Arunika hidup dengan trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi dingin dan tertutup. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, ia diasuh oleh kakek dan neneknya di sebuah penginapan tua di desa wisata yang dipenuhi pohon damar. Aroma lilin dari getah damar selalu menjadi tempat ternyaman bagi Arunika, hingga kehadiran seseorang dari masa lalunya perlahan mengusik hidup yang selama ini terasa tenang. Di saat yang sama, seorang pemuda yang telah menemaninya sejak kecil masih setia berada di sisinya. Lalu, siapakah yang akhirnya akan dipilih Arunika?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Senyum yang Tersembunyi
Rahasia di Balik Senyum yang Tersembunyi
Sore itu, langit di atas penginapan berangsur memudar menjadi warna ungu yang pekat. Senja kembali dari urusan bisnis ayahnya dengan tubuh yang sedikit lelah, namun pikirannya tetap tertinggal di bawah pohon agathis tempat Arunika merajut pagi tadi.
Setelah membersihkan diri, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk.
Di luar, suara serangga malam mulai bersahutan, menciptakan simfoni alam yang pengap namun menenangkan.
Bayangan wajah dingin Arunika kembali menari-nari di langit-langit kamar sebelum akhirnya kesadaran Senja direnggut oleh lelap yang dalam.
Keesokan paginya, sinar matahari menyelinap malu melalui gorden, menyapa kelopak mata Senja. Ia terbangun dengan perasaan yang lebih segar.
Setelah bersiap, ia melangkah keluar menuju balkon utama. Di sana, Kakek dan Nenek sudah duduk melingkar bersama Ayah Damar.
Aroma kopi tubruk dan singkong rebus mengepul, mengundang selera di tengah udara pagi yang masih sedikit menggigit.
"Nah, ini dia jagoannya sudah bangun," sapa Ayah Damar sambil terkekeh melihat putranya mendekat.
"Sini, Nak Adit. Mari kita sarapan bersama," ajak Kakek dengan ramah.
Arunika muncul dari arah dapur membawa nampan tambahan. Ia hanya diam, meletakkan piring-piring kecil dengan gerakan yang sangat teratur.
Tidak ada suara, tidak ada sapaan. Ia seperti bayangan yang bergerak di antara cahaya, nyata namun terasa jauh.
"Ika, bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?" tanya Ayah Damar mencoba mencairkan suasana.
Arunika mendongak pelan, memberikan senyum tipis yang terlihat tulus. "Nyenyak, Om. Terima kasih sudah bertanya," jawabnya lembut.
Namun, saat Senja mencoba ikut bicara, "Kalau aku yang tanya, jawabannya bakal sama nggak?"
Arunika menoleh ke arah Senja. Senyumnya masih ada, namun Senja bisa melihat ada gurat keterpaksaan di sana—sebuah formalitas agar tidak ditegur oleh Kakek dan Neneknya. "Iya, sama saja, Adit," jawabnya singkat sebelum kembali menunduk.
Kakek menyesap kopinya perlahan. "Kalian hari ini rencananya mau ke mana?" tanya beliau kepada Ayah Damar.
"Saya ada keperluan sebentar keluar untuk bertemu kolega, Kek. Tapi sepertinya Adit tidak ikut, urusan ini biar saya yang handle sendiri. Paling Adit di penginapan saja, mencari udara segar atau sekadar bersantai," jelas Ayah Damar.
Ayah Damar kemudian melirik ke arah Arunika. "Kalau Ika sendiri, ada rencana pergi hari ini?"
"Ika mau pergi ke pasar, Om. Mau beli keperluan dapur karena stoknya sudah hampir habis," sahut Nenek menimpali.
"Sama siapa perginya?" tanya Ayah Damar lagi.
"Paling sama Bibi, seperti biasanya," jawab Nenek.
Ayah Damar tampak berpikir sejenak, lalu matanya berbinar. "Wah, kebetulan sekali kalau begitu. Bagaimana kalau Adit ikut saja? Kasihan dia kalau hanya di penginapan sendirian, pasti bosan."
Uhuk!
Senja tersedak singkong rebusnya. Ia terbatuk kecil sambil berdeham, mencoba menetralkan tenggorokannya yang mendadak kering.
Di seberang meja, mata Arunika membulat. Ia tampak kaget, bingung, dan seolah-olah baru saja mendengar berita buruk.
"Boleh tuh! Biar mereka semakin akrab, tidak cuek-cuekan lagi seperti kemarin," kata Kakek sambil tertawa ringan.
"Nggak usah, Kek. Ika bisa sendiri kok, lagipula nanti ada Bibi juga yang menemani," tolak Arunika halus, namun nada bicaranya menyiratkan keberatan yang kuat.
Senja, yang melihat reaksi Arunika, justru merasa tertantang. Ia tersenyum tipis, sejenis senyum nakal yang tersimpan di balik wajah tampannya.
"Nggak apa-apa kok, Ika. Daripada aku gabut di penginapan, mending aku ikut. Siapa tahu aku bisa bantu membawakan belanjaan yang berat," ujar Senja.
Arunika menatap Senja. Matanya memancarkan kilat tidak suka yang sangat jelas—sebuah protes bisu yang hanya bisa ditangkap oleh Senja.
Melihat ekspresi itu, Senja justru merasa gemes. Ia tetap tersenyum manis, sementara Ayah Damar, Kakek, dan Nenek tertawa bersama membicarakan hal lain, tidak menyadari peperangan batin yang terjadi di antara dua anak muda itu.
