Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lanjut
Dua minggu setelah kejadian di lorong sekolah
Aelira tidak pernah membayangkan bahwa satu tindakan refleksnya akan mengubah hidupnya secara total.
Pagi itu, mobil hitam mewah berhenti tepat di depan pintu gerbang Panti Asuhan Pelita Hati. Dua pria berjas hitam keluar, lalu diikuti oleh seorang wanita paruh baya dengan wajah tegas namun mata yang teduh—Nyonya Margareth Veyron, ibunda Ravian.
Aelira yang sedang menyapu halaman panti hanya bisa terdiam ketika namanya dipanggil oleh kepala panti.
"Kamu Aelira?" tanya Nyonya Margareth langsung.
"I-iya, Bu..."
"Aku ibu dari anak yang kamu tolong minggu lalu di sekolah."
Aelira langsung membeku. Oh Tuhan, jadi ini masalahnya. Mereka pasti mau menuntut balik karena aku sudah mengganggu anak mereka.
"Tenang saja, Nak. Kami tidak akan memarahimu," kata Nyonya Margareth lembut, seolah membaca ketakutan di wajah Aelira. "Kami justru mau berterima kasih."
Hari itu Aelira tahu kebenarannya. Ravian Kael Davino Veyron menderita Haphephobia adalah ketakutan intens, irasional, dan berlebihan terhadap sentuhan fisik, baik menyentuh maupun disentuh orang lain ,khususnya wanita.
Kondisi ini termasuk fobia spesifik yang dapat memicu kecemasan ekstrem atau serangan panik. Fobia ini sering dikaitkan dengan trauma masa lalu . Dan secara ajaib, sentuhan Aelira yang tanpa sadar mengusap-usap tangannya saat itu berhasil meredakan serangan yang bahkan obat-obatan mahal pun butuh waktu berjam-jam untuk menanganinya.
"Aku butuh gadis itu di rumah kita," kata Ravian pada orang tuanya malam itu, datar seperti sedang memesan makanan. "Dia bisa membantu kalau penyakitku kambuh lagi."
Tanpa negosiasi. Tanpa 'tolong'. Tanpa 'permisi'.
Langsung pada intinya—seperti biasa.
---
Tiga hari kemudian
Aelira resmi meninggalkan panti asuhan.
Keluarga Veyron tidak mengadopsinya secara hukum—tidak sesederhana itu. Mereka 'mengangkat' Aelira dengan status sebagai pendamping pribadi Ravian. Atau lebih tepatnya: babu.
Kamar Aelira? Sebuah ruang kecil di dekat dapur rumah Veyron yang luasnya seukuran lemari pakaian Ravian. Fasilitas? Standar. Gaji? Di atas rata-rata, tapi dengan segudang perintah.
"Halo, babu. Ambilkan minum." Itu Ravian, pagi pertama Aelira menginjakkan kaki di rumah besar itu.
"Namaku Aelira," jawabnya pelan.
"Terserah. Babu lebih pendek."
Dan sejak saat itu, Ravian tidak pernah memanggil namanya.
---
Seminggu kemudian
"Aelira, Ravian belum ganti baju," kata Nyonya Margareth suatu pagi. "Antarkan seragamnya ke kamar dan bantu dia. Dia sedang malas diganggu asisten rumah tangga yang biasa."
Aelira menelan ludah. Membantu berpakaian?
Dia mengetuk pintu kamar Ravian dengan gemetar.
"Masuk."
Ravian sedang duduk di tepi tempat tidurnya, hanya mengenakan celana boxer dan kaus oblong longgar. Tubuhnya tegap untuk ukuran seusianya—hasil dari les bela diri sejak kecil.
"Aku disuruh Bunda anterin seragam," ucap Aelira, mata menunduk.
"Ya udah. Bantu pakaiin."
"A-apa?"
"Tuli? Bantu pakaiin bajuku," ulang Ravian tanpa ekspresi.
Dengan tangan gemetar, Aelira mengambil kemeja seragam putih itu dan membantunya memakai—dari kancing pertama hingga terakhir. Ravian tidak banyak bicara, hanya menatap ponselnya sepanjang waktu seolah kehadiran Aelira bahkan tidak layak untuk dikomentari.
Begitu seterusnya.
