NovelToon NovelToon
FAVORITE DISASTER

FAVORITE DISASTER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:938
Nilai: 5
Nama Author: Clarice Diane

Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.

Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.

Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Morning After

Pagi di Los Angeles terasa terlalu tenang. Cahaya matahari musim dingin masuk dengan lembut melalui jendela kaca besar mansion, memantul hangat di lantai marmer dan meja dapur hitam mengilap. Dari kejauhan, skyline kota Los Angeles terlihat samar di balik kabut pagi tipis, sementara suara burung dan desir angin dari pepohonan sekitar perbukitan memenuhi udara.

Damai. Terlalu damai untuk dialami oleh seseorang yang baru saja memalsukan kematian manusia beberapa belas jam lalu.

Serena duduk diam di kitchen island sambil memegang cangkir kopi hangat dengan kedua tangan. Rambutnya masih sedikit basah sehabis mandi, sementara pikirannya terasa jauh lebih kacau dibanding malam sebelumnya.

Julian masih tidak sadar di lantai bawah.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di mansion ini, Serena mulai benar benar memikirkan apa yang akan terjadi setelah pria itu bangun. Apa yang harus ia katakan? Bagaimana cara menjelaskan semuanya?

Hai, dunia menganggapmu mati dan kami membawamu ke Los Angeles diam-diam demi memperbaiki kehidupan percintaan semua orang?

Serena hampir ingin tertawa karena betapa gilanya hidupnya sekarang.

Dan yang paling buruk, sebagian dirinya mulai terbiasa dengan kegilaan itu.

Suara langkah kaki membuat Serena mengangkat wajah. Damien berjalan memasuki dapur dengan kemeja putih yang lengan bajunya tergulung santai sampai siku. Rambut hitamnya masih sedikit lembap, sementara wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir.

Pria itu tampak bahagia.

Aneh sekali menyadari itu.

Damien menuangkan kopi untuk dirinya sendiri sebelum berdiri tepat di belakang Serena lalu mengecup pelan pundak perempuan tersebut.

“Morning, Chérie.”

Suara rendahnya masih serak khas bangun tidur.

Serena menoleh sedikit. “Kau sudah siap pergi?”

“Hm.” Damien bersandar santai di meja dapur sambil meminum kopinya perlahan. Gerakannya tenang. Elegan. Seolah hidup mereka tidak sedang berada di ambang kehancuran total.

Dan Serena kembali memikirkan satu hal yang terus menghantuinya sejak semalam. Bagaimana laki-laki ini bisa tetap terlihat begitu lembut setelah semua yang ia lakukan?

“Aku masih merasa ini tidak nyata,” gumam Serena pelan.

Tatapan Damien bergerak perlahan ke arah perempuan itu. “Apanya yang tidak nyata?”

“Semua.” Serena tertawa kecil tanpa tenaga. “Julian ada di bawah sana. Dunia menganggap dia mati. Claire mungkin sedang menangis sekarang.” Napasnya terdengar lebih pelan setelah itu. “Dan kita malah sarapan di Los Angeles.”

Damien diam beberapa detik. Lalu pria itu mendekat perlahan sampai berdiri tepat di depan Serena.

“Aku tahu ini kacau.”

“Kau bahkan terdengar tenang saat mengatakan itu.”

Damien tersenyum kecil. “Karena aku tidak menyesalinya.”

Kalimat itu langsung membuat Serena terdiam. Dan Damien benar benar terlihat jujur saat mengatakannya.

Pria itu mengangkat tangan lalu membelai pipi Serena perlahan. “Sekarang kau tidak perlu merasa bersalah lagi.”

Napas Serena langsung tertahan kecil. Karena dalam kepala Damien, semua ini benar-benar solusi.

Julian hidup.

Claire bebas.

Dan Serena tidak lagi harus hidup dengan penyesalan masa lalu.

“Aku masih tidak tahu harus berkata apa kalau Julian bangun nanti,” bisik Serena lirih. “Bagaimana kalau dia membenciku?”

Tatapan Damien berubah lebih lembut sekarang. “Ia tidak akan membencimu.”

“Kau tidak mungkin tahu itu.”

“Aku tahu Julian.” Damien membelai rahang Serena perlahan. “Ia terlalu baik untuk membenci seseorang yang dicintainya.”

Kalimat itu kembali membuat dada Serena terasa aneh.

Pria ini.

Bahkan setelah memalsukan kematian seseorang, Damien masih berbicara tentang cinta dengan suara selembut itu.

“Aku takut.”

Damien langsung mendekat sedikit lagi sampai lututnya menyentuh kursi Serena.

“Aku tahu.”

“Bagaimana kalau semuanya salah?”

“Kau terlalu banyak berpikir.”

“Aku serius, Damien.” Serena mengangkat wajah menatap pria itu sekarang. “Apa yang akan terjadi setelah Julian sadar? Apa kita benar benar akan terus menyembunyikannya di sini?”

Damien terdiam beberapa saat. Tatapannya turun ke bibir Serena sesaat sebelum kembali ke mata perempuan itu. “Kita akan memikirkannya nanti.”

Jawaban yang terlalu tenang. Terlalu mudah. Dan entah mengapa, itu justru membuat Serena semakin gelisah.

Namun Damien terlihat jauh lebih damai dibanding biasanya pagi ini. Seolah sesuatu di dalam dirinya akhirnya tenang.

“Ayahku sudah meneleponku tiga belas kali sejak semalam,” gumam Damien tiba tiba sambil terkekeh kecil.

Serena mengernyit. “Karena berita Hollywood itu?”

“Hm.” Damien meminum kopinya santai. “Ia sedang kampanye presiden sementara anaknya malah muncul di headline entertainment di tengah tragedi nasional.”

Serena akhirnya tertawa kecil. Dan Damien langsung menatapnya cukup lama. Seolah pria itu selalu menyukai suara tawa Serena lebih dari apa pun.

“Aku akan kembali secepat mungkin,” ujarnya rendah.

“Kau yakin harus pergi?”

“Ada terlalu banyak hal yang harus kubereskan di sana.”

Serena mengangguk kecil. Dan anehnya, meski dirinya masih bingung dengan semua yang terjadi, mansion ini mulai terasa seperti dunia kecil yang terpisah dari kenyataan. Mungkin karena hanya ada dirinya, Damien, dan Julian di dalamnya. Mungkin karena untuk pertama kalinya dalam hidup, Serena benar benar jauh dari Seoul. Atau mungkin karena Damien memang selalu pandai membuat tempat mana pun terasa seperti perangkap indah.

Damien akhirnya berdiri tegak lalu berjalan mendekat lagi ke arah Serena. Pria itu menangkup wajah Serena perlahan dengan kedua tangan hangatnya. Tatapannya lembut sekali sekarang. Penuh kasih sayang.

“Good luck.”

Jantung Serena langsung berdetak aneh.

“Aneh sekali mendengar itu darimu.”

Damien tersenyum kecil.

“Kau terdengar seperti sedang melepas aku,” bisik Serena pelan.

Tatapan Damien berubah samar sesaat. Lalu pria itu membelai pipi Serena lembut sebelum menjawab rendah, “Bukankah itu yang selalu kau inginkan?”

Kalimat itu langsung membuat Serena terdiam. Karena untuk sepersekian detik, Damien benar-benar terdengar seperti seseorang yang sedang merelakan perempuan yang dicintainya pergi kepada laki-laki lain. Padahal Serena tahu pria itu tidak pernah akan melepaskan apapun yang dianggap miliknya.

...----------------...

...To be continue...

1
Azizi zahra
semangat nulisnya author 💪
kentos46: lanjut thor💪👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!