"Musnahkan benih itu!"
Satu perintah dingin dari Adrian Winston menghancurkan segalanya. Perselingkuhan istrinya adalah luka yang tak termaafkan. Ia tidak hanya menjatuhkan talak tiga, tapi juga bersumpah untuk menghapus setiap jejak darah dagingnya dari muka bumi. Adrian ingin masa lalunya mati.
Namun, di sudut kota yang berbeda, Elena melakukan kegilaan. Terjepit antara paksaan kakeknya untuk memiliki pewaris dan kebenciannya pada pernikahan, ia mencuri sampel berharga dari musuh bebuyutan keluarganya sendiri, benih yang seharusnya sudah dimusnahkan.
Lima tahun kemudian, Adrian adalah raja bisnis tak berhati. Sampai suatu hari di kantor polisi, seorang bocah mungil menarik ujung jas mahalnya.
"Paman... Papa Achi yang bangkit dali kubul ya? Tapi napa pakai baju kelja? Bukan kain putih? Badannya napa ndak gendut juga? Opelaci dali mana?”
Adrian membeku. Bocah itu memiliki mata yang sama persis dengannya, namun dengan mulut setajam silet yang terus mengoceh tentang wajah dan badannya.
Siapa sebenarnya bocah cadel yang berani menyebutnya sebagai Papa ini? Dan kemana Ibunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Bayi Kembar?
Suasana di koridor rumah sakit itu kini terasa begitu dingin dan mencekam. Bianca berdiri dengan tangan gemetar memegang selembar kertas hasil USG yang baru saja keluar. Matanya menatap nanar ke arah dua kantung janin yang terlihat jelas di layar monitor tadi.
"Kembar... kau hamil bayi kembar, Elena?!"
Suara Bianca naik satu oktaf, bergema di lorong yang sepi. Ia menatap adiknya dengan tatapan campuran antara amarah, kecewa, dan keterkejutan luar biasa, persis seperti seorang ibu yang mendapati putrinya baru saja menghancurkan masa depannya.
Elena tertunduk lesu di kursi tunggu, sementara Bi Ina berdiri di belakangnya dengan wajah sepucat kapas.
"Siapa, Elena?! Siapa pria brengsek yang telah menodaimu dan membiarkanmu menanggung beban ini sendirian?!" tuntut Bianca sambil mengguncang bahu adiknya. "Katakan padaku! Apakah dia salah satu pelayan di mansion Kakek? Atau pria jalanan?"
Elena memejamkan mata erat-baik. Pikirannya berputar mencari alasan paling gila agar identitas Adrian tetap terkubur. Ia tahu kakaknya sangat membenci Adrian.
"Dia... dia bukan siapa-siapa, Kak," bisik Elena parau. "Malam itu aku sangat frustrasi karena tekanan Kakek. Aku... aku menyewa seorang gigolo."
Deg!
Bi Ina nyaris jatuh pingsan mendengar pengakuan ngawur anak asuhnya itu. Ia melirik Elena dengan tatapan 'apa-apaan-kau-ini?', namun Elena memberi isyarat mata agar Bi Ina tetap diam.
"Gigolo?!" teriak Bianca histeris. "Kau menjual harga dirimu pada pria bayaran?!"
"Dan dia sudah mati!" potong Elena cepat, air mata buatan mulai menggenang. "Pria itu... dia meninggal tepat setelah malam itu. Serangan jantung setelah... setelah eja-kulasi. Jadi, anak-anak ini tidak punya ayah. Aku janda bahkan sebelum sempat mengenal namanya dengan benar."
Hening seketika.
Bi Ina hanya bisa mengelus dada berkali-kali, beristighfar dalam hati.
Ya Allah, Non Elena... bisa-bisanya kau membuat skenario film dewasa tragis seperti itu.
Batin Bi ina merasa dunianya semakin tidak masuk akal.
Bianca yang awalnya siap meledakkan amarah, tiba-tiba terdiam. Napasnya yang memburu perlahan mulai tenang. Ia menatap Elena dengan tatapan nanar, lalu tiba-tiba ia jatuh terduduk di samping adiknya dan meraung sejadi-jadinya.
"Oh, Elena... malang sekali nasib kita!"
Bianca memeluk Elena dengan erat dan menangis tersedu-sedu. "Aku diceraikan si gendut Adrian saat aku sedang mengusahakan bayi tabung... dan kamu, kamu mengandung anak kembar dari pria yang mati di tempat tidur! Kita ini dikutuk apa, Dik?!"
Bianca meratapi nasibnya dengan sangat dramatis. "Aku menjadi janda tanpa anak, dan kau menjadi janda tanpa suami. Keluarga kita benar-benar hancur!"
Melihat Bianca yang justru merasa iba karena kebohongannya, Elena merasa sedikit lega sekaligus merasa sangat berdosa. Ia melirik ke arah Bi Ina yang masih mematung sambil terus mengelus dadanya, seolah sedang mencoba menahan jantungnya agar tidak copot mendengar drama "Gigolo Mati" tersebut.