Setiap pagi, Aelira harus datang ke kamar Ravian untuk membantu menyiapkan pakaiannya. Kadang sepatu, kadang dasi, kadang menyisir rambut Ravian yang acak-acakan. Pekerjaan sepele yang sebenarnya bisa dilakukan sendiri oleh pria seusianya—tapi Ravian menikmati kekuasaan itu.
"Ini lucu," kata Alpha suatu hari saat Aelira curhat lewat telepon. "Lo jadi kayak asisten pribadi gitu."
"Bukan asisten, Al. Lebih kayak babu," keluh Aelira. "Dia maksain aku ambilin air minum padahal cuma sepuluh langkah dari tempat tidurnya ke dispenser."
"Tapi kan lo tinggal di rumah mewah sekarang."
"Alpha! Bukan itu masalahnya!"
Alpha tertawa kecil. "Santai, Ra. Mungkin cuma bentar. Lagian kan lo bisa sekolah gratis sekarang—itu kan mimpi lo."
Aelira terdiam. Alpha benar. Satu-satunya alasan dia bertahan adalah karena keluarga Veyron membiayai sekolahnya—sekolah bergengsi yang tidak pernah mampu dia bayangkan sebelumnya. Ayah angkatnya, Tuan Veyron, bahkan sudah mengurus seluruh administrasinya hanya dalam sehari.
Tapi apa pantas kebebasan satu nyawa dibayar dengan harga segini?
---
Malam itu
Ravian terbangun di tengah malam karena serangan urtikarianya kambuh lagi—kali ini dipicu oleh pertengkaran singkat dengan ayahnya soal nilai rapornya yang anjlok.
"Aelira!" teriaknya keras-keras, tidak peduli bahwa itu tengah malam.
Aelira yang masih terjaga karena belajar untuk ulangan besok berlari ke kamar Ravian tanpa alas kaki.
"Kak Ravian? Kambuh lagi?"
"Sakit!" raungnya. Seluruh lengannya dipenuhi bentol merah. Wajah Ravian yang biasanya dingin dan arogan kini berubah menjadi ekspresi yang hampir... rentan. "Cepet, bantu. Kayak kemarin."
Tanpa pikir panjang, Aelira duduk di sisi tempat tidurnya. Mulai dari pergelangan tangan, dia mengusap perlahan kulit Ravian dengan gerakan melingkar yang sama seperti pertama kali. Tidak ada mantra, tidak ada ramuan, tidak ada logika medis—tapi bentol-bentol itu perlahan memudar.
Ravian mengepalkan tangannya, menahan sesuatu.
"Kenapa lo bisa?" bisiknya, setengah bertanya pada dirinya sendiri.
"Entahlah. Mungkin karena aku sudah biasa merawat adik-adik di panti kalau sakit," jawab Aelira jujur. "Jadi tanganku hapal gerakan yang bikin nyaman."
Ravian tidak menjawab. Hanya diam, membiarkan gadis itu mengusap lengannya tanpa henti sampai kelopak matanya terasa berat.
Dan untuk pertama kalinya, dia tidak menyuruh Aelira pergi.
---
Keesokan paginya
Ketika Aelira masuk ke kamar Ravian untuk membantunya berpakaian seperti biasa, dia menemukan pria itu sudah setengah rapi.
"Lo udah ganti sendiri?" tanya Aelira heran.
Ravian hanya mengangkat bahu, mengambil dasi dan melemparkannya ke arah Aelira. "Bantu ini aja. Gue gak bisa."
Aelira mendekat dan mulai merapikan dasi Ravian. Jarak mereka cukup dekat—wangi parfum Ravian menusuk hidungnya.
"Lo jangan cerita ke siapa pun," ucap Ravian tiba-tiba, suaranya rendah.
"Cerita apa?"
"Tentang... tadi malam. Tentang gue yang..."
Rentan? Lemah? Butuh pertolongan?
Aelira mengerti. "Aku tidak akan bilang."
Ravian menatapnya lama, seolah menilai apakah gadis di depannya ini layak dipercaya.
"Bagus," katanya akhirnya. "Karena kalau bocor, gue usir lo dari rumah ini. Lo balik lagi ke panti lo."
Ancaman itu menggantung di udara. Aelira hanya mengangguk, menelan ludah.
Dia tahu—mulai hari ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
---