Perhatian!!!
Harap bijak dalam membaca.Terima kasih 🙏 🫶
Elian sang Ice Prime Ministry selalu bersitegang
dengan Lyra the Iron Rose, CEO De La Vega Corporate yang menangani cyber security dan peralatan militer. Namun, siapa sangka keduanya memiliki hubungan terlarang yang sangat panas dan romantis dan penuh tantangan. Dimulai dari perjodohan dengan orang lain yang dilakukan oleh keluarga dan partai mereka, sehingga mereka memiliki misi untuk membatalkan perjodohan. Selain itu pengkhianatan yang dilakukan keluarga mereka sendiri tidak kalah peliknya.
Apak Elian dan Lyra bisa bersatu dan memiliki hidup normal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perayaan
Malam itu, apartemen rahasia mereka bukan lagi sekadar tempat persembunyian, ia telah berubah menjadi kuil pemujaan bagi dua jiwa yang selama ini terpenjara oleh protokol dan pengkhianatan. Udara di dalam ruangan itu terasa tebal, bukan oleh debu, melainkan oleh ketegangan seksual yang akhirnya meledak setelah berbulan-bulan ditekan di bawah topeng profesionalisme yang dingin. Bau wiski yang tajam bercampur dengan aroma tubuh mereka yang memanas, menciptakan atmosfer yang memabukkan bahkan sebelum sentuhan pertama dimulai.
Di dalam bathtub marmer yang mengepulkan uap panas, Lyra Selene menatap Elian dengan mata yang sedikit sayu akibat pengaruh alkohol, namun penuh dengan tantangan yang liar. Saat Lyra mengangkat kedua kakinya dan menggantungkannya di pinggiran porselen, ia tidak hanya menawarkan tubuhnya, ia menawarkan penyerahan total yang belum pernah ia berikan kepada siapa pun.
"Apa kau bisa memuaskanku di bawah air, Elian?" tantangan itu meluncur dari bibir merahnya, serak dan penuh provokasi.
Badai di Bawah Permukaan
Elian tidak membuang waktu satu detik pun. Matanya yang gelap berkilat dengan rasa lapar layaknya predator ganas. Ia bergerak maju di dalam air yang bergolak, menghapus jarak di antara mereka. Tanpa ragu, Elian membenamkan kepalanya ke dalam air hangat yang mengepul itu. Di bawah permukaan air, indra Lyra meledak. Ia merasakan lidah Elian yang lihai dan jari-jarinya yang bergerak dengan kecepatan yang mematikan, mencari dan menemukan titik saraf paling sensitif di antara akses yang terbuka lebar itu.
Lyra tidak lagi peduli pada martabatnya sebagai Ketua Dewan De la Vega. Ia melepaskan erangan keras yang menggema di dinding kamar mandi yang kedap suara, sebuah suara yang murni dan tanpa filter. Setiap gerakan lidah Elian di bawah air menciptakan sensasi hisapan yang membuat perutnya melilit hebat. Elian, yang mendengar desahan memburu dari Lyra, semakin bersemangat. Ia menggunakan jarinya untuk mengeksplorasi lebih dalam, memastikan setiap inci dari lubang sensitif itu merasakan kehadirannya.
Tubuh Lyra mulai melemas, tulang-tulangnya seolah mencair di bawah serangan tanpa ampun itu. Melihat mangsanya hampir tak berdaya, Elian segera bangkit, air menetes dari tubuhnya yang kokoh saat ia mengangkat Lyra dalam satu gerakan kuat. Ia membawa tubuh basah Lyra menuju ranjang king size mereka. Seprai sutra yang dingin segera basah oleh tubuh mereka, namun rasa dingin itu justru menambah gelora Elian untuk melepaskan hasrat yang sudah ia tahan berhari-hari.
Permainan yang Membakar
Elian menidurkan Lyra tepat di tepi kasur, membiarkan kaki jenjang Lyra menjuntai ke bawah, sebuah posisi yang sangat rentan dan menggoda. Dengan mata yang tidak pernah lepas dari Lyra, Elian mengambil sebuah sex toy dengan getaran dahsyat, sebuah alat yang ia siapkan khusus untuk malam ini. Ia menyalakannya dan menempatkannya di klitoris Lyra, membiarkan alat itu memberikan rangsangan konstan yang membuat Lyra menggila.
Namun Elian belum selesai. Sambil membiarkan Lyra terjebak dalam permainan solo yang intens, ia berlutut di lantai, tepat di depan wajah Lyra. Benda keras miliknya yang sudah menegang sempurna kini berada tepat di depan bibir Lyra. Lyra, yang sudah terpengaruh alkohol dan gairah yang meluap, tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Tangannya menyambar erat kejantanan Elian, memasukkannya ke dalam mulutnya dengan rakus.
Lyra menghisapnya dengan sangat kuat, lebih liar dan lebih berani daripada saat ia sadar sepenuhnya. Ia menggunakan lidah dan tenggorokannya untuk memanjakan Elian, mengikuti ritme maju mundur yang intens. Elian tidak bisa menahan diri, kepalanya mendongak, jemarinya meremas rambut Lyra sekuat tenaga saat desahan nikmat keluar dari mulut sang Perdana Menteri. Pria yang biasanya menguasai negara itu kini bertekuk lutut di bawah kendali bibir Lyra.
Tepat saat Lyra merasakan dirinya hampir mencapai klimaks akibat getaran mainan itu, ia tiba-tiba melepas milik Elian. Dengan kekuatan yang tersisa, ia mendorong tubuh Elian hingga terlentang di tengah kasur. Lyra mengambil alih kendali. Ia menarik mainan itu dan membuangnya ke lantai.
