menunduk. "Iya, Mas."
Jawaban itu. Singkat, datar dan terdengar patuh.
Dewangga meletakkan sendoknya dengan dentingan nyaring yang disengaja. Ia merasa ada sesuatu yang bergejolak di dadanya sebuah kemarahan yang ia sendiri tidak tahu asalnya. "Hanya iya? Besok aku minta sopir antar kamu. Jangan coba-coba jalan kaki atau naik taksi online lagi seperti orang susah. Mengerti?"
"Iya, Mas," jawab Siham lagi, dengan nada yang persis sama. Tanpa emosi. Tanpa bantahan.
Darah Dewangga mendadak mendidih. Ia lebih suka Siham yang kemarin hSiham yang menyindirnya soal Agata, Siham yang berani menatapnya dengan penuh luka, atau bahkan Siham yang menangis tersedu-sedu. Kepasrahan Siham saat ini justru terasa seperti sebuah penghinaan baginya. Seolah-olah Siham sudah tidak lagi menganggap Dewangga layak untuk dilawan.
"Kenapa kamu jadi seperti ini, Siham?" bentak Dewangga, ia mendorong piringnya menjauh. "Kenapa kamu cuma bilang iya? Kenapa kamu tidak membantahku? Kenapa kamu tidak bilang saja kalau kamu tidak butuh peduliku? Atau bilang kalau kamu benci aku karena aku masih memikirkan Agata? Lakukan sesuatu! Jangan cuma diam seperti mayat hidup!"
Siham menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengaduk nasi. Ia meletakkan sendoknya pelan, lalu menatap Dewangga dengan ketenangan yang mengerikan. Ketenangan orang yang sudah tidak memiliki beban apa pun di dunia ini.
"Lalu aku harus bicara apa, Mas?" tanya Siham lembut. "Kamu menyuruhku ke dokter, aku bilang iya. Kamu menyuruhku pakai sopir, aku bilang iya. Bukankah selama lima tahun ini itu yang kamu mau? Istri yang tidak banyak bicara dan hanya menuruti semua kata-katamu?"
"Bukan seperti ini!" Dewangga berdiri, kursinya terdorong ke belakang hingga menimbulkan bunyi decit yang menyakitkan telinga. "Kamu sengaja, kan? Kamu sengaja bersikap lemah begini supaya aku merasa bersalah? Supaya orang tuaku makin menyalahkanku?"
Siham tersenyum tipis. Sebuah senyum yang sangat menyayat hati jika saja Dewangga mau melihatnya lebih dalam. "Aku tidak punya energi lagi untuk membuatmu merasa bersalah, Mas. Aku hanya... lelah. Sangat lelah."
"Kalau lelah, ya ke dokter! Jangan cuma pasrah!" Dewangga mendekat, ia berdiri tepat di samping Siham. "Aku tidak mau punya istri yang penampilannya seperti ini. Kamu merusak citraku. Besok, aku pastikan kamu ke dokter atau aku sendiri yang akan menyeretmu ke sana."
Siham hanya menatap gelas air putih di depannya. Ia tahu, ke dokter manapun tidak akan mengubah garis akhir yang sudah tertulis. "Besok aku akan pergi, Mas. Kamu tidak perlu khawatir soal citramu. Aku tidak akan membiarkan diriku memalukanmu lebih lama lagi."
Kalimat itu terdengar seperti janji, namun juga terdengar seperti perpisahan. Dewangga tertegun. Ia ingin membalas, ingin membentak lagi agar rasa sesak di dadanya hilang, tapi melihat bahu Siham yang bergetar kecil karena menahan batuk, ia mendadak bungkam.
"Makanannya dihabiskan," gumam Dewangga, lalu ia berbalik dan melangkah cepat menuju ruang kerjanya, melarikan diri dari pemandangan istrinya yang perlahan-lahan tampak seperti memudar di bawah lampu ruang makan.
Di meja makan, Siham segera menutup mulutnya dengan tisue begitu Dewangga menghilang di balik pintu. Ia terbatuk hebat, tubuhnya terguncang-guncang. Saat ia menjauhkan serbet itu, setetes darah segar kembali menodai kain putih bersih tersebut.
Siham menatap darah itu dengan pandangan kosong. Ia tidak takut. Ia justru merasa lega.
"Besok memang aku harus pergi ke rumah sakit, Mas," bisiknya pada keheningan. "Tapi bukan untuk sembuh. Tapi untuk mencari tempat di mana aku bisa menutup mata tanpa harus melihat kemarahanmu lagi."
Ia bangkit, meninggalkan makanannya yang hampir tidak tersentuh. Dengan langkah gontai, ia menuju dapur untuk mencuci piringnya sendiri. Setiap gerakan terasa menyakitkan, seolah-olah tulang-tulangnya sedang bergesekan tanpa pelumas.
Di dalam ruang kerjanya, Dewangga duduk di depan meja jati besarnya. Ia mencoba fokus pada berkas kantor, namun pikirannya terus kembali pada Siham. Ia merasa kesal karena Siham tidak melawannya. Ia ingin Siham berteriak padanya, memaki-makinya, agar ia punya alasan untuk tetap marah. Karena jika ia tidak marah, yang tersisa hanyalah rasa takut. Takut bahwa kesunyian yang ia ciptakan sendiri selama lima tahun ini akan menjadi kesunyian yang abadi.
"Besok pagi," gumam Dewangga pada dirinya sendiri. "Besok pagi aku akan memastikan dia diperiksa. Semuanya akan baik-baik saja."
Dewangga mencoba meyakinkan dirinya sendiri, sementara di kamar sebelah, Siham sedang membuka laptopnya untuk terakhir kalinya malam itu. Ia mengetik beberapa baris kalimat yang akan menjadi penutup bagi dunia Aksara Renjana.
"Dia meminta aku melawan, tanpa sadar bahwa pedangku sudah patah sejak lama. Ia meminta aku bicara, tanpa tahu bahwa suaraku sudah habis ditelan doa-doa yang tidak pernah ia dengar. Esok, saat matahari terbit, aku akan pergi ke tempat di mana iya adalah sebuah kebebasan, bukan lagi sebuah kepatuhan."
Malam itu, di bawah atap yang sama, satu orang sedang berencana untuk memperbaiki keadaan, sementara yang lain sedang bersiap untuk mengakhirinya. Dan Dewangga tidak pernah tahu, bahwa kepatuhan Siham malam ini adalah bentuk pamit yang paling nyata yang pernah ia terima.