NovelToon NovelToon
SERIBU JARUM EMAS

SERIBU JARUM EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Di dunia persilatan yang luas, pedang dan tombak dianggap sebagai raja senjata.

Namun, bagi Mo Fei, benda terkecillah yang paling mematikan.

Tidak menggunakan golok raksasa, tidak mengandalkan kekuatan otot. Senjatanya hanyalah jarum-jarum emas seukuran biji padi.

Siapa pun yang ditandanya... pasti mati sebelum sempat berkedip.

Dikenal sebagai Pengamat Malam, ia datang tanpa suara, pergi tanpa jejak, hanya meninggalkan kilatan cahaya emas dan mayat yang tertancap jarum di titik vital.

"Pedang hanya bisa memotong daging. Tapi jarumku... bisa menusuk jiwa."

Ketika ia ditugaskan melindungi putri cantik yang keras kepala dan terjerat dalam intrik istana, Mo Fei harus menghadapi sekte jahat dan pendekar-pendekar legendaris.

Bisakah seribu jarum emas ini mengubah takdir dunia?

Siap-siap terpukau dengan aksi bela diri tercepat dan paling elegan yang pernah ada! .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: PELAJARAN UNTUK SI SOMBONG

"MATILAH BOCAH TAK BERGUNA!!"

Qing Long berteriak histeris. Dua pedang kembar berwarna hijau toska di tangannya bergerak secepat kilat, memancarkan aura beracun yang membuat udara di sekitarnya terasa panas dan menyengat.

Ia melompat ke udara, tubuhnya berputar cepat menciptakan pusaran pedang yang mematikan.

"TEKNIK RACUN: NAGA HIJAU MELAHAP BUMI!"

Dua bilah pedang itu menyatu menjadi satu bayangan besar berbentuk ular raksasa, meluncur turun menghantam Mo Fei dengan kekuatan yang cukup untuk membelah jalanan batu menjadi dua!

Lian Er yang berada di belakang menjerit kaget, "Mo Fei!!"

Namun, Mo Fei tidak bergeming. Wajahnya tetap tenang, bahkan senyum jahilnya masih mengembang di bibir.

"Wah, hebat juga gayanya. Tapi sayang... terlalu berisik," ucap Mo Fei santai.

Tepat saat bayangan pedang ular itu hendak menyentuh tanah di depannya...

TING!

Hanya satu jarum emas.

Hanya satu!

Ditembakkan dengan kecepatan melampaui batas mata manusia, tepat mengenai titik tengah di antara kedua pedang itu!

TRANGGG!!!

Ledakan kecil namun dahsyat terjadi. Dua pedang kembar yang dianggap tak terkalahkan itu tiba-tiba retak di tengah! Kekuatan serangan itu terpental balik ke arah pengirimnya!

"Apa?!" Qing Long terbelalak kaget, tubuhnya terdorong mundur hingga beberapa meter, kakinya menyeret tanah panjang karena menahan kekuatan sentakan itu.

Ia menatap pedangnya dengan mata terbelalak. Ada lubang kecil sempurna tepat di tengah bilah pedangnya!

"Gila... Ini tidak mungkin! Pedangku terbuat dari besi langit! Bagaimana bisa jarum kecil menembusnya?!"

"Dasar bodoh," Mo Fei menggelengkan kepala prihatin. "Kekuatan bukan diukur dari ukuran senjata atau seberapa keras kau berteriak. Kekuatan ada di ketepatan. Dan kau... terlalu banyak bicara, tapi gerakanmu lambat seperti kura-kura."

"JahanAMM!!" Qing Long murka bukan main. "Kalian semua serang! BUNUH DIA! CINCANG DIA JADI DAGING! JANGAN ADA YANG TINGGAL!"

Perintah itu langsung disambut oleh puluhan anak buah Sekte Ular Hijau. Mereka berteriak ganas sambil menghunuskan pisau dan belati, menyerbu ke arah Mo Fei dari segala arah!

Pasar malam yang indah berubah menjadi medan perang yang mencekam!

"Ambil ini!!"

"Serang kakinya! Jangan biarkan dia melompat!"

Namun, Mo Fei hanya tersenyum lebar. Matanya berbinar-binar penuh semangat.

"Ini baru seru! Ayo main-main!"

WUSSSSS!!!

Tubuh Mo Fei bergerak. Bukan berjalan, bukan berlari, tapi benar-benar melayang dan menghilang!

Di mana pun musuh berada, di situ hanya tertinggal bayangan putih samar dan kilatan cahaya emas yang indah.

TING! TING! TING! TING-TING-TING!!!

Suara berdenting terdengar nonstop, membentuk irama maut yang memekakkan telinga.

Apa yang terjadi selanjutnya adalah pemandangan yang sangat luar biasa dan menakutkan bagi siapa saja yang menyaksikannya.

Satu per satu penyerang itu berhenti bergerak di tengah langkah mereka.

Ada yang baru mengayunkan senjata, ada yang baru mau melompat, ada yang mulutnya masih terbuka hendak berteriak... tapi semuanya membeku kaku seperti patung!

Mereka tidak roboh, mereka tidak berdarah, mereka hanya... tidak bisa bergerak sama sekali!

Dalam waktu kurang dari hitungan napas, seluruh dua puluh lebih anak buah itu sudah berdiri diam di tempat masing-masing dengan posisi aneh, membentuk formasi yang kacau namun mengerikan.

Hening.

Hanya terdengar suara angin dan napas tertahan orang-orang yang menyaksikan dari kejauhan.

Qing Long yang berdiri di belakang melihat pemandangan itu, tubuhnya gemetar hebat. Keringat dingin mengalir deras membasahi punggungnya.