"Aku mau lidah dan jarimu yang memuaskanku," bisik Lyra dengan nada memerintah yang sangat sensual.
Puncak yang Sempurna
Lyra berlutut tepat di atas wajah Elian, memberikan akses paling intim ke hadapan pria itu. Elian menyeringai, sebuah senyuman yang penuh kepuasan. Ia segera melahap area sensitif di depannya, lidahnya bergerak liar sementara tiga jari tangan kanannya merogoh ke dalam lubang yang sudah sangat basah dan hangat itu. Tangan kiri Elian tidak tinggal diam, ia menyentuh miliknya sendiri yang juga sudah berada di ambang ledakan.
Lyra tidak lagi mampu menahan diri. Ia menggila di atas wajah Elian. Tangannya naik ke atas, meremas dan memainkan puncak payudaranya sendiri, memilin putingnya yang sudah menegang untuk menambah sensasi tak tertahankan di bawah perutnya. Ruangan itu kini dipenuhi bukan lagi oleh desahan, melainkan teriakan nikmat yang keluar dari mulut Lyra. Puncaknya datang seperti badai.
Elian mencapai klimaksnya terlebih dahulu, cairan putih itu keluar membasahi tangannya sendiri yang sedang memijat pangkal kejantanannya. Tak sampai sedetik kemudian, tubuh Lyra mengejang hebat. Ia melepaskan cairan beningnya tepat di wajah Elian saat ia mencapai puncak yang paling dahsyat dalam hidupnya. Lyra jatuh terduduk, lemas tak berdaya di atas dada bidang Elian yang naik turun karena napas yang memburu.
Kebebasan yang Beringas
Keheningan setelah puncak pertama hanya bertahan sejenak. Elian bangkit duduk, memegangi wajah Lyra yang tampak lemas namun luar biasa cantik dengan rona merah di pipinya. Mereka saling berciuman panas, lidah mereka bertautan kembali, memacu birahi untuk ronde selanjutnya. Tidak ada rasa lelah, hanya ada kebutuhan yang tak terpuaskan.
Pada ronde kedua, Elian menindih tubuh Lyra kembali. Ia merapatkan jari-jemari mereka, menautkannya dengan erat, membawa tangan Lyra terangkat tinggi di atas kepala. Elian mulai menjilati dan menggerayangi setiap inci tubuh Lyra, seolah ingin menghafal setiap lekukannya. Ia berpindah ke payudara Lyra yang sudah tegang menantang, meremas dan memutar puncaknya hingga Lyra memekik nikmat. Elian menghisap dan melumat payudara itu dengan beringas, seolah ia sedang merayakan kebebasan mereka dari dunia politik yang busuk.
Tangan Lyra tidak mau diam. Ia menyentuh dan menggerakkan tangannya naik turun pada milik Elian yang kembali mengeras dengan cepat. Namun Elian melepas paksa tangan Lyra. Ia berlutut Di antara kedua paha Lyra, mengangkat satu kaki Lyra tinggi ke bahunya.
"Aku ingin kau merasakanku sepenuhnya, Lyra," geram Elian.
Ia memasuki lubang sensitif Lyra dengan satu dorongan yang perlahan namun sangat dalam. Lyra mengerang keras, mencengkeram lengan Elian yang berotot. Sambil memegangi kaki Lyra, Elian mulai bergerak maju mundur dengan ritme cepat, ritme yang sangat disukai Lyra karena memberikan gesekan yang maksimal. Tangan satunya bergantian memainkan klitoris Lyra dan meremas payudaranya, memberikan stimulasi ganda yang membuat Lyra kehilangan akal sehatnya.
"Lebih dalam, Elian... lebih cepat!" desah Lyra, memohon di antara napasnya yang putus-putus.
Mereka bergerak dalam harmoni yang sempurna, dua tubuh yang saling memuja di bawah kegelapan malam. Hingga akhirnya, dalam satu hentakan terakhir yang sangat dalam, mereka mencapai klimaks bersama-sama. Lyra memeluk leher Elian seerat mungkin, sementara Elian membenamkan wajahnya di leher Lyra, keduanya gemetar dalam pelukan pelepasan yang luar biasa.
Kedamaian di Balik Selimut
Setelah api gairah itu perlahan padam, mereka merangkak ke tengah tempat tidur, menyelimuti tubuh mereka yang masih berkeringat. Tidak ada lagi pembicaraan tentang Project Xylos, tidak ada lagi tentang Don Marco atau Mateo. Hanya ada mereka berdua.
Elian memeluk Lyra dari belakang, menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya yang hangat. Ia mengecup bahu Lyra berkali-kali. "Aku mencintaimu, Lyra. Lebih dari kekuasaan mana pun di dunia ini."
Lyra berbalik, membalas kecupan Elian dan menyandarkan kepalanya di dada pria itu. "Aku juga mencintaimu, Elian." Malam ini, tanpa mereka sadari adalah akhir bagi kekuasaan mereka, tapi awal dari kehidupan bagi kita.
Mereka tertidur dengan tangan yang masih saling bertautan di bawah selimut, menyadari bahwa malam panas ini bukan sekadar pelampiasan nafsu, melainkan janji bahwa mereka akan selalu memiliki satu sama lain, ke mana pun pelarian mereka nanti membawa mereka. Di kamar yang gelap itu, dua singa Aethelion akhirnya menemukan kedamaian yang selama ini mereka cari di tempat yang paling sederhana, di dalam pelukan satu sama lain.
lanjutkan kak