"Sudahlah, Kak... setidaknya aku punya anak-anak ini," bisik Elena mencoba menenangkan kakaknya yang bar-bar itu.
"Benar!" Bianca menghapus air matanya dengan kasar, beralih mode menjadi protektif.
"Akan kita besarkan si kembar ini. Kita akan buktikan pada Kakek dan si gendut kalau kita bisa hidup meski hanya wanita-wanita malang yang tidak beruntung soal cinta!"
Bi Ina hanya bisa mendesah panjang.
Wanita-wanita malang? Yang satu terlalu polos berbohong, yang satu terlalu bodoh untuk percaya. Tuhan, kuatkan hamba menjaga mereka.
Doa Bi Ina dalam hati.
***
Beberapa jam kemudian rumah sempit itu berubah menjadi markas komando. Bianca yang tadinya meratapi nasib, kini berubah menjadi Manajer Kehamilan paling agresif di dunia.
"Dengar, Elena! Mulai detik ini, tidak ada lagi makanan berminyak, tidak ada lagi kerja keras, dan tidak ada lagi tangisan!" Bianca menggebrak meja makan kayu yang rapuh itu, membuat Bi Ina tersentak kaget.
Bianca mulai mondar-mandir seperti jenderal perang. "Kau mengandung dua keponakanku, hasil dari gigolo malang yang sudah mati itu. Karena ayahnya tidak ada, maka akulah yang akan menjadi 'Ayah' sekaligus 'Ibu' kedua bagi mereka!"
"Tapi Kak, aku masih bisa—"
"Diam!" potong Bianca.
"Bi! Pastikan susu cokelat itu diminum tiga kali sehari. Dan Elena, kau dilarang keluar rumah tanpa seizinku. Kita akan membesarkan dua bayi ini menjadi petarung, agar mereka tidak bodoh seperti kita yang bisa ditipu laki-laki!"
Bi Ina hanya bisa mengelus dada di pojok ruangan.
Gusti... Non Bianca semangat sekali merawat anak mantan suaminya sendiri tanpa dia sadari.
Batinnya miris.
***
Dua bulan telah berlalu sejak rezim neraka Willy dimulai. Pintu apartemen Adrian terbuka, dan Willy masuk membawa laporan keuangan. Namun, langkah pria itu terhenti. Ia menjatuhkan map di tangannya hingga kertas-kertasnya berserakan di lantai.
Di depan jendela besar yang menghadap kota, seorang pria sedang melakukan pull-up dengan gerakan yang sangat tangkas. Punggung pria itu lebar, otot-otot lengannya menonjol kuat, dan keringat mengucur di sepanjang garis tulang punggung yang kini terlihat sangat atletis.
Pria itu turun dari palang besi, berbalik dan menyeka keringat dengan handuk. Itu adalah Adrian Winston.
Wajah bulatnya telah hilang. Yang tersisa adalah rahang tegas yang sangat maskulin, hidung mancung yang kini terlihat menonjol tanpa timbunan lemak di pipi, dan sorot mata yang tajam seperti elang.
"Willy? Kenapa kau diam saja di sana?" tanya Adrian dengan suara yang kini terdengar lebih dalam dan berwibawa.
"Bos...?" Willy mengerjap-ngerjap. "Ini benar-benar Bos? Saya pikir ada model internasional yang salah masuk apartemen."
Adrian tersenyum tipis, senyum yang bisa membuat wanita mana pun pingsan di tempat.
"Kau yang memaksaku melakukan ini, kan? Sekarang, timbang aku."
Willy mengambil timbangan digital. Begitu Adrian naik, angka yang muncul membuat sang asisten berteriak kegirangan.
"Tigabelas kilogram lemak hilang, digantikan otot murni! Bos, Anda bukan lagi pria dengan gumpalan lemak sapi. Anda adalah predator bisnis yang sesungguhnya!"
Adrian menatap pantulannya di cermin. Ia memakai kemeja hitam yang dulu sesak, namun kini kemeja itu membungkus tubuhnya dengan sangat sempurna, memperlihatkan dada bidangnya.
"Bagus," bisik Adrian dingin.
"Sekarang aku siap. Bukan untuk kembali pada Bianca, tetapi untuk menunjukkan padanya apa yang telah dia buang ke tempat sampah."
"Dan soal bisnis, Bos?" tanya Willy penuh semangat.
"Kita ambil alih proyek yang sedang dikejar oleh Kalvin. Aku ingin dia tahu, pria yang disebut 'gendut' ini bukan hanya bisa mengecilkan perut, tapi juga bisa mengecilkan kekuasaannya hingga ke titik nol."
Wow... Akhirnya Bos berubah total! Ayo balas dendam pada wanita-wanita mata duitan itu!
...[Ilustrasi perubahan Adrian]...
chi...dari tanah sengketa🤣🤣