"Si... siapa kau sebenarnya?!" bisiknya ketakutan. "Bukan manusia... kau iblis!"

Mo Fei perlahan berbalik menghadapinya. Wajahnya masih tersenyum, tapi tatapan matanya sedingin es di neraka.

"Aku sudah bilang kan? Aku cuma pemilik toko jarum kecil," jawab Mo Fei pelan. "Dan sekarang... giliran kau, Tuan Putra Mahkota."

Mo Fei mengangkat tangan kanannya, dan seketika sepuluh jarum emas berkilauan melayang berbaris rapi di depannya, siap ditembakkan kapan saja.

"Kau punya dua pilihan. Satu, aku tusuk jarum ini tepat di matamu supaya kau tidak lagi memandang orang lain dengan mata congkak itu. Atau dua... kau sujud di hadapan temanku dan minta maaf dengan tulus."

Qing Long mengepal tangannya kuat-kuat, amarah dan ketakutan bertarung di dalam dadanya. Ia tahu, ia tidak mungkin menang. Lawan di depannya ini berada di level yang berbeda jauh.

"Aku... aku adalah penerus Sekte Ular Hijau! Aku tidak akan sujud pada rakyat biasa!" teriaknya mencoba menutupi rasa takutnya.

"Baiklah. Kalau begitu pilihanku yang pertama."

SYUT!

Satu jarum melesat secepat kilat tepat ke arah mata kiri Qing Long!

"AAAAHHH!!" Qing Long menjerit ketakutan dan memejamkan matanya rapat-rapat.

Namun...

TESS!

Jarum itu berhenti tepat di depan kelopak matanya, hanya berjarak sehelai rambut saja! Angin dari gerakan jarum itu menerpa wajahnya membuat bulu matanya bergetar.

Qing Long membuka mata perlahan, melihat jarum emas itu berkilauan tepat di depannya, mematikan namun indah. Ia bisa merasakan aura maut yang begitu nyata.

Nyawanya... saat ini benar-benar berada di ujung tanduk.

"Ma... maafkan aku..." suara Qing Long pecah. Keangkuhannya hancur lebur. "Aku minta maaf... Ampunilah aku, Pendekar Besar..."

Mo Fei tersenyum puas lalu menjentikkan jarinya. Jarum itu kembali terbang masuk ke dalam lengan bajunya.

"Maaf bukan padaku. Maaf padanya," ucap Mo Fei menunjuk ke arah Lian Er.

Qing Long tanpa pikir panjang langsung berlutut keras ke tanah, menundukkan kepalanya rendah sekali.

"Putri... Hamba minta maaf! Hamba buta mata dan hati! Hamba tidak pantas hidup! Ampuni hamba!"

Lian Er yang melihat itu hanya mendengus kesal tapi merasa puas sekali. "Hmph! Dasar pengecut! Kalau lain kali kau berani macam-macam lagi, bukan cuma jarum yang menancap, tapi kepalamu yang melayang! Mengerti?!"

"Mengerti! Mengerti! Terima kasih Putri! Terima kasih Pendekar!" Qing Long bangkit lalu melambaikan tangan. "Minggir! Kita pergi sekarang!!"

Ia dan anak buahnya yang lumpuh saraf itu berjalan tertatih-tatih meninggalkan tempat itu dengan terburu-buru, tak berani menoleh ke belakang lagi.

 

Kedatangan maut pun berlalu.

Pasar malam kembali mulai tenang. Orang-orang yang tadinya lari ketakutan kini keluar dari persembunyian mereka, menatap Mo Fei dengan pandangan penuh kekaguman dan hormat.

"Wah... Hebat sekali..."

"Itu pasti legenda hidup!"

"Seribu Jarum Emas... sungguh nama yang pantas!"

Mo Fei kembali memasang wajah cerianya, lalu menepuk pundak Lian Er.

"Nah, beres kan? Sekarang kita bisa lanjut makan. Bakpaonya kan masih hangat tuh."

Lian Er menatap Mo Fei, lalu tersenyum lebar dan memukul pelan lengan bajunya.

"Kau ini ya... Kadang seram banget, kadang kayak anak kecil. Tapi... terima kasih ya sudah membela kehormatanku."

"Hehe, sudah tugasku dong," Mo Fei mengedipkan mata. "Lagipula, siapa pun yang berani ganggu orang di dekatku... harus siap-siap ketemu jarum emasku."

Mereka berdua pun kembali duduk, melanjutkan makan malam mereka di tengah sorak-sorai dan tepuk tangan orang-orang yang menyaksikan kehebatan pendekar misterius itu.

Namun, jauh di atas atap gedung tertinggi, sepasang mata dingin sedang memperhatikan seluruh kejadian itu.

"Mo Fei... Kau semakin menarik. Tapi ingatlah... Permainan ini belum setengah jalan. Dan lawan selanjutnya... jauh lebih menakutkan daripada mereka semua."

1
anggita
Mo Fei...👌 ikut ng👍like aja, ☝iklan. moga novelnya lancar.
putra ilham: ​"Amin! Terima kasih banyak atas dukungannya dan sudah kasih 'like'. Doa seperti ini sangat berarti buat saya sebagai penulis. Stay tuned terus ya!"
total 1 replies
Fwyz
ih apalah nih judul ngerii amatt, btw ceritanya epick sih, thc thor
putra ilham: ​"Hehe, judulnya memang sengaja dibuat bikin penasaran. Makasih ya sudah bilang epik! Tunggu saja bab-bab selanjutnya, bakal lebih seru lagi!"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!