Satu jam kemudian, sebuah mobil penginapan tua yang masih terawat dengan baik menderu pelan.
Pak sopir sudah siap di depan kemudi, sementara Senja dan Arunika duduk di bangku tengah dengan jarak yang cukup lebar.
Sepanjang jalan, hanya suara mesin mobil dan derit kayu dari badan kendaraan yang terdengar.
Angin masuk melalui jendela yang dibuka separuh, memainkan helaian rambut Arunika yang dibiarkan tergerai.
Sesampainya di pasar tradisional yang ramai, Arunika segera melangkah dengan cekatan. Ia seolah ingin meninggalkan Senja di belakang.
Namun, Senja yang memiliki langkah kaki lebih panjang dengan mudah menyamainya.
Arunika berhenti di depan penjual sayur. Ia mulai memilah-milah dengan teliti.
Senja tidak mau tinggal diam, ia ikut berjongkok di samping Arunika, mencoba membantu memilih wortel, kentang, dan tomat.
"Ika, yang ini oke nggak?" tanya Senja sambil mengangkat sebuah wortel yang tampak besar.
"Enggak, itu terlalu keras di ujungnya," jawab Arunika tanpa menoleh.
"Kalau tomat yang ini? Warnanya merah banget, masuk kriteria nggak?" tanya Senja lagi.
"Jangan. Itu sudah terlalu matang, besok pasti lembek," tolak Arunika ketus.
"Kentang yang ini gimana?"
"Kurang bagus, ada bercak hitamnya."
Senja menghela napas panjang, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ah, susah banget sih nemu yang bagus di mata kamu."
Arunika meliriknya sekilas, wajahnya tetap datar. "Siapa suruh ikut?"
Senja tertegun sejenak, lalu terkekeh kikuk. "Seru kok, benaran. Aku jadi belajar cara milih sayur yang benar."
Arunika menghembuskan napas pelan, seolah sedang menguji kesabarannya sendiri.
"Daripada terus-terusan mengganggu dan tanya-tanya, mending kamu bawain saja belanjaan ini," ucapnya sambil menyodorkan plastik besar berisi sayuran.
"Aku nggak ganggu kok. Ini namanya bantuin. Bantuin kamu biar happy dengan adanya aku di sini buat nemenin kamu di pasar," balas Senja dengan nada bercanda.
"Nggak butuh," sahut Arunika cepat.
Namun, saat Arunika berbalik untuk membayar, ada sesuatu yang tidak disadari Senja. Sudut bibir Arunika berkedut kecil, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat singkat—hampir tak terlihat.
Di sela-sela tawar-menawar dengan penjual buah, Senja melontarkan sebuah banyolan konyol tentang seekor ayam yang lupa cara berkokok.
Tanpa sadar, Arunika yang sedang menimbang jeruk sedikit kehilangan kendali atas wajah dinginnya. Ia tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang sangat manis dan tulus.
Senja yang matanya selalu siaga, menangkap momen langka itu. "Nah, kan! Ternyata orang ini bisa senyum juga ya. Manis lagi," goda Senja dengan suara yang sedikit dilembutkan.
Seketika, wajah Arunika kembali mengeras. Ia menunjukkan ekspresi sinis yang lebih tajam dari sebelumnya. "Apaansih."
Senja langsung mengangkat kedua tangannya ke udara. "Eh, iya, maaf, maaf." Lalu ia mendekat sedikit dan berbisik pelan, "Galak betul... Memangnya nggak boleh bercanda sedikit?"
Arunika menghentikan langkahnya, menatap Senja tajam. "Apa katamu?"
Senja tersentak, otaknya berputar cepat mencari alasan untuk ngeles.
"Hah? Oh, itu... tadi aku bilang... 'Gak bakalan betul'... iya, gak bakalan betul kalau kita nggak beli kerupuk di toko depan itu. Kayanya kerupuknya enak banget!"
Arunika hanya menatapnya curiga, lalu mendengus dan melanjutkan langkahnya.
Perjalanan pulang terasa lebih sunyi, namun ada aura yang sedikit berbeda di antara mereka.
Sesampainya di penginapan, Senja dengan sigap mengangkat semua barang bawaan Arunika yang cukup banyak itu menuju dapur. Ia meletakkannya di atas meja marmer tua dengan napas yang sedikit terengah.
Arunika berdiri di sana, memperhatikannya sejenak. "Terima kasih," ucapnya singkat.
Senja mengusap keringat di dahinya, lalu tersenyum lebar. "Sama-sama. Kalau butuh apa-apa lagi, bilang saja ya. Aku siap jadi asisten pribadi sementara."
Namun, Arunika tidak menanggapi tawaran itu. Ia hanya berlalu begitu saja menuju ruang belakang tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Senja yang masih berdiri mematung di dapur.
Senja menghela napas, menatap pintu tempat Arunika menghilang. "Nggak ada bedanya... masih dingin saja," gumamnya pelan.
Ia menggelengkan kepala, namun anehnya, ada rasa hangat yang menjalar di dadanya. Seolah-olah dinginnya Arunika adalah sebuah misteri yang semakin ingin ia pecahkan, helai demi helai.
Angin sore kembali berhembus melalui celah ventilasi dapur, membawa wangi rempah dan aroma hujan yang belum tuntas jatuh.
Di dapur yang sunyi itu, Senja menyadari satu hal: ia tidak keberatan menjadi sasaran sikap dingin Arunika, asalkan ia bisa melihat senyum tipis itu sekali lagi.