NovelToon NovelToon
Loud Girl, Cold Engine

Loud Girl, Cold Engine

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:781
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Koordinat Menuju Rumah

Keesokan paginya, koridor Fakultas Sastra tampak sedikit lebih tenang dari biasanya. Kirana berjalan sendirian menyusuri selasar berlantai keramik kelabu, memeluk binder kuliahnya erat-erat. Maya dan Sari belum keluar dari kelas mata kuliah teori komunikasi yang jamnya memang agak molor hari ini.

Saat Kirana baru saja melewati belokan dekat mading tengah, siluet tegap seorang cowok yang sangat familier tampak sedang berdiri bersandar pada pembatas selasar. Bima. Jaket bomber hitamnya disampirkan di bahu, dan matanya langsung terkunci pada Kirana begitu gadis itu muncul.

Kirana menghentikan langkahnya, sedikit terkejut namun tak bisa menahan senyum tipis yang terbit di wajahnya. "Bim? Ngapain di Sastra pagi-pagi gini? Katanya nanti siang baru mau ke kantin?"

Bima menegakkan tubuhnya, memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana jeans-nya. Ia berdehem pendek, mencoba mempertahankan ekspresi datarnya yang biasa, meski ujung telinganya agak kemerahan. "Kebetulan lewat habis dari ruang dosen gabungan di depan. Gimana... rendangnya?"

Kirana tertawa kecil, teringat bungkusan makanan yang datang tengah malam tadi. "Enak banget, Bim! Serius deh. Semalam aku udah kemalaman dan keburu kenyang banget, jadi baru aku makan tadi pagi pas sarapan sebelum berangkat kampus. Dagingnya empuk banget, bumbunya juga pas. Tolong sampaikan terima kasih banyak ya buat Ibu lo. Buku puisinya juga berharga banget buat aku."

Bima mengangguk pelan sekali. Tatapannya melembut, seolah merasa lega mendengarnya. Namun dasar anak Teknik yang penuh taktik efisiensi, ia langsung melancarkan modus barunya tanpa mengubah nada suaranya yang lempeng. "Kalau mau bilang terima kasih ke Nyokap, samperin aja langsung ke rumah sore ini. Beliau tadi pagi nanyain, paketnya udah nyampe atau belum ke anak Sastra yang gue ceritain."

Kirana membelalakkan matanya, agak terkejut dengan ajakan mendadak itu. "Hah? Sore ini? Ke rumah lo?"

"Iya. Sekalian lo balikin wadah bekalnya kan bisa. Daripada lo repot bawa ke kampus besok-besok," kilah Bima cepat, memberikan argumen logis untuk menutupi niat aslinya yang ingin membawa Kirana masuk ke ranah pribadinya.

Kirana menimbang sejenak. Pikirannya sempat melayang pada sosok Bima yang dulu sangat ia benci karena sikap kakunya saat awal proyek kampus. Namun melihat perkembangannya sekarang, ajakan ini terasa sayang untuk ditolak. "Ya udah deh, kebetulan sore ini kelas Gue beres jam tiga. Kita berangkat dari kampus?"

"Gue tunggu di parkiran jam tiga lewat sepuluh," jawab Bima mutlak, yang hanya dibalas anggukan pasrah oleh Kirana.

---

Sore harinya, motor tua Bima membelah jalanan kota dengan kecepatan konstan. Di sepanjang jalan, Kirana yang duduk di jok belakang berkali-kali menepuk bahu tegap Bima.

"Bim! Berhenti bentar di depan toko kue itu!" seru Kirana setengah berteriak melawan angin.

Bima menarik tuas rem, menghentikan motornya di tepi jalan dekat sebuah toko bolu gulung premium. Cowok itu menoleh dari balik helmnya, dahinya berkerut dalam. "Ngapain? Nyokap gue gak minta dibeliin apa-apa."

"Ya ampun, Bima! Ini namanya tata krama," sahut Kirana sambil turun dari motor, merapikan rok kasualnya. "Masa Gue dateng ke rumah orang tua lo tangan kosong? Mana lo udah ngasih rendang sama buku puisi langka lagi semalam. Gue mau mampir beli bolu gulung dulu buat Ibu lo."

"Nggak usah, Ra. Gak usah repot-repot," tolak Bima berulang kali dengan sifat kakunya yang tidak mau merepotkan orang lain. "Nyokap gue masak banyak di rumah. Lo dateng aja udah cukup."

"Nggak bisa! Pokoknya gue nggak enak kalau nggak bawa apa-apa. Lo tunggu sini atau ikut masuk, jangan banyak protes!" potong Kirana tegas.

Melihat keras kepalanya anak Sastra itu, Bima akhirnya hanya bisa menghela napas panjang dan mengalah. "Ya udah, buruan. Gue tunggu di motor."

Setelah Kirana kembali dengan menenteng sebuah kotak kue yang dikemas cantik, mereka melanjutkan perjalanan. Motor Bima memasuki sebuah kawasan perumahan yang asri dan tenang di pinggiran kota, hingga akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah berpagar putih dengan halaman depan yang dipenuhi tanaman hias dan bunga-bunga yang terawat rapi.

Bima mematikan mesin motornya, membuka kaca helm, lalu menoleh ke arah Kirana yang mendadak terlihat merapikan rambutnya dengan gugup.

"Udah nyampe. Ini rumah gue," kata Bima datar, namun ada binar tipis di matanya saat melihat Kirana yang tampak salah tingkah berdiri di depan pagar rumahnya.

Kirana memegangi kotak kue di tangannya dengan lebih erat, jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat daripada saat ia maju presentasi di depan dekanat kemarin.

1
Taro
akhirnya up thor🥹
minttea_: huhu iya nihh kemaren author lagi sibuk, maaf yaa🥺
total 1 replies
Taro
teringat sama film pupus kalau baca novel ini. semangat thor
minttea_: wahhh iya kahhhh, makasihh banyak atas dukungannya🥰✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!