NovelToon NovelToon
Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.

​Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.

​Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.

​"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

"Janda?" pekik Anita yang ternyata sedari tadi bersembunyi di balik pilar dekat lift karena ketakutan.

Ia muncul dengan wajah pucat pasi setelah menyaksikan aksi baku tembak yang lebih gila dari film aksi manapun.

"Gia, apa yang kamu bicarakan? Kamu bahkan belum lulus SMA!"

Diandra mendesis, ia lupa bahwa sahabat Gia masih ada di sana.

"Nanti aku jelaskan! Sekarang masuk ke mobil kalau kamu masih mau selamat!" bentak Diandra.

Anita tidak punya pilihan lain selain ikut berlari ke arah mobil SUV hitam milik Pratama.

Pratama segera melompat ke kursi pengemudi, sementara Diandra duduk di sampingnya, dan Anita meringkuk di kursi belakang dengan tubuh bergetar.

Vroom!

Pratama menginjak gas sedalam mungkin, melajukan mobilnya membelah area parkir menuju akses ruang bawah tanah yang terhubung langsung dengan jalan tikus di pinggiran rumah sakit.

Suasana di dalam mobil sangat mencekam. Hanya terdengar deru mesin dan napas Anita yang tersenggal-senggal.

Sesekali Pratama melirik ke arah gadis yang duduk di sampingnya.

Ia memperhatikan bagaimana tangan kecil itu masih memegang senjata api miliknya dengan sangat tenang—tidak ada gemetar, tidak ada kepanikan.

Gadis ini bahkan mulai memeriksa sisa peluru di dalam magasin dengan gerakan yang sangat profesional.

"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Pratama dengan suara berat, matanya tetap fokus ke jalanan yang gelap, namun seluruh perhatiannya tertuju pada Gia.

"Seorang siswi SMA tidak mungkin bisa menembak seperti itu. Dan jangan panggil aku 'Mas' kalau kamu tidak bisa menjelaskan siapa dirimu."

Diandra terdiam sejenak. Ia menatap pantulan dirinya di kaca spion—wajah Gia yang lebam, namun matanya adalah mata Diandra.

"Mas, aku tahu ini terdengar gila," ucap Diandra pelan, suaranya melembut namun penuh keyakinan.

"Tapi pikirkan ini. Siapa yang tahu kode brankas di balik lukisan ruang kerjamu? Siapa yang tahu bahwa kamu tidak suka kopi dengan gula, tapi selalu meminta dua tetes krim karena itu cara ibumu menyajikannya dulu?"

Cicitan ban terdengar saat Pratama mengerem mendadak di tengah lorong bawah tanah yang sepi.

Ia memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Gia, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari gadis itu.

"Bagaimana kamu tahu tentang krim itu?" tanya Pratama, suaranya bergetar antara amarah dan harapan yang menyakitkan.

"Hanya Diandra yang tahu cerita tentang ibuku."

"Karena aku Diandra, Pratama!" teriak Diandra, air mata mulai menggenang di matanya yang tajam.

"Mita mendorongku dari lantai delapan! Dan saat aku hampir mati di sungai, jiwaku ditarik ke dalam tubuh gadis malang ini yang juga sedang meregang nyawa karena dikhianati."

Anita di kursi belakang menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak hampir keluar.

"G-Gia... kamu kesurupan?"

Pratama menatap dalam-dalam ke pupil mata Gia.

Ia mencari kebohongan, namun yang ia temukan adalah api gairah dan kasih sayang yang sama yang selalu ia lihat pada istrinya setiap pagi.

"Kalau kamu benar Diandra," bisik Pratama, suaranya parau, "Sebutkan satu hal yang aku katakan di telingamu tepat sebelum aku berangkat ke Kanada minggu lalu."

Diandra tersenyum perih. "Kamu bilang: 'Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, atau aku akan memecatmu dari posisi istriku dan memaksamu menjadi pengangguran yang hanya bisa aku manja selamanya.' Kamu pikir itu lucu, tapi aku bilang itu rayuan paling buruk yang pernah aku dengar."

Pratama tertegun. Detik itu juga, logika yang ia bangun seumur hidup runtuh berkeping-keping.

Tanpa memedulikan Anita di belakang, ia menarik Gia ke dalam pelukannya, menangis di bahu gadis remaja tersebut.

"Ini benar-benar kamu, Sayang, ini benar-benar kamu."

"Dan satu lagi," potong Diandra dengan seringai jahil yang sangat khas, "pasti kamu sekarang memakai celana dalam Batman hadiah dari ayah yang tidak sengaja terbawa di kopermu. Kamu bilang itu jimat keberuntungan untuk negosiasi di Kanada, kan?"

Tawa Pratama meledak seketika. Ia melepaskan pelukannya, menyandarkan punggung ke kursi kemudi, dan tertawa terbahak-bahak hingga air mata keluar di sudut matanya. Itu adalah tawa paling lepas yang ia miliki sejak kecelakaan Diandra terjadi.

"Ini gila! Benar-benar gila!!" seru Pratama sambil memukul setir mobil dengan sisa tawanya.

"Hanya Diandra yang tahu rahasia memalukan itu. Ayah memang keterlaluan memberikan hadiah itu, tapi kamu lebih keterlaluan karena mengingatnya di saat seperti ini!"

Suasana mencekam di dalam mobil itu mendadak mencair oleh tawa Pratama. Namun, Anita yang duduk di belakang tampak seperti baru saja melihat alien.

Wajahnya pucat pasi, matanya berkedip berkali-kali menatap sahabatnya yang kini terlihat seperti wanita dewasa yang sedang menjitak kepala suaminya.

"Gia, maksudku, Ibu Diandra? Jadi, jiwamu pindah? Seperti di film-film fantasi yang kita tonton?" tanya Anita dengan suara mencicit.

Diandra menoleh ke belakang, menatap Anita dengan tatapan lembut.

"Iya, Anita. Maaf aku harus meminjam tubuh sahabatmu. Gia yang asli sudah pergi dengan tenang, dan dia memintaku untuk membalaskan dendamnya."

Pratama berhenti tertawa, raut wajahnya kembali serius namun kini penuh dengan api semangat. Ia menggenggam tangan kecil Diandra.

"Kalau begitu, rencana kita berubah. Aku tidak akan membiarkanmu kembali ke rumah petak itu atau ke sekolah yang tidak beres itu sendirian."

"Tidak, Mas," potong Diandra tegas.

"Aku harus tetap menjadi Gia di depan umum. Mita tidak boleh tahu kalau aku sudah 'bangun', apalagi dalam tubuh ini. Jika dia tahu, dia akan lebih waspada. Kita harus memancingnya keluar."

"Lalu apa rencanamu?" tanya Pratama.

Diandra menatap ke depan, ke arah kegelapan lorong bawah tanah yang mulai mereka tinggalkan.

"Mita sedang kesulitan dengan sistem logaritma di Yogyakarta. Dia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan kuncinya. Dan, aku adalah satu-satunya 'Gia' yang tiba-tiba menjadi jenius matematika di sekolah."

Diandra tersenyum dingin. "Biarkan dia yang datang mencariku. Kita akan menjebaknya di permainannya sendiri."

Pratama menatap istrinya dengan bangga. "Ternyata otak CEO-mu tidak ikut hancur saat jatuh dari lantai delapan. Baiklah, aku akan mendukungmu dari balik layar. Tapi ingat satu hal..."

Pratama mendekat, mengecup kening Diandra dengan penuh perasaan.

"Jangan pernah berkorban sendirian lagi. Aku hampir mati rasanya kehilanganmu sekali."

Diandra mengangguk, lalu menoleh ke arah senjata di pangkuannya.

"Kali ini, bukan aku yang akan jatuh, Mas. Tapi Mita, Ferdian, dan semua orang yang berani mengusik kita."

"Ayo jalan, Mas. Kita harus mengantar Anita pulang sebelum orang tuanya lapor polisi karena anaknya ikut dalam aksi baku tembak," ucap Diandra yang kembali ke mode praktisnya.

Pratama menginjak gas, membawa mereka keluar dari kegelapan menuju cahaya kota, memulai babak baru dari misi balas dendam yang paling mustahil dalam sejarah.

1
Anne Soraya
lanjut
Tian Selli
lanjutannya mana ya
Tian Selli: judul nya apa?
total 2 replies
cici
seru kali smpek yg baca ikut panik tiap episode
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
my name is pho: iya kak 🥰
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjuttt
Asra
waah, makin menarik aja, next kak🙌💖
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Asra
semangat n ditunggu up nya lagi kak